Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Ku Pinang Engkau dengan seluruh cinta


__ADS_3

Setelah sarapan pagi ini aku berencana pergi ke sebuah toko perhiasan. Aku ingin membelikan cincin kawin sebagai mas kawin ku untuk Aygul. Memang semua serba mendadak dan seperti akan kiamat esok hari, namun aku telah bertekad bulat dalam hatiku untuk membawa serta Aygul bersama ku setelah dia resmi menjadi istri ku. Aku akan berusaha untuk mengobatinya entah bagaimana cara dan kemana aku tak perduli.


Aku tak mau melakukan lagi untuk kedua kalinya. Meninggalkan gadis setelah mengetahui kondisi kesehatannya. Dan aku bukan lah seorang pengecut !


Syafri mengajak ku ke sebuah toko perhiasan di pusat kota. Saat kami memasuki toko seorang pelayan laki-laki menyapa kami dengan ramah.


"Good morning Sir. Can I help U?" sapa nya


Syafri yang sudah sangay familiar dengan kondisi dan lingkungan kota ini segera bertindak sebagai tour leader ku.


" Ya. Kami mencari sebuah cincin kawin untuk Tuan ini" katanya menerangkan.


Lalu dia mengajak kami masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada beberapa meja kaca yang di dalam nya tersimpan berbagai macam perhiasan.


" Baiklah Tuan. Anda bisa memilih disini. Ada beberapa model terbaru yang sengaja kami ciptakan limited edition" katanya sambil mengeluarkan 1 cincin emas kuning yg bertahta berlian.


Aku sebenarnya bingung dengan ukuran jari Aygul. Namun aku segera mengangsurkan jari kelingkingku ke depan pegawai tadi.


" Tolong beri ukuran sesuai dengan kelingking saya" jawabku


Lalu pegawai tersebut menunjukkan beberapa model cincin.


Aku.memilih sebuah cincin sederhana bermata berlian sebesar biji jagung. Pegawai itu mengacungkan jempol nya sepertinya dia menyetujui pilihanku.


Setelah membayar dan menempatkan nya pada sebuah kotak perak kecil kami berdua bergegas menuju ke sebuah Toko baju muslim yang terlwtak tak jauh dari tiko perhiasan. Entah mengapa aku seperti bermimpi akan mencari barang-barang seserahan untuk calon mempelaiku.


Aku tersenyum mengingat beberapa minggu yang lalu aku menemani Zein mencari perlengkapan seserahan pertunangan untuk Izza adikku.


Ah Zein kini aku sudah mengalami rasa berdebar seperti dirimu. Saat ini mendekati pukul 11.00 waktu setempat, Mungkin 1 jam lagi aku akan menelpon Zein karena dia sudah pulang dari Rumah Sakitnya.


" Syafri aku hanya mencari seperangkat peralatan sholat untuk Aygul. Saat ini aku hanya membutuhkan hal itu saja. Selebihnya aku akan membelikan nya setelah kami telah melangsungkan ijab kabul. Karena keadaan darurat ini" terangku pada nya. Syafri mengangguk mengerti.


Tepat 50 meter kami berjalan. ku lihat sebuah butik yang lumayan besar.


Seorang laki-laki setengah baya mengenakan pakaian khas Turki menyapa kami. Setelah Syafri mengutarakan niat ku mencari perlengkapan sholat wanita. lelaki itu memperlihatkan ku sebuah mukena yang berbahan sutra halus. Dan sebuah abaya dan hijab putih yang terbuat dari sutra pula.


Aku segera mengambil pilihan yang terbaik di toko itu. Aku meminta mereka membungkus dalam.sebuah keranjang yg telah di hiasi pita silver.


Setelah selesai semua. aku mengajak Syafri mencari sebuah coffe shop. Rasa haus yang sedari tadi ku tahan pasti di rasakan nya juga


Coffe shop ini sangat sederhana namun kebersihannya patut di acungi jempol. Aku memesan Ice coffe latte dan Syafri memesan Ice lemon tea.


" Bagaimana rencana mu selanjutnya kawan?" tanya Syafri sambil mengaduk cangkir minumannya.


" Setelah ini kita akan ke rumah Aygul. Dan sebisa mungkin aku akan meminangnya hari ini juga. Syafri apakah kau bisa mencarikan ku seseorang yang bisa menikah kan ku secara agama dahulu. Agar aku bisa leluasa dan halal jika aku bersentuhan dengan nya ketika aku membawa nya berobat." tanyaku pasti


Syafri sedikit berpikir.


" Aku akan menelpon Elif untuk menanyakan nya terlebih dahulu."


