
Izza menyuruh Zein untuk menelpon nya lagi setelah sampai di rumdis.Karena dia tak mau jika Zein tidak berkonsentrasi di jalan raya, bisa berbahaya. Zein mengalah dan segera memacu kecepatan kendaraan nya namun dengan kewaspadaan tinggi agar selamat sampai tujuan.
Selang 30 menit kemudian Zein sudah sampai di rumah dan mulai bersih-bersih tubuhnya karena dia pun ingin segera istirahat agar bisa menelpin calon istrinya.
"Assalamu'alaikum Dek, Mas sudah sampai rumah, adek sudah ngantuk belum? " tanya Zein saat melakukan video call sambil menyandarkan tubuhnya di head board tempat tidurnya.
"Waalaikim salam, Adek belum ngantuk Mas, tadi Mas mau ngomong apa? " Izza duduk bersandar juga di head board ranjang nya.
" Adek nanti mau minta mahar apa? tadi Mas lupa tanya karena bingung lihat ayah galau hehehe" jawabnya.
Izza tersenyum dengan raut sedih. Sebenarnya bukan hanya ayah nya saja yang merasa sedih pasti kakak dan Ibu nya juga sedih jika dia berpisah dari rumah dan kehangatan keluarga ini.
" Adek kenapa sedih juga? Mas jadi sedih, maaf ya kalau kebersamaan kita nanti membuat mu bersedih karena berpisah dengan keluarga" Zein memahami isi hati calon istrinya itu.
"Kalau adek gak mau tinggal dengan Mas di rumah dinas, ya gapapa nanti kita tinggal di rumah Ayah saja. " Karena tak mau membuat calon istrinya murung Zein akhirnya memutuskan hal yang membuatnya tak nyaman.
Izza mengusap matanya yang basah dan tiba-tiba dia jadi terharu dan ingin sekali menangis di dekapan Zein namun dia kan tak pernah berpegangan tangan jadi semua itu hanya angan-angan nya saja.
" Gak Mas, jangan mengorbankan diri seperti itu. Apapun yang terjadi aku akan ikut kemana pun Mas pergi karena surga nya istri terletak pada ridho nya suami. "
Zein terharu mendengar penuturan bungsu dari Pak Birendra itu, walaupun masih muda namun dia bisa bersikap dan berpikir dewasa. Makin sayang lah Zein pada Izza dan berjanji tak akan membuat gadis itu menyesal menikah dengan nya. Dan dia akan membahagiakan sang belahan jiwa dengan sekuat tenaga nya.
"Ohya kembali ke pertanyaan awal. Adek mau mahar apa dari Mas Zein? jangan sungkan ya" Karena tak mau berlarut dengan kesedihan calon istrinya, lelaki itu menawarkan lagi mahar pilihan untuk nya.
Gadis mungil yang dari kecil hingga sekarang tak pernah kekurangan apapun itu bingung menenukan mahar nya sendiri. Padahal Zein sudah mempersiapkan uang tabungan yang lumayan besar untuk memberi mahar gadis itu. Dia tak mau merendahkan calon istrinya dengan Mahar yang murah namun dia tak mau terlalu berlebihan juga karena Allah tak suka dengan orang yang terlalu berlebihan.
" Terserah Mas Zein saja, tapi kalau bisa tidak memberatkan Mas. Dan bisa bermanfaat untuk masa depan kita kelak. " jawabnya diplomatis.
__ADS_1
Zein mengharuskan kepala nya yang tak gatal. Lalu dia terdiam dan akhirnya dia memberi pilihan pada Izza.
"Mas mau menunjukkan sesuatu sama kamu."
Izza penasaran melihat Zein beranjak ke arah lemari di dalam kamar. Dia membuka pintu lemari dan mencari sesuatu di bawah tumpukan pakaiannya.
Tak lama kemudian Zein sudah kembali ke ruang tamu dan duduk di depan ponselnya yang telah di letakkan berdiri di meja.
Zein memperlihatkan sebuah buku tabungan dari sebuah bank yang berwarna biru benhur itu.
" Mas ada tabungan khusus untuk persiapan membeli Mahar. Adek mau berupa benda atau nominal uang? " tanya nya pelan ada rasa malu mengatakan hal itu karena dia tahu kekayaan keluarga Birendra tak sebanding dengan tabungan nya pribadi.
Gadis berkerudung pink itu menyunggingkan senyum malu-malu. Dia teringat satu hadist dari "Rasulullah SAW pernah mengatakan, "Sebaik-baik wanita ialah yang paling murah maharnya." (HR. Ahmad, ibnu Hibban, Hakim & Baihaqi).
Dia tak mau membebani calon suaminya yang baru merintis karier nya di Ibukota karena dia juga memahami Zein sebagai putra tertua juga bertanggung jawab terhadap keluarga nya di desa. Dia tak boleh egois dengan meminta mahar yang mahal dan menguras kantong calon suaminya.
