Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Khitbah Zein


__ADS_3

Saat ini telah menunjukkan waktu pukul 18.30 Wib. Saat berkumpul keluarga besar kami di meja makan. Ayah pun telah duduk rapi dan manis di tempatnya. Ibu terlihat menata makanan di meha saji


Aku mengetuk pintu kamar Zein mengajaknya keluar ke meja makan. Dia tadi belum bertemu dengan Ayah karena Ayah langsung masuk kamar istirahat setelah pulang kantor. Ayah sudah mengetahui kedatangan nya jadi beliau pun menunggu Zein di meja. makan dengan senang.


Aku belum melihat Izza di dapur. Hmmm kemana nih bocah dari tadi tak kulihat batang hidung nya.


Lalu aku melangkah menuju ruang makan, ternyata Izza sudah cekatan membantu Ibu menata piring di meja makan.


"Owh tumben gadis kecil ayah rajin" goda ku pada Izza. Kulihat mata nya melotot galak. Ayah dan Ibu tertawa melihat kami. Zein hanya tersenyym simpul melihat ku.


" Ayah sepertinya akan segera mempunyai mantu nih kalau si kecil rajin" canda ku lagi


" Mas apaan sihh! " rajuknya manja. Aku geli melihat adik kesayangan ku yg sebentar lagi akan di khitbah sahabatku ini. Zein berdehem menandakan gelisah.


Kaki ku menendang kaki nya di bawah meja. Dia terkejut dan kemudian kembali memainkan jari nya di atas meja.


Ayah masih sibuk melihat ponselnya yg dari tadi berbunyi. Memang tuan besar ini teramat sibuk belakangan hari ini karena proyek nya dengam pemerintah telah di setujui.


" Ayah, tolong dong Handphone nya di letakkan dulu. Kita mulai makan malamnya." Tegur Ibu.


Ayah tersenyum dan mulai meletakkan benda pipih berwarna hitam itu.


Setelah semua masakan tersaji Ibu segera mengambil tempat di sebelah Ayah. Dan Izza duduk di sebelah ibu. Aku dan Zein duduk di depan mereka.


" Bibi, tolong Es kelapa muda nya di lemari es di keluarkan dulu ya. Ibu lupa mengeluarkan" perintah Ibu pada pembantuku.


" Iya bu" Kata bibi sigap sambil membawa gelas -gelas kosong di meja dapur dan mengisi nya dengan es kelapa muda.


Lalu kami mulai mengambil piring dan mengambil makanan yg ada di meja. Ibu melayani Ayah dengan mesra. Ayah terlihat manja di depan kami. Ahh Ayah bikin jiwa jomblo ku meronta saja.


" Zein ayo jangan malu-malu. Ini Ibu khusus lho masaknya buat kamu Nak. " Kata Ayah.


" Hmmm... jadi Masakan spesial nih buat calon mantu "


Uhuk.. uhuk..Tiba-tiba Zein terbatuk mendengar candaan ku.


Aku tertawa geli dan senang sekali melihat wajahnya yg merah.


Kedua orang tuaku tersenyum melihat wajah Zein yg malu. Mungkin mereka mengira perkataanku hanya bercanda saja karena memang Zein belum mengatakan keinginannya.

__ADS_1


Ku lirik Izza yg tengah menatap wajah Zein yg bersemu merah.


" Eitt.. makan ya makan jangan melototin Mahluk ganteng di sebelahku ini"


Giliran Izza yg mendapatkan ke usilanku. Dia menunduk malu. Adik kecilku yg kini dewasa sudah akan di miliki laki-laki lain batinku antara senang dan sedih.


Ayah menyela candaan ku sambil bertanya-tanya kegiatan Zein selama ini. Kami menghabiskan makan malam ini dengan perut kenyang dan puas menikmati masakan ibu. Bibi mengambil alih pekerjaan rumah ibu membereskan piring kotor untuk di cuci.


Kami pindah ke ruang keluarga, Izza membawa nampan berisi es kelapa muda sebagai pencuci mulut malam ini.


"Ayo Zein duduk dekat Ayah. Sudah lama kita tidak bercerita ya" Kata Ayah sambil menepuk -nepuk sofa kosong di sebelahnya.


Ayah memang menganggap Zein sebagai anak nya. Karena Ayah menyukai pribadi Zein yg kalem dan sopan.


Zein segera menduduki sofa itu. Setelah semua berkumpul aku memberanikan diri membuka percakapan.


" Ayah, anak ayah yg tampan itu mau bicara suatu hal yg penting" kata ku sambil wajahku melihat Zein.


" Siapa yg mau bicara? Hafiz atau Zein? " tanya Ayah.


" Zein Ayah." jawabnya pelan namun tegas.


" Silahkan Zein. Kamu mau bicara Apa? " Suara berwibawa Ayah Terdengar. Zein membetulkan letak duduknya aku tersenyum saja melihat Tingkahnya yg gugup.


