
Hari ini Aygul dan Hafiz akan pindah ke rumah baru, semua persiapan dan renovasi telah selesai. Acara tasyakuran berlangsung khitmad dan di hadiri lima puluh anak yatim piatu dari yayasan tempat Zein dan Hafiz biasa berinfaq dan bersedekah.
Air mata Aygul menetes dengan deras dia merasakan kesedihan yang mendalam melihat anak-anak panti asuhan yang masih kecil-kecil sudah tak memiliki orang tua, dia sedang menyamakan nasib nya dengan anak-anak itu.
Dia memiliki orang tua lengkap bahkan memiliki dua pasang orang tua yang menyayanginya tapi kemungkinan besar dia tak bisa memiliki anak.
Hafiz menyeka air mata istri nya dengan heran. Kenapa sekarang Aygul mudah sekali mengeluarkan air matanya.
"Why? " tanya nya pelan.
Aygul menyeka air matanya dan tersenyum, dia mengatakan hanya terharu dengan anak malang itu.
Lelaki itu mengusik pundak istrinya, beberapa tamu dari tetangga dan kerabat mereka juga hadir karena acara ini memang sengaja di buat untuk syukuran pernikahan nya dan memperkenalkan istri tercinta nya itu pada lingkungan nya.
Beberapa orang ibu-ibu komplek tampak berbisik-bisik membicarakan kondisi Aygul yang berada di atas roda. Ada yang menatap iba dan ada pula yg mencibir tapi pura-pura tersenyum.
Mereka mengira Aygul tak bisa berbahasa Indonesia jadi kumpulan ibu-ibu julid itu asyik ber ghibah ria. Memang Aygul hanya sedikit mengerti arti perkataan mereka sehingga dia hanya diam pura-pura tersenyum juga.
"Eh jeng... saya baru tahu lho kalau Putranya Jeng Candra sudah menikah. Padahal mau saya kenalin sama anak saya nti yang mau pulang dari Jerman lho" seorang Ibu bergaun merah menyala dengan rambut jambul khatulistiwa nya mulai membuka ghibahan.
Lalu seorang Ibu yang memakai jubah besar karena postur tubuhnya yang lumayan big size ikut nimbrung bersama si Ibu jambul tadi. Dia menghenyakkan pantat besar nya di atas sofa mewah berukir kayu jati asli buatan pengrajin Pak Candra.
" Lhoo lhoo kapan mantu nya keluarga Jeng Candra kok tiba-tiba sudah bawa orang bule ke rumah ini ya? "
"Wah.. jangan-jangan ada sesuatu yang di sembunyikan kalau menikah diam-diam begitu" tukas salah satu Ibu yang ada diantara mereka juga.
"Jeng Nita,kemarin ndak datang arisan kemana? kita kemarin nungguin karena Jeng Fany bagi-bagi souvenir dari Inggris lho" kata Ibu bermata belok dengan bulu mata palsu yang cetar seperti betty Bop.
Jeng Nita Si Ibu berponi jambul itu terlihat kemayu sambil menyibakkan Poni nya.
__ADS_1
"Saya kemarin di ajak Papi nya Stefany dinner ke hotel sama relasinya. Jadi ya jeng ndak sempet ikut arisan, tapi saya sudah transfer lho ya. "
"Jeng Candra kok mau ya punya menantu cacat, cantik sih ya karena bule. Tapi kan cacat"kata Jeng Siska ikut nimbrung.
Seorang Ibu setengah baya yang memakai hijab syari berdehem mendengar ghibahan ibu-ibu komplek yang memang kelompok julid di kompleknya.
"Eh ehmm. Bu Ustadzah. Kapan datang? " Jeng Siska tersipu malu karena kepergok sedang meng ghibah menantu keluarga ini.
"Sudah dari tadi saya disini Bu Siska. Ayo kita ikuti acara ini sampai tuntas agar kita tahu kejadian yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Pak Candra agar tidak timbul fitnah. Karena fitnah lebih kejam lho Bu dari pembunuhan. Dan pembunuhan itu bisa diartikan dua, pembunuhan nyata dan pembunuhan karakter. Nah ini bahaya nanti bisa di perkarakan kalau yang di maksud tersinggung " jelas Bu Aisyah yang ternyata seorang Ustadzah yang sering di undang di acara-acara seperti ini.
