
Aygul mengelap air mata yang menganak sungai di pipinya. Dia tahu saat ini Hafiz sedang kesal namun dia harus memberikan penjelasan pada suaminya jika saat ini dia sedang membutuhkan suport moral dan kasih sayang nya. Dia tak mau hidup dalam ketakutan dan seolah-olah menjadi buronan orang.
ceklek..
Pintu kamar di buka dari luar lalu terlihat tubuh atletis suaminya masuk ke dalam.
"Honey kau belum tidur? "tanya lelaki itu dengan nada rendah.
"Not yet"
Hafiz mendekati ranjang dan duduk di sebelah istrinya yang menunggu sebuah gulung.
''Why?"
"Because Iam afraid "
hafiz merengkuh kepala istrinya lalu membawanya dalam dekapan. Bau parfum maskulin merebak di indra penciuman wanita matang itu. Seketika hasratnya menggelegak namun dia menahan diri agar tak larut dalam keinginan nya karena dia masih sedikit kesal dan takut pada suaminya.
"Maafin aku ya sayang, aku tak menceritakan masa lalu ku pada mu sehingga membuatmu kesal "kata Aygul
Hafiz mencium pipi istrinya sambil tersenyum manis. "Sudah lah kamu tidak bersalah Mas yang terlalu kekanakan menyikapi ceritamu"
"Benarkah kau tak marah? " Aygul melepaskan pelukannya melihat kesungguhan perkataan di mata suaminya.
"Iya sayang, semua adalah masa lalu yang tidak perlu kau ingat lagi karena masa lalu mu yg pahit itu membuatmu terluka dan trauma. Sekarang buang dan lupakan semua. Ada aku masa depan mu yang akan membuatmu bahagia. Mengerti,? Maafkan aku telah melukai hati mu "hibur Hafiz.
"Oh sayang, aku sangat mencintaimu sekali. Jangan tinggalkan aku Mas" Aygul mengeratkan pelukannya pada suami tercinta. Hafiz mencium leher istrinya dan mulai merambat ke bibir ranum nan erotis milik wanita itu. Dia tahu malam ini suaminya sangat menginginkannya dan dia pun akan melayani nya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga nya.
Awan hitam bergulung-gulung di angkasa sebentar lagi air hujan pasti akan membasahi bumi. Waktu menunjukkan pukul 15.30wib saat Adzan Ashar penanda pergantian waktu siang ke petang tiba. Desau angin yang bercampur dengan bau tanah kering tak terhirup aroma nya pada indra penciuman anak manusia yang sedang menikmati indahnya cinta di dalam ikatan yang halal.
Tes..
Tes.. tess..tesss
Percikan air dari langit mulai turun, rintik gerimis telah berganti menjadi rinai yang yang lebat. Suara guruh bersahutan menggelegar seakan memecah keheningan sore itu, kilatan petir seperti ekor naga yang menari kesana kemari.
__ADS_1
Di Indonesia sekarang musim hujan jadi hampir tiap hari air dari langit itu turun membasahi bumi, seperti pagi ini saat orang - orang akan melakukan aktifitas rutinnya di luar,seperti bekerja maupun bersekolah tiba-tiba saja hujan turun begitu seratnya selepas subuh tadi. Hingga pukul 05.30 wib rinai nya belum berhenti.
Hafiz membuka tirai jendela kamarnya dan melihat air hujan masih setia membasahi dedaunan dan bumi.
Selepas sholat subuh tadi Aygul masih bergelung di dalam selimut tebal nya menutupi tubuh moleknya yang lelah karen semalam telah mereguk manisnya cinta bersama sang suami. Kepedihan dan lara di hatinya sesikit terobati dengan sikap lembut dan penerimaan Hafiz. Sesaat dia bisa melupakan kesakitannya.
Hafiz yang kasihan melihat kelelahan istrinya itu akhirnya keluar kamar untuk menyuruh para asisten nya menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Sejak pindah ke rumah nya sendiri Hafiz dan Aygul lebih leluasa bercengkrama maupun melakukan tindakan apapun. Padahal di rumah orang tuanya juga bebas melakukan apa saja hanya mereka terhalang rasa Sungkan terhadap orang tua contohnya ketika ingin bermalas-malasan bangun pagi.
Dia menyuruh Atiah membuatkan omelet telur kornet serta bubur ayam untuk sarapan mereka. Lalu Hafiz membuat segelas susu khusus untuk Aygul.
