
Pak Birendra menghela nafas perlahan ada rasa tak rela mengingat akan melepas anak gadisnya pada lelaki lain walaupun dia sangat mengenal pribadi nya dengan baik.
Hafiz dan sang Ibu saling melirik, mereka berdua sangat mengerti arti helaan nafas sang kepala keluarga. Betapa beratnya seorang ayah melepas anak gadis yang selalu bersama nya sejak bayi.
Memang tanggung jawabnya sebagai ayah akan berpindah pada lelaki pilihan anak nya namun dia pun tak benar-benar melepaskan anak gadisnya itu dengan sepenuh hati. Pasti sebagai ayah dia akan menyayangi dan memperhatikan anaknya hingga nafas terakhir.
" Ayah jangan sedih gitu dong, Izza kan tetap tinggal dengan kita, cuma frequency nya jadi berkurang. Kan udah ada suaminya nanti yang butuh perhatian Izza juga" kata Ibu dengan lembut.
Pak Birendra rasanya masih tak percaya kalau gadis kecilnya itu akan berubah status dari anak menjadi seorang istri dan menantu di keluarga lain. Berat rasanya harus berbagi kasih sayang dengan Zein itu lah egoisnya Ayah tatkala anak kecilnya menikah ada rasa tak rela. Padahal saat Hafiz menikah pun dia tak merasakan berat seperti ini.
"Ayah, jangan merasa kesepian kan masih ada Aygul anak Ayah juga. " hibur Hafiz mencoba mengalihkan rasa sedih ayahnya. Dia tahu kasih sayang seorang ayah pada anak perempuan nya memang tak bisa di gantikan oleh orang lain, karena ayah adalah cinta pertama sang anak ketika mengenal dunia.
Pak Birendra tersenyum ke arah Aygul dia jadi tak enak hati dengan menantunya karena sikap nya tadi. " Iya Ayah tak akan sepi karena ada Aygul dan Hafiz yang akan menemani hari-hari tua kami"
"Apalagi kalau si Baby udah lahir pasti rumah kita akan rame Yah. " lanjut Hafiz seperti memberi semangat untuk Ayah.
Duh melow nya si Ayah membuat Izza segera berlari mendekati kursi nya dan memeluk Ayah dari samping dan tentu saja di balas dengan pelukan sayang juga. Zein terharu melihat betapa dekatnya calon istri nya dengan calon bapak mertuanya dan dia berjanji akan membahagiakan Izza dengan sluruh cinta nya dan tak pernah menyakiti hati sang pujaan.
"Ayah.. hiks.. hiks.. Izza jadi sedih kan?! apa Izza tunda saja pernikahan ini hingga Ayah ikhlas melepaskan anak ayah ini? " canda nya sambil terisak.
__ADS_1
Ayah menarik hidung anak bungsunya itu dengan gemas. Hal-hal semacam ini lah yang nantinya akan dia rindukan. kemanjaan dan kecantikan Izza yang bisa membuat hatinya ikut ceria jika di dekatnya. Ibu tersenyum saja melihat interaksi anatara Ayah dan anak itu. Dia kemudian melirik Aygul semoga saja Aygul tidak berkecil hati melihat kemanjaan Izza pada sang Ayah.
"Duh manja nya anak Ayah gak malu di liat calon suami sama kakak iparnya? nanti kalau udah tinggal dengan suami jangan manja ya dek? " seloroh ibu. Dan di balas dengan cengiran khas tengilnya.
Zein tersenyum saja dan melirik Hafiz yang sedang beradu mesra menyuapi Aygul sepotong cheese cake toping blueberry yang tersedia di meja. Dia juga akan bersikap memanjakan istri setelah menikah nanti karena hal itu sudah menjadi Cita-cita sejak pertama kali jatuh cinta pada adik Hafiz.
" Ayo Zein, di cicipi cheese cake nya. Tapi Ibu beli di Mall sama Hafiz dan Aygul. " Ibu mencoba menyapa calon menantu nya yang dari tadi hanya diam saja.
Izza beranjak melepas pelukan nya dari Ayah lalu mengambilkan sepotong cheese cake untuk Zein. Pemuda yang pendiam itu pun menerima dessert dari gadis mungilnya.