Bu Aisyah juga di segani di kompleks perumahan ini karena beliau orang yang mengerti agama dan selalu menjadi panutan masyarakat di sekitarnya.
"Eh...iya Hmmm.. maaf ya Bu Ustadzah saya ndak bermaksud apa-apa, cuma penasaran saja. " jawab Bu Siska menunduk.
Bu Aisyah tersenyum tenang dan mengangguk-angguk kan kepala.
Sebagai seorang kepala keluarga baru, dia agak canggung berhadapan dengan warga tetangga komplek nya. Padahal dia biasa memimpin puluhan orang karyawan di kantornya.
Hafiz mengucapkan terimakasih atas atensi warga dalam memenuhi undangan nya untuk acara selamatan pindah rumah baru dan dia mulai memperkenalkan Aygul dan mertuanya. Hafiz menceritakan secara singkat dia telah menikah secara agama di Turki tiga bulan yang lalu dan telah mendaftarkan secara hukum di pengadilan agama seminggu setelah menikah di Turki.
Dan mereka sengaja tidak mengadakan resepsi karena kondisi istrinya masih dalam masa pemulihan pasca kecelakaan yang membuatnya harus berada di kursi roda.
Beberapa Ibu-ibu teman pengajian Ibu nya tampak bersimpati dengan keadaan Hafiz. Pun dengan beberapa warga yang hadir termasuk golongan ibu-ibu julid yangvtadi membicarakan nya di belakang punggung.
Setelah acara perkenalan selesai berlanjut dengan ramah tamah dan bersama menikmati hidangan yang telah di sediakan tuan rumah. Ibu mengajak Anne untuk bergabung dengan Ibu-ibu komplek dan pengajian agar saling kenal dan akrab.
Saat sedang menikmati hidangan yang di masak oleh koki restoran Hafiz, dari halaman rumah seorang gadis cantik berjalan menuju tempat acara.
Pakaian sexy berwarna hitam di atas lutut dengan lipstik warna merah menyala melekat di tubuhnya yang montok.
__ADS_1
Beberapa pasang mata melihat kedatangan gadis itu dan mulai menyapa ibu-ibu yang ada di situ.
Gadis itu membawa buket bunga tangan yang sangat indah.
"Hai mbak Dewi, ayo sini " suara Izza terdengar renyah di dalam ruang makan.
Ternyata Dewi datang memenuhi undangan dari Bu Hafsah tempo hari.
Dewi menyerahkan bulet bunga nya pada pangkuan Aygul. Suaranya manja mendayu menyapa Hafiz. Orang Tua Aygul menatap wajah Dewi yang sedang mngibaskan rambut ikalnya
Ibu menyuruh Dewi untuk Menikmati hidangan yang menggugah Selera makan Setiap tamu, tiba-tiba Matanya melihat seorang gadis kecil yang berusia sekitar 4 tahun. Hatinya berdesir halus,dan jantung nya berdetak sangat kencang. Mata gadis itu bulat,pipinya cubby menggemaskan mengingatkan nya pada seseorang Dari MASA lalu nya.
Kiara...
Apakah ini kamu? bergegas dia mendekati gadis kecil yang memakai baju pink dan memakai hijab senada.
Dia memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama, mulai dari mata, hidung hingga bibir kecilnya yang berwarna pink alami.
"Adek nama mu Siapa?" tanya nya lembut sambil menggenggam tangan mungil nya.
"Adelia Tante" jawab gadis cilik itu sambil tersenyum ramah.
Tiba-tiba kerinduan nya tak bisa di bendung lagi, dia memeluk erat gadis kecil yang masih diam mematung itu. Tak terasa air mata menetes membasahi hijab Adelia.
"Tante kenapa menangis? Tanya Adelia
"Ah....ehmmm gappa kok sayang, Tante senang berremu dengan mu karena Kiara eh Adelia cantik" jawab Dewi menutupi rasa gugupnya sambil mengusap air yang menggenangi ujung matanya.
Sikap Dewi tak luput dari perhatian Aygul dan Hafiz yang berada di dekatnya,namun beberapa orang tidak menghiraukan karena sedang menikmati hidangan lezat yang tersedia di meja.
__ADS_1