
Kamar Izza yang telah di sulap menjadi kamar pengantin berwarna peach dan putih itu terkesan elegan dan mewah. Diam-diam Aygul sangat berbakat untuk mendesain interior kamar adik iparnya menjadi kamar yang indah dan membuat nyaman pengantin baru untuk melaksanakan ibadah pertama merekam.
Mengingat kedekatannya dengan Izza selama ini dia merasakan kebahagiaan yang sama seperti pengantin itu. Sehingga dengan semangat 45 dia meminta ijin mendekorasi kamar adiknya.
Izza yang ingin membuat kakak iparnya itu senang mempersilahkan nya merombak dan menghias kamar pribadinya itu sesuai request nya. Walaupun nanti Ayah sudah menyediakan kamar hotel untuk tempat bermalam pertamanya.
Aroma kembang melati dan Mawar serta kenanga semerbak memenuhi kamar berukuran 6x6 meter itu. Ranjangnya telah di hias sedemikian rupa, ada dua angsa dari handuk putih yang duduk bercengkrama di atas sprei putih yang di taburi kelopak mawar merah.
Kedua mempelai itu sudah berada di dalam kamar berdua, hari masih siang dan para tamu dari kerabat dekat masih melepas rindu di beranda rumah induk, ada yang bercanda di halaman belakang yang telah di pasangi tenda dengan aneka hiasan bunga hidup dan meja yang di penuhi kue serta buah-buahan segar.
Acara siang ini masih bebas hingga menjelang senja mereka harus berada di hotel tempat resepsi. Ibu sudah menggiring kedua pengantin ke dalam kamar agar bisa beristirahat sebentar sebelum melaksanakan acara resepsi nanti malam yang akan menyita tenaga nya.
Baru pertama kali ini dia memasuki kamar istrinya. Rasa kagum melihat isi kamar istrinya yang tersusun apik disitu. Lalu dia mengalihkan perhatian nya dengan menajamkan pandangan nya pada wajah ayu nan imut Izza yang sedang duduk sambil menunduk di atas sofa di sudut kamar.
Zein berjalan mendekati wanita yang baru saja di halalkan nya. Hatinya seperti genderang yang riuh bertalu-talu. Ada rasa gugup karena baru kali ini dia begitu dekat secara fisik dengan seorang wanita di dalam ruangan tertutup.
Bingung bercampur gemetar adalah situasi yang sekarang di hadapi nya. Padahal dia adalah publik speaking yang bagus ketika berhadapan diantara ratusan audience ketika berada di rumah sakit atau saat menjadi Pembicara di seminar ilmiah.
Namun untuk menghadapi satu wanita spesial di dalam kamar ini rasanya lidah nya begitu kelu untuk mengucapkan sebuah kata yang mewakili perasaan nya saat ini.Haru bahagia dan bangga menjadi satu berkumpul di wajahnya.
__ADS_1
Namun karena naluri nya sebagai lelaki dan imam untuk istrinya, dia memberanikan diri mendekati ratu di hatinya.
"Assalamu'alaikum sayang.. " sapa nya lembut sambil mengambil kedua tangan Izza yang beraru di atas pangkuan. Sebutan sayang ini membuat si mungil yang sudah berubah status dari single menjadi istri ini tersenyum malu, semburat merah jambu terhias di kedua pipinya yang ranum.
"Waalaikum salam, Mas.. " jawabnya lembut.
Zein mengangkat tubuh istrinya agar berdiri sejajar dengan nya. Tubuhnya yang bertinggi 175 cm. dengan berat badan ideal itu terlihat jangkung ketika berhadapan dengan putri kesayangan Pak Birendra.
"Terimakasih sudah mau menjadi istriku, mau menerima aku yang bukan siapa-siapa ini menjadi pendamping hidup mu. Dan menyempurnakan separuh ibadah panjang ku. Jadi lah teman, sahabat, istri dan ibu dari anak-anak ku ya sayang.. " Wajah mereka saling bertatapan dengan mesra. Ada desir halus yang melewati sukma nya ketika mereka nerhadapan begitu dekat seperti ini.