Tak lama kemudian dia bercakap-cakap dengan istrinya melalui telpon genggam.

__ADS_1


Aku tak mengerti yang di bicarakan nya karena dia menggunakan dialeg Turki yang kental.


Sesaat kemudian dia menutup telponnya sambil tersenyum.


" Hafiz apakah engkau yakin dengan keputusan mu? apakah kau sudah memikirkan semua sebab dan akibat yang akan terjadi selanjutnya?"


Aku mengernyitkan keningku bingung dengan pertanyaan nya. Aku mengakui memang keputusan ku terkesan terburu-buru. Mungkin sebagian orang mengecapku terlalu gegabah. Bahkan Ayahku sendiri juga meragukan niat tulus ku menikah Aygul. Tapi semua sudah aku niatkan karena Allah ta'ala aku akan menikahi gadis ku apapun kondisi nya. Bahwa cinta saja tak cukup untuk membangun rumah tangga, harus ada pengorbanan dan pengertian untuk orang yang kita cinta.


" Insya Allah Aku sudah memikirkan nya Kawan. Tak perlu kuatir. Aku akan meminang nya dengan seluruh cintaku. Dan aku akan membuatnya bahagia. "Kataku menyakinkan nya.


" Baik lah, Elif tadi mengatakan ada seorang Imam di Masjid yang dekat dengan kediaman Aygul. Mungkin ba'da sholat dhuhur kita bisa mengunjungi nya." katanya.


Aku mengangguk kan kepala. Dan mengajak Syarif untuk segera berangkat ke masjid yang tadi di sarankan. Kami segera menuju tempat parkir mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di Indonesia


Keluarga Hafiz di Indonesia terlihat gelisah. Pak Candra dan Istrinya tampak saling berdiam di meja makan. Dan gadis mungil putri bungsu mereka tampak sedang menelpon.


Tak lama kemudian dia telah menyelesaikan pembicaraan nya dengan seseorang di telpon.


" Bagaimana nak? apa jawaban Zein?" tanya Ayahnya


Izza menghela nafas terlebih dahulu sebelum duduk di depan ayahnya.


" Ayah, Mas Zein sudah menjelaskan bahwa memang Mas Hafiz telah lama mengenal Aygul semenjak mereka kuliah dan hubungan nya putus sebelum Mas Hafiz pulang ke Indonesia."


"Ayah bukan tak percaya nak, Karena Ayah merasa terkejut dengan keputusan Mas mu Itu apalagi dia tak pernah menceritakan semua masalah pribadinya pada ayah dan gadis yang akan di nikahi nya itu dalam keadaan sedang sakit. Yang ayah takutkan Mas mu hanya terburu nafsu karena kasihan bukan benar-benar mencintainya" kata Ayah menjelaskan.


Wajah Ibu tampak mendung. Lalu beliau membalas perkataan ayah.


"Ibu mengenal Hafiz sebagai laki-laki dewasa yang sangat bertanggung jawab Ayah. Percaya lah dengan keputusan nya. Mungkin semua terburu-buru tapi kita harus melihat niat baiknya ingin membawa nya berobat dan membantu mencari kesembuhan utk Aygul."


Izza merasakan desah nafas ayahnya yang berat. Mungkin Ayah nya kurang berkenan dengan keputusan kakak kandung nya. Karena kondisi calon istrinya. Mungkin kondisi sosial mereka yang membuat ayahnya berpikir lebih banyak. Namun sebagai adik yang sangat menyayangi saudara laki satu-satunya dia bertekad akan membantu menyakin kan ayahnya agar merestui keputusan kakaknya.


" Ayah maaf kan Izza sebelumnya. Jika perkataan Izza ini membuat ayah keberatan. Izza ingat sekali dengan semua nasihat dan perkataan ayah dan ibu untuk masa depan kami. Ayah sangat mempercayai semua keputusan kami asal semua nya dapat kami pertanggung jawab kan ke depan nya. Sama denhan keputusan Izza menerima pinangan Mas Zein di usia Izza yg masih muda. Dan Izza percaya sekali ayah dan ibu adalah oranh tua yg sangat bijaksana dan tidak pernah membedakan status sosial maupun kondisi seseorang. Jika Aygul itu berada pada posisi Izza, apakah Ayah akan mengijinkan laki-laki yg mencintai Izza itu menikahi Izza?" tanya Izza lembut tanpa bermaksud menggurui kedua orang tuanya terutama ayahnya.


Pak Candra meraup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya yang sudah mulai keriput.


Sepertinya anak bungsunya itu telah mencubit sisi hatinya yang paling lembut.


