
Malam ini berlalu dengan bahagia. Kebahagian melingkupi keluarga besar ku. Adikku akan segera di persunting oleh sahabatku sendiri.
Ayah dan Ibu telah beristirahat dan Izza pun telah berlalu masuk ke dalam kamarnya. Entah malam ini dia bisa memejamkan mata atau tidak. Karena hari ini benar-benar membuatnya terbang ke awan.
Aku mengajak Zein duduk di gazebo yg ada di halaman belakang rumah. Gazebo ini sering kami gunakan untuk bercengkerama mengisi waktu kosong bersama keluarga. Aku mengajak Firdaus dan Mang Asep untuk bergabung bersama kami. Pagar depan telah di jag security 2 orang. Tugas Mang asep dan Firdaus telah selesai saat security datang.
" Daus tolong buatkan Mas Hafiz wednag jahe ya. Zein kamu mau minum apa? " tawarku
Zein memilih minuman yg sama. Mang Asep membawa beberapa jagung mentah dan beberapa ubi. Dia ingin membakar jagung di atas kompor barbeque ini. Aku melihat saja aktifitasnya.
Firdaus datang membawa 2 cangkir wedang jahe yg masih mengepul asapnya. Lalu dia kembali lagu ke dalam membawa 2cangkir kopi hitam untuk dirinya dan Mang Asep.
Mereka memang sudah jadi bagina dari keluargaku karena itu mereka telah terbiasa membuat makanan dan minuman sendiri.
__ADS_1
" Zein. Rencana kamu bagaimana? " tanyaku mengawali percakapan
Zein menyeruput wedang jahe nya.
"Seperti yg sudah aku katakan pada Ayah tadi. 1 bulan lagi aku akan membawa kedua orang tuaku kesini untuk melamar secara resmi. Dan Insyaallah dalam 3 bulan aku ingin meresmikan acara pernikahan kami"
jawabnya
" Zein maaf boleh kah aku usul? bagaimana jika pernikahan kalian setelah Izza wisuda? Kalau gak salah 4 bulan lagi" kataku karena aku tiba-tiba ingat wisuda Izza.
Aku melihat wajah nya lagi, rasanya agak berat melepaskna adikku untuk pindah. Namun jika suaminya yg menghendaki aku sebagai kakak tak punya daya upaya mencegahnya.
"Zein tinggal lah disini. Rumah ini sangat besar. Kasihan Ayah dan Ibu jika Izza dan dirimu pergi. Aku yg akan pergi Zein karena aku sudah membangun rumah juga jadi tinggal lah disini" kataku lagi.
__ADS_1
"Hafiz bukannya kau menolak tinggal disini. Aku cuma menginginkan hidup mandiri dan tidak merepotkan orang tua" jawabnya
Aku hanya bisa menghela nafasku dengan kasar. Biar bagaimanapun memang hidup mandiri lebih enak setelah menikah.
" Pertimbangkan lagi Zein. Tolong lah pertimbangkan lagi. kita bisa tinggal bersama disni. Sampai saat aku menikah aku yg akan keluar darisini"
Zein menepuk pundakku. Dan tersenyum
"Baiklah Mas ku. Aku akan membicarakan algi masalah ini"
Aku lega mendengar jawabannya. Mang Asep menawariku jagung bakar buatannya. Aku dan Zein mau menerima tawaran nya. Hitung2untuk pengusir rasa dingin.
30menit kemudian aku mengajka Zein masuk ke dalam rumah karena hari sudah larut malam. Besok aku harus kerja dan Zein pun demikian.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan jagung bakar ku aku mencuci tangan di wastafel. dan bergegas naik le atas menuju kamarku.
Ku rebahkna tubuhku di atas ranjang king Size ku ini. Mataku belum mendaoatkan kantuk. Segera aku menghubungi Abizar anak Pakistan. Sudah lama aku tak menyapa nya. Aku ingin memastikan kedatangan nya ke reuni akbar.