
Pagi ini ada rapat direksi yang tak bisa di tinggal oleh Hafiz karena menyangkut kepastian kontrak kerjasama nya dengan perusahaan asal Singapore itu. Mr Fangfang masih belum memberikan kabar baik untuk meneruskan kerjasama itu.
Sambil menemani Aygul sarapan dan menyiapkan berkas penting nya dia menelpon Aldo agar menjemputnya di rumah. Dia ingin konsentrasi mempelajari draft kontrak lagi sebelum dia mengambil keputusan penting untuk perusahaan nya.
Aygul menghabiskan sarapannya karena perutnya memang sangat lapar, semalam habis memadu cinta dan perut kosong membuatnya seperti orang rakus pagi ini.
Hafiz tersenyum senang melihat perubahan pada istrinya, dia mengambil tisue dan menyeka sebutir basi yang ada di sudut bibir merah istrinya.
Aygul tersenyum malu karena mendapati suaminya memandang nya penuh cinta "teşekkür ederim (terimakasih) "
Hafiz mencium tangan istrinya sambil mengangguk kan kepala, dia memang bucin sekali pada gadis Ottoman itu.
Tok. tok. tok
Suara ketukan pintu di ruang tamu terdengar, Aruah berlari kecil membuka pintu.
"Assalamualaikum Mbak Tiah, Pak Hafiz ada? " sapa Aldo.
"Waalaikum salam Pak Aldo, ada Silahkan masuk" Atiah mempersilahkan tamu nya duduk.
Hafiz mendengar suara Aldo menyuruh nya bergabung untuk makan bersama dan memang Aldo sudah akrab dan seperti keluarga sendiri dengan Hafiz dia pun mendatangi mereka berdua di meja makan. Namun dia menolak untuk sarapan karena sudah makan dari rumah yang di sediakan oleh ibunya.
"Pak Aldo mau minum kopi? " tawar Atiah
Aldo mengangguk dia minta secangkir kopi hitam saja untuk mengusir kantuknya. Maklum tadi malam dia lembur mengerjakan tugas dari Hafiz untuk meeting pagi ini.
Aldo membuka kertas kerja nya dan mengeluarkan map bening berisi dokumen. Aygul telah menyelesaikan makan nya dan dia mengangsurkan sanwich pada Aldo.
Hafiz memeriksa sebentar dokumen dari Aldo kemudian dia mengangguk angguk.
"Sudah betul semua berkasnya tinggal nanti kita harus bisa memperjuangkan hak kita agar tetap menang. " kata Hafiz sambil melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.
Atiah datang meletakkan cangkir berisi kopi hitam oleh-oleh dari Ibunda Zein. Lalu dia kembali ke dapur.
"Benar Pak, mereka sudah menyalahi perjanjian yang mereka buat sendiri. Dan mereka harus terima konsekuensi yang mereka perbuat" jawab Aldo sambil menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap panas.
"Aldo habis kan dulu kopi dan sanwich mu, saya mau antar Aygul ke kamar" perintah Hafiz. Aldo mengangguk lalu Hafiz mendorong kursi roda istrinya ke kamar.
__ADS_1
Hafiz mengatakan jika Atiah dan Nana akan pergi berbelanja ke supermarket yang ada di dekat rumahnya apakah dia mau mengikuti asistennya pergi, agar dia tidak jenuh di rumah sendirian. Jika dia tak mau pergi mungkin hanya Atiah saja yang pergi berbelanja, dan Nana yang menemaninya di rumah.
Aygul memutuskan ikut sekalian dia ingin membeli beberapa keperluan pribadi nya seperti pembalut dan beberapa kosmetik yang tinggal sedikit.
Setelah Hafiz dan Aldo berangkat ke kantor, sesaat kemudian Aygul bersama para Asisten rumah tangga nya keluar rumah untuk berbelanja.
Kantor pagi ini sudah penuh dengan karyawan yang telah melakukan tugas nya masing-masing dan di sebuah ruang meeting telah berkumpul dan membahas sebuah agenda penting untuk kelangsungan perusahaan.
Para manager saling memberi pendapat masing-masing yang bertujuan untuk memberi masukan pada sang pemilik perusahaan. Hafiz mendengarkan dengan seksama dan Ira mencatat semua hasil meeting itu di atas notulennya.
Satu jam berselang tak terasa hasil meeting sudah mendekati final tiba-tiba ponsel Hafiz bergetar. Dia memang sengaja membuat mode silent namun tetap bergetar.
Dua kali getaran akhirnya dia mengambil gawainya dan melihat Nana menelpon nya. Dia langsung menggeser gambar telpon warna hijau itu.
Hafiz keluar ruangan terlebih dahulu sebelum menjawab panggilan Nana. Para staf managerialnya masih berkutat membahas meeting dengan Aldo sebagai tangan kanan nya.
"Assalamualaikum Mas Hafiz"
"Mas.. maaf mau kasih kabar, Non Aygul pingsan! "kata Nana dengan suara panik.