"Astaghfirullah hal adzim... maafin ayah nak. Hampir saja Ayah menyakiti hati Mas mu. Kata-kata mu membuat ayah sadar. Kita tidak boleh memandang rendah seseorang yg lemah dan sangat membutuhkan bantuan kita. Baik lah nak. Tolong segera hubungi mas mu. Ayah ingin bicara langsung dengan nya" jawab ayah sambil memeluk Izza.


Sebaris senyum kelegaan terhias di bibir ibu.


Memang sebagai anak kita tetap wajib menghormati orang tua yg telah melahirkan dan membesarkan kita dengan semua jiwa raga nya. Jika ada perbedaan pendapat maupun ketidak sesuaian sikap dengan orang tua hendak nya di utarakan dengam penuh kejujuran dan tutur bahasa yg lemah lembut. Agar orang tua tidak merasa kita gurui, dan kita tentang.


Apapun perbedaan pendapat itu sedapat mungkin di bicarakan dengan baik-baik dan sopan santun yang tetap di jaga. sehingga orang tua akan merasa lebih di hargai dan di hormati.


Begitu pun sebagai orang tua, seharusnya bisa bersikap bijaksana dan mendengarkan semua keluh kesah putra putri, bersama menyelaraskan keinginan yang berbeda agar bisa selalu berdampingan dengan kedua keinginan tanpa perlu merasa kalah.

__ADS_1


Izza segera menekan nomor telpon kakaknya.


Terdengar 2x nada sambung lalu ..


Hafis : Assalamualaikum dek


Izza : Waalaikum salam Mas, ini ayah ingin bicara sebentar


Hafiz : Iya baik . Mana beliau


Izza memberikan hand phone nya pada ayah.


Hafiz : Assalamualaikum Yah. Baru saja Hafiz ingin menelpon.


Ayah : Waalaikum salam nak. Hafiz sekarang kamu ada dimana?


Hafiz : Hafiz masih berada di masjid. Sebentar lagi akan menemui rumah Baba ostman. Beliau seorang Imam yang menikah kan Hafiz dan Aygul.


Ayah : Nak. Mau kah kau menunggu Ayah,Ibu dan adikmu ? kami akan berangkat besok pagi ke Turki. Kami semua akan mendampingi mu saat engkau menikah.


Hafiz : Alhmadulillah.. Ayah apakah Hafiz bermimpi?


Terlihat di layar ponsel kedua mata putra sulung nya sudah basah oleh air mata haru


Ayah : Tidak nak. kamu tidak bermimpi. Hari ini ayah akan menyuruh Ira mencarikan tiket pesawat ke Turki. Kebetulan Visa dan Pasport Ayah , Ibu dan adik mu masih berlaku.


Mau kah kau menunda waktu pernikahan mu menunggu kami semua?


Hafiz : Baik Ayah. Hafiz akan menunggu Ayah. Dan Hafiz akan menjemput Ayah di bandara.


Ayah : baik lah nak. Ayah akan segera menelpon Ira untul mencarikan tiket ke Turki. Wassalamualaikum


Hafiz : Waalaikum Ayah. Salam buat Ibu


Pembicaraan di telpon telah selesai. Pak Candra segera menghubungi Ira sekertaris Hafiz untuk mencarikan tiket pesawat ke Turki. Sebelumnya dia menyuruh Izza untuk menanyakan pada Zein apakah dia bisa mengikuti mereka sekeluarga ke Turki untuk menyaksikan pernikahan putra nya.


Kebetulan besok hari Sabtu dan Zein juga telah mengajukan cuti untuk mengajak Izza mencari seserahan sebelumnya. Akhirnya rencana curi Zein di gunakan nya untuk menemmi calon mertua dan calon istrinya ke Turki.


Perasaan lega dan terharu terlihat dari wajah Ibu dan Izza.


Mereka akan mendampingi oranh terkasih mereka untuk menempuh hidup baru menyempurnakan sunah rosulnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selcuk, Izmir


Setelah menerima telpon dari Ayah perasaan lega dan bahagia menyelimuti hati ku.


Aku tak menyangka kedua orang tua dan adikku akan memdampingi acara pernikahan ku yang serba mendadak.


Aku segera mengabari Syafri dan merubah jadwal acara yang telah aku rencanakan.

__ADS_1


Awalnya aku berencana akan menikahi Aygul nanti malam dan akan segera memboyong nya ke Indonesia dalam beberapa hari. Namun sekarang aku akan menunda nya 2 hari lagi.Menunggu kedatangan keluargaku.


__ADS_2