
Setelah Mr Fangfang dan Dewi keluar dari kantor ku, aku segera memanggil Aldo untuk segera menemui ku di ruang kerja ku.
Aku melihat waktu telah menunjukkan pukul 10.30 wib. Aku menghempaskan tubuhku di atas kursi kerjaku yang empuk.
"Pak Hafiz saya rasa kita harus meninjau kerja sama dengan Mr Fangfang lagi. Karena saya melihat kejanggalan disini." Kata Aldo setelah duduk di hadapanku.
Aku mengetuk-ngetuk bolpoin di atas meja kerja ku. Aku menghembuskan nafas dengan kasar.
"Aku sependapat dengan mu Al. Tolong 30 menit lagi kumpulkan para staf terkait proyek ini di ruang meeting. Kita akan membahas masalah ini sampai tuntas hari ini juga. Saya tunggu 30 menit dari sekarang ya" titah ku pada anak buah andalanku itu. Dengan segera dia beranjak dan pamit keluar untuk mengumpulkan para staf yang terkait.
Aku mengambil gawai yang barusan berdering. Aku melihat nama Ayah sedang memanggil telponku.
"Assalamualaikum Yah" sapa ku pada Ayah
"Waalaikum salam nak, Hafiz baru saja Ayah membaca email dari Pak Doris, salah satu direktur di PT Bhakti Setya menawarkan kerjasama untuk membuat produk kerajinan kulit yang akan di ekspor ke Perancis. Karena perusahaan nya hanya memiliki mesin pembuat nya maka dia menawarkan ke Ayah untuk mensuplay bahan baku kulitnya. Bagaimana menurutmu nak?" kata Ayah.
__ADS_1
"PT Bhakti Setya yang pernah jadi rekanan Ayah saat pembuatan Jok kulit dulu ya?"tanyaku
"Iya benar nak. Ternyata ingatan mu cukup kuat, Mereka puas dengan hasil kerja kita jadi ingin meneruskan kerja sama lagi. Kali ini dia minta di buatkan sample Pelana kuda dari kulit, jaket serta asesoris yang berhubungan dengan itu. Sepertinya Ayah harus ke kantor mu nak untuk membicarakan hal ini lebih lanjut" kata Ayah dengan antusias.
Bagaikan mendapatkan angin segar dari kemarau panjang, tak sadar aku bersorak kegirangan. Sesaat aku melupakan masalahku dengan Investorku yang membuatku pusing.
" Biar Hafiz saja Yah ke kantor pusat. Tapi setelah meeting ya? insyaallah setelah makan siang Hafiz kesana dengan Aldo" jawabku girang.
"Baik lah Ayah tunggu kalau begitu. Ya sudah Ayah mau melanjutkan pekerjaan lagi" lata Ayah menutup pembicaraan kami.
Aku memasuki ruang kaca itu dan staf ahliku yang berjumlah 6 orang itu telah berkumpul menunggu ku. Kami berdiskusi mengenai masalah yang sedang kami hadapi dan Pak Gandi yang tadi pagi ikut bersama ku saat menemaniku bertemu dengan Mr Fangfang.
"Selamat pagi semua. Saya sengaja mengumpulkan kalian semua disini karena ada sesuatu harus kita bahas dan kita pecahkan hari ini juga. Karena ini menyangkut kerjasama yang telah kita sepakati dengan investor asing beberapa waktu yang lalu. Silahkan Pak Aldo menyampaikan kendala nya"
Kataku membuka meeting pagi ini. Beberapa orang yang hadir disitu saling berpandangan dan melihat satu sama lain
__ADS_1
"Mega proyek kita dengan Mr Fangfang dan beberapa investor itu terancam mengalami pembatalan karena ada investor besar yang berniat menarik dana nya karena mempunyai bisnis yg lain." sambung Aldo
"Kecuali kalau kita memberikan kompensasi fee yang lebih untuk perusahaan Mr Fangfang, maka dia bersedia menjadi negosiator dengan investor itu untuk kembali lagi bersama kita" lanjutnya lagi.
"Saya rasa kita tidak perlu mengikuti kemauan Mr Fangfang, Pak karena kita belum mengetahui dengan pasti apakah benar investor itu mengundurkan diri. Kita harus menunggu pemberitahuan resmi dari mereka" kata Pak Gandi menjawab pernyataan Aldo
Aku menghela nafas dengan pelan. Lalu aku meminta pendapat staf ku yang lain.
"Kalau menurut saya secara hukum. Kita masih menang di atas kertas. Karena dalam perjanjian itu jika salah satu orang melanggar akan mendapatkan sanksi baik pidana maupun perdata. Apalagi kita memiliki kekuatan hukum yang sama dengan mereka. Jangan terprovokasi dengan pihak ketiga. Jadi kita tidak usah mengikuti permainan konyol Mr Fangfang" kata Pak Hasri salah satu staf hukum ku.
Aku tersenyum mendengar pendapat para stafku dan aku mengambil keputusan untuk tidak menanggapi kemauan Mr Fangfang. Dan aku memerintahkan Pak Hasri untuk mengumpulkan berkas kerjasama kami. Dan aku menugaskan Aldo dan Pak Gandi yang harus menyampaikan penolakan ke Mr Fangfang. Aku pun menugaskan staf hukum ku agar membuat pernyataan resmi bahwa kami akan tetap melanjutkan kerjasama ini dan akan mengirim kan email ke smua investor terkait agar tetap melanjutkan kerjasmaa ini jika tidak mereka akan terjerat dengan hukum yang telah mereka sepakati sebelumnya.
Setelah menyudahi meeting dengan para stafku aku segera meluncur ke kantor pusat untuk bertemu dengan Ayah. Memang Ayah masih memimpin kantor pusat dan aku yang berada di kantor cabang yang merangkap kantor pusat untuk usaha ku sendiri.
Aku tersentak di dalam mobilku mengingat hari ini aku telah melupakan janji ku pada Aygul untuk mengajaknya terapi. Di dalam kendaraan aku segera menelpon nya dan mengatakan jika terapi akan kita lakukan malam hari saja karena siang ini jadwalku sangat padat. Aldo yang sedang memegang kemudi kendaraan ku tampak serius memandang jalan raya. Aku sengaja mengajaknya ke kantor pusat untuk bertemu Ayahku karena ide nya Aldo kadang sangat membantu juga
__ADS_1