
Malam ini aku gelisah sekali, mata ini tak mau terpejam sama sekali. Ada apa ? Apa karena 3 hari lagi aku akan bertemu dengan belahan jiwaku? Namun aku kembali melamun mengingat pertemuan ku dengan dr Sam beberapa hari yang lalu dengan dr Intan SpS , waktu itu aku mengajak beliau makan siang bersama di restoran ku. Aku juga mengajak Zein untuk mendampingiku Agar aku tak kelihatan seperti orang **** ketika mendengar penjelasan beliau berdua tentang dunia medis.
Dr Intan sepertinya pesimis mendengar cerita ku. Karena kelumpuhan Aygul sudah berselang kurang lebih dua tahun. Dan itu sudah di terapi di beberapa negara yang memiliki teknologi yang lebih canggih. Jerman dan Turki . Namun Zen mampu membuatku meredamkan kegundahanku.
Setelah pulang dari makan siang Zein mengajakku ke masjid yang dekat dengan Pondok Pesantren di daerah rumah dinasnya.
" Bro, Manusia itu hanya bisa berusaha tapi Allah SWT jua lah yang menyembuhkan dan menentukan nasib Aygul bisa berjalan lagi atau tidak. Jika Allah SWT telah bekata Kun Fayakun Maka " JADI LAH!" Maka semua akan terjadi! See....Semudah telapak tangan Allah Saja jika ingin mengembalikan segala sesuatu seperti awal ! Hati kita, pikiran kita dan semua hajad hidup kita serahkan pada Allah SWT. Jangan ragu-ragu untuk meminta ,mengemis,menangis dan menyerahkan seluruh hidup kita pada NYA. Raga ini, naafas ini, pikiran ini dan semua yang kita miliki adalah milik Allah SWT. Jadi bro jangan ragu untuk menyerahkan semua urusan kita pada Allah SWT. Bi idznillah semua akan baik-baik saja. "
Aku merenung mendengarkan semua nasehat nya setelah kami selesai sholat duhur.
Ada ketenangan di dalam intonasi suaranya yang membuatku merasa Seperti menemukan Oase di tengah gurun Sahara.
Aku segera beristighfar memohon ampun pada Allah SWT kenapa aku jadi pesimis begini ketika vonis seorang manusia. Aku masih punya kekuatan yang lebih hebat yang bisa menyembuhkan segala Nya. Jadi aku pasrahkan saja semua urusan ini pada Nya dan pantang putus asa lagi.
"Ayo aku akan perkenalkan kamu dengan pengasuh pondok pesantren plus panti asuhan Yatim piatu dan dhuafa disini. Namanya Abah Hambali. Mungkin kamu bisa menenangkan diri disana" ajak Zein setelahnya kami selesai berdiskusi panjang kali lebar.
Kami ke pondok pesantren dengan berjalan kaki saja. Mobil telah ku parkir kan di dalam halaman rumah dinas Zein. Sebelumnya Zein mengajak ku berbelanja sembako di warung kelontong yang ada di depan rumahnya.
"Zein kamu mau beli apa? kok ke warung kelontong?" tanyaku heran.
Zein tersenyum. tanpa sepatah kata pun dia memencet bel yang ada di dinding rumah pemilik warung
Ting tong!
Kemudian seorang ibu setengah tua keluar rumah sambil membawa bungkusan plastik.
" Eh Pak Dokter, mau beli apa?" sapa nya ramah.
" Ini bu mau beli beras 1karung. Mie instan 2 dus Minyak goreng 10 kg sama gula 10 kg. Ohya sekalian telur 5 kg ya bu. Si Umay ada bu?" jawab Zein
" Ada Pak Dokter sebentar saya panggilkan. Umay! Umay sini ada Pak Dokter!" teriak si ibu ke dalam rumah.
Tak lama kemudian seorang pemuda sepantaran firdaus keluar memakai sarung.
" Assalamualaikum Pak Dokter nyari Umay?"tanya pemuda itu. Zein mengangguk
" Umay kamu repot gak sekarang? bantu saya antar pesanan itu ke pesantren Abah Hambali ya !" kata Zein
" Siap Pak dokter, Umay ambil Trolly dulu ya" lalu pemuda itu masuk ke dalam.