Setelah makan malam bersama dan berbincang tentang persiapan pernikahan mereka berdua yang kurang 2 bulan lagi, Zen pun pamit kembali ke rumah dinas nya. Izza mengantarkan sampai pintu gerbang setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya yang sebentar lagi akan jarang di tiggalinnya setelah menjadi istri Zein.
Setelah tunangan nya itu pulang, Izza mulai membuka lagi ipad nya untuk meng cros cek ulang semua persiapan pernikahan dia. Gedung sudah di berikan DP, Untuk katering sudah oke dengan pilihan menu yang variatif. Undangan juga sudah di pesan. Souvenir pun dalam masa pengerjaan oleh vendor yang di pilih nya. Foto prewedding jadwalnya minggu depan.
Gadis mungil itu mencoba mengingat lagi apa yang belum di urus nya.
Tiba-tiba dia teringat harus mulai memcatat siapa saja teman yang akan di undang nya. Mulai lah dia menulis daftar teman-teman nya. Mulai teman akrab alias bestie nya dan teman kuliah nya. Izza mulai galau sesaat dia mengingat satu nama yang dulu pernah tersimpan di lubuk hatinya saat SMA.
Fabian...
__ADS_1
Entah kenapa dia teringat sosok yang dulu membuatnya hilang selera makan, saat semua nya terasa indah. Hanya dengan sapaan lembut nya saja bisa membuat Izza tersenyum manis.
Fabian adalah kakak kelas nya satu tingkat di atasnya. Dia lah fist love Izza tanpa seorang pun tahu termasuk Hafiz. Selama di sekolah hanya saling pandang dan kirim surat melalui perantara sahabatnya. Pun ketika Fabian menyatakan cinta padanya di satu siang saat jam pulang sekolah, Izza juga bersama dengan Hanum teman sebangku nya yang menunggu nya agak jauh duduk nya dari mereka.
Hanya Hanum lah yang tahu perjalanan cinta nya dengan sang kapten basket di sekolahnya.Cinta dalam diam dan hanya saling berkirim pesan tanpa pernah berkencan.
Setelah lulus SMA, Fabian menghilang tak tahu kabar nya, bahkan jaman sudah secanggih ini tak bisa menemukan keberadaan Fabian. Yang Izza tahu lelaki itu meninggalkan cinta mereka yang baru saja mekar tanpa alasan. Itulah yang menyebabkan Izza sedih, dan insecure dengan dirinya sendiri.
Dia merasa di ghosting alias di tinggalkan tanpa pesan dan tanpa kepastian oleh Fabian tanpa tau kesalahan nya apa saat itu. Cinta yang mulai mekar tiba-tiba saja lagi sebelum berkembang. Ah Fabian kamu memang misterius sekali.
Kemarin Hanum menelponnya dan mengabarkan jika Fabian ke rumah nya mencari informasi tentang nya lagi. Duh gusti tuliskan telingaku sekarang untuk mendengar apapun tentang Fabian jeritnya lagi.
Mungkin bagi beberapa orang cinta saat SMA adalah cinta abege labil yang tidak bisa di bilang serius. Namun demi apapun itu Izza berani bersumpah jika cinta nya pada Fabian adalah cinta yang serius. Dulu dia berpikir dan berharap Fabian lah yang akan membawa nya ke maghligai pernikahan. Namun garis takdir berkata lain.
Entah dia harus senang atau benci mendengar kabar mantan pacar nya itu yang pergi tak pernah menyelesaikan status hubungan cinta mereka. Apa Fabian hanya sekedar bermain-main saja dengan perasaan nya, dia pun tak tahu.
Sekarang sudah ada pengobat luka hatinya yang dengan gentle langsung melamar nya untuk menjadi pendamping hidupnya.
Ponselnya bergetar ada nama Zein di layarnya. Gegas dia menggeser layar gawai nya dan menjawab salam calon suaminya yang berisik tanda masih dalam perjalanan ke rumah dinas nya. Zein menanyakan perihal mahar yang tadi mau di tanyakan nya saat makan malam namun lupa di tanyakan karena melihat kegalauan calon mertuanya itu.
__ADS_1