"Mbak, nanti jangan lupa belanja keperluan dapur,stok bahan mentah kita hampir habis serta keperluan laundry juga hampir habis" kata Hafiz Sambil mengaduk susu di dalam gelas kaca panjang.
"Iya Mas, nanti belanja bu asaya sendiri atau bawa Non Aygul? "
Hafiz menghela nafas nya sebenarnya dia ingin mengajak istrinya itu belanja tapi hari ini di ada urusan kerjaan yang tak bisa di wakilkan oleh stafnya.
"Boleh kamu ajak Aygul tapi ingat jangan sampai lengah menjaga nya karena keadaan sekarang tidak sedang baik-baik saja. Harus waspada karena ada orang jahat sedang mengincar nya" jawab Hafiz lirih karena tak ingin terdengar istrinya.
"Baik Mas, nanti saya pergi dengan Firdaus saja biar ada yang jaga Nona. "
Hafiz mengangguk lalu dia berjalan meninggalkan asistennya menuju kamar.
'ceklek..
Dia membuka pintu kamar dan mendapati Aygul masih terlelap. Dia meletakkan gelas susu di atas nakas lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan lagi. Tadi sehabis memadu kasih tau sebenarnya dia telah mandi namun dia termasuk orang yang selalu menjaga kebersihan sehingga dia ingin mandi lagi agar segar.
Aygul menyingkap selimut tebalnya lalu dia berusaha bangkit dari rebahan.
Satu..
Dua..
Tiga...
Huft!!
Akhirnya dengan susah payah dia bisa duduk sendiri, satu perkembangan yang menggembirakan. Lalu dia berusaha mengangkat kaki kanan nya dengan kedua tangan nya sambil. memejamkan mata.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum samar dia gembira bisa merasakan kedut di syaraf kaki nya. Ujung jempol nya dia tekuk ke arah dalam.
"Awwww...! sakit" Dia meringis ketika menyenggol tumitnya. Namun wajahnya menjadi ceria seolah melupakan rasa sakit itu.
Tiba-tiba..
Bruk!!
Suara benda berat jatuh terdengar namun yang asyik mandi tidak bisa mendengar nya. Setelah menyelesaikan mandi nya Hafiz keluar menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya.
ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, dengan santai dia melenggang keluar dan menuju walk in closet. namun matanya tertuju pada sosok tubuh istrinya yang terjatuh di bawah ranjang dan di sebelah nya kursi roda
'Astaghfirulloh hal adzim!! "
teriaknya keras lalu segera berlari mendekati istrinya yang terlihat meringia kesakitan.
"Honey! "
Dia mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang setelah itu memeriksa tangan, dia kaki dan badan Aygul dengan tergesa-gesa.
"Iam fine, don't worry oke! " jawab Aygul sambil meringis.
"fine gimana sih? orang kamu jatuh tertimpa kursi roda begini bilang fine.. ckkk! " sungut Hafiz sambil membenahi handuk nya yang hampir melorot ke bawah.
Aygul tersenyum walaupun merasakn ngilu di pergelangan kaki nya. Dia mengusap pipi suaminya dengan lembut.
"Aku bisa duduk sendiri, aku bisa merasakan sakit di kaki ku dan aku bisa menggerakkan nya " jawabnya tersenyum. Walaupun beberapa hari yang lalu di bandara dia sudah bisa berdiri namun dia masi belum berani untuk melakukan eksperiment berjalan sendiri.
Hafiz merengkuh kepala istrinya dan menciuminya dengan lembut.
"Alhamdulillah...semoga secepatnya kamu bisa berjalan sayang. Tapi kamu tak boleh memaksakan diri terlebih dahulu. Step by step. Nanti sore kita ke klinik dr Zainab lagi ya? " Hafiz merasakan bahagia melihat istrinya bisa menggerakkan kakinya lagi.
Lalu Hafiz mengambil pakaian kerja nya dan segera mengenakan kemeja berwarna biru benhurtdan celana bahan berwarna sama. Aygul menarik laci yang berada di nakas.
Dia mengambil beberapa bungkus obat dan vitamin resep dari dr Zainab. Mulai hari ini dia akan rajin mengkonsumsi obat dan vitamin lagi karena dia telah merasakan hasil terapy nya itu. Jujur tanpa Hafiz ketahui Aygul memang tidak rutin meminum vitamin nya karena rasa jenuh dan putus asa yang menderanya.
__ADS_1