
Burung besi yang membawa Aygul sekeluarga telah mendarat dengan selamat di Bandara International Soekarno Hatta. Ku lihat di papan display yang berada di depan ku jadwal kedatangan pesawat Qatar Airways tepat waktu sesuai estimasi. Aku berdiri gelisah tak sabar menatap wajah istriku yang cantik. Aku sengaja mengajak Zein, Izah dan Paman Asep, Ujang dan Pak Man Driver Ayah. Kami membawa 3 mobil dari rumah seperti konvoi. Karena aku tahu kami pasti memerlukan kendaraan lebih dari satu.
Beberapa saat kemudian aku bisa melihat seorang laki-laki tampan yang sedang mendorong trolly dan di belakang nya berjajar rombongan yang lain nya. Mata ku jelalatan mencari sosok gadis yang sangat kurindukan. Lalu gak jauh dari laki-laki itu ku lihat seseorang yang sedang duduk di atas kursi roda elektronik.
Ya Tuhan itu dia yang ku nikahi 1 bulan yang lalu, dan dia tampak tersenyum ke arahku. Ada sosok baba dan Ane yang mengapitnya.
Aku segera berlari menyongsong kedatangan rombongam keluarga mertua ku.
" Selamat datang di Indonesia Babaa, Ane, Agabey dan Istriku. Selamat menikmati negara kami." kataku menyambut mereka dan bergantian menyalami mereka satu persatu.
Wajah lelah namun terlihat bahagia terpancar di raut wajah mereka semua. Aku memeluk istriku dan mengecup pucuk kepalanya. Air mata nya menetes lalu aku menghapusnya dengan ujung jarinku.
"Wellcome my country hunie. Aku harap kamu betah di rumah baru mu nanti" bisikku sambil menyesap harum kepalanya yang tertutup pasmina hitam.
"Thank you sayang. Insya allah" jawabnya mantap.
Kemudian Zein dan Izza maju mendekati dan menyalami semua tamu kami. Lalu kami menunggu mobil di depan ruang tunggu untuk segera meluncur menuju kediaman Ayah.
Mobil yang di kemudikan Pak Man telah berisi Emran, Mustofa, Baba Farouq, Baba Murad dan Zein.
Lalu Mobil yang di kemudikan Paman Asep ada Aku, Izza, Ane Rosalia, Ane Hafsah dan Istriku Aygul.
Sedangkan Mobil Mang Ujang berisi koper dan barang bawaan keluarga mertuaku.
sepanjanh perjalanan aku selalu menggenggam tangan istriku dan berkali-kali aku mengecupnya menuangkan semua kerinduanku selama ini. Dan rasanya aku ingin tertawa melihat mulut Izza yang sering mencebik melihat kemesraanku dengan kakak iparnya.
Ane Roslina dan Ane Hafsah tampak sangat gembira melihat sekeliling perjalanan kami menuju ke rumah. Sore ini Jakarta agak sedikit macet sehingga kami harus bersabar sampai di rumah. Tak lama kemudian mobil kami telah berhenti di depan rumah dan di sambut oleh Firdaus yang bergegas membuka pintu gerbang.
-----------------
Karena kebetulan hari ini Sabtu, Ayah dan Ibu memang sedang libur bekerja. Dan sengaja Ibu memasak masakan istimewa untuk menyambut kedatangan keluarga besan nya.
Ayah dan Ibu menyambut hangat kedatangan mereka semua. Aku segera menyuruh firdaus dan kedua asisten rumah tangga ku untuk membawa koper ke masing-masing kamar yang telah kami sediaakan untuk tamu. Aku sengaja menukar kamar ku yang semula berada di lantai dua pindah ke lantai bawah seminggu sebelum kedatangan nya. Karena aku tidak mau dia kesusahan untuk naik dan turun tangga dengan kursi rodanya kelak. Aku sengaja memilih kamar yang menghadap ke kolam renang dan dekat dengan dapur untuk mendapatkan suasana yang menyegarkan mata saat bangun tidur.
