
Zein berjalan mendekati bidadari nya, kemudian membimbingnya untuk duduk di depan meja rias.
Karena malu Izza sempat menolak bantuan suaminya namun sentuhan lembut Zein menghentikan penolakan nya. Tangan dokter itu mulai menarik beberapa buah jarum pentul yang menancap di atas hijab istrinya.
Ragkaian bunga melati dan Mawar mewah yang bertahta di atas kepala nya telah di lepas kan suaminya lalu tiba lah saat nya melepas hijab yang menutupi mahkota nya yang hitam lebat dan panjang yang di gelung di dalam ciput nya.
"Sayang boleh kan Mas melihat mu tanpa hijab? " pinta nya dengan suara parau. Dengan menunduk Izza mengangguk kan kepala nya. Lalu kedua tangan lelaki itu bergerak dengan sangat hati-hati membuka penutup kepala istri nya. Dan tergerai lah surai hitam legam lebat bergelombang sepanjang bahu nya. Gadis itu masih menunduk belum berani mengangkat wajah nya karena malu.
"Subhanallah.... bidadari surga ku, sungguh sempurna ciptaan Mu ya Allah... " ucapnya terpesona oleh kecantikan lahiriah istrinya yang baru bisa di lihat sekarang. Zein kemudian mengangkat dagu istrinya dan melihat kedua mata itu dengan penuh hasrat.
"Kamu sungguh cantik sayang, Mas sangat bersyukur bisa mempersunting mu. Kita menua bersama ya sayang.. " lalu Zein merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya.
Sebenarnya hasratnya sudah menggelegak dari tadi namun dia harus sabar untuk tidak unboxing sekarang karena nanti menjelang senja masih ada acara resepsi yang mengundang 1000 orang kolega, kerabat dan sahabat kedua orang tua Izza.
Sebenarnya Izza dan Zein keberatan untuk mengadakan resepsi besar-besaran seperti ini namun kakek dan nenek Sholeh menyarankan untuk mengadakan syukuran karena saat Hafiz menikah banyak kerabatnya yang tidak tahu. Untuk menghindari fitnah dari orang-orang yang tak bertanggung jawab, maka Kakek menyarankan anaknya untuk mengadakan tasyakuran.
Walaupun judulnya sederhana tapi kesederhanaan Pak Candra Birendra itu melebihi expektasi kata sederhana itu sendiri. Semua di persiapkan matang dan terencana. Pilihan wedding organiser, katering, dan semua pendukungnya adalah yang terbaik di bidang nya. Mereka ingin berbagi kebahagiaan keluarga denga mengundang kerabat, kolega, tetangga dan anak yatim piatu dari panti asuhan yang di santuni keluarganya.
Izza sudah melepas hijab pengantin dan dia menolak melepaskan baju di depan suaminya dia masih malu dan belum siap sehingga dia membawa gamis rumahannya ke dalam toilet yang berada di dalam kamarnya. Zein geleng-geleng kepala melihat aksi istrinya yang malu-malu tapi dia berjanji nanti malam akan membuat gadis itu mau - mau hehehe..
Setelah berganti dengan gamis dan hijab rumahan, dan Zein pun sudah berganti dengan kaos polo biru nya, mereka berdua keluar kamar dengan bergandengan menuju halaman belakangmalam menemui kerabatnya. Acara bermesraan mereka pending sementara hingga nanti malam..
__ADS_1
Godaan dan candaan dari para sepupunya membuat gadis yg baru saja lulus kuliah itu tersipu malu. Apalagi Talita sepupu plus besti yg usianya sepantaran dengan Izza itu terus saja meledek dengan candaan di tambah lagi Hafiz juga ikut nimbrung malah membahagiakan suasana makin rame.
" Eittt... gandengan terus mau nyebrang jalan neng? " canda Lita sambil menunjuk kedua tangan pengantin yang saling bertautan.
" Iri bilang Bos! makanya cepetan nyusul! jangan nolakin cowok mulu " balas Hafiz sambil menjulurkan lidah nya.. Talita yang tak memiliki rasa sakit hati dengan sepupu nya itu tergelak keras. Dan alhasil kedua bola mata ibunya melitot ke arah nya.
" Hey..anak gadis jangan ngakak ya kalau tertawa yang sopan! "
Izza tertawa geli puas melihat sepupunya mati kutu kena omelan ibunya.
"Iyaa iya bu.. maaf" jawab nya pura-pura sedih tapi bohong.
Pak Yahya melambaikan tangan ke arah putra sulung nya yang sedang berdiri di samping sang istri. Zein minta ijin pada Izza untuk menemui para tetua di samping gