Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Bisa kah kamu memanggil ku Mama


__ADS_3

Dewi memeluk erat tubuh mungil gadis kecil yang mirip sekali dengan anak nya. Bu Halimah terheran-heran melihat reaksi tamu nya yang terlihat aneh.


"Maaf bu saya selalu terharu jika bertemu dengan anak-anak ini. " gadis itu belum berani menjelaskan tentang maksud kedatangan nya sebenar nya.


Bu Halimah manggut-manggut lalu dia menyuruh anak,-anak kembali bermain di luar. Dewi meminta ijin pada Bu Halimah agar Adelia tetap bersama nya. Dan beliau pun mengijin kan nya.


Sebelum anak-anak itu pergi bermain Dewi mengeluarkan beberapa mainan dan kue untuk di bagikan pada anak-anak malang itu.


Bu Halimah melihat kasih sayang yang di berikan Dewi pada anak asuh nya itu seolah-olah kasih sayang seorang ibu pada anak nya. Dia memangku dan membelai gadis kecil itu dengan tatapan yang mendamba.


Dewi menanyakan latar belakang Adelia pada Bu Halimah. Dia menceritakan jika Adelia di titipkan seorang suami istri yang mengatakan menemukan gadis itu di depan rumah nya. Dia tak bisa merawat bayi itu karena beralasan akan tinggal di luar negeri. Kedua orang itu memberikan beberapa pakaian dan sejumlah uang untuk merawat bayi tersebut.


Dewi kemudian membuka galeri pada ponselnya dan memberikan unjuk pada Bu Halimah. "Apakah ini kedua orang yang membawa Adelia kesini bu?"


Bu Halimah melihat dengan serius dan mencoba mengingat-ingat lagi wajah orang yang di ceritakan nya itu. Kurang lebih 4 tahun lalu bukan waktu yang singkat dan mudah untuk mengingatnya kembali kejadian di masa itu.


"Sebentar saya ada foto mereka." Bu Halimah bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah lemari besi tempat nya menyimpan file-file penting.


Bu Halimah mengambil sebuah outner yang setengah usang. Dan membolak balik isinya kemudiam senyumnya merekah serta tangan nya mengambil sebuah foto yang terselip di dalam dokument itu.


"Coba Mbak Lihat, apakah foto ini sama dengan foto yang ada di hape tadi."Bu Halimah mengangsurkan foto itu ke arah Dewi dan gadis itu langsung menangis ketika mengetahui jika foto tersebut adalah kedua orang tua nya.


"Bu saya akan menceritakan kebenaran nya apa kita bisa bicara berdua saja?"pinta nya memelas karena dia malu jika ada orang lain tahu kebenaran kisah hidupnya yang kelabu.


Bu Pantu menyuruh Miftah dan Lindri untuk masuk ke dalam keluarga. Karena dia ingin mendengarkan cerita Dewi.

__ADS_1


Setelah kedua anak asuh nya itu pergi Bu Halimah mempersilahkan Dewi bercerita tentang kisah hidupnya.


Sambil memangku Adelia wanita berambut ikal itu menceritakan rahasia masa lalu nya pada ibu panti dan di akhiri dengan dekapan erat pada Adelia.


Bu Panti menyusut air mata yang menggenang di kedua sudut matanya. Lalu menghela nafas panjang untuk mengurai rasa sedih nya.


" Boleh kah saya mengadopsi Adelia?" tanya Dewi perlahan dia takut jika ibu panti tidak setuju.


Bu Halimah mengatakan jika ingin mengadopsi anak asuh nya dia harus memiliki beberapa persyaratan yang harus di penuhi nya. Salah satu nya adalah mengetahui pekerjaan Dewi karena salah satu pondasi untuk mengadopsi anak dia harus memiliki pekerjaan yang bisa memberikan jaminan kehidupan untuk anak asuh nya.


Dewi mengatakan dia bekerja di salah satu perusahaan asing dan sudah memiliki sebuah apartemen tempat tinggal mereka kelak. Bu Halimah menghela nafas perlahan dia sadar jika suatu saat nanti dia akan berpisah dengan anak asuh nya.


Bu Halimah menganggukkan kepala mencoba menelaah cerita gadis di depan nya itu. Dengan lembut dia meraih kedua tangan Dewi dan menepuk-nepuk pelan seolah memberi kan kekuatan mental lalu agar dia tetap semangat untuk menjalani takdirnya dan mengatakan Dewi bisa mengadopsi Adelia jika semua persyaratan yang ada bisa di penuhi nya.


" Bisa kah kamu memanggil ku Mama,sayang?" dengan wajah polosnya Adelia membalas ucapan Dewi.


"Mama."


Dewi mengeratkan pelukan nya dan mencium seluruh wajah gadis bermata bulat itu dengan air mata yang sudah berderai.


Setelah puas mencium Adelia Dewi pamit pulang dengan hati yang berbunga-bunga seperti mendapat durian montong yang runtuh.


Dia memesan taxi online untuk menjemput nya pulang namun dia ingin pergi ke mall sebentar untuk membelikan beberapa baju untuk Adelia dan akan mengantarkan nya secepatnya sekalian memberikan persyaratan surat adopsi nya.


-----

__ADS_1


Hafiz mengeluh pegal pada seluruh tubuh nya karena seharian ini dia mengikuti istri nya berkeliling ke Mall yang dekat dengan rumah mereka. Bukan karena tak ingin menemani sang istri untuk membuang suntuk dan Jenuh karena selama hamil Hafiz sangat protectif sekali menjaga nya.


Dengan di temani Bunda dan 2 asisten rumah tangga nya mereka berlima tampak asyik berjalan menyusuri mall berlantai 6 itu. Kedua asisten rumah tangga nya berada di belakang kursi roda Aygul dan Hafiz lah yang bertugas mendorong kursi roda istrinya.


Aygul mengajak suami dan mertuanya untuk melihat ke baby shop karena ingin melihat-melihat perlengkapan dan pernak pernik bayi.


"Sayang, kamu kan belum hamil 7 bullan. Pamali lho kalau beli perlengkapan bayi sekarang" kata Bunda sambil tersenyum takut menyinggung perasaan menantu nya.


Aygul yang notabene bukan orang pribumi tidak pernah mengerti arti kata pamali. Dia hanya ingin menghemat waktu saja dengan berbelanja sekarang, karena dia takut jika mendekati hari lahiran dia tak kuat berjalan lama.


"Apa artinya Pamali Ibu?" tanya nya bingung. Bunda tersenyum melihat menantu nya yang terlihat resah.


"Pamali itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan atau tabu. Ada pepatah kami yang mengatakan jika usia kehamilan belum menginjak 7 bulan tidak di perbolehkan membelikan keperluan bayi dahulu. Mungkin orang tua kami bermaksud agar Ibu hamil tidak terlalu berbelanja berlebihan dahulu karena harus memikirkan hal yang lebih penting contohnya melahirkan"


Aygul dan Hafiz manggut- manggut tanda mengerti, walaupun Aygul belum memahami budaya negara ini tapi dia bertekad untuk belajar menghormati adat istiadat suami nya, untuk menghargai nya mereka sepakat hanya membeli keperluan ibu hamil saja dan untuk perlengkapan calon bayi di tangguh kan dahulu sampai usia kehamilan Aygul sudah 7 bulan.


Saat memilih perlengkapan ibu hamil yang bersebelahan dengan perlengkapan anak, tak sengaja mereka bertemu dengan Dewi yang membawa tas belanja yang berisi pakaian anak-anak..


Bu Hafsah menepuk pundak Dewi dan gadis itu terkejut melihat keluarga Birendra ada disitu.


" Eh Tante, lagi belanja juga disini?" tanya nya gugup dan berusaha menyembunyikan keranjang belanjanya.


"Iya nak, kamu beli apa disini? Buat siapa?" tanya Bu Hafsah basa basi.


"Oh ehmmm..ini Tante beli pakaian untuk keponakan. Mau kirim untuk anaknya Abang " dusta nya padahal Abang nya sendiri memiliki anak laki-laki sedang kan pakaian yang di belinya untuk anak perempuan.

__ADS_1


__ADS_2