Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Tasyakuran


__ADS_3

Zein masih mengingat kedatangannya beberapa tahun yang lalu di Indonesia tepatnya di kota kecil tempat kelahiran nya.Sambutan haru semua keluarga dna tetangga membuatnya merasa sangat di cintai. Dan Hafiz juga terlihat bisa membaur bersama mereka.


"Assalamualaikum, maaf Saya datang tak tepat waktu" kata seorang gadis yang memakai abaya hitam dan memakai pasmina berwarna merah meyala.


Semua orang yang berada di ruang tamu iti menoleh ke arah pintu rumah. Sosok gadia tinggi semampai berdiri di depan pintu. Gadis itu membawa dua buah kotak besar berwarna putih.


"Waalaikum salam Ning Iqlima, mongo pinarak" balas Umi sambil menyongsong kedatangam tamu nya.


Ternyata tamu itu adalah Ning Iqlima gadis cantik cucu Abah Yai. Iqlima mencium tangan Umi dengan takzim. Umi segera membimbing bahu gadis itu ke dalam.


"Bude ini dari Umi,katanya buat tasyakuran disini." Iqlima memberikan kotak tereebut pada Umi Salma.


"Walah kok repot-repot segala sih Bu Nyai Faizah ini, wong kita ndak ada acara rame-rame, hanya kumpul keluarga dan tetangga aja Ning.Tapi tolong haturkan matur nuwun sanget njih Ning " kata Umi basa basi padahal hatinya senang mendapat perhatian dari istri pemilik pondok pesantren itu.


Sorot mata Ning Iqlima tampak mencuri pandang pada Zein,dan lelaki itu tampak menundukkan pandangannya. Dia tak mau nanti keluarga nya tahu bahwa Zein pernah mengagumi wanita itu. Bisa di cuci otaknya nanti sama Abi dan Umi nya.


"Sarah, tolong bantu Ning Iqlima ini bawa kotaknya dan ajak ke ruang dalam nduk" perintah Umi pada anak gadisnya yang masih memeluk Kakak kesayangannya.


Lalu tangan nya mengurai dari lengan kekar kakaknya dan mengambil kotak kue tardi dari tangan Iqlima.


"Mari saya bantu Ning,sekalian ke dalam saja ya Ning" kata Sarah sambil mengajak Iqlima ke dalam ke ruang keluarga yang telah terisi para wanita yang sedang sibuk menata makanan.


"Maaf Ning, rumahnya jelek dan berantakan" kata Sarah sungkan padahal Iqlima bukan orang yang sedang sidak ke rumah. Dan dia juga orang yang sangat santai tak pernah membedakan kedudukan orang di matanya.


Sarah menyuruh Iqlima duduk di bangku kosong yang ada di depan televisi warna ukuran 20 inch itu.


Sebenarnya dia ingin duduk di ruang tamu menemani Umi dan Abi nya Zein karena dia ingin sekali memandang lagi laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta setengah mati itu. 7 tahun berlalu namun perasaan cinta nya itu masih tersimpan rapi di hatinya.

__ADS_1


Sekarang dia telah bertunangan dengan anak Kiai dari Jawa Tengah, dia telah menerima perjodohan itu dengan terpaksa karena dia tak bisa menolak keinginan kedua belah pihak orang tua.


Setelah acara selesai Iqlima pamit pulang dan dia mulai mencuri pandang lagi pada Zein. Hafiz sempat melihat kilatan api cinta di mata Iqlima dia tahu namanya jatuh cinta itu pasti matanya berbinar-binar.


Ning cantik dan menawan itu mulai memalingkan wajahnya ke arah Zein. Lelaki itu menundukkan pandangan nya.


"Terimakasih Ning Iq, sudah mau berkunjung ke gubuk kami dan repot membawakan buah tangan pula." Kata Zein basa basi karena untuk menghormati kedatangan putri Kiai nya.


"Iya Mas Zein, sama-sama. Tadi Umi sama Abah mau kesini tapi ada tamu jadi mereka menitip salam saja untuk Mas Zein." jawab nya bersemu merah.


"Iya ndak apa-apa Ning. Sampaikan salam hormat saya untuk beliau. Insya Allah beberapa haribke depan saya mau sowan ke pesantren" kata Zein lagi.


Tak lama kemudian gadis itu berpamitan "Pakde, Bude dan semua nya saya pamit duluan" pamit gadis itu sambil menyalami orang tua Zein.


Sarah keluar membawa beberapa bingkisan untuk Iqlima.


Iqlima mengangguk dan tersenyum lalu mereka berdua keluar rumah menuju mobil sedan yang terparkir di depan halaman.


" Ehemm..ehmmm...ternyata penggemar mu to bro?!" bisik Hafiz pelan sambil cengar cengir.


"Ojo ngawur ssttt.... Bisa di keplak sama Mbah Yai nanti kalau kedengaran disana" Zein mendelik ke arah sahabat nya itu.


Kedua lelaki tampan itu tertawa lirih, Hafiz tambah kagum dengan sahabat nya itu karena dia jelas-jelas ada yang naksir tapi sikap nya tetap dingin.


Setelah acara tasyakuran selesai, semua keluarga berkumpul di ruang tamu. Abi mulai leluasa bercengkrama dengan Zein dan Hafiz karena dari tadi mereka berdu adalah bintang acara sehingga Abi menunggu waktu untuk bercakap-cakap setelah acara.


"Zein rencana kamu ke depannya bagaimana le? Abi dengar dari Ibrahim kalau kamu langsung dapat pekerjaan di Rumah Sakit yang terkenal disini le?"

__ADS_1


Tanya Pak Yahya.


"Iya Bi , alhamdulillah Mas Hambali kakak kelas Zein di pesantren putranya Pak Hasan,mereferensi kan Zein ke pemilik Rumah Sakit kebetulan beliau kawan Mas Hambali dulu. "


"Alhamdulillah nak, Abi dan Umi bersyukur sekali. Ohya Abi juga mengucapkan banyak terimakasih yang tak terhingga pada nak Hafiz karena telah menjadi dermawan anak kami. Berkat bantuan naknHafiz sekeluarga, Zein bisa mendapat tempat tinggal disana. Abi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Nak Hafiz sekeluarga."


Air mata Pak Yahya menetes karena terharu dan merasa sangat berhutang budi pada keluarga Hafiz.


"Iya sama-sama Pak, sudah seharusnya kami saling membantu di tanah orang. Dengan adanya Zein saya jadi tidak kesepian dan bisa ada saudara walaupun jauh dari keluarga" jawab Hafiz dengan senyum tulus.


Sarha dan Ibrahim yang ikut bergabung di situ ikut terharu mendengar ucapan Hafiz. Lalu Zein membuka koper nya yang besar dan mulai mengeluarkan souvenir yang dia beli disana untuk keluarga nya.


"Abi dan Umi ini ada souvenir dari Turki" zein mengeluarkan dua buah kotak untuk kedua orang tuanya.


"Ini untuk Sarah dan Ibrahim juga ada sedikit souvenir dari sana"


Si kembar segera membuka kota dari Kakaknya dengan wajah berbinar.


"Wow...Mas ini pasti Mahal deh. Makasih ya Mas" Sarah langsung memeluk Kakak sulungnya dengan gembira. Ternyata Zein membelikan cincin emas khas Turki. Ternyata Umi di belikan cincin juga oleh Zein. Sedang kan Abah dan Ibrahim mendapat oleh-oleh Arloji.


Bertahun-tahun Zein menabung dari hasil kerja part time nya di klinik akhirnya dia bisa membelikan cinderamata untuk keluarga yang sangat di cintai nya itu.


Lalu Hafiz membuka ransel hitam.miliknya dan mengeluarkan beberapa barang. Ternyata dia mengeluarkan dua tas wanita dan jaket kulit serta sandal kulit.


"Abi,Umi dan adik-adik, ini Hafiz ada sedikit cinderamata buatan perusahaan Ayah. Semoga berkenan."


Hafiz membawa hasil usaha orang tuanya yang berasal dari kulit untuk import.

__ADS_1


"Masya allah Nak Hafiz sampaikan terimakasih kami pada Ayah dan Ibu Candra ya Nak. Terimakasih yang tak terhingga " jawab Umi sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Dan tak ada yang menyangka di kemudian hari kedua keluarga ini ternyata akan menjadi besan


__ADS_2