
Aku bersyukur bisa merampungkan kuliahku tepat waktu. Dan semua biaya gratis karena beasiswa dari kampus. Alhamdulillah aku di berikan otak yang encer oleh Allah SWT. Aku mudah menerima mata kuliah apa pun. Semua ku lahap dengan baik.
Allah memang maha besar dan Maha adil. Dulu saat di bangku SMA di saat kawan-kawan ku yang memiliki orang tua kaya harus berusaha ikut les tambahan agar bisa mengikuti pelajaran Matatika, fisika maupun kimia saat di bangku sekolah dulu, justru aku yang di berikan kelebihan untuk jadi guru pengajar di lembaga bimbingan belajar (bimbel) itu dan honornya bisa aku tabung untuk beli buku pelajaran dan uang saku ku dan kedua adik kembar ku yang masih duduk di bangku SMP.
Ya aku memiliki adik kembar laki-laki dan perempuan. Namanya Ibrahim dan Sarah. Sejak Adik ku lahir Ayah ku terkena stroke ringan, dulu ayah bekerja di pabrik rokok yang terkenal di daerah ku. Selisih usia ku dengan si kembar 5 tahun. Jadi saat si kembar lahir aku baru masuk TK dan saat itu keluarga ku mengalami masa sulit.
Abi tiba-tiba terkena stroke ringan dan harus pensiun dini dari pabrik rokok yang selama ini menghidupi keluarga kami. Akhirnya Umi lah yang menggantikan peran Abi sebagai tulang punggung keluarga. Umi meminta ijin untuk bekerja di pesantren milik Mbah Kayi Haji Abdurahman saudara jauh Kakek buyut ku.
Dengan berat hati Abi mengijinkan Umi untuk bekerja sebagai tukang masak di pesantren. Untung nya pesantren itu tak jauh dari rumah hanya berjarak satu desa saja dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Saat itu kami tak memiliki sebuah kendaraan bermotor. Satu-satunya sepeda motor tua Abi di jual untuk tambahan berobat.
Untuk makan saat itu susah, Umi mengandalkan pesangon Abi yang tak tinggal sedikit karena di pakai berobat juga. Sering aku lihat Abi dan Umi berpuasa sepanjang minggu demi anak-anak nya bisa makan sehari 3x. Apalagi saat itu adik kembar ku butuh asupan gizi untuk tumbuh kembang nya.
Di saat sulit itu datang lah pertolongan dari Allah SWT melalui perantara Mbah Kyai pemilik pesantren. Beliau memang tidak menjanjikan upah banyak namun beliau membuka kedua tangan nya untuk mengasuh aku dan adik kembar ku di pesantren beliau. Saat Umi bekerja sebagai tukang masak bersama lima orang ibu-ibu lain nya untuk para santri yang jumlah nya ratusan orang. Abi membantu Mbah Kyai mengajar mengaji, kebetulan Abi dulu pernah mondok selama enam tahun di pesantren salaf sehingga Abi mempunyai kemampuan untuk mengajar.
Akhirnya sejak aku duduk di bangku sekolah dasar aku juga telah menjadi santri di pesantren Abah Kyai. Beliau sangat menyayangi keluarga kami dan beliau selalu mensuport pendidikan ku hingga aku tamat Madrasah Aliyah dengan nilai terbaik se propinsi. Pesantren Mbah Kyai memang sangat terkenal di negara ini siapapun akan mengenal pesantren yang ikut berjuang saat kemerdekaan Indonesia dulu.
Dengan berobat teratur dan hidup tenang di pesantren sebagai pengajar perlahan sakit Abi mulai sembuh. Dan Umi tetap bahagia menjadi juru masak di pesantren ini.
__ADS_1
Aku tahu, Ning Iqlima cucu Mbah Yai yang kuliah di Universitas negeri di Surabaya sering mencuri pandang saat aku melintas di dapur untuk membantu Ibu mengangkat bakul nasi yang berat untuk di bawa ke ruang makan para santri.
Aku tahu pandangan itu berbeda saat berbicara denganku ketika dia meminta tolong untuk meminta tolong sesuatu. Ning Iqlima gadis manis putri pertama Kyai Zaenal yang tiba-tiba saja menyatakan cinta pada ku. Aku takut setengah mati jika kedua orang tua nya tahu kalau pitri kesayangan nya itu jatuh cinta pada abdi dalem keluarga mereka.
