Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Akhirnya Ku Menikahi mu


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang membuatku tak tidur semalam. Mungkin kantung mataku sudah menggelambir dan menghitam. Hari menjelang subuh namun mata tetap tak mau terpejam. Akhirnya sholat subuh aku bisa terlelap menuju alam mimpi.


Kira-kira 3 jam aku tertidur hand phone ku berbunyi nyaring. Suara alarm membuat mataku terbuka. Aku mendengar alarm yang menandakan untuk sholat subuh. Aku segera mandi dan menunaikan kewajiban ku sebagai seorang muslim.


Setelah selesai sholat aku mendengar kamarku di ketuk dari luar. Aku segera bangkit membuka pintu kamar. Aku melihat Zein sudah berdiri di depan mengenakan sarung khas dia.


" Assalamualaikum, udah sholat belum?" tanya nya. Aku segera menunjuk lantai dengan ujung dagu ku.


" Waalaikum salam" jawabku sambil menguap.


Zein masuk ke kamar ku sambil membawa sebuah Jas hitam. Dia menggantung Jas hitam di hanger milik hotel.


"Kelihatannya kamu kurang tidur beberapa hari ini ya?" katanya pelan sambil mengamati kantung mataku.


Aku mengangguk lemah. Memang kenyataannya seperti itu. Aku mau menanyakan apakah dia membawa obat atau vitamin yang bisa membuat stamina ku yang agak nge drop ini pulih dalam hitungan jam.


Zein mengeluarkan stetoskop yang tadi di bawa nya. Dia menyuruhku duduk di kursi yang ada di depan nya.


" Coba sini aku liat tensi darahmu dulu."


Aku menurut, ya biar bagaimana pun dia lebih tau cara menangani rasa lelah ku ini


Dengan cekatan dia memasang tali ikat stetoskop dan memakaian earpieces di kedua telinganya. kemudian dia memompa balon kecil yang menghubungkan tubing dengan Diaphgram. Sesaat kemudian dia mengempiskan balon tersebut dan terdengar bunyi desisan perlahan.


" Pantes aja tuh muka dah kayak vampir. Tensi kamu rendah. 100/70 coba kamu istirahat dulu 1-2 jam lagi aku bangunkan dan setelah sarapan aku akan menyuntikkan vitamin dan penambah darah" katanya berlagak jadi dokter yang sedang memeriksa pasien nya.


Aku tertawa geli membayangkan di periksa oleh teman dan calon adik iparku sendiri.


" Mana mungkin aku tidur. Aku belum selesai memeriksa semua persiapan untuk nanti siang" jawabku berat


" Sudah lah, kan ada Aku, Izza, Syafri dan Elif serahkan semua pada kami. Kamu hanya memberikan catatan saja apa yang harus kami lakukan saat ini. Dan kamu harus istirahat agar kondisi kamu tidak bener-benar nge drop!" perintahnya.


Aku memang merasa sangat kelelahan dengan semua persiapan ini, akhirnya aku menerima tawaran Zein. dan memberikan sejumlah catatan ynag harus mereka kerjakan dengan waktu yang singkat.


" Oke. Aku akan segera menghubungi Izza dan Syarif. Ohya sebaiknya kamu sarapan dahulu sekarang. aku akan memanggil room boy untuk memesankan sarapan lebih awal. Setelah itu aku akan menyuntikmu" lanjut Zein sambil menekan tombol ke telepon untuk memesan kan makan pagi ku


Aku hanya melihatnya dengan pasrah. aku harus menuruti semua perkataan nya agar nanti siang aku bisa fit dalam menjalanin semua ceremony pernikahan ku.


Zein menunggu sampai Room boy tadi mengantarkan sarapanku. Lalu menyuntikku dengan vitamin. Setelah itu dia pergi untuk segera melaksanakan semua tugas nya .


"Zein tolong kamu urus makan pagi semua keluarga ya. Dan tolong bangunkan aku 2 jam lagi. Dan terimakasih adik iparku" kataku sambil meninju lengan pundaknya.


"Siap kakak ipar. Istirahat lah dahulu." katanya sambil berlalu.


----------------------------


Zein memasuki kamarnya dan segera menelpon Syafri dan menjelaskan tugas mereka hari itu. Dia juga menelpon Izza yang tidur di kamar orang tua nya.


