Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Hamil muda


__ADS_3

Setelah dr Samara datang, dia segera memeriksa keadaan Dewi yang terbaring lemah di atas bed pasien. Matanya terpejam. Dokter yang memakai hijab syarii itu mengambil stetoskop dan mulai menempelkan ke dada Dewi, detak jantung nya sangat lemah.


Dokter yang bersahaja itu mengambil tensi meter lalu mulai memeriksa kondisi Dewi dan seperti dugaan nya tensi gadis ini sangat lemah hanya 80/60 pantas saja dia berulang kali pingsan.


Tidak biasa nya ada kasus sperti ini pada gadia seusia nya lalu dokter mencurigai sesuai ketika melihat bentuk payudara gadis itu yang menyembul seperti wanita yang sedang hamil muda.


Namun dia tak mau berprasangka sebagai dokter dia harus menegakkan anamnesa yang tepat pada pasien nya. Kemudian dia memanggil guru BK yang duduk di kursi yang ada di lemari kecil tempat penyimpanan obat p3k.


"Bu Dina, saya bisa bicara sebentat dengan ibu di ruang kerja ibu? "pinta dr Samara gugup.


Bu Dina mengangguk lalu berdiri. "Dewi, ibu tinggal sebentar ya? "


Gadis itu mengangguk lemah, di benak nya tersimpan sejuta tanya kenapa Dr Samara tampak serius sekali tatapan nya setelah memeriksa kondisi nya.


Kedua wanita yang masih berusia 28 tahunan itu masuk ke ruang bimbingan konseling yang tertata rapi dan berbau harum.


"Silahkan duduk di Sam" kata Bu Dina mempersilahkan dokter itu duduk.. tanpa banyak membuang waktu di Samara mulai mennayakan kronologi kejadian pingsan murid cantik itu karena dia harus menganalisis sebelum mengambil kesimpulan atas dugaan nya.


Bu Dina menceritakan kronologi saat Dewi di temukan pingsan di toilet sekolah hingga di bawa UKS. Lalu dokter yang memiliki hidung mancung itu mengangguk dan mulai menuliskan resep dan memberikan kertas putih itu pada Bu Dina.

__ADS_1


"Ini gejala hamil muda dan dia mengalami anemia. Namun untuk memastikan kebenaran nya dia harus di test air seni nya dengan test pack agar hasilnya benar-benar pasti." kata dr Samara pelan dan takut terdengar di luar ruang BK.


Bolpoin yang di pegang Bu Dina lanhsung jatuh ke lantai mendengar jawaban dr Samara yang membuatnya seperti naik rolercoster.


"Apa? hamil dok? mana mungkin? "lemas sekali rasa nya raga itu karena mendengar murid kebanggaan sekolah ini hamil di saat dia masih berstatus siswi terbaik disini.


"Semuanya bisa terjadi bu, jika dia pernah melakukan hubungan badan dengan lawan jenis. alat reproduksi nya pun sudah matang sebagai wanita dewasa " jawab dr Samara dengan tersenyum.


"Hmmm... maksud.. maksud saya begini, dia itu gadis yang baik dan termasuk siswa teladan dan pandai. Banyak prestasi nya dan dia juga tidak pernah terlihat bergaul yang berlebihan dengan lawan jenisnya saat di sekolah. kenapa bisa kecolongan seperti ini? "sesal guru cantik itu.


"Ya kita tidak tahu pergaulannya di luar sekolah kan bu, tapi hal serius ini harus di bicarakan langsung dengan kedua orang tua nya agar mereka bisa melakukan tindakan yang seharusnya untuk gadis ini"


Kedua nya terdiam karena memikirkan cara yang tepat menyampaikan berita ini ke Dewi dan kedua orang tuanya. Nasi Pasti hal ini akan membuat mereka terkejut dan akan menjadikan aib juga untuk nama baik sekolah ini.


Setelah sekian menit akhirnya nomer ayah Dewi bisa di temukan nya. Bu Dina menghela nafas sesak saat dia mulai menekan nomer telpon Ayah Dewi.


