Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Iqlima kecewa


__ADS_3

Tak lama sebelum Sarah membalas pesan itu, terdengar bunyi ponselnya bergetar. Dengan ragu-ragu dia mulai mengangkat telpon nya.


" Assalamu'alaikum Ning" sapanya pelan dan agak gugup, biar bagaimanapun dia harus berhati-hati berbicara dengan gadis itu.


" Waalaikum salam Sarah. Kenapa kamu tidak jawab pesan ku tadi!? Siapa yang akan menikah? Seserahan buat siapa itu? "


berondongnya dengan cepat. Sarah bingung harus menjawab darimana dulu. Pun dia juga agak tak enak hati membicarakan hal ini.


"Sarah! " pekik nya gemas.


Sarah tergagap dan " Mas Zein mau menikah besok Ning" akhirnya dia hanya bisa mengatakan hal itu saja.


"Apa?!!! Kamu tidak bercanda kan Sarah?! " kamu tidak nge prank saya kan? "


Gadis itu berharap Sarah akan mengatakan surprise ini semua prank untuk nya namun apa yang menjadi harapan nya tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.


"Be.. benar Ning Iq. Besok Mas Zein akan melaksanakan akad nikah. " jawab nya.


Mendadak Iqlimah mengubah mode telpon nya menjadi video call. Dia jadi kesal mendengar berita itu dan baginya sangat menyakitkan.


"Sarah, saya tanya sekali lagi, apa benar Mas Zein mau menikah? " tanya nya dengan wajah sendu.

__ADS_1


Sarah mengangguk pasti dan tak berani memandang lawan bicara nya walaupun lewat telepon sebagai tanda hormatnya pada Ning Iqlima. Sudah menjadi tradisi para santri untuk menghormati para guru beserta seluruh keluarga nya termasuk anak dan keturunannya.


Mereka akan menunduk takzim tanda menghormati dan patuh pada guru di pesantren nya. Begitu pun dengan Sarah yang sangat menghormati keluarga besar Abah Yai yang sudah menolong keluarga nya dari keterpurukan. Dia masih saja diam tak berani bersuara. Terdengar helaan nafas Iqlima.


"Sarah, apa Abah dan Umi sudah tahu kalau Mas Zein menikah besok? " tanya nya lagi


Sarah mengangguk " Sampun Ning (sudah Ning) " jawabnya pelan.


"Kenapa mereka tidak memberi tahu aku Sarah? apa salah ku? bukan kah mereka tahu aku dekat dengan Mas Zein..? " Iqlima seolah olah protes kepada Abah dan Umi nya. Gadis itu sesenggukan menahan perih di dada nya.


Hancur sudah harapannya untuk memperjuangkan cita-citanya bersanding dengan Zein. Dia tak tahu jika Abah dan Umi memang sengaja tak memberitahu kan undangan pernikahan Zein agar Iqlima bisa move on dari Zein.


Abah bukan tak tahu jika anak nya itu diam-diam mencintai mantan santri nya. Namun beliau juga tak bisa melanggar janji nya pada Kyai Ahmad di kota sebelah untuk menjodohkan putri dan putra mereka untuk menambah erat hubungan kekeluargaan dan hubungan bisnis pesantren mereka. Abah merasa berhutang budi pada Kyai Ahmad mengingat perjuangan nya membantu pesantren ini hingga maju dan berkembang di JawaTimur.


Jauh di lubuk hati Zein dulu ada rasa sedikit rasa kagum pada putri kyai nya yang cerdas dan tak pilih kasih dalam berteman. Iqlima sering menitip salam untuknya melalui Sarah. Namun dia cukup tahu diri dengan jati dirinya dan keluarganya bukan dari kalangan pemilik pesantren dan dia juga bukan seorang Gus atau anak Kyai. Dia adalah pemuda desa yang sederhana dan sedang berjuang membahagiakan keluarga nya.


