
" Agabey, Dan Semua keluarga besar Baba Murad dan Baba Farouq, Saya akan menjelaskan sekarang mengenai rencana saya setelah pernikahan kami. Karena kami menikah secara agama maka kami harus mendaftarkan ke negara juga. Untuk itu Hafiz dan Aygul harus mengurus dokumen yang di perlukan secepatnya. Aygul harus mengurus semua legalitas ke Turki dan Hafiz pun akan mengurus semua legalitas di Indonesia. Sepulang dari Turki Hafiz akan langsung mengurusnya. Semoga tidak sampai 1 bulan Hafiz bisa menjemput Aygul untuk ke Indonesia" jawabku menerangkan kepada semua kelurga besar kami.
" Jadi kamu akan pulang setelah ini Husband?" tanya Aygul.
Aku mengangguk dan menepuk pelan punggung tangan nya.
" Ya dan secepatnya aku akan kembali menjemputmu.Karena aku juga harus memperpanjang Visa dan Pasport ku. Demikian kamu juga harus mengurus Visa dan Paspormu"
" Baba dan Anne saya menitipkan Aygul kepada Baba. Terserah Aygul mau bergantian tinggal Di Izmir atau di Istambul. Toh semua juga sayang dan akan menjaga nya. Doakan semua urusan Hafiz di Indonesia segera selesai maka secepatnya Hafiz akan terbang ke Turki." Kataku pada para tetua Aygul.
Baba Farouq tampak senang dengan ucapanku.
" Baiklah. Baba setuju dengan pendapatmu. Karena segala sesuatunya memang harus memeiliki legalitas hukum agar kita tidak menyalahi aturan yang berlaku. Untuk tempat tinggal Aygul Baba rasa dia bisa pulang lagi bersama kami di Izmir. Jika dia rindu dengan Baba Murad nanti kami bisa mengantarnya ke Istambul."
Tampaknya Kakak Aygul si Mustafa masih berat jika adiknya aku boyong ke Indonesia.
"Hafiz, kami baru saja berkumpul dengan adik perempuan satu-satu nya kami. Namun secepatnya kami akan berpisah. Apakah tidak bisa kau biarkan dia lebih lama lagi di Turki? Mungkin 3 bulan begitu?"
Aku menghela nafas, rasanya berat sekali memenuhi permintaan Mustafa. Namun aku mencoba berdiplomasi dengan nya agar tidak tersinggung.
"Agabey, keinginan saya secepatnya menjemput Aygul, karena Hafiz telah berkosultasi dengan Zein dan dia pun telah menanyakan ke beberapa teman sejawatnya mengenai proses therapy Aygul"
Semua keluarga sepertinya terkejut mendengarku. Beberapa diantara nya seperti kurang yakin akan kesembuhan istriku.
Namun aku berprinsip selama nafas masih di kandung badan dan selama kita beriman pada Allah SWT pasti masih ada harapan.
" Ayo Zein tolong bantu aku menjelaskan pada para tetua. " pintaku pada Zein. Mungkin dia bisa bisa menjelaskan secara medis sebagai dokter.
Zein menatapku dan menghembuskan nafasnya dengan pelan aku tahu pasti ini menjadi beban mental juga bagi nya untuk menjelaskan hal yang masih dalam batas penelitian.
" Sebelumnya saya mohon maaf untuk penjelasan saya jika kurang memuaskan. Sebelumnya Hafiz telah menceritakan keadaan Aygul pada saya untuk mencari solusi pengobatan. Menurut Hafiz, keluarga besar disini berupaya berkali-kali juga membawa berobat Aygul kemana-mana. Namun belum membuahkan hasil. Saya sudah menghubungi beberapa rekan sejawat di beberapa negara yang mengambil jurusan Orthopedi. Ada beberapa metode yang mungkin bisa di terapkan untuk sister Aygul. Saya ada seorang Profesor di Beijing. Beliau seorang ahli orthopedi yang cukup ternama disana. Beliau juga menggabungkan pengobatan barat dan timur untuk kesembuhan pasien nya. Sudah beberapa puluh pesien dari berbagai negara yang sembuh melalui tangan nya. Kebetulan beliau adalah Profesor yang mengajar saya dulu di Kairo. Beliau senang mengkaji Ilmu pengobatan nya dengan hadist dan Alquran. "
Jawab Zein dengan nada optimis.