Bu Dina hanya mengabarkan jika Dewi saat ini dalam keadaan kurang sehat dan dia menyarankan untuk menjemput anak nya pulang untuk di periksakan lebih lanjut ke rumah sakit terdekat. Hanya kata-kata itu yang saat ini mampu di ucapkan nya karena dia tak sanggup mengatakan kebenaran nya sekarang melalui telpon. Nanti jika orang tua Dewi sudah disini, dia akan mengatakan hasil pemeriksaan dr Samara mumpung sekalian masih ada tenaga medis itu disini.


Setelah menunggu sekitar 20 menit,kedua orang tua sudah berada di sekolah dan menuju ke UKS tempat putrinya terbaring lemah. Bu Dina mempersilahkan kedua nya untuk masuk ke ruangannya yang di sambut dengan dr Samara.

__ADS_1


Dokter keturunan Pakistan itu mengatakan hasil anamnesa nya lalu raut wajah Papa Dewi terlihat sangat marah dan berubah menjadi merah padam. Sang Ibu tampak terkulai lemas dan mulai terisak.


Mereka berdua tak menyangka anak gadis yang di banggakan mereka telah berbuat hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Dewi gadis bungsu nya yang cantik ceria dan pandai telah mencorenh nama baik keluarga seolah melemparkan kotoran berbau busuk ke wajah mereka. Dengan menahan amarah yang menguasai dada nya Pak Prabu segera pamit untuk menjemput Dewi di UKS, Bu Dina sangat prihatin dengan kondisi mereka dan dia kuatir jika murid nya itu akan di sakiti ayah nya sendiri jadi dia mengikuti orang tua itu masuk ke dalam UKS.


Rasa malu dan terhina sangat menusuk ke dalam perasaan lelaki berusia 55 tahun itu. Istrinya yabg berada di belakang nya tampak sembab dan mulai berusaha mensejajarkan langkahnya di samping suaminya dan berusaha memberikan kalimat-kalimat yang menyabarkan kemarahan suaminya.


"Sabar ya Pak, jangan emosi disini. Nanti di rumah kita selesaikan masalah ini bersama ingat nama baik Bapak" bisiknya lirih dan masih tertangkap indra pendengarannya.


Lelaki dengan wajah khas itu mendekati bed pasien yang terisi tubuh lemah anak gadis nya ada rasa iba melihat anak kesayangannya sedang tergolek tak berdaya namun hatinya juga panas tapi dia segera bisa menguasai diri nya dan segera memapah Dewi mereka berpamitan pada guru BK dan dokter yang ada disana.


Selama berada di perjalanan, Dewi bingung melihat sikap Papa nya yang terdiam tak bersuara hanya helaan nafas yang di hembuskan dengan susah payah melalui lubang hidungnya.


Pun dengan sang ibu yang terlihat sembab kedua kelopak matanya. Perasaan nya tiba-tiba menjadi resah namun dia tak berani bertanya apa pun pada orang tua nya, dia tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk bertanya macam-macam apda kedua orang tuanya.


Pasti telah terjadi sesuatu pada diriku sehingga Papa dan Mama tak mau berbicara apa pun saat ini. Nanti kalau sudah di rumah akan aku tanya kan saja. Batin nya gelisah lalu dia pura-pura memejam kan mata.


Selang 30 menit kemudian dia sudah tiba di rumah nya yang terlihat lenggang tak ada penghuninya. Setelah mesin mobil berhenti dengan sempurna, Papa segera keluar membuka kan pintu di samping Mama lalu aku pun ikut membuka pintu yang ada di sampingku tanpa bantuan Papa. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah lalu Dewi masuk ke dalam kamar nya. Tubuhnya terasa lebih segar daripada tadi di sekolah.

__ADS_1


Papa dan Mama masuk ke dalam kamar Dewi dengan raut wajah yang tak bisa di gambarkan saat ini. Dewi tertegun melihat mereka memang sejak dari sekolah dia sudah niat sekali bertanya mungkin sekarang saat nya.


Setelah mesin mobil berhenti dengan sempurna, Papa segera keluar membuka kan pintu di samping Mama lalu aku pun ikut membuka pintu yang ada di sampingku tanpa bantuan Papa.


__ADS_2