Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Masa lalu calon Iqlima


__ADS_3

dr Zein tampak tampan dalam balutan baju koko warna putih dengan sarung berwarna senada dengan garis vertika hitam. Memakai songkok hitam khas pribadinya membuat aura ketampanan nya semakin terlihat jelas. Bisik-bisik para undangan pun terdengar adem. Dokter muda tampan sukses banyak yang ingin menjadikannya menantu tapi sayang besok mau jadi menantu orang hehehe.. dengungan itu terdengar oleh Pak Yahya dan beliau hanya tersenyum saja.


Mengingat perjalanan panjang anak sulung nya mencapai prestasi seperti ini, dia bahkan tak menyangka dapat mengantarkan anaknya hingga ke pintu gerbang pernikahan dengan seorang putri pengusaha terkenal di ibukota. Air matanya menggenang di sudut ujung matanya yang sudah mulai terkena rabun senja.


Zein si pendiam yang tak banyak tuntutan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri jarang meminta kiriman uang. Dan beruntung sekali bisa mendapatkan beasiswa hingga meraih gelar dokter spesialis dengan prestasi terbaik lulusan cumlaude dalam angkatannya.


Dulu mereka di pandang sebelah mata karena kondisi ekonomi nya yang terbatas, bahkan dia sering mendadak anfal karena penyakit jantung dan istrinya lah yang pontang panting menggantikan peran nya mencari nafkah. Untung saja Abah Kyai memberinya kesempatan di ndalem dan ada usaha nya menjahit baju seragam anak pesantren.


Dia tak memungkiri andil Abah Kyai sangat besar untuk kelangsungan perekonomian keluarga nya sehingga dia merasa sangat berhutang budi dan ingin sekali sekali-kali bisa membalas budi baiknya. Pak Yahya tidak tahu jika putri Abah Kyai memiliki perasan khusus pada Zein sehingga dia pun tidak pernah memikirkan apapun. Berbeda dengan istri dan anak perempuan nya yang saat ini sedang terkena dampak dari Iqlima.


Sebenernya Ibu dan Sarah tidak bersalah namun, mereka memiliki rasa sungkan dan tidak enak hati dengan gadis itu. Itu semua karena sebelum Iqlima mau di lamar oleh Gus Rifky, Umi nya sempat meminta tolong pada Bu Yahya untuk membujuk putri bungsu itu untuk menerima pinangan Gus Ahmad untuk putranya. Karena merasa berhutang budi pada keluarga Abah, Ibu pun mencoba berbicara Baik-baik pada Ning Iqlima.


" Saya ndak cinta sama Gus Rifky Bude, Saya ndak mau nikah karena terpaksa! " rajuknya kesal di depan Bu Yahya saat mereka hanya ada bertiga di halaman belakang pesantren. Saat itu Sarah dan Ibunya sedang menjemur pakaian para keluarga Abah. Bu Yahya menghentikan aktifitasnya. Kemudian beliau mengajak Iqlima duduk di bangku panjang yang ada di bawah pohon Mangga.


" Monggo pinarak riyen Ning, (mari duduk sebentar disini Ning) " ajak Bu Yahya sambil menepuk bangku itu.

__ADS_1


Iqlima mendekati Bu Yahya, kalau di halaman belakang ini mereka bisa bebas berinteraksi karena keluarga Abah sangat jarang berada disini. Dan para santri pun tak akan ada yang berani masuk ke halaman rumah Kyai nya jika tak ada permintaan khusus dari sang empunya rumah.


"Bude, saya ndak tahu harus memakai cara menolak apa lagi. Abah sama Umi tetap keras memaksa saya menerima Gus Rifky sedangkan Bude tahu menikah tanpa cinta itu seperti berada dalam neraka"


Suara nya sendu mendayu mengadukan nasib hidup nya pada Bu Yahya. Wanita berumur setengah abad lebih itu menghela nafas prihatin. Dia kasihan sekali melihat putri kyai nya itu terluka secara batin akibat perjodohan itu. Namun dia teringat pesan Umi yang memintanya merayu Iqlima agar luluh karena Umi tahu Bu Yahya dekat dengan anak bungsunya.


" Bune tolong saya untuk merayu Iqlima. Biar bagaimana pun juga dia harus menerima Gus Rifky untuk menjadi suaminya kelak agar nama besar pesantren ini karena Abah dan Kyai Ahmad sudah berjanji akan menikahkan mereka berdua sejak saya hamil Iqlima"


Bu Yahya termenung mendengar permintaan Bu Nyai yang terdengar sedih tak berdaya dan dia menunduk kan kepala semakin dalam tak berani menatap wajah sang Nyai.