Oh ternyata Zein belanja untuk di berikan ke panti asuhan itu. Subhanallah betapa mulia nya hati calon iparku ini. Aku coba melihat dulu semua perbuatannya.
Lalu si Ibu dengan cekatan menyiapkan semua pesanan Zein.
" Sudah bu tolong di total," kata Zein
__ADS_1
"Semuanya satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah Pak Dokter"
Lalu Zein mengeluarkan uang dari dalam amplop coklat yang sedari tadi berada di dalam tas nya. Kemudian di berikan kepada si Ibu tadi.
Si Ibu menerima uang dari Zein dengan wajah berbinar-binar.
"Barokallah, Terimakasih Pak Dokter, sehat selalu dan banyak rezeki Nya ya! " kata nya lagi
Tak lama kemudian umay sudah siap membawa sebuah trolly dan semua belanjaan Zein telah di masukkan di dalamnya.
"Siap berangkat Pak Dokter," kata Umay sambil mendorong trolly
" Kamu jalan dulu May, saya di belakang kamu" jawab Zein.
Kami berdua berjalan beriringan di belakang Umay menuju panti asuhan yang terletak di dalam gang. Memang gang itu bisa di lewati mobil tapi harus bergantian satu persatu.
Makanya Zein lebih suka berjalan kali menuju kesana.
Setelah 10 menit kami telah sampai di sebuah rumah dengan bangunan yang sederhana namun bersih. Halaman nya tidak begitu luas dintumbuhi 2 pohon mangga dan Jambu kerikil. Di depan nya ada tulisan :
Pondok pesantren dan Panti Asuhan Bahrul Ummahat.
Kami memasuki halaman yang tidak berpagar itu lalu Umay memberi salam kepada penghuni.
Seorang anak laki-laki kecil memakai baju koko dan sarung keluar menemui kami.
" Waalaikum salam, Ada Pak Dokter silahkan masuk." katanya sambil berjalan ke dalam rumah. Kami mengikutinya.
"Silahkan duduk. saya akan memanggilkan Abah dahulu" katanya mempersilahkan kami.
Ternyata setelah masuk ke dalam rumah, ruangan nya lebih luas. Ruang tamu tanpa meja kursi hanya di beri alas karpet hijau. Ada tumpukan beberapa susunan bangku di pojok ruangan. Lalu di dinding nya ada beberapa foto para ulama dan Habib serta 2 buah kaligrafi besar. Ada sebuah foto besar berisi foto semua anak pesantren dan panti yang sedang melakukan kegiatan..
Kemudian seorang lelaki yang kira-kira berusia 60 tahunan keluar. Dengan memakai sarung hitam dan baju gamis putih serta peci putih.
" Assalamualaikum. Pak Dokter" sapanya
Kami bertiga berdiri bersalaman lalu beliau mempersilahkan kami duduk lagi.
"Waalaikum salam Abah. Perkenalkan ini Mas Hafiz calon Ipar saya." Kata Zein. Aku mengangguk di iringi dengan senyuman yang menyejukkan dari Abah.
" Saya Umay Abah" kata Umay
Lalu Abah tertawa sambil melambaikan tangan nya. Si Umay mengajak bercanda Abah ternyata.
"Umay, iya Abah tau kamubUmay, memang sekarang sudah ganti nama?" kekehnya , sederet gigi nya yang sudah mulai tanggal terlihat.
__ADS_1
Umay teesenyum sambil.menutup mulutnya.
" Ohya Abah ini ada sedikit rezeki dari kami, Untuk anak-anak disini" Tutur Zein santun
" Alhamdulillah barokallah Pak dokter, semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian serta di kabulkan semua hajad kalian."
"Aamiin" Jawab kami serempak
" Umay langsung saja taruh di dalam ada Si Budi dan Imam di dapur. Umi tadi masih di Musholla belum kembali" perintah Abah. Lalu Umay membawa trolly nya masuk ke dalam ruangan.
Kami bertiga mulai asyik bercengkrama. lalu Umay keluar dengan trolly kosongnya. Dia minta Izin pamit terlebih dahulu karena masih mau membantu ibunya.
