
Hafiz dan istri serta Ibu nya keluar dari baby shop dengan wajah lelah dan perut keroncongan,cacing di perut mereka udah konser paduan suara menyanyikan lagu lapar. Di pangkuan Aygul sudah ada 3 paper bag berisi Baju hamil. Mereka tidak jadi membeli perlengkapan bayi karena usia kehamilan Aygul belum 7 bulan.
Dia tersenyum membayangkan memakai daster berwarna hijau sage yang lagi nge trend tahun ini. Hafiz mendorong kursi roda nya menuju ke arah lift lift tabung untuk beralih ke lantai 7 di food court area.
Saat kursi roda istrinya hendak melewati toko pakaian khusus olah raga dari jarak beberapa meter dia melihat sosok gadis yang sangat dia kenal sedang menangis dan di bawahnya ada seorang lelaki dewasa yang duduk bersimpuh di kakinya.
Bu Hafizah yang melihat dulu sontak berlari mendekati Dewi dan memeluk gadis itu dari arah belakang. Sebagai seorang ibu naluri nya lah yang berbicara untuk mendukung gadis yang terlihat sedih itu.
"Ada apa ini? Kenapa anda bersimpuh seperti ini? !" Bu Hafizah berkata lembut namun tegas.
Dewi yang merasa terlindungi segera memeluk erat Bunda Hafiz dengan menangis tersedu-sedu. Rasa sakit hati dan kecewa telah berkumpul menjadi bertahun-tahun mengendap didalam raga sukanya.
Gara-gara lelaki itu hidup nya berantakan bahkan hancur tak bersisa. Harapan menjadi wanita baik dan memiliki suami yang paling baik pun menguap karena masa lalu nya yang kelam, bahkan dia kehilangan anaknya sendiri karena ke egoisan orang tuanya. Hatinya pecah berkeping-keping bagaikan gelas yang jatuh ke lantai dan hancur tak berbentuk.
Tiba-tiba laki-laki biadap itu datang dengan meminta maaf saja. Bahkan dia mendengar lelaki ini hanya mendapat kan hukuman ringan saja di penjara dan dia bisa bebas lebih cepat karena kekuatan harta orang tuanya.
__ADS_1
Sebagai seorang korban dirinya bahkan memiliki trauma jika bertemu dengan lelaki itu. Kalau saja ini bukan negara hukum ingin rasanya mencincang nya dan memberikannya pada Herder penjaga rumahnya.
Hafiz tidak mau mendekati mereka terlalu dekat karena takut Aygul cemburu, dan lagi dia bukan orang yang suka turut campur masalah orang lain walaupun Dewi adalah teman masa lalu nya.
"Tante, tolong bawa saya pergi dari sini. Hiks.. hiks.. hiks saya gak mau melihat wajahnya lagi.! " Tangisnya pecah di bahu Bunda Hafiz.
Bunda yang masih bingung dengan masalah mereka jadi terdiam sesaat namun goyangan tangan Dewi segera menyadarkannya. Dengan berdehem keras akhirnya Bunda bisa mengatur nafas nya dan menyuruh Lelaki itu berdiri. Mungkin dia merasa sebagai seorang ibu jadi rasa kasihnya menyuruhnya untuk cepat bertindak menyelamatkan gadis di sampingnya.
" Tolong berdiri Mas, jangan bersimpuh seperti itu karena kita sama-sama manusia yang tidak pantas anda perlakukan seperti itu! "
"Dewi!!! Dewi!! " refleks Bu Hafizah berteriak memanggil namun Dewi tak menghiraukan nya karena trauma bertemu dengan lelaki itu.
Hafiz segera mendekati ibunya sambil mendorong kursi roda, Aygul cemas melihat mertuanya berteriak memanggil gadis yang sebenarnya sangat di hindarinya.
" Bunda.. sudah jangan berteriak lagi. Biarkan dia pergi nanti kita telpon saja untuk meminta penjelasannya! " seru Hafiz berjalan mendekati sang Ibu.
__ADS_1
Bu Hafizah berdecak kesal, "Sebenarnya siapa anda hingga membuat Dewi ketakutan seperti itu!" akhirnya Keluar juga kata ketus nya.
" Maaf kan saya Tante mengacaukan waktu Tante, Saya hanya ingin meminta maaf sama Dewi atas kesalahan yang pernah saya buat, "
" Kesalahan? kesalahan apa? "penasaran juga akhirnyaa.
"Saya akan cerita tapi ada syaratnya! " kata lelaki itu pada Bu Hafizah.
Haris geram mendengar lelaki itu mengajukan syarat namun rasa penasaran nya lebih dominan
"Apa syaratnya?! "
" Syaratnya adalah tolong berikan nomer telpon Dewi karena saya ingin minta maaf! "
Hariz menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan keinginan lelaki itu.
__ADS_1