Ammar dan Mustafa terlihat sumringah. Senyum yang tadinya sedikit kelam perlahan terkuak lebar di bibirnya.
Ayah dan Ibu tak menyangka Zein ternyata memiliki relasi yang banyak. Setahu Orang tuaku Zein orang yang pendiam. Aku juga tak menyangka Zein yang tak banyak bicara ini bisa ku andalkan. Tak salah jika aku mempercayakan adik bungsu ku di tangan nya kelak.
__ADS_1
" Baiklah kami percaya pada kamu. Tolong jaga little sister kami dengan sepenuh hati" kata Mustafa mewakili saudara-saudaranya.
Aku mengangguk kan kepala dan menangkupkan kedua telapak tanganku di dada. Makan malam telah selesai. kami bergegas kembali ke hotel. Aku membisikkan kata pada Aygul. bahwa malam ini dia bisa pindah ke kamar yang telah ku tempati beberapa hari. Wajahnya memerah dan dia hanya bisa pasrah menganggukkan kepala.
Aku mendorong kursi roda nya menuju ke Lantai 4 menuju kamarnya bersama orang tua nya. Aku telah meminta ijin oada mertuaku untuk membawa Aygul bersama ku. Kedua orang tua nya mengijinkan ku dengan membantu membawakan beberapa pakaian nya.
Malam telah menyelimuti bumi. Kedua orang tuaku dan beberapa keluarga pun telah memasuki peraduannya. Syafri dan Elif serta Zein dan Izza tampak masih asyik bersenda gurau di lobby. Elif mengajak Izza menikmati malam di Pinggiran selat Bosporous lagi melanjutkan acara yg tadi tertunda.
Aku berpamitan pada mereka meminta ijin tidak mengikuti karena malam ini aku menginginkan bersama istriku tercinta. Mereka hanya tersenyum dan mengedipkan mata menggoda.
Setelah mengucapkan enjoy Turki aku segera berlari naik ke lift menuju kamarku. Sesaat kemudian aku telah mengetuk pintu kamarku. Tak berapa lama pintu kamarku telah terbuka. Seorang gadis memakai kaftan biru laut dengan hijab senada menyambutku di atas kursi roda.
Aku tersenyum kemudian menutup pintu kamar. Hatiku berdebar kencang melihat keberadaan kami berdua di kamar ini.
Sebagai laki-laki normal naluri kejantanan ku mulai terusik melihat kecantikan yang nyata di depan mataku.
Aygul mendorong roda kursi nya mendekati ku lalu tangan nya menyentuh tanganku.
Aku menggenggamnya dengan pelan dan mengecup punggung tangan nya. Wajahnya kembali merona dan seulas senyum terbit di bibirnya.
Aku uduk di depan kursi roda nya dengan kedua kaki yang aku lipat ke belakang.
" Bukan pengorbanan sayang. Ini Cinta tulus untukmu. Aku mau berganti pakaian dulu ya." Lalu aku bangkit dari duduk dan menuju lemari yang menyimpan beberapa potong baju ku.
Aku mengambil sebuah sarung bersih dan selembar kaos putih. Aku mengganti baju di depan istri ku. Tiba-tiba kedua telapak tangan nya menutupi matanya. Aku tergelak melihatnya malu.
" Hunnie, kenapa kau tak berganti pakaian? apakah mau ku bantu mengganti nya?" tawarku padanya. Dia menggeleng sambil mendorong kursi rodanya ke arah lemari dan mengambil baju tidurnya.
