
Selesai sarapan dengan kedua orang tua dan adik ku, Aku berpamitan untuk menuju ke kantor. Aku tergesa-gesa karena aku ingin segera melihat schedul ku selama 1 minggu ke depan. Apakah aku bisa meluangkan waktu seminggu untuk berangkat ke Turki. Sebenarnya aku bisa saja langsung menelpon Ira namun alangkah lebih bijak nya jika aku bisa berkoordinasi langsung dengan karyawan ku. Ayah tampaknya telah selesai dengan ritual nya setelah sarapan. Membaca scedul harian kantor sebelum tiba disana.
" Ayah Ibu, Hafiz berangkat duluan ya. Karena ada yg harus di kerjakan pagi ini. Izza kamu ke kampus tidak? Kok masih pake baju santai" kataku berpamitan sekaligus menyapa adikku
Aku mengambil punggung tangan kanan ibu dan Ayahku kemudian mencium nya. Izza masih asyik mengunyah buah yg tadi di kupaskan ibu.
" Hati-hati di jalan nak. " Kata Ibu sambil menepuk pundakku.
" Aku nanti siang mas ke kampus, tapi nanti Mas Zein janji mau ngantar aku sebentar" jawabnya dengan nada gembira.
" Owh...owh... hati-hati Bu, anak bungsu ibu mulai berani keluar berdua" canda ku.
" Ish mas Hafiz profokator ih sebel" rajuknya. Aku tertawa saja sambil melambaikan tangan kanan ku. Ayah menggelengkan kepala melihat keriuhan meja makan rumah ini.
Ku lihat Pak Man sedang memanaskan Mobil Sedan metalik Ayah.
" Pagi Pak Man. Lihat Paman Asep kah? " tanya ku pada lelaki separuh baya itu.
" Paman Asep sepertinya tadi masih menyiram tanaman. coba Mas Hafiz ke taman samping" jawabnya sopan.
" Ohya sudah Pak Man. Tolong kasih tau Paman Asep hari ini saya berangkat sendiri saja. Karena saya ada janji dengan teman. Mungkin nanti Izza yg butuh Paman Asep" kataku berpesan.
Pak Man mengangguk.
" Baik Mas nanti saya sampaikan. "
" Terimakasih Pak Man. Saya jalan dulu" pamitku lagi.
Aku segera mengeluarkan mobilku yg berada di sisi mobil Ayah. Ibu biasanya akan berangkat bersama dengan Ayah. Diantar Pak Man lalu setelah itu Pak Man akan mengantar Ayah. Ibu biasanya masuk kerja pada pukul 07.30 wib dan pulang pada pukul 15.30 wib.
Sebagai kepala Puskesmas ibu memang sangat disiplin. Terkadang sebelum jam kerja nya masuk beliau sudah datang. Pulang nya beliau pun akan di jemput Pak Man dan Ayah.
Aku sebenarnya sudah menginginkan beliau pensiun saja. Namun ibu bilang kurang 2 tahun saja masa pensiun Ibu jadi beliau lebih baik menghabiskan sisa waktunya untuk mengabdi pada masyarakat melalui pekerjaan nya sebagai tenaga medis daripada diam bengong di rumah. Toh di rumah sudah tak ada yg di timang-timang. Nanti kalau Ibu sudah punya cucu ibu akan memastikan duduk diam bermain dengan cucu. Aku hanya bisa tersenyum kecut jika ibu sudah mulai membicarakan masalah itu.
Selama berada di perjalan menuju kantor aku masih kepikiran dengan permintaan Aygul. Ah karin aku lupa mau menanyakan pada Emir. Nanti setelah tiba di kantor akan ku paksa Emir bercerita lengkap tentang Aygul selama aku tak bersamanya.
Kenapa Emir lebih dekat dwngan Aygul di banding kan dengan Abizar? Karena Sepupu Emir telah menikah dengan saudara perempuan Aygul. Sehingga mereka lebih dekat dan sering bertukar kabar. Aku pun baru tau sepupu Emir ternyata sudah lama menetap di Turki dan mempunyai beberapa jenis usaha disana.
🕯🕯🕯🕯🕯🕯🕯🕯🕯🕯🕯🕯
Suasana kantor ku pagi ini masih lengang. Maklum jam kerja para pegawai ku adalah 08.30 wib Sekarang masih pukul 08.15 wib sebentar lagi pasti banyak yg akan datang.
Biasanya Ira datang lebih pagi untuk mengatur segala jadwalku.
Aku memasuki lift sambil terus memikirkan sikap Aygul yg kurasakan sedikit berbeda.
