
Hujan mulai sering turun di penghujung bulan di musim penghujan ini. kerap hadir hampir selepas subuh. Udara di luar makin dingin karena semalaman banjir. Pun di kamar pengantin baru itu juga terasa dingin karena kecemburuan seorang Aygul pada suaminya yang tampan dan sempurna.
Sejak semalam setelah pulang dari pesta, Aygul terdiam, dia hanya bicara seperlu nya saja. Dia masih cemburu dengan Dewi yang terus mendekati Hafiz. Di tambah lagi sikap Hafiz yang kekanakan menolak buket bunga dari Mr Fangfang.
Hafiz sudah meminta maaf atas kekanakan nya namun Aygul masih merajuk hingga pagi ini.
Saat breakfast tiba, seluruh anggota keluarga dan para tamu sudah duduk manis menunggu waktu berdoa sebelum makan. Pun pasangan pengantin baru itu sudah siap untuk menikmati hidangan pagi yang telah di sediakan Bibi Rohaya dan Anne.
Pagi ini keluarga Baba Farouq ingin menghadirkan nuansa sarapan ala Turki di rumah ini. Bunda pun merasa senang ketika besan nya mengatakan ingin membuat sarapan disini dan kebetulan bahan yang di butuh kan telah tersedia di gudang makanan yang berada dapur karena si Ibu sangat peka sekali dengan lidah tamu nya.
Pagi ini Anne menyajikan dua makanan ala Turki yang mudah dan cepat di masak serta di sajikan.
Menemen dan Pilav adalah dua pilihan untuk sarapan pagi ini.
Pilihan menu sarapan khas Turki Menemen adalah, sejenis telur orak-arik yang dimasak bersama dengan tomat dan juga tumisan bawang bombay. Lengkap dengan berbagai bumbu dan bahan lain, Menemen menjadi salah satu pilihan lezat untuk disantap pagi hari.
Sedang kan Pilav sendiri adalah nasi khas yang gurih. Di sajikan lengkap dengan kacang polong.
Semua anggota keluarga tampak lahap menikmati breakfast ala Turkis di tambah lagi si Ibu menyajikan rendang sapi padas. Hafiz terlihat lesu matanya tampak seperti vampir yang kesiangan.
Ibu yang sangat peka dengan kondisi anaknya itu jadi penasaran dan ingin menanyakan nya tapi mulutnya jadi tertutup rapat saat melihat Aygul terlihat muram.
Apa yang terjadi dengan sepasang suami istri itu? Hanya tanya dalam hati saja yang mampu terucap ketika bibir kelu untuk bicara.
Makan pagi di selingi canda dan tawa para orang tua. Wajah ayu Aygul tak secerah biasanya menambah kesan sedih saat Ibu memandang menantunya itu.
Setelah selesai makan pagi bersama, Ayah mengajak besan nya untuk pergi ke pabrik kopi miliknya sekalian beliau akan memperlihatkan proses pembuatan kopi mulai dari pemilihan bahan baku kopi menyortir bahan berkualitas dengan yang biasa,lalu proses timbang, pengolahan dan sampai proses pengemasan dalam packeging yang menarik.
Baba Farouk sangat tertarik sekali mendengar penjelasan singkat besan nya, beliau langsung mengiyakan ajakan besan nya. Sebagai pebisnis sejati jiwa nya meronta ronta melihat peluang emas di depan mata.
"Hafiz kamu libur hari ini nak? " tanya Ayah sebelum beranjak dari meja makan.
"Hafiz berangkat agak siangan Yah, nanti mau jemput Zein ke Rumah Sakit mau konsul lagi dengan Dr Zaenab"
Ayah mengangguk angguk lalu beranjak meninggal kan meja makan di ikuti Baba Farouq.
__ADS_1
Memang jiwa bisnis mereka berdua sama-sama bergejolak jika melihat peluang bagus di depan mata. Karena itu keduanya menjadi cepat akrab.
Hafiz meninggalkan meja makan masuk ke ruang kerja nya di sebelah kamar nya, dia ingin menyiapkan dokumen yang akan diambil stafnya pagi ini untuk presentasi dengan pejabat pemerintahan.
Sengaja hari ini dia ingin mengantar istrinya untuk konsultasi lagi dan kemarin Zein juga ingin berbicara sesuatu yang penting mengenai rencana pernikahannya dengan Izza.
Aygul membantu membereskan meja dengan mengumpulkan piring dan gelas kotor menjadi satu jadi memudah kan Bi Rohaya untuk mengambilnya. Dengan keterbatasan fisiknya dia berusaha tidak membuat beban pada orang lain dan membuat dirinya lebih berarti di keluarga.
Ibu yang hari ini cuti selama dua hari mengajak Anne untuk berbelanja ke supermarket terdekat, kebutuhan dapur untuk satu bulan ke depan hampir habis.
Izza terlihat sudah menenteng tas laptop nya, dia juga membawa tas ransel kecil di pundaknya.
"Mas, nanti kalau bertemu Mas Zein tolong berikan ini ya?" Izza memberikan sebuah kotak berbungkus coklat.
"Apa isi nya ?"tanya Hafiz kepo
"Hmmmm...kepo aja nih Rahasia dong ?" ledek Izza sambil menjulurkan lidahnya.
Karena gemas Hafiz memencet hidung Izza dengan kedua jari nya. Izza meringis kesakitan dan berteriak memanggil ibu nya.
"Aawwwww....Ibuuuuu ...Ibuuuu !"