" Sayang. Pejamkan matamu, aku mau mengganti pakaian ku. " pinta nya.
" Kenapa harus ku pejam kan? Aku dan kamu sudah Sah sebagai suami istri. Kita halal sayang" jawabku mendekatinya.
Aku duduk di tepi ranjang kemudian menarik kursi roda nya mendekatiku.
" Sayang. Bolehkan aku melihat wajah mu tanpa hijab?" pintaku padanya.
Aygul mengangguk lalu aku melepaskan penutup kepala istriku untuk pertama kalinya.
__ADS_1
" Subhanallah...Maha suci Allah yang menciptakan satu bidadari dari Surga nya untuk ke bumi menemaniku. " Puji ku langsung tanpa basa basi.
Seraut wajah tanpa make up dengan rambut pirang sepinggang tergerai di punggung. Aku baru mengetahui Istriku ini memiliki rambut pirang seperti boneka barbie milik Izza saat kecil.
Manik matanya yang hijau serta bulu matanya yang lentik sangat menawan. Bau parfum nya sangat menggodaku.
" Sayang bolehkan aku mencium mu?" kataku meminta ijin walaupun dia telah resmi menjadi istriku aku akan menghormatinya tanpa memaksakan kehendakku.
" Boleh Hunnie. Aku milikmu sepenuhnya. Mengapa kau meminta ijin?" jawab nya. Lalu aku membelai pipinya. aku membaca doa yang kutiupkan ke ubun -ubun nya.
Semoga Allah memberi keberkahan masing-masing dari kita dalam perdebatan pasangannya.
Lalu ku kecup pelan bibir nya yg merekah seperti mawar merah muda. Dia menengadahkan kepalanya ke arah wajahku. Lama bibir kami berdua bertemu seolah -olah saling menyelami dalam nya laut kerinduan yang lama terpendam. Sebagai laki-laki normal hasratku menggelegak melihat keindahan pada tubuh istriku. Namun aku tak boleh mementingkan ego ku sekarang aku harus bersabar menanti nya sembuh.
Aygul memelukku erat dan aku mulai menggendong tubuhnya keluar dari kursi roda dan membaringkan nya di ranjang ku yang empuk. Tangannya terulur memeluk leherku.
Lalu untuk pertama kalinya aku meminta ijin menggantikan pakaian nya dengan baju tidur yang telah ku belikan sebagai seserahan.
Dia mengangguk setuju. dengan sangat hati-hati aku mulai mengangkat kaftan biru nya. Setelah aku mengganti pakaian nya aku mulai melihat kaki nya. Ku pijat dengan lembut kaki nya. Sambil memijat aku juga berdoa pada Allah agar memberikan istriku obat yang bisa membuatnya berjalan kembali.
Aku memijatnya dengan semua perasaan sayang padanya, Aygul membelai punggung ku.
Setelah itu aku mulai membaringkan tubuhku di samping nya. Ku lihat kegugupan di matanya. Aku tersenyum membelai wajahnya lagi.
" Istirahat lah Hunnie. Aku akan menjaga mu disini. Berdua kita akan mencari pengobatan terbaik untukmu." Kataku menenangkan.
" Maafkan aku sayang. Aku selalu membuatmu menderita. Aku belum bisa menjadi seorang istri yang utuh untukmu" balasnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Aku menghapus air matanya. Lalu mengecup bibir nya perlahan.
"Masih banyak waktu dan cara untuk membuatku bahagia sayang. Istirahat lah jangan berpikir yang berat. Aku mencintai mu hunie" lalu kepalanya di telusupkan ke dalam dada ku. aku mengusap-usap punggungnya dengan penuh perasaan.
" Good night sayang.I love u too" katanya setengah berbisik.
Masih banyak malam yang akan membuatmu menjadi istriku seutuhnya.
Selamat malam wahai para pecinta sejati. tidur dan bermimpi lah besok lebih baik daripada hari ini.
__ADS_1