Entah kekuatan darimana mereka bisa kompak dan benar-benar melaksanakan tugas yang Hafiz berikan.


Izza dan Elief bertugas memeriksa bagian konsumsi. sedangkan Syafri mengurusi keluarga Aygul dan Zein memeriksa ruangan dan dekorasi yang akan di gunakan.


Tak terasa hampir hampir 2 jam Hafiz tertidur setelah di suntik oleh Zein. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ibu dan Ayah Hafiz tampak gelisah memikirkan kesehatan putranya yang sedikit menurun. Mereka memaklumi kondisi Hafiz karena semua persiapan pernikahan dari awal memang dia yang mengerjakan sendiri belum lagi beban mental dan pikiran sebelumnya.


" Izza tolong antar Ibu ke kamar kakak mu. Ibu ingin melihat kondisinya. " Kata Ibu sambil melipat mukenah setelah sholat dhuha.


Izza mengangguk dan membimbing tangan ibu untuk menuju kamar kakaknya yang terpisah hanya 2 kamar dari sebelahnya.

__ADS_1


Tok...Tok..


" Hafiz. Nak tolong bukakan pintu"


Karena pengaruh obat yg di suntikkan Zein tadi membuat Hafiz bisa tertidur pulas. Dia tak mendengar ketukan di pintu kamar nya.


Tok..Tok


" Mas ..Mas tolong bukain pintu" seru Izza


Masih tak ada jawaban. Mereka berdua gelisah. Lalu Izza menelpon Zein.


" Assalamualaikum..Mas Zein tolong kemari sebentar ke kamarnya Mas Hafiz. ini aku ketuk pintunya gak di buka-buka" Katanya dengan nada sedikit panik.


"Waalaikun salam..Iya tunggu aku jalan ke sana sekarang" jawab Zein


Setelah menunggu beberapa menit Zein sudah tiba di depan kamar Hafiz


Dia mencoba mengetuk pintu nya dengan sedikit keras. Masih tak ada respon.


Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Hafiz dri luar.


Hafiz yang mendengar suara ponselnya berbunyi nyaring segera meraih nya di atas nakas.


Dan segera menjawab telpon dari Zein. Dengan setengah sadar dia membukakan pintu kamarnya.


Ibunya Langsung menghambur ke pelukan nya. Hafiz bingung dengan perlakuan ibunya yang tiba-tiba memeluknya erat.


Setelah semua nya masuk ke dalam kamar, Zein segera menyuruh Hafiz untuk duduk kembali agar dia bisa memeriksa denyut nadi dan tensinya.


Tensi telah norma 120/80 dan suhu tubuh 36 derajat. Zein tersenyum lega.


-------------------------


Aku telah duduk di sebuah bangku berpita putih di depan beberapa orang keluarga Aygul dan Keluarga ku.


Baba Faruoq dan Baba Murad duduk mengapit Aygul. Kedua Ibunya duduk di belakang kami dengan Ibu dan adikku.


Aku telah duduk di samping ayah dan Zein. Baba Osmant duduk di hadapanku memakai Kafta putih dan Peci merah.


" Kamu terlihat tampan dan gagah nak. Ayah bangga pada mu" Bisik Ayah di telingaku.


Dengan jas hitam dan celana bahan senada serra peci hitam kesayanganku aku mantap duduk di hadapan keluarga besar.


Lalu Ayah menepuk pundak ku lembut. Sebagai saksi pihak ku adalah Zein dan Syafri. Lalu Saksi dari Aygul adalah Baba farouq dan Ammar.


"Are U Ready ? " tanya Baba Ostman.


" Yes I'am, baba" jawabku mantap


Lalu Setelah mengucapkan beberapa sambutan sebentar Baba Murad mengulurkan tangan nya dan menjabat tangan kanan ku.


“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu puteriku *A**ygul*  Dilara Burcu binti Murad Al Fateh dengan maharCincin berlian 24 karat dan Uang 500 US$ di bayar Tunai !"


"Saya terima nikahnya dan kawin nya Aygul Dilara Burcu Binti Murad Al Fateh dengan mas kawin yang tersebut Tunai!" Jawabku Mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.


Baba Ostman menanyakan pada para saksi.