Pun dia pernah di panggil Abah dan Umi ke rumah saat Iqlima hendak di pinang oleh Putra Gus Ahmad. Kyai nya itu menyuruh Zein menyaksikan acara khitbah sang putri dengan harapan apa yang dilakukan nya itu sebagai teguran halus agar Zein tidak berharap lebih untuk sang putri. Walaupun setelah itu Abah meminta maaf dengan memeluk Zein lebih lama daripada biasanya.


Untung saja hati Zein belum tersentuh dengan pesona cinta, hanya rasa kagum saja yang di milikinya saat itu dan dengan kepergiannya ke Mesir perlahan dia bisa melupakan dan mengubur kekagumannya itu menjadi mati.


Iqlima mengusap sudut matanya dengan tissue yang dia ambil di atas meja. Tiba-tiba kamar Sarah di ketuk dari luar, dan gadis itu mohon ijin untuk membukanya.

__ADS_1


Pintu kamar yang tak tertutup rapat itu membuat Ibu bisa mendengar pembicaraan Sarah dan Iqlima. Dan ternyata Ibu dan Bulek nya datang memberitahunya untuk membantu menyajikan makanan untuk para undangan. Ibu yang tak sengaja mendengar percakapan Sarah tadi menjadi tak enak hati juga pada Ning Iqlima.


Biar bagaimana pun putri Kyai nya itu sangat baik dan selalu menghormati diri nya dan Pak Yahya walaupun Iqlima tahu mereka adalah abdi dalam keluarga nya. Bahkan Ning Iqlima diam-diam sering memberinya lebihan makanan untuk di bawanya pulang ke rumah atau memberikan bonus uang dari uang saku nya sendiri untuk Bu Yahya, tak jarang Iqlima sering menyarankan para Santi disana untuk Mencuci dan mensetrika kan seragam sekolah mereka ke Bu Yahya.


Dengan demikian pundi-pundi pendapatan keluarga semakin membaik. Dan jika uang itu terkumpul banyak minimal 3 bulan sekali Bu Yahya akan mengirimkan sebagian ke Zein dan sisa nya untuk adik-adik nya.


Dan Sarah sering membantu ibunya untuk menyetrika baju. Sedang kan Baim membantu membersihkan kandang kambing milik Abah Kyai setiap hari dengan Pak Yahya.


''Sarah... ayo bantu bulek mengeluarkan hidangan untuk para tamu " Bulek Dina menyuruh Sarah membantunya. Ibu tak banyak suara karena tak enak pada Iqlima di telepon.


" Ning, maaf saya harus membantu bulek sebentar" ijin nya dengan suara parau. Iqlima mendesah kecewa.


"Baik lah. Tapi kamu harus janji untuk menjelaskan semuanya nanti ya" tekan wanita berhidung mancung itu kalau di katakan wajahnya seperti artis Sarah Natalie.


" Inggih Ning, in-sya Allah Sarah akan menjelaskan setelah acara pengajian ini selesai" jawabnya takut-takut.


Tak lama kemudian mereka sudah menyudahi percakapan dan Sarah keluar kamar menuju dapur yang di sana ada 2 adik Ibunya dan beberapa sepupunya yang sudah sibuk menata hidangan di piring-piring saji.


Karena keluarga Zein termasuk keluarga besar maka, banyak kerabatnya yang ingin datang ke acara pernikahannya. Sehingga Zein meminta izin pada rekan sejawatnya yang mendapat kan rumah dinas di samping rumahnya untuk menempati beberapa hari disana. Dan kebetulan 2 rumah itu kosong jarang di huni oleh rekan nya karena masih bujangan.


Keluarga Zein saling bahu membahu mengurus acara nya mulai dari acara pengajian sampai acara akad besok mereka akan membantu full tenaga untuk Zein. Mereka sangat menyayangi keluarga Pak Yahya yang terkenal ringan tangan dan sering membantu mereka jika di perlukan.

__ADS_1


"


__ADS_2