
Setelah Hafiz keluar dari ruangan dokter,Zahrana menghempaskan tubuh mungil nya ke atas kursi kerja nya yang empuk. Tubuh nya bersandar pada penyanggah kursi putar nya. Lalu matanya menerawang ke atas mengingat lelaki bernama Hafiz hati nya harus menelan kekecewaan lagi ketika mengetahui Hafiz sudah menikah dan sekarang sedang menanti buah cinta mereka.
Ah...masa lalu memang indah di kenang namun harus segera di lupakan agar tudak membuat masa depan nya dalam kebimbangan. Jujur sampai saat ini Zahrana belum menikah karena dia masih ingin mencari sosok lelaki yang telah di rindukan nya siang malam selama ini.
Dulu dia menyangka Hafiz lah cinta pertama nya namun Ketika tadi bertemu Hafiz memang ada rasa bahagia namun setelah mendengar Hafiz menikah dia juga tidak terlalu sedih sekali hanya kecewa sebentar saja, mungkin bukan Hafiz lelaki yang telah mencuri hatinya bertahun-tahun lamanya.
Dia memejam kan mata membuka lagi memori nya akan satu wajah yang samar dia hadir kan lagi dalam hayal nya. Lelaki yang memiliki rahang tegas namun sulit tersenyum. Lelaki itu yang pernah menyelamatkan nya dari jambret beberapa tahun yang lalu saat dia masih kuliah kedokteran semester tiga.
Lalu wajah lelaki itu dia sanding kan dengan wajah Hafiz di dalam memory nya namun sosok Hafiz ternyata tidak lagi menggetar kan nya. Dia jadi ingat wajah lelaki misterius itu yang terluka di lengan kanan nya kena sabetan pisau lipat saat melindungi nya dari jambret.
Dia ingat saat hendak menyebrang jalan di seberang kampus nya tiba-tiba dua orang pengendara motor sport menyerempet nya dan menarik tas yang berisi laptop dan dompet nya. Hampir saja dia tertabrak karena mempertahan kan tas nya namun ada dewa penolong yang menghalangi penjambret itu merebut tas nya dengan cara menangkis tangan penjambret yang mengayun ayun kan pisau lipat ke arah nya alhasil pangkal lengan nya kena sabetan pisau itu.
Lelaki itu menendang penjambret itu dengan kaki kanan nya yang memakai sepatu kets warna putih. Tendangan itu berhasil merubuh kan dua penjambret itu dan membuat mereka terguling-guling ke tanah. Teriakan Zahrana meminta tolong pada orang yang berjalan lalu lalang di sebelah nya.
Penjambret itu berhasil di ringkus oleh dua security yang ada di dekat kampus. Pemuda itu mengalami luka sabetan pada lengan nya yang lumayan dalam.Darah mengucur deras sehingga Zahrana meminta tolonh pada orang di sekitar situ untuk mengantar ke rumah sakit terdekat.
Setelah di rawat intensif dan luka bekas pisau itu di jahit pemuda itu sudah di perboleh kan pulang. Zahrana membayar semua biaya perawatan pemuda itu namun pemuda itu menolak nya dan membayar sendiri biaya pengobatan nya. Entah karena gengsi atau tak mau merepotkan orang lain lelaki itu menolak pertolongan Zahrana.
Pertemuan singkat dan mengesan kan itu meninggal kan kenangan manis yang tak terlupakan. Dan bodoh nya gadis itu tak menanyakan nama dewa penolong nya dia hanya mengucapkan terimakasih dan pemuda itu berlalu meninggalkan nya terpaku berdiri di depan kasir Rumah sakit.
Ketika lelaki itu naik ke dalam taxi, Zahrana tersadar jika topi lelaki itu masih ada di genggaman nya. Topi berwarna biru navy itu ada inisal nama nya A. Dan sampai sekarang topi itu masih tersimpan di dalam lemari nya. Dia berharap satu hari nanti bisa bertemu dengan pemilik topi ini.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hafiz memasuki ruang IGD dengan wajah yang full senyum. Dia mendekati ranjang tempat istri nya terbaring. Nana dan Atia yang menjaga Aygul perlahan mundur keluar tak enak berada di antara kedua suami istri itu.
"Sayang kenapa lama sekali menemui dokter?apa ada sesuatu yang buruk dengan tubuh ku?" raut wajah Aygul terlihat kuatir.
__ADS_1
Hafiz tersenyum dan memeluk tubuh istrinya lalu dia mencium semua bagian wajah cantik istri nya. Aygul memandang suaminya dengan heran.
"Kamu hamil sayang?!"
Aygul mendorong tubuh suaminya dengan kekuatan yang sudah pulih " Apa??! Hamil ??? Are you kidding hunny?"
"No baby...kamu akan jadi ibu dari anak-anakku.Kamu akan jadi Momy yang hebat dan kuat!"
"Hiks..hikss...Alhamdulillah" hanya itu saja yang terucap dari bibir mungilnya yang pucat. Dia memeluk suaminya lebih erat lagi dan menangis terisak hingga terdengar di luar IGD.
Atiah dan Nana yang berada di luar mendengar tangis nona muda nya menjadi kuatir.Mereka takut jika nona muda nya mendapatkan penyakit yang lebih parah, mereka berdua berlaru mendekati kaca dan melihat kedua orang itu saling berpelukan erat saling menangis dan tertawa.
Atiah yang lebih tua dari Nana menarik tangan teman nya itu untuk menemui tuan nya mereka kuatir jika ada sesuatu yang gawat pada Nona muda nya.
Tok..tok.
"Mas..kenapa Nona menangis? Apa ada yang sakit lagi?"
"Gak ada yang sakit Na, kalian harua ucapkan selamat pada kami" katA Hafiz berseri-seri.
"Lalu kenapa Nona dan Mas menangis tadi,suara nya terdengar sampai luar."tanya Nana
" Ucapkan selamat pada kami karena kami akan memiliki anak hehehe..."
Atiah dan Nana serempak mengucapkan syukur pada Allah SWT dan mengucapkan selamat pada kedua nya mereka ikut berbahagia mendengar tuan nya akan menjadi sepasang orangv tua.
"Mulai bulan depan gaji kalian akan saya tambahin.Tapi kerja nya lebih rajin ya?!" kata Hafiz masih dengan tersenyum senang.
__ADS_1
Kedua orang asisten yang setia itu tersenyum bahagia dan berjanji akan lebih rajin dan menjaga kesehatan Nona mereka agar sehat terus.
Akhirnya mereka meninggalkan klinik kesehatan itu dan pulang menuju ke rumah. Anto si driver kantor segea berlari membuka kan pintu mobil untuk sang majikan yang menggendong istri nya.
Atiah dan Nana berjalan di belakang Hafiz, Nana duduk di sebelah Anto dan Atiah duduk bersama kedua orang tuan muda nya. Sepanjang perjalanan wajah Hafiz selalu sumringah dan tersenyum bahagia.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kediaman Birendra junior. Bersama mereka memasuki rumah, kursi roda Aygul di dorong Anto ke dalam sedang kan Aygul masih di gendong dengan mesra oleh suaminya.
Ternyata di dalam rumah Bu Hafzah sudah menunggu di ruang keluarga dengan gelisah. Tadi dia ke rumah mencari menantunnya dia berencana mengajak menantu nya untuk berbelanja bersama ternyata dia mendapatkan kabar dari Firdaus kalau Aygul jatuh pingsan.
"Assalamualaikum Bu" sapa Hafiz lalu dia menurun kan Aygul di sebelah Ibu nya.
"Waalaikum salam, Nak. Gimana keadaan Aygul?" tanya Bu Hafzah kuatir.
Aygul tersenyum lalu mengambil tangan mertua nya dan mencium nya dengan rasa bahagia. "Alhamdulillah everything is okay Bunda" jawab Aygul tersenyum.
Hafiz memeluk ibunya tiba-tiba lalu menangis di pelukan ibu nya.
"Lhoo...lhooo kenapa nak ?ada apa?" wanita paruh baya itu bingung melihat anak nya menangis namun menantu nya justru tersenyum.
Setelah melepaskan pelukan nya Hafiz memberi tahu kan kabar bahagia itu pada ibu nya. Wajah wanita yang masih cantik di usia senja nya itu terlihat berkaca-kaca. Air bening nya hampir runtuh terjun ke pipi nya yang sudah mulai ada garia halus nya.
"Alhamdulillah ya Allah...sebentar bunda mau ambil test pack dulu di meja kerja, bunda ingin memastikan dulu sebelum kalian nanti wajib ke dokter kandungan"
Bu Hafzah terburu-buru keluar dari rumah Hafi Melalui pintu penghubung di sebelah ruang makan. Hanya 5 menit dia sudah kembali membawa satu benda pipih panjang dan satu cawan kecil dari plastik yang habis pakai.
"Ayo nak bantu istri mu untuk berkemih lalu tampung air seni nya ke cawan dan masuk kan alat ini ke cawan yang berisi air seni nya" Bu Hafzah menerangkan cara pemakaian benda yang ada di tangan nya.
__ADS_1
Hafiz segera mendudukkan Aygul di kursi roda nya dan mendorong nya ke kamar mandi yang ada di ruang tengah.