__ADS_1


" Saksi? Sah?!"


Para saksi memjawab bersamaan " Sah! Sah!"


Langsung terdengar suara Alhamdulillah bersamaa pula di iringi dengan tepuk tangan semua keluarga.


Tak terasa air mataku menetes di pipi. Ah aku kembali cengeng lagi. Lalu Zein memberikan sekotak tisue padaku. Aku tersenyum malu. Lalu mengambil 2 lembar untuk menyeka air mataku.


Kemudian Kursi roda Aygul di dorong Amir mengampiriku. Dia tersenyum dan kulihat air mata nya juga meleleh di kedua pipi nya yg putih kemerahan.


Dia mengambil telapak tangan kanan ku dan mencium nya aku membelai kepala nya yg terbungkus hijab putih lalu aku segera mencium kedua pipi nya.


" Terimakasih telah menjadikan ku istri mu. Aku mencintai mu Husband" Bisik nya pelan di saat kedua pipi kami bertemu.


" Aku juga mencintai mu Wifey" jawabku.


Lalu kami berpelukan lama. Halal sudah aku memegang dan memelukmu sayang batinku.


Kemudian Aku menjemput Ibu ku dan Anne Hafsah serta Anne Roslina untuk duduk di depan.


Aku mencium kedua kaki Ibu dan Ayahku lalu Aku mencium pipi kedua nya dengan penuh rasa haru. Ibu membisik kan kata yang membuatku semakin terisak-isak.


" Selamat menempuh hidup baru anakku sayang. Bahagia lah engkau berdua. Jadilah seorang suami yang bertanggung jawab dan menyayangi istri hingga maut memisahkan." katanya sambil membelai kepalaku.


" Terimakasih banyak ibuku sayang.Doa Ibu adalah segalanya untukku."


Lalu aku bergeser menuju Ayah dan melakukan hal yang sama. Ayah membelai kepalaku penuh dengan sayang.


"Selamat menepuh hidup baru ya nak. Sakinah. Mawaddah Warohmah. Kamu telah menyempurnakan separuh agama mu nak dengan menikah. Jangan pernah kau berbuat kasar pd istri mu. Hormati dan sayangi dia seperti Ayah menyanyangi ibu." kata Ayah memberi wejangan. Aku mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan ku.


Lalu aku mendorong kursi roda Aygul untuk mendekati tempat duduk orang tuaku. Dia mencium dan memeluk kedua orang tuaku sambil menangis haru.


" Terimakasih ibu dan ayah telah mengijinkan Hafiz menikahi ku. Doa kan Aygul bisa menjadi istri yang baik untuk Hafiz" katanya dengan air mata yang terus berderai.


" Ibu akan selalu mendoakan kalian bahagia sayang" jawab ibuku.


Setelah itu bergantian kami minta restu pada Baba Murad dan Baba Farouq. Anne Hafsah dan Anne Roslina. Mereka semua menangis bahagia.


Setelah itu giliran kami menerima ucapakan selamat dari saudara sekandung ku dan Aygul.


Saat Emran mengucapkan selamat kepadaku terlihat wajahnya sangat murung dan dengan suara serak dia berkata


" Tolong jaga adik kesayan ku ya. Aku yakin dengan mu dia bisa bahagia. Jangan kecewakan dia lagi "


Aku mengangguk kan kepala. Dan memeluk Laki-laki tampan yg sekaranh menjadi kakak iparku.


" Insya Allah Agabe"


Izza menghampiriku sambil mengusap pipinya yg telah basah oleh air matanya.


" Mas dan kak Aygul. Selamat menempuh hidup baru semoga bahagia utk kalian berdua. Mas kamu curang gak mau aku langkahin ya" Aku tertawa memdengar nya bercanda.Ah adikku sayang masih saja kau ingat ancaman ku dlu.


Lalu bergantian Zein ,Syafri dan Elif mengucapkan selamat pula.


Acara kami lanjutkan dengan ramah tamah dan makan siang bersama keluarga besar. Dalam sekejab keluarga ku sudah berbaur dengan keluarga Aygul dengan ramai.


Aygul terus menggenggam tangan ku seolah -olah takut kehilanganku lagi. Aku mencium pipi nya dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1



__ADS_2