Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
curhat ke ibu


__ADS_3

"Saya tidak berani memberikan nomer orang pada orang yang tidak saya kenal. " tegas Hafiz sambil menyoroti lelaki itu. Dia curiga jika lelaki di hadapannya itu akan berbuat tidaak baik pada Dewi.


Sebagai seorang lelaki dan juga sebagai seorang kakak, dia merasa tergerak untuk melindungi privacy mantan tetangga nya itu, walaupun di dasar hati dia tidak menghiraukan Dewi.


Bu Hafzah memandang lekat wajah anaknya yang terlihat tegas dan berwibawa di depan orang itu. Ada rasa haru dan bangga melihat nya, hampir 28 tahun membesarkan Hafiz baru kali ini dia melihat wibawa anaknya yang biasanya lemah lembut di hadapannya.


" Tolong lah Mas, ada hal yang harus saya bicarakan dengan Dewi. Jika tidak bicara sekarang saya akan menyesal seumur hidup" desak lelaki itu lagi.


Hafiz mengembuskan nafas kasar. Dia jengkel juga dengan sikap keukeh lelaki itu, apa orang ini ada hubungan dekat dengan Dewi? batin nya.


" Begini saja tolong tinggalkan kartu nama anda, nanti saya akan hubungi anda setelah Dewi setuju memberikan nomer nya " balas Hafiz lagi.


Akhirnya lelaki itu pasrah dengan keputusan Hafiz daripada dia kehilangan wanita itu lagi lebih baik dia mengikuti permainan Hafiz.


Lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tas pouch nya yang terlihat bermerk. Dia memberikan dengan sikap menunduk patuh.


" Ini Mas, saya sangat berharap bantuan anda" kedua tangan nya bertaut didepan dada nya dengan posisi seperti menyembah.


" Baik lah secepatnya saya kabari anda. Dan saya harap anda tidak bersikap macam-macam pada nya setelah saya memberi tahu anda nomer itu karena ucapan anda saya pegang! "


Lelaki itu mengangguk kemudian kepalanya menunduk tak berani melihat mata Hafiz. Setelah itu Lelaki itu pamit meninggalkan tempat dan Hafiz segera membaca nama yang ada di kartu itu. Sesaat kemudian mereka telah bubar dan pulang ke rumah masing-masing.


****


Selama di perjalanan, Aygul bersikap diam. Entah kenapa hatinya sangat sensitif sekali jika berhubungan dengan Dewi. Padahal Sikap Hafiz juga tidak menunjukkan apapun pada saat bertemu Dewi pun saat menghadapi kehebohan yang baru saja terjadi.


Namanya saja ibu hamil apapun yang membuat perasaannya tidak nyaman akan menjadikan mood nya berubah menjadi tidak baik. Namun dia tak mau terlalu menunjukkan di depan mertuanya yang saat ini mendampingi nya.

__ADS_1


Namun feeling seorang ibu yang sudah makan asam garam kehidupan lebih banyak mengatakan jika saat ini menantu nya itu sedang tidak baik- baik saja. Tapi dia tidak tahu permasalahan nya karena dia juga tidak tahu jika Dewi mengejar Hafiz saat di kantor.


Bu Hafzah nanti akan menanyakan pada anak. sulung nya saat waktunya tepat. Karena dia tak mau jika mempermalukan menantu dan anaknya di mobil karena ada Agiah dan Mang Asep disana.


Lima belas menit kemudian mereka telah tiba di depan rumah Hafiz. Dan Pak Man juga firdaus dengan cekatan membuka gerbang rumahnya. Memang setiap seminggu sekali mereka akan meroling waktu jaga dengan security baru agar tidak jenuh.


Mobil telah berhenti sempurna di luar garasi, Mang Asep dan Atiah membuka pintu mobil dan keluar lah para majikan nya Aygul mencoba berjalan dengan berpegangan pada lengan suaminya. Walaupun ada rasa takut namun dia tetap mencoba karena dia tak ingin jadi orang lumpuh seumur hidupnya.


Dengan sabar Hafiz menuntun Aygul ke ruang tamu, keringat sebesar biji jagung muncul di kening istrinya. Hafiz tersenyum memberi semangat pada sang istri " perlahan saja jangan takut jatuh aku di samping menjaga mu" ucapnya lembut di telinga nya.


Seperti mendapatkan oase di padang gurun kata-kata Hafiz membuat rasa takutnya perlahan hilang namun dia tak berani melangkah terlalu cepat agar tidak terjatuh.