Aku sudah keluar menuju ruanganku. Benar saja sudah ada Ira duduk di meja kerja nya.
" Selamat pagi Pak Hafiz" sapa nya sambil berdiri untuk menghormatiku.
" Selamat pagi. Ira saya minta tolong print kan jadwal saya minggu depan ya ?" jawabku sambil memerintahkan Ira.
" Baik Pak, segera saya print kan" kata Ira dengan sopan.
Aku melenggang masuk ke dalam ruangan dan menyalakan komputer di meja kerja ku. Dan melihat beberapa email.
Tak lama kemudian pintu di ketuk.
__ADS_1
" Masuk! " perintahku
Ira terlihat membawa selembar kertas putih dan menyerah kan nya pada ku.
" Terimakasih, Kalau tidak keberatan tolong pesan kan ke Pantry se cangkir cappucino hangat ya ? " Kataku
" Baik Pak. Ada lagi yg di pesan di pantry? "
Aku menggeleng. Kemudian Ira keluar dari ruanganku.
Aku memeriksa kertas yg di serahkan Ira tadi. Minggu depan ada 3 pertemuan dengan client lama Dan 1 client baru.
Untuk Client lama mungkin bisa aku serahkan pada Aldo atau pun Manager yg lain. Untuk Client baru ini akan membicarakan penawaran kerja sama pembuatan brand baru untuk kopi ku.
Aku segera menelpon Ira
" Ira. kalau Aldo sudah datang suruh menghadap saya segera ya! "
" Baik Pak saya cek dulu ke ruangan nya" jawab Ira.
Pintu ruangan ku di ketuk lagi dengan pelan.
Aku menyuruh masuk. Seorang Office Boy sedang membawa secangkir capucino hangat pesanan ku.
" Terimakasih Sam. " Kataku sambil mengambil cangkirdi depan ku. Lalu Sam pamit keluar.
Aku menyeruput cairan coklat panas yg masih mengepul ini. Aroma nya yg wangi menggelitik lubang hidung ku. Kopi ini adalah produksi dari Pabrik Ayah. Aku disini sebagai distributor pemasarannya. Memang Ayah sudah memberiku kekuasaan untuk memegang Usaha kopi nya sebagai anak cabang.
Tidak lama Aldo muncul di depan ruangan ku sambil membawa note book nya.
" Pagi Pak. Tadi Bapak menyuruh Ira memanggil saya? " tanya Aldo
" Tolong Handle 3 Client lama yg ingin bertemu saya. PT. Triaksa Jaya ingin memperpanjang kontrak kerjasama dengan kita. Kamu harus merevisi target untuk mereka jika mereka bersedia dengan target yg kita berikan tanda tangani saja kontrak mereka kembali. " Aku memerintah kan Aldo dan memberikan nya petunjuk pelaksanaannya sekalian.
" PT Triaksa Jaya ini kontrak kerja dengan kita 3 tahun lalu 10 Milyar Pak. Berapa persen yg kita naikkan ?" jawab Aldo sambil menulis di note book nya.
" 30% Saja. Kareja kita lihat dengan produk kita mereka juga mencapai keuntungan yg sangat signifikan. Saya lihat mereka sering membranding produk kita di televisi"
Otak bisnis ku mulai berjalan.
Aldo mengangguk-anggukkan kepala nya lagi
Lalu aku menyebutkan 2 client lagi yg harus di tangani Aldo.
" Pak Hafiz kenapa tidak mau menemui mereka? "
tanya Aldo penasaran.
" Saya ada sedikit urusan ke Turki. Mungkin 1 Minggu saya akan pergi. Jadi Selama saya tidak di tempat tolong kamu Handle pekerjaan saya. Saya percaya sama kamu Aldo! " Kataku mensuport nya
" Baik Pak. Jika ada sesuatu yg penting dan perlu persetujuan Bapak. Saya akan segera menelpon bapak. " Katanya
Setelah itu Aku menyuruhnya kembali ke ruangan nya utk kembali beraktifitas.
Aku menyuruh Ira memesan kan tiket utk perjalananlu ke Turki hari Senin depan. Sekarang masih hari Rabu. masih ada 4 hari aku bersiap-siap.
🥏🥏🥏🥏🥏🥏🥏🥏🥏🥏🥏🥏
__ADS_1
Aku sudah mendapatkan tiket ke Turki pada hari Senin pukul 21.30 WIB perjalanan ku ini akan ku tempuh tanpa transit. 12 jam lama perjalanan kesana. Tak mengapa demi seorang Aygul aku rela berkorban apapun.