"Iya sama-sama Mas, Aku juga berterimakasih karena Mas memilih ku menjadi istri dan patner hidup mu. Bimbing aku untuk menjadi istri sholihah yang akan membersamai mu hingga jannah nya.Tegur aku jika melakukan kesalahan tapi jangan bentak aku ya Mas, aku tak sanggup jika Mas menaikkan nada suara 1 oktaf." bicara nya sangat dalam sambil menatap manik mata lelaki yang telah mengisi relung hatinya beberapa bulan yang lalu.
Dokter tampan berkumis tipis itu menunduk kan wajahnya dan " sayang, boleh kah Mas mencium mu? " tanya nya malu-malu padahal mau dan berharap lebih.
Izza makin merona mendengar permintaan suaminya jujur saya dia juga nervous dan belum pernah melakukan itu dengan lelaki lain. Tapi karena permintaan itu dari orang yang di cintai nya dan sudah bernilai pahala maka dia pun mengangguk kan kepala malu-malu.
Tangan kanan Zein memegang kepala belakang Izza dan tangan kiri nya memeluk pinggang ramping sang istri dengan mesra. Namun gadis itu masih tak bergerak karena belum berpengalaman sama sekali pun dengan Zein juga melakukan nya hanya bermodal kan insting nya saja. Makin mendekati bibir mungil nan ranum dan berwarna pink itu membuat panas dingin perasaannya. Bibir dengan bibir sudah mendekat dan Zein mencoba me-lu-mat bibir istrinya itu dengan perlahan dan penuh perasaan.
Ini adalah ciuman pertama bagi mereka berdua, rasanya seperti melayang ke atas angin, Bibir yang menyatu dan deru nafas yang membutuhkan menimbulkan gelenyar-gelenyar indah di hati mereka, seolah sedang meneguk air di tengah gurun pasir, makin lama Zein makin menikmati permainannya dan membuatnya candu. Suara desah nafas nya memburu dan mengeluarkan desah dari mulut wanitanya.
__ADS_1
Mereka berdua berhenti sejenak untuk meraup oxygen yang nyaris habis karena permainan lidah mereka. Kedua nya masih tampak kaku dan malu namun tak mau berhenti untuk melakukan nya tangan Umaizah mengunci leher suaminya hingga pintu kamar pengantin itu di ketik dari luar sebanyak tiga kali.
Izza melepaskan pagutan suami nya karena tersentak mendengar ketukan itu. Zein tersenyum dengan kedua mata yang berkabut menahan gelora cintanya. Izza segera membenarkan hijab nya yang sedikit berantakan karena ulah suami nya. Lalu dia bergegas membuka pintu kamar. Zein sudah di posisi duduk di depan meja rias dan membuka baju pengantin nya.
" Hey nyonya kecil, masih siang ini udah check in aja sih.. hehehe" ternyata Kakak nya yang jahil itu yang mengetuk pintu. Dia melongok kan kepala nya ke dalam kamar adiknya dan melihat adik ipar nya sedang membuka pakaian.
" Eh... dokter, jangan praktek anatomi tubuh siang-siang ya... kedengaran ntar di luar.. wkwkwkkw" goda Hafiz yang paling suka mengusili keduanya.
Zein tersenyum malu sambil melemparkan segumpal tissu ke arah pintu, dan di sambit gelak tawa sahabat yang telah menjadi iparnya itu. Hafiz melihat lipstik di bibir adiknya sudah sedikit memudar dan belepotan.
Ckkk.. ini pasti ulah Zein yang udah meracuni otak adik kesayangan nya ini.. Batin nya kocak. Hafiz mengusap bibir Izza dengan tangan kanan nya.
" Noh, ngaca dulu, belepotan tuh bekas bibir Zein masih terlihat "goda Hafiz makin usil dan membuat pengantin baru itu malu dan menutup pintu lagi.
" Eh... kok di tutup sih... Ucil! Banyak tamu yang nyariin kalian jangan ngerem dulu deh! " ledek Hafiz makin menjadi.
Izza menghentakkan kaki nya antara kesal dan malu kepergok abangnya seperti itu namun dia melihat Zein biasa saja seperti tak pernah terjadi pembullyan terhadap pengantin baru itu.
"Sayang, sini. Udah ah gak usah di ladenin Mas Hafiz emang usil kok. Sini Mas bantu melepaskan hijab dan baju nya. pasti kamu gerah kan..? " Zein mendekati istrinya yang masih berdiri mematung di depan pintu.
__ADS_1