Aku mengajak Aygul masuk ke dalam kamarku yang baru.
" Ini kamar tidur kita hunie. Untuk sementara kita akan tinggal di rumah Ayah sampai renovasi rumah kita selesai." kataku sambil memeluk bahunya.
Dia mengangguk dengan pelan.
"Besok aku akan mengajakmu melihat rumah baru kita. Kamu lihat bangunan di sebelah rumah ini kan? Yang masih tertutup dengan plastik fiber dan tripleks?"
__ADS_1
" Aku kurang memperhatikan tadi karena aku terlalu gembira bisa bersamamu lagi" jawabnya dengan manik mata hijau nya yang memandangku penuh cinta. Seketika hasratku menjadi bangkit dengan penuh kelembutan ku kecup bibir mungilnya.
" Baik lah, besok pagi kita akan pergi kesana Dan kamu akan tahu istana baru kita. Sayang istirahat lah dahulu. Sebentar lagi kita akan makan malam bersama keluarga kita." Lalu aku membantu mengangkat tubuh mungilnya dari kursi roda.
Setelah menyegarkan badan dengan mandi kami segera keluar kamar untuk menemui keluarga besar kami. Ternyata di ruang makan baru ada Ayah duduk dengan Zein. Sepertinya mereka berdua terlibat pembicaraan yang serius. Saat kami datang mendekat, Ayah segera memberikan senyum lebarnya pada kami.
" Selamat datang nak di rumah kami. Semoga kerasan tinggal disini ya." Kata Ayah menepuk lembut bahu Aygul. Dia tersenyum dan mengangguk
" Terimakasih Ayah. Insya Allah Aygul akan kerasan disini" jawabnya mantap.
" Hafiz kemana Baba dan Ane serta kakak ipar ? kita akan makan malam bersama kata Ayah " tanya Zein padaku karena hanya melihatku berdua saja keluar kamar.
" Mungkin mereka semua masih beristirahat karena kelelahan. Tapi sebentar lagi mereka akan keluar kamar karena kita sudah memberitahu akan mengadakan jamuan makan malam bersama" sahut Aygul.
Aku mencari sosok Ibu dan adikku yang sedari tadi tak ku lihat.
" Ibu dan Izza kemana Zein?" tanyaku
Zein menunjukkan jari kanan nya ke arah kolam renang.
" Tuh sedang mempersiapkan makan malam di samping kolam renang" jawabnya.
Aku berpamitan pada Ayah untuk mengajak Aygul mendatangi Ibu, Ayah menganggukkan kepala nya.
Di sisi meja Mang Asep dan Bi Rohaya Serta Atiyah tampak sibuk membolak balik kambing guling. Tampak raut wajah gembira terpancar dari wajah para asisten rumah tangga ku yang setia itu.
Mungkin karena masih canggung terhadap istriku, para asisten rumah tangga ku hanya mengangguk tersenyum ketika kami melewatinya. Aku sengaja memanggil Bi Rohaya dan atiyah mendekatiku.
" Bi Roh dan Atiyah tolong kemari sebentar" lambaian tanganku sontak menghentikan kegiatan mereka dan segera mendekati ku.
" Iya Mas Hafiz" Jawab Bi Rohaya sambil mbawa serbet di tangan nya.
" Kenalin ini istri ku, Aygul" kataku pada para asisten rumah tanggaku.
Lalu Bi Roh dan Atiyah bergantian bersalaman sambil tersenyum.
" Hai halo. My Names Aygul. Nice to meet you" kata Aygul menyapa. Aku melihat kedua asistenku menggarukkan kepala nya yang ku rasa tidak gatal. Aku geli melihatnya menahan tawa. Mungkin mereka bingung dengan ucapan Aygul karena mereka tidak mengetahui bahasa Inggris. Lalu aku bantu menterjemahkan nya.
" Istriku bilang namanya Aygul dan dia senang bertemu dengan kalian" Kataku lagi sambil memelul pundaknya dari belakang.
Bi Roh dan Atiyah mengerucutkan bibornya membentuk huruf O. Aku tergelak lalu mereka menjawab dengan kalimat yg lucu.
