Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Sudah dong sedihnya


__ADS_3

"Kemana istri mu nak? " tanya Ayah Candra heran melihat si sulung datang sendiri an saja ke meja makan.


"Lagi ndak mau makan Yah."


Baba Farouq mengerutkan kening nya, dia curiga pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada putri kesayangan nya itu.


"Apa Aygul sakit? "tanya Baba


Anne memberi isyarat kedipan mata pada Baba agar tidak mendesak Hafiz, agar tak merusak suasana makan malam mereka semua.


Baba yang mengerti isyarat Anne seketika terdiam, namun Ayah semakin penasaran dengan sikap besan nya tadi


"Nanti akan Anne bawakan makan malam Aygul ke kamar nya nak. Anne akan temani Aygul makan disana" kata Anne pada Hafiz.


Akhirnya mereka makan malam tanpa kehadiran Aygul dan setelah itu Zein pamit pulang ke rumah dinas nya. Izza penasaran dengan sikap kakak iparnya sehingga dia menanyakan pada calon suaminya sebelum pulang.


Namun Zein tak mau membuka mulut perihal kesedihan Aygul dan Hafis terkait masalah tadi siang dengan dr Zainab. Dia hanya mengatakan bukan kapasitasnya untuk menceritakan. Akhirnya Izza mengalah untuk tak banyak bertanya lagi lebih baik dia bertanya pada kakaknya langsung.


Aygul masih dalam posisi merebahkan tubuhnya di ranjang King size mereka. Dia dalam mode silent. Pintu kamar ada yang mengetuk terdengar suara Anne meminta ijin masuk ke kamar.


Aygul mempersilahkan Ibunya untuk masuk, wanita berusia 50an yang masih tampak cantik itu membawa nampan berisi dua piring nasi dan satu piring lauk beserta segelas air putih.


"Sayang, Ayo temani Anne makan disini ya? " Kata Anne sambil meletakkan nampan di atas nakas.


"Aygul masih kenyang Anne." tolaknya halus. Anne duduk di pinggir ranjang dan memegang dahi Aygul.


"Kenyang makan apa sayang? kamu hanya makan saat sarapan saja tadi pagi itu pun hanya sepotong roti gandum dan susu" jawab Anne dia lega ternyata Aygul tidak sakit.

__ADS_1


"Iya tapi masih kenyang Anne" rajuknya seperti anak kecil yang sedang ngambek tak mau makan.


Anne menghela nafasnya lalu dia memegang tangan anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan berlarut-larut sedihnya nak, nanti mertua kamu jadi bingung. Karena sikap kamu yang mengurung diri di kamar Tiba -tiba. Anne tidak enak dengan beliau berdua"


Aygul memalingkan wajahnya menghadap sang Ibu. walaupun Anne bukan ibu kandung nya namun dia sudah menjadi bagian hidupnya. Bahkan separuh hidup nya telah menganggap Anne Hafsah adalah ibu kandung nya. Kasih sayang mereka tulus Anne tak dapat tergantikan oleh apapun di dunia ini.


"Anne bantu duduk ya nak. Anne suapin Aygul sedikit" kata Anne sambil membantu Aygul bangkit dari posisi tidur nya.


"Maafkan Aygul Anne, Aygul selalu merepotkan Anne dan Baba. Bahkan sampai Sekarang Aygul masih merepotkan kalian.Jadi beban kalian hiks. . hiks"


Aygul mulai mengeluarkan air mata lagi.


Dia sudah bersandar pada kepala ranjang nya yang empuk. Anne sudah tahu kebiasaan anak angkatnya jika sedang ada masalah dia selalu mengurung diri di kamar tak mau di ganggu.


"Anne dan Baba tak pernah menganggap kamu beban sayang. jangan pernah mengatakan hal itu lagi nak. Kamu segalanya bagi kami"


"Sayang, Ayo makan, aku suapin ya? ini makanan kesukaan mu khusus di masukkan Izza" kata Hafiz mencoba membujuk nya.