Hafiz terkejut "Apa?? pingsan?! dimana?!"
Nana mengatakan jika saat belanja di supermarket itu Aygul mencoba berdiri dari pada kursi rodanya, Nana dan Atiah audah melarang namun Aygul bersikeras ingin belajar karena ingin segera sembuh.
Nana mengatakan sekarang Aygul di bawa ke klinik yang ada di sebelah supermarket itu. Hafiz meminta Nana menjaga Aygul sampai dia datang dan memberinya kabar terus tentang kondisi Aygul setelah di periksa oleh dokter.
Setelah selesai menutup telpon, Hafiz kembali lagi ke ruang rapat dan mencolek Aldo, lelaki tampan berusia 28 tahun itu merespon dengan segera berdiri mengikuti Hafiz keluar ruangan.
"Al, saya harus ke klinik sekarang, istri saya pingsan. Kamu pimpin meeting sampai selesai nanti kabari hasil meeting nya.Usahakan hasil nya final hari ini"
Aldo terkejut mendengar istri cantik bos nya itu pingsan namun dia segera menguasai diri dan menyanggupi permintaan sang atasan.
"Bapak kesana dengan siapa?"Aldo kuatir jika Hafiz menyetir kendaraan sendiri dalam keadaan panik seperti ini.
Hafuz berpikir sebentar lalu "Tolong panggil Anton kemari, saya ajak dia saja kamu tetap lanjut kan meeting nya"
__ADS_1
Aldo kemudian menelpon Anton driver kantor yang biasa nya mengantar para tamu ataupyn para manager kantor ketika beroperasional bekerja.
Tak lama datang lah lelaki muda berusia 23 tahun memakai pakaian safari biru dongker datang menghadap. Setelah berpamitan dengan para staf nya Hafiz segera meluncur ke klinik.
Aygul sudah siuman, dia masih terbaring di ranjang klinik di tunggui para asisten rumah tangga nya dan saat dokter selesai memeriksa kondisi kesehatan nya sang suami baru saja tiba.
Hafiz menelpon Nana dan menanyakan keberadaan mereka, Setelah Nana memberi tahu kan tempat perawaran Nona muda nya Hafiz berjalan tergesa-gesa menuju ruang IGD.
Pintu IGD di ketuk dari luar seorang perawat wanita keluar membuka kan pintu, Hafiz menanyakan nama Aygul apakah sedang berada di dalam, perawat itu mempersilahkan Hafiz masuk ke dalam.
Aygul yang tergolek lemah segera bangkit ketika melihat sosok suaminya datang.Nana dan Atiah tampak ketakutan melihat sang tuan terlihat sedikit masam wajahnya.
Se umur-umur mereka menjadi asisten di keluarga Birendra tak pernah sedikit pun mendapatkan perlakuan buruk maupun kasar dari majikan nya. Karena itu para asisten disana sangat kerasan dan loyal pada keluarga Birendra.
Namun kali ini mereka sangat ketakutan karena sang tuan muda sedang tak enak hati terlihat dari raut wajah nya yang sedikit tak enak di lihat. Seperti se ekor naga yang akan menyemburkan lidah api nya.
"Sayang, apa yang terjadi? bagaimana bisa kamu jatuh pingsan? " tanya Hafiz bertubi-tubi pada istrinya.
Aygul mengenggam erat tangan suaminya mencoba menahan kemarahan yang Sepertinya akan dia keluarkan pada kedua asisten nya.
"Hunny it's okay, aku hanya mencoba berjalan namun kaki ku masih tak bisa kompromi. Ini bukan salah mereka, jangan kau marah pada mereka. Aku yang memaksa berjalan " jawab Aygul sambil mengeratkan genggaman tangan nya.
Hafiz menarik nafas perlahan lalu dia menghembuskan nya pelan. Dia melirik ke arah Nana dan Atiah.
"Baik lah, aku tak marah pada kalian tapi untuk selanjut nya ketika kalian sedabg bersama istri ku, kalian harus lebih konsentrasi lagi dan salah satu dari kalian harus menjaga nya. Karena kalian tahu sendiri istri ku belum bisa berjalan dan untuk komunikasi juga belum lancar. "kata Hafiz pada mereka berdua.
Nana dan Atiah menjawab serempak "Iya Mas Hafiz, maafkan kami teledor menjaga Nona muda"
Akhirnya Hafiz lebih tenang dan merasa kasihan melihat kedua asisten nya itu ketakutan.
"Apa belanja kalian sudah selesai? " tanya Hafiz lagi
"Kami tidak jadi belanja Mas, trolly dan belanjaan kami tadi sudah di kembalikan lagi sama Mang Asep"
"Ya Sudah setelah ini kita pulang saja, nanti malam kalian boleh kemari lagi untuk belanja. Sekarang saya mau menemui dokter yang menangani Aygul dulu. Tolong jaga istri saya dulu"kata Hafiz kemudian dia mengatakan pada istrinya agar tetap berbaring menunggu dia kembali menemui dokter.
__ADS_1