"Nggih Bu Nyai, saya akan mencoba merayu Ning Iq. Agar mau membuka hati dan menerima Gus Rifky. Ngapunten (maaf) saya hanya bisa mengarahkan saja tapi tak bisa memaksa beliau" jawab Bu Yahya dengan suara pelan.


Bu Nyai mengangguk setuju dan terjadi lah percakapan seperti siang ini di halaman belakang rumah besar Pak Kyai. Dari kelima anak Kyai itu hanya Iqlima yang berjenis kelamin perempuan. Dan Abah sangat senang ketika istrinya hamil anak perempuan bungsu nya itu karena dia pernah berjanji pada Gus Ahmad untuk menjodohkan dengan salah satu putra nya dan kebetulan yang belum menikah hanya Rifky.


Dia tak mengetahui masalah kepribadian putra Sahabat nya itu yang dia tahu Gus Rifky adalah putra ketiga dari sahabatnya yang sudah lama kuliah di Amerika. Dan saat ini sedang mencari jodoh seorang wanita dari pesantren untuk di jadikan istrinya.

__ADS_1


Rifky Chaerullah adalah pemuda yang memiliki dua kepribadian ganda yang tak seorang dari lingkungan pergaulan nnya pun tahu itu. Hanya keluarga terutama ayah dan ibunya yang mengetahui itu. Karena dulu saat kanak-kanak dia pernah di culik oleh tetangganya sendiri. Dia di siksa dan di lecehkan oleh tetangga nya yang hampir berusia 40 tahun.


Penculikan itu berlangsung selama hampir satu Minggu dan saat itu dia berusia 7 tahun. Setelah penculik itu berhasil diamankan oleh polisi, massa berusaha untuk membakar tempat persembunyian nya namun berhasil di gagalkan oleh keluarga Abah karena ada Rifky kecil yang masih di sekap di dalamnya.


Saat di temukan oleh keluarganya Rifky dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya di ikat di atas ranjang dengan posisi hanya memakai ****** ***** saja. Tangannya terikat oleh borgol entah darimana dapatnya lelaki jahat itu alat keamanan dari polisi. Wajahnya lebam dan rambutnya di gunting tak jelas modelnya. Bu Nyai menangis histeris melihat kondisi anaknya dan beberapa kerabat langsung membopong nya untuk di masukkan ke dalam mobil.


Sejak saat itu Rifky menjadi pendiam dan tak mau berbicara pada siapapun. Hingga suatu ketika Abah memanggilkan seorang psikiater untuk membantu mental putranya. Namun itu pun dilakukan Abah secara diam-diam dan ke ibukota jadi para tetangga dan kerabatnya tak ada yang tahu penyakit mental yang di derita Rifky selama itu, hampir seminggu sekali dia menjalani terapi kejiwaan hingga Abah memutuskan untuk membeli rumah disana dan mengutus salah dua orang kepercayaan nya dan satu orang adiknya untuk mendampingi hidup Rifky selama masa pengobatan.


Rifky kecil mengalami masa sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dan jika dia di dekati oleh orang lain dia akan panik dan reaksinya akan mengamuk dan berteriak-teriak. dokter mengatakan jika pasien sudah mengalami PTSD atau Post Traumatic Stres Disorder.


Abah Kyai dan Istrinya sangat sedih dengan keadaan putra kesayangan nya itu bahkan Bu Nyai sampai jatuh sakit berhari-hari memikirkan nasib putranya. Namun berkat kasih sayang dan ketulusan orang-orang terdekatnya perlahan Rifky mengalami perkembangan hingga mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia bahkan tidak bisa menjalani kehidupan sosial dengan baik, dan Abah mendapatkan masukan untuk menyekolahkan Rifky dengan cara home scholing saja jadi dia tetap bisa mengenyam pendidikan secara privat di sekolah.


Hingga Rifky berusia 17 tahun dia sudah menjalani pendidikan setara SMA. Kemudian dia meminta pada Abah untuk kuliah di Amerika karena dia mendapatkan informasi melalui guru dan media sosial bahwa kuliah disana lebih baik. Karena sayang dan cinta nya Umi pada Rifky dia meminta Abah mengabulkan keinginan sangat putra untuk sekolah di luar negeri selain itu Umi juga kasihan melihat Rifky tidak memiliki teman dekat karena dia tidak banyak bersosialisasi dengan teman sebayanya.


Kondisi keuangan Abah saat itu dia memang sedang bagus perekonomian sedang di uji Allah naik. Bisnis Abah di bidang pertanian berhasil panen selalu berlimpah dan hasil ternak sapi serta kambing nya juga banyak. Selain itu Abah juga memiliki toko sembako terbesar di kelurahan nya Sehingga untuk pundi-pundi rupiah nya makin bertambah banyak.

__ADS_1


__ADS_2