" Baik lah, Mas akan memberikan tabungan sebesar lima puluh juta rupiah untuk Mahar dan satu set perhiasan emas seberat 25 gram, apakah adek setuju? "
Gadis itu terngaga mendengar Mahar yang akan diberikan Zein padanya. Dia merasa terlalu banyak sehingga dia agak ragu untuk menyetujui permintaan dokter tampan itu.
"Mas apakah tidak terlalu berlebihan? Sedangkan Adek tahu Mas pasti banyak kebutuhan untuk Ibu dan Bapak di rumah. "
Betapa terharu nya dokter lulusan Al Azhar itu mendengar mulianya hati sang kekasih yang sebentar lagi akan di halalkan nya. Dia tak menyangka Izza yang anak orang kaya itu begitu perhatian dan mempunyai empati pada orang lain yang belum menjadi keluarga nya.
" Masya Allah ndak salah pilih Mas sama kamu dek, sudah cantik wajahnya cantik pula akhlaknya. Betapa beruntung nya Mas mendapatkan mu. Tapi tenang saja, untuk Ayah dan Ibu di rumah serta kebutuhan adik-adik Mas sudah ada simpanan sendiri. Dan orang tua Mas pun sudah tahu mahar yang akan Mas berikan pada kamu ini. Beliau bahkan merasa ndak enak ketika Mas mengatakan hanya memberikan Mahar seperti itu pada anak gadis Pak Birendra pengusaha nomer satu di Ibukota"
Wajah Izza makin bersemu merah mendengar pujian suaminya dan dia berdoa semoga akhlaknya benar-benar bagus dan bisa menjadi istri sholihah calon bidadari surga suaminya.
__ADS_1
"Alhamdulillah jika Mas sudah menyimpan hak untuk Ayah dan Ibu serta adik-adik. Karena Adek gak mau menikmati hasil kerja keras Mas sendiri padahal orang tua Mas lebih berhak di bahagiakan terlebih dahulu sebagai bakti Mas karena beliau telah mendidik dan memberi kasih sayang yang tulus sehingga Mas bisa menjadi dokter seperti ini" jawabnya dengan wajah yang mulai ceria.
Setelah membahas masalah mahar untuk syarat syah pernikahan mereka, Zein mengakhiri percakapan mereka dengan hati lega dan sekarang bisa tidur nyenyak. Dan besoknya bisa bekerja dengan tenang.
Malam makin larut dan suhu udara sudah mulai turun, bunyi lonceng jam dinding sudah berdentang 1x pertanda dini hari telah tiba dan sosok tubuh yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk di dalam rumah dinas itu terlihat terlelap di buai mimpi.
-----***-----
Di kediaman Birendra, seorang Ayah yang sebentar lagi akan melepaskan anak gadis kesayangan nya tampak masih gelisah di atas ranjang empuk nya yang berukuran king size itu. Dari pukul 22.00 tadi dia sudah merebahkan tubuh nya yang mulai menua itu di atas ranjang namun matanya tak bisa sedikitpun terlelap.
Di sebelah kiri nya tampak sang istri sudah tertidur nyenyak dari tadi dan dengkuran halus nya mulai terdengar. Seolah kilasan flash back menuntun memori nya ke masa kanak-kanak sang putri bungsu.
"Ayah, nanti aku tidak mau menikah kalau sudah besar. " katanya sambil manja memeluk leher sang Ayah ketika pulang dari kantor.
Atensi Pak Birendra seketika teralihkan ke arah putri kesayangannya. Dia heran anak yang masih berada di bangku taman kanak-kanak itu sudah membicarakan tentang pernikahan.
"Kenapa adek gak mau menikah? " tanya nya sambil terus menggendong si kecil.
"Nanti kalau adek menikah, pasti Ayah sama ibu akan menangis '
Makin penasaran saja sang Ayah mendengar jawaban lugu si bungsu.
" Kok Ayah sama ibu bisa menangis kenapa dek? "
Izza kecil terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu lalu dia mulai berceloteh lagi " Iya seperti Tante Luna saat menikah dengan Om Trio, Kakek sama Nenek menangis kan saat Om Trio mengajak Tante Luna pergi dari rumah. "
Seketika senyum Pak Birendra merekah ketika mendengar jawaban polos si gadis. Dia teringat saat sepupunya menikah beberapa waktu yang lalu dan mereka memutuskan untuk menempati rumah hasil keringat sendiri, Om dan Tante nya sangat sedih karena melepas kan anak gadis nya pergi untuk menempati rumah baru.
__ADS_1
Dalam pikiran nya saat itu, pasti kelak dia pun akan merasakan berat ketika melepas anak gadis nya ke tangan lelaki lain yang menjadi suaminya. Dan satu bulan lagi waktu itu akan tiba. Akan kah dia rela melepaskan si kecil kesayangan nya? Bukan kah dia egois jika menginginkan banyak dan menantunya tetap tinggal bersama mereka disini sedangkan dang menantu telah memiliki rumah sendiri.