Beliau berjalan mendekati kaka beradik yang sedang bercanda itu.
"Ada apa?!" tanya Ibu sambil bersedekap. Pasti si sulung ini usil sama adiknya. Sikap nya yang iseng ini ternyata belum berubah walaupun sudah menikah.
''Huu...huu..Mas Hafiz bu hidung Izza jadi pesek karena di tarik -tarik" katanya dengan wajah merah karena memang sedikit sakit saat Hafiz tadi menarik hidung bangir nya.
Aygul berjalan mendekati ketiga orang itu dengan wajah kebingungan.
"Are okay sis?" tanya Aygul yang melihat iparnya meringis menahan sakit.
Sedangkan Hafiz hanya diam sambil tersenyum senang. Namun Hafiz tak melihat matanya sama sekali.
"Ini Kak, Suami kakak kejam sekali! Hiks..hisk"
__ADS_1
"kejam?"tanya Aygul tak mengerti arti kejam matanya melihat ke arah Hafiz. Tapi suaminya itu hanya mengedik kan bahu nya. Aygul memang belum mahir berbahasa Indonesia karena itu dia kadang tak mengerti kosakata bahasa kita.
"Hanya bercanda sayang, Suami mu itu suka sekali iseng menggoda adiknya. " jelas Ibu pada menantu nya.
Hmmm ... Baru kali ini dia melihat sisi kekonyolan suaminya yang terkenal serius dan dingin jika bersama dengan teman dan kolega nya.
Akhirnya Izza pamit berangkat kuliah diantar Pak Man dan Aygul masuk ke dalam kamar nya. Saat Hafiz mau mengikuti langkah kursi roda istrinya si Ibu memanggilnya.
"Hafiz ?!sebentar ibu mau bicara"Seru Ibu, Hafiz menghentikan langkah kaki nya.
"Iya bu, ada apa?"
"kita bicara di ruang kerja Ayah saja" lalu kedua orang tadi memasuki ruang kerja Tuan Birendra yang rapi.
"Tutup pintu nya nak"
Setelah menutup pintu Hafiz duduk di kursi kerja yang ada di depan meja kayu jati kokoh itu.
"Hafiz, ada masalah apa nak? Ibu lihat kalian saling berdiam diri dari tadi. Wajah Aygul juga terlihat muram. Apankalian bertengkar?" tanya Ibu dengan lembut. Dia ingin tahu ada masalah apa anak sulung nya itu sehingga terlihat kusut masam.
Sebagai seorang Ibu yang dekat dan peka dengan tingkah laku kedua anaknya pasti Bu Bidan itu merasakan sedikit perubahan pada anak sulung nya itu.
"Hafiz ndak ada apa-apa bu. Jangan kuatir. Kami tidak bertengkar." jawab Hafiz tapi tak berani memandang mata ibunya.
" Jangan berbohong nak. Ibu hafal dengan anak ibu. Jika kamu ada masalah bisa kamu ceritakan pada Ibu. Ingat nak walaupun kamu telah menikah kamu tetap anak Ibu dan Ibu sudah tahu jika anak ibu sedang ada masalah."
Hafiz menghembuskan nafas pelan. Lalu dia mulai membuka pembicaraan yang agak sensitif dengan Ibunya.
"Aygul cemburu pada Dewi Bu, dia bilang Dewi ada hati dengan Hafiz. Padahal Hafiz sudah bersumpah tidak ada hubungan apapun dengan Dewi. Seperti tadi malam saat dinner bersama para kolega dan pejabat, Dewi berusaha mendekati Hafiz bu.Dia memang berusaha menarik perhatian Hafiz tapi demi Tuhan tak ada niat sedikit pun untuk meladeni Dewi. Tapi Aygul tak percaya dia menangis dan mulai membawa-bawa ketidak sempurnaan nya itu di dalam tangisnya. Sudah berkali-kali Hafiz menjelaskan tapi dia tetap saja merasa minder dengan keadaannya. Apalagi dia membandingkan dengan Dewi yang katanya sempurna. Hafiz bingung bu harus bagaimana lagi menyakin kan nya?"
Ibu berdiri dan berjalan.mendekati anaknya kemudian dia menggenggam kedua tangan itu.
"Hafiz, sabar..sabar.. Dan sabar itu kunci utama. Kamu tahu keadaan istrimu yang sedang sakit kan? Wajar dia berpikiran seperti itu karena dia sangat takut kehilangan mu. Kehilangan untuk yang kedua kali nya. Apalagi kamu lelaki normal dan sempurna bersanding dengan dia yang memiliki kekurangan. Pasti di benaknya akan berpikir sesuatu yang tidak-tidak. Jadi tugas kamu adalah terus menyakinkan dia. Jangan lelah dengan kesabaran ya nak."
Hafiz merenungi perkataan ibunya, memang Aygul sangat posesif jika dia melihat ada wanita lain yang dekat dengan nya maka dia akan menangis dan dia akan berusaha menjauhi Hafiz. Sudah berulang kali dia melakukan hal itu. Bahkan sejak tadi malam dia pun menangis lagi.
__ADS_1
"Ini ujian kesabaran mu nak. Itu pertanda bahwa Aygul sangat mencintaimu. Tugasmu adalah membimbing nya untuk dapat memahami mu lagi"
Hafiz mengangguk membenarkan perkataan ibunya.Memang diabharus lebih bersabar lagi menghadapi istrinya posesif karena dia tahu istrinya sangat membutuhkan dirinya