Namun aku sekarang yg bingung harus Ijin ke Ayah dam Ibu apa? Karena jelas -jelas perjalanan ku ini bukan urusan bisnis.
Aku segera menelpon Zein untuk meminta bantuannya. Siapa tau dia ada ide briliann utk alasan ku. Aku juga belum bisa menceritakan tentang Aygul kepada kedua orang tuaku. Karena aku tak mau memberi harapan indah dulu pada mereka. Aku ingin memastikan semua nya aman terkendali.
Sambil melarikan kendaaraan ku ke rumah aku tiba-tiba mendapat kan ide suatu alasan. Baiklah nanti saat makan malam aku akan bicara pad akedua orang tua ku.
-------------------------
Suasana Makan malam ini lebih rame karena Ayah mengundang Zein untuk makan bersama. Aku tidak mengetahui hal itu. Namun aku senang karena aku bisa membicarakan beberapa hal pada nya nanti setelah selesai makan.
Semua personil keluarga di tambah Zein sudah berkumpul di meja makan.
Firdaus masuk dari ruang barbeque membawa beberapa piring ikan bakar yg sudah terpanggang. Ibu memang gemar memasak makanan sendiri. Tadi sepulang kerja ternyata beliau membawa ikan gurami dan bandeng segar pemberian pasien ibu di Puskesmas. Pasien Ibu memiliki tambak dan sedang panen.
Ayah menyuruh Firdaus memanggil mang Asep dan Bibi serta 2 pembantu ku. Pak Man sudah pulang jam segini.
Ayah mengajak para pegawai rumah untuk menikmati ikan bakar bersama.
Memang ayah tak pernah membedakan status pegaeai di rumah dengan kami, namun mereka sendiri yg tau batasan terhadap kami. Setelah selesai berdoa para pegawai di rumah mengambil makanan dan mereka membawa makanan nya ke halaman belakang dekat kolam renang. Mereka memanh senang makan beramai -ramai disana terlihat cukup rukun dan harmonis.
Tinggal kami berlima dg Zein di meja makan. Namun bibi Makan di dapur tak jauh darinkami agar bisa melayani kami sldenhan sigap.
"Ibu ikannya sangat enak, kenyal dan gak bau amis" Kata Ayah memuji
Ibu tersenyum
" Pastinya begitu Ayah. Kan itu baru di panen dari tambak langsung di antarkan ke puskesmas tadi. Ibu sudah bagi-baginke semua suster dan pegawai disana. Dan sisanya ini ibu bawa pulang "
" Kok bisa baik sekali pasien ibu memberikan banyak ikan nya. Apa dia tidak rugi? " tanyaku
"Sepertinya tidak rugi nak. Pasti dia sudah memperhitungkan semuanya. Dia dulu pasien Ibu saat Ibu masih aktif menolong persalinan. Saat itu dokter belum datang, dan Istri pasien sudah mengalami kontraksi. Akhirnya ibu yg menolong nya. Sejak saat itu dia merasa sangay berhutang budi karena mereka telah 10 tahun menanti anak nya "
Begitu ibu bercerita dengan sedikit air mata haru yg mengembang di pelupuk matanya.
Kami kembali menikmati makan hingga selesai. Lalu aku memulai pembicaraan kepada Ayah.
" Ayah, Ibu Insyaallah Senin minggu depan Hafiz akan berangkat ke Turki selama Seminggu " pamitku.
Ayah mendongakkan kepalanya.
" Ada acara apa kesana nak? "
" Tidak ada ayah. Hafiz hanya ingin cuti saja ingin bertemu dengan beberapa kawan lama disana" Jawabku
"Apakah semua pekerjaan mu telah terkendali semua? "tanya Ibu
" Alhamdulillah sudah bu, Ada beberapa pekerjaan yg bisa Hafiz wakilkan ke Aldo dan beberapa staf" kataku menenangkan
Izza menghentikan suapan nya. Dia melihat ke arahku.
" Apakah Mas Zein ikut? "
" Tidak, Mas Zein tidak bisa cuti karena baru masuk kerja " sahut Zein dan diniringi helaan nafas lega dari Izza.
Ah dasar adikku ini ya sekarang kakaknya sendiri tidak di perhatikan. batinku agak kesal. Zein melirikku sambil tersenyum sedikit menggoda. Sial batinku lagi.
__ADS_1
" Ya udah hati-hati ya selama disana. Langsung pulang jika urusanmu telah selesai " kata ayaj