Bu Hafzah tersenyum melihat usaha menantunya untuk sembuh dan berjalan mendahului mereka karena dia ingin segera menuntaskan hasrat ingin pipisnya yang dari tadi di tahan.


Setelah Aygul duduk di sofa empuk, Firdaus masuk membawa kursi roda nyonya muda nya ke dalam ruang tamu. Hafiz menyuruh meletakkan nya di sebelah istrinya.


"Hunny ayo kita segera istirahat, biar kamu tidak terlalu lelah" ajak Hafiz sambil menunjuk kursi roda tersebut.


Setelah Aygul duduk manis di kursi, Hafiz mendorong kursinya masuk ke dalam kamar, sebelumnya dia menyuruh Firdaus membantu Atiah membawakan belanjaan mereka tadi.


Hafiz membantu Aygul melepas gamis nya dan membawakan piyama rumahan untuk gantinya.


Tiba-tiba Ponselnya berbunyi menandakan ada satu pesan yang muncul dan perlu di baca.


Ibu ku.. Hafiz melihat yang mengirim pesan adalah ibunya, tidak biasanya sang ibu mengirim pesan seperti ini biasanya Bu Hafsah akan memanggilnya langsung.


Untung lah saat itu Aygul masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya agar segar setelah itu dia akan tidur demi menjaga kesehatan calon bayinya.

__ADS_1


'Mas Ibu mau bicara sebentar di ruang kerja Ayah'


WeA dari sang Ibu terbaca lalu dia segera pamit sama istrinya sebentar takutnya Aygul mencarinya setelah mandi.


"Hunny, Mas mau ke sebelah sebentar mau ambil belanjaan yang tertinggal di tas Ibu" pamitnya


"Okay! " suara istrinya terdengar bersamaan dengan bunyi air yang gemericik.


Hafiz segera menemui ibunya di rumah induk dan menuju ke ruang kerja ayahnya. Di dalam sana Bu Hadiah sudah duduk menunggu Hafiz dengan secangkir minuman hangat.


" Ini minum lah Ibu buatin tadi untukmu"


Wajahnya langsung sumringah melihat cangkir yang mengecilkan asap di meja. Segera dia duduk di depan ibunya dan menyeruput minuman hangat yang berisi susu jahe kesukaannya.


"Makasih Bu, Oh ya ada apa Bu? apa ada masalah? " tanya Lelaki tampan itu.


Bu Hafisah mengambi nafas sebentar " Hmmm... sebenarnya Ibu hanya penasaran dengan sikap Aygul saat kita tadi bertemu Dewi dan ada kejadian sebelum pulang. Ada apa nak? "


Sebenarnya Hafiz tidak mau cerita agar Ibu dan Ayah nya tidak berpikir jelek tentang Dewi biar bagaimana pun Dewi dulu teman masa kecil mereka dan hubungan dengan orang tuanya juga baik, dia tak mau merusak itu semua.


" Ah.. gak ada apa-apa Bu, mungkin hanya perasaan Ibu saja. Biasanya Ibu hamil kan sensitif mungkin juga kelelahan"


"Hmmm... begitu ya. Mas mulai bohong ya sama Ibu, jangan di. tutupi kalau ada sesuatu masalah diantara kalian nak, ceritakan pada Ibu supaya Ibu bisa membantu memberi jalan keluar yang baik"


Hafiz yang awalnya segan akhirnya menceritakan tingkah laku Dewi jika bertemu dengan nya dan itu membuat Aygup cemburu. Bu Hafisah manggut-manggut dan terdiam seolah berpikir keras.


"Kamu bilang saja sama Aygul jika kalian hanya berteman sejak kecil tidak ada lebihnya. Tenangkan hati istrimu karena kehamilan nya ini sangat sulit. Kita harus mendukungnya agar dia tidak mudah sedih dan gelisah agar calon anak kalian tumbuh sehat"

__ADS_1


"Baik Bu, Hafiz akan menyakin kan Aygul lagi. Dan setelah cerita seperti ini Ibu ketahui, tolong Ibu tidak usah menegur Aygul ya. Takutnya dia tersinggung. Biarkan nanti Hafiz yang akan menanganinya" katanya dengan suara memohon.


Bu Hafisah tersenyum lembut dan menganggukkan kepala menyakinkan anak sulung nya dan membuat lelaki dewasa itu bisa bernafas lega. Dia tak mau membuat masalah didalam rumah tangga nya menjadi makin runyam. Biar bagaimana pun hal yang kita anggap sepele itu biasanya akan menjadi berat karena tak di segera di selesaikan dengan cepat.


__ADS_2