" Sebelumnya Zein mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Ayah dan Ibu yg telah menerima dan menganggap Zein di rumah ini dengan sangat baik. Zein merasa sangat bahagia bisa berkenalan dengan keluarga Ayah. Maksud dan tujuan datang ke rumah ini ada 3 tujuan. Yang pertama, Zein ingin bersilaturahim lagi dengan keluarga ini, Yg kedua Zein memang ada urusan dengan kedinasan yg terakhir adalah Zein mengkhitbah Dik Izza untuk menjadi istri Zein. Mohon maaf kiranya maksud dan tujuan Zein ini tidak berkenan di hati Ayah, Ibu dan Dik Izza"


hmm...Zein sial kau tak menyebut namaku sama sekali. Rutukku


Ayah, Ibu dan khusus nya Izza sangat terkejut. Sampai air yg ada di dalam gelasnya tumpah.


"Izza. hati-hati basah itu bajunya" kata ibu.


Ayah segera mengembalikan rasa terkejutnya dengan wajah biasa.


" Zein apakah benar yg kamu katakan Nak? Apakah Kamu telah mengenal Izza dengan baik? Sudah berapa lama Kamu mencintai anak ayah? " tanya Ayah lagi.


"Insyaallha benar karena sudah beberapa kali melakukan istikharah dan jawabannya adalah dek Izza. Saya mencintai Dek Izza sejak dia SMU. Dan baru hari ini saya berani menyatakan cinta saya di depan Ayah dan Ibu" Jawabnya


Ayah dan Ibu melihat Izza. secara bersamaan

__ADS_1


Wajah Izza ku lihat merah seperti jambu. Aku tertawa geli, dan segera menutup mulutku takut mengganggu konsentrasi. Aku percaya dengan jawaban Zein karena 7 tahun aku bersamanya di Mesir.


" Ayah dan Ibu tak bisa menjawabnya Zein. Ayah kembalikan lagi pada yg bersangkutan. Apakah dia bersedia menerima Khitbah mu. Izza jawab lah nak. Apakah kamu menerima Zein menjadi calon suami mu? "


Izza menggangguk kan kepala dan menundukkan pandangan nya ke bawah karena Malu. Kulihat kelegaan di wajah orang tua ku dan wajah sahabatku.


" Izza, Ayah belum. mendengar Nak. Karena jawaban mu sangat menentukan masa depan Zein" canda Ayah.


Izza menutup wajahnya dg kedua tangan nya


" Iya Ayah Izza bersedia"


Aku sontak bertepuk tangan tangan sangat gembira dengan jawaban adikku.


Jika saja dia tak menerima Zein. mungkin aku yg akan sedikit memaksanya.Hahha aku memang sudah lama menginginkan Zein menjadi saudaraku.


"Alhamdulillah " terdengar suara semua yg ada di ruangan ini bahagia.


"Baiklah Zein. karena Jawaban Izza adalah menerima. Maka Ayah dan Ibu pun menerima kamu dg kedua tangan kami. Selamat datang di keluarga kami Zein" lanjut Ayah kemudian memeluk Dokter tampan itu erat.


Zein berdiri dan duduk bersimpuh di depan Ibu mengambil tangan ibu dan mencium punggung tangannya. Ibu tersenyum dan menepuk pundaknya.


" Zein. Jangan kau cium tangan izza belum halal" candaku. Dia tersenyum dan memelukku lgi. Izza tersenyum bahagia.


"Insyaallah setelah urusannya kedinasan Zein selesai kira-kira 1 bulan Dari sekaranh, orang tua Zein Alan berkunjung ke rumah ini untuk bersilatirahmi dengan Ayah. Ibu Dan MasHafiz serta dek Umaiza" lanjut Zein.


Aku terbelalak mendengar Zein menyebutku dengan embel-embel Mas. Ah Zein segitunya Kau ingin mengambil hatiku. Kayaku dalam hati sambil tersenyum.


" Maaf Zein. Ayah juga harus menanyakan keikhlasan Hafiz di langkahi adiknya.Bagaimana Hafiz, apakah kamu Ikhlas adik mu mendahului mu? " kata Ayah. Aku tersenyum ikhlas.


" Insyaallah ikhlas Ayah. Mungkin jodoh Izza sudah datang lebih dulu. Tak baik kan menunda-nunda keinginan mulia orang sholeh ini" jawabku mencoba bijaksana.


Izza lalu memelukku dan tiba-tiba menangis sesenggukan.


Aku mengeratkan pelukannya sambil membelai pucuk kepalanya yg di lapis hijab warna pink.


" Mas Ikhlas sayang. Melangkah lah menuju masa depan dg Dr Zein. Mas sungguh ikhlas dan rela melepasmu karena Mas tau kualitas teman Mas itu. Berjanji lah menjadi wanita yg sholihah dan tidak memalukan Mas mu ini di depan sahabatnya" kataku lirih di telinganya


Ku lihat Ibu ikut menangis haru. Ayah hanya tersenyum melihat kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2