__ADS_1
" Me Bi Rohaya and dia Atiyah bagian laundry nyonya," jawab Bi Rohaya sambil menunjuk dirinya dan Atiyah.
Aku tertawa geli melihat gestur tubuh Bi Rohaya. Aygul karena kurang begitu mengerti akhirnya aku membantu mentraslate perkataan Bi Rohaya.
" Hunie, She said her name was bi rohaya and the other one was washing clothes she's name Atiyah" Kataku pada Aygul. Dia mengangguk tanda mengerti. Lalu aku menyudahi percakapan ku dengan Bi Rohaya dan kembali mendorong kursi roda istriku ke arah Ibu yang sedang asyik menata meja dengan izza.
Ibu menyambut Aygul dengan kecupan sayang di keningnya dan menyuruh Aygul untuk menikmati snack yang telah tersaji di meja.
Izza menata piring di meja.
" Mas , Nanti Para Asisten aku ajarin bahasa Inggris ya biar bisa komunikasi dengan Kak Aygul" kata Izza serius karena tadi sempat melihat interaksiku dengan asisten rumah tangga. Aku tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolku.
"Usul yang bagus tuh, Tapi gak minta tambahan uang jajan kan dari Mas?" ledekku. Izza mengerlingkan matanya jenaka
"Lha itu kan wajib hahahaha" jawabnya tertawa. Aku bersungut-sungut. Karena Aygul juga kurang paham dengan pembicaraan ku dengan Izza dia hanya diam saja. Aku mengelus kepalanya dan menjelaskan perkataanku tadi. Dia tampak antusias dan tiba-tiba mengajukan keinginan untuk belajar bahasa Indonesia karena dia sadar akan mendampingiku disini dan tidak semua orang mau dan mampu berbicara dengan bahasa Internasional Inggris.
Aku menyetujuinya dan menyuruh Izza mencarikan seorang guru privat untuk Aygul. Agar memudahkan nya berkomunikasi di rumah bersama para asisten ku. Karena nanti hari-hari nya akan banyak bersama asisten.
Beberapa saat kemudian kedua pasang mertua dan iparku serta ayah dan Zein sudah menuju pinggir kolam renang. Ibu menyambut kedua besan nya dengan gembira lalu para Asisten, driver dan tukang kebun ku ikut bergabung menikmati makan malam yang kami adakan untuk menyambut tamu keluarga. Para Asisten memilih menikmati di pinggiran kolam sambil membolak balik kambing guling.
Beberapa kali ku lihat kedua pasang mertuaku terpesona dengan kenikmatan masakan ibuku. Kambing guling plus gule kambing tak lupa sate dan Nasi kebuli. Izza tersenyum menyajikan Puding buah dan Salad buatan nya.
Mustafa dan Emran tampak tersenyum puas sambil mengelus perut nya kami tertawa melihat canda tawa mereka. Aygul menyuapi sepotong irisan daging kambing ke mulutku. Aku sengaja menggigit ujung jarinya dia mengaduh terkejut. Lalu mencubit perutku dengan gemas.
Ya Tuhan sungguh bahagia hari ini aku menikmati kebersamaan ini. Lalu tiba-tiba Banu security yang sedang menjaga pintu gerbang depan masuk dari pintu samping.
Dia bergegas menuju ke arah ku. Aku mengernyitkan dahiku.
" Maaf Mas mengganggu, Ada tamu yang mencari Mas Hafiz." Katanya
" Siapa?" tanyaku
" Seorang wanita muda"
Aku memanggil Izza mendekat.
" Dek coba kamu lihat siapa tamu yang mencari mas di depan. Katanya seorang gadis"
Dia mengangguk dan segera bergegas keluar mengikuti Banu dari belakang nya.
"Siapa ya ?" gumam ku dalam hati sambil melirik Aygul takutbada kesalah pahaman diantara kami.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Izza sudah kembali bersama seseorang yang sangat aku kenal. Aku segera membelalak kan mata melihat gadis itu