Ini tak boleh terjadi aku harus tahu diri dan aku harus membentengi hati ini agar tak jatuh hati pada putri seorang Kyai yang aku hormati. Ning Iqlima sudah di jodoh kan dengan Gus Taufan putra Kyai dari pesantren di Jawa Tengah. Keluarga mereka sudah bertemu dan sepakat akan menikah kan putra putri mereka ketika Ning Iqlima kenaikan semesteran.
Jujur aku sedikit kagum dengan keberanian Ning Iqlima yang berani menyatakan cintanya pada ku. Aku yang bukan putra Kiai harus tahu diri tak mau jika diri ini ngelunjak. Lebih baik aku menghindari dia sebelum semuanya rumit dan jadi bumerang untuk keluarga ku.
Aku tak mau jadi orang yang tak tahu berterimakasih pada keluarga besar Abah Yai. Maka saat aku mendapatkan kabar kalau aku menerima beasiswa ke Negeri Firaun langsung saja aku sambut dan terima dengan suka cita,karena dengan kepergian ku menuntut ilmu ke negeri jauh, aku bisa menghindari kejaran ning Iqlima, tapi kedua orang tua dan adik kembarku sedih harus berpisah dengan ku.
Akhirnya keluarga ku mau menerima keberuntungan ku.Tak henti-hentinya kedua orang tua ku sujud syukur untuk mengungkapkan rasa terimakasih tak terhingga pada sang Khalik pemilik kehidupan kami.
Air mata tak bisa berhenti mengalir saat kami harus berpisah di bandara dan saat itu pula aku bertekad akan membuat kedua orang tua ku bahagia. Aku tak pernah menceritakan tentang Ning Iqlima. Biarlah ini jadi kenangan untuk hidup ku saja. Cukup aku dan Tuhan ku saja yang tahu isi hatiku sebenarnya.
Tujuh tahun aku tak pernah pulang ke Indonesia, aku ahrus menahan rindu yang dalam pada keluarga ku. Jangan kan untuk pulang, aku bisa makan sehari 2x dan punya tempat tinggal nyaman disini saja sudah sangat bersyukur. Kalau bukan karena perkenalan ku dengan Bramantyo Hafizuddin Birendra saat itu entah akan seperti apa hidupku disana.
Uang saku yang pas-pasan dari Abi dan Umi harus benar-benar ku irit. Saat aku berusaha mencari rumah (kost) yang murah demi bisa berteduh dari panas dan hujan di negara orang tiba-tiba saja aku di tawari tinggal bersama dengan anak dermawan itu.
__ADS_1
Aku sungguh berhutang budi padanya. Aku tak pernah tahu keluarganya selama kami kuliah. Karena Hafiz bukan orang yang suka pamer dan dia hidup dengan kesederhanaan dan bersahaja. Kami bersahabat tanpa mengetahui masing-masing latar belakang keluarga kami di Indonesia.
Sampai suatu ketika Umi mengatakan belum bisa lagi mengirimiku uang saku dan uang makan untuk dua bulan ke depan karena si kembar sedang membutuhkan uang untuk masuk sekolah SMA, tak sengaja Hafiz mendengar nya dari telepon yang tak sengaja aku speaker. Aku kira Hafiz sedang pergi bersama kekasih nya dan seperti biasa aku akan di rumah melewati waktu libur untuk belajar lagi memperdalam wawasan tentang ilmu kedokteran. Ternyata Hafiz sedang di kamarnya yang tertutup.
Betapa terkejutnya aku saat berbalik badan ternyata Hafiz sedang berdiri di belakangku sambil menepuk pundak ku.
Aku malu tatkala mengetahui Hafiz telah mencuri dengar percakapanku dengan Umi.
"Zein maaf aku tak sengaja mendengar pembicaraan mu dengan Umi. Jangan kuatir Zein. Aku masih ada uang saku lebih untuk makan kita berdua selama dua bulan ke depan."
Aku menunduk tak berani menatap matanya karena malu. Aku sudah banyak merepotkan nya disini.
"Fiz. Jangan kuatir aku juga masih ada simpanan sedikit untuk makan. Honorku sebagai penjaga perpustakaan kampus masih bisa menopang hidup. "
Hafiz menatapku entah dengan perasaan apa aku tak tahu. Lalu aku mengajak Hafiz duduk menikmatu kopi tubruk racikan Umi yang aku bawa beberapa bulan yang lalu saat aku berangkat ke sini.
Dari secangkir kopi itu lah aku bercerita tentang keluarga ku, tentang semua perjalanan nasib ku hingga aku bisa mendapat beasiswa ke Mesir. Tapi aku tak bercerita tentang Ning Iqlima karena memang di atara kami tak pernah ada cerita istimewa.
__ADS_1