Seorang pemuda keluar membawa 3 cangkir teh hangat dan sepiring singkong kukus. Lalu dia mempersilahkan pada kami untuk menikmati hidangan itu.
"Maksud kedatangan saya kesini inhin mengenalkan Mas Hafiz pada anak-anak di pesantren ini. Beliau baru saja menikah kurang lebih 1 bulan yang lalu. Dan saat ini sedang berikhtiar mengobati istrinya yang sedang lumpuh. Kami semua meminta bantuan do'a kepada anak-anak agar ikhtiar kami di ijabah oleh Allah SWT" kata Zein dengan lancar pada Abah.
Abah manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang putih.
" Pak Hafiz, Kita sebagai manusia biasa tak.luput dari semua ujian dan cobaan dari Allah SWT dimana setiap ujian itu yang akan menaikkan derajat kita dan meninggikan iman kita kepada Nya Agar kita senantiasa tawakal dan terus berdoa kepada Allah tanpa putus asa. Jika semua telah kita usahakan secara medis tinggal kita menunggu jawaban dari Allah atas semua usaha dan doa kita. Jangan putus asa. Semua penyakit pasti ada obatnya kecuali kematian." Begitu Abah memberikan wejangan yang menyejukkan kalbu ku yang telah lama kerontang.
Aku menundukkan kepala malu, aku malu selama ini hanya duniawi saja yang ku kejar namun aku merasa kurang dekat lagi dnegan sang maha pencipta. Lalu Abah melanjutkan tausiah nya lagi kemudian beliau memanggil seorang santri nya .
Seorang anak laki-laki mungkin berusia 16 tahun duduk di depan Abah.
" Imam, setelah sholat ashar tolong kumpulkan para santri kita di musholla. Mari kita doakan untuk keluarga Bapak hafizudin dan Bapak dokter bersama" perintah Abah.
Santri tersebut mengangguk takzim dan segera berlalu di hadapan kami.
Setelah itu kami mulai saling bercerita tentang kehidupan kami. Abah menceritakan tentang anak pondok dan panti disini yang berjumlah 70 orang dan sebagian besar adalah anak kecil.
Tak terasa adzan ashar telah berkumandang lalu Abah mengajak kami untuk ke musholla yang berada di belakang pondok. Tennyata bentuk pondok ini sangat luas memanjang ke belakang. Di belakang bangunan utama ada 2 bangunan lagi yang terpisah dengan pagar yang tinggi dan kolam ikan di tengahnya ada sebuah musholla yang bisa menampung 100 orang. Musholla itu bersekat untuk memisahkan para santri putra dan putri.
Kami semua berkumpul untuk melaksanakan sholat dan di lanjutkan dengan doa bersama.
Banyak anak kecil kurang lebih 20 orang yang berusia sekolah dasar dan berjenis kelamin laki-laki. Lalu 20 orang lagi sudah remaja tanggung.
" Ini pesantren putra kami Pak Hafiz. Dan di sebelah gedung yang kami batasi dengan pagar dan kolam itu pesantren putri. Kami memang sengaja memisahkan pesantren ini dan setiap gedung di awasi oleh 3 ustadz dan ustadzah yang membimbing mereka dalam kegiatan sehari-hati" kata Abah menerangkan setelah kami melaksanakan doa bersama.
Aku terharu melihat kehidupan pesantren yang sangat sederhana namun membawa angin kesejukan di hatiku. Aku merasa mendapatkan kekuatan lahir batin untuk terus bersemangat mengobati istriku.
Sebelum pulang aku memberikan sebuah amplop berisi uang tunai untuk sodaqoh di pesantren ini.
"Abah saya mohon terimalah sedikit sodaqoh dari kami. "
Abah tersenyum hangat,
__ADS_1
" Terimakasih Pak Hafiz, Barokallah dan semoga semua Hajad dan keinginan Bapak sekeluarga di kabulkan Allah SWT. Dan jangan pernah putus asa atas semua ujian yang Allah berikan tetap tawakal dan ikhtiar"
" Insya Allah secepatnya saya akan kembali lagi bersama istri saya agar dia juga belajar di pesantren ini" jawabku sebelum kami berpamitan pulang