Anne menganggukan kepala mencoba menyuruh Aygul untuk makan. Hafiz mendorong satu suap makanan ke mulut mungil Aygul.


"Mas, aku sudah memikirkan rencana masa depan kita berkaitan dengan hasil rekam medis ku tadi. " Aygul mencoba membuka percakapan dengan suaminya.


"Sayang, stop tak usah bicarakan ini dulu. Aku tak mau membuat mu bersedih lagi okey" Hafiz menolak memperpanjang pembicaraan istrinya.


" Harus sekarang aku bicarakan hal ini sebelum terlalu lama dan terlalu jauh. "jawab Aygul tegas.

__ADS_1


Hafiz mendorong lagi satu sendok makanan ke mulut istrinya namun Aygul menggelengkan kepala menolak.


"Ayo sayang satu sendok lagi. " lelaki itu sangat telaten menyuapi istrinya.


Aygul jadi tak tega menolak suaminya, dia memandang sendu wajah orang yang sangat di cintainya itu.


"Aku malu menjadi beban mu Mas, jauh-jauh kau nikahi aku tapi aku tak bisa membahagiakan mu. Ijin kan aku pulang bersama orang tuaku lagi Mas. Cari lah kebahagian mu disini dengan wanita yang bisa mencintai dan memberi mu anak" kata Siapa Aygul memalingkan wajah tak berani menatap wajah suaminya.


Hafiz terperanjat mendengar permintaan istrinya. Dia tak menyangka istrinya memiliki pemikiran sepicik itu pada makna kebahagiaan.


Hafiz meletakkan kembali piring nasi Aygul ke atas nakas. Dia naik ke atas pembaringan, Anne terlihat sedih atas permintaan Aygul. Mungkin di satu sisi dia bahagia jika Aygul ikut pulang bersama mereka. Namun di sisi lain dia tak mau melihat rumah tangga anak nya berantakan.


"Kalau aku tak mengijinkan mu pergi? "tanya Hafiz pelan. sungguh dia terkejut dengan permintaan konyol istrinya. Baru lima bulan mereka bersama setelah hampir empat tahun berpisah kini bayang-bayang perpisahan telah membayangi kepalanya.


Dia akan berusah keras mempertahankan Aygul disini. Mungkin Aygul terlalu takut berpisah dengan orang tuanya karena waktu mereka disini kurang dari satu bulan lagi. Dia tak akan membiarkan cinta pertama nya itu hilang lagi. Karena jika Aygul nekad pulang dengan orang tua nya itu tanda nya dia harus kehilangan istrinya.


Karena hubungan jarak jauh itu rentan perpisahan dan pasti akan berjarak pula dengan hubungan batin mereka yang mulai merekah kembali.


"Anne tolong bujuk Aygul agar tak memiliki pikiran konyol itu. Saya mohon Anne" pinta Hafiz sambil menggenggam tangan mertuanya.


Aygul tak bergeming lalu Hafiz pamit keluar untuk menemui Baba dan Ayah nya. Dia ingin meminta pendapat mereka bagaiamana menghadapi keinginan Aygul untuk pulang ke Turki.


Tampak kedua mertua nya sedang bercengkrama dan Ibu nya tak terlihat diantara para lelaki itu.


Hafiz terlihat murung dia duduk di sebelah mertuanya.


"Ada apa nak? apa ada masalah dengan kalian? "tanya Ayah mencoba menggali informasi dari anaknya.

__ADS_1


Hafiz akhirnya menceritakan tentang pertemuan nya dengan dr Zainab dan di keinginan Aygul untuk ikut pulang dengan orang tua dan saudaranya.


Baba dan Ayah tampak terkejut sesaat namun mereka cepat menguasai keadaan yang menyedihkan itu. Mereka berdua prihatin dengan keadaan anak dan menantunya. Wajah kusut putra sulungnya itu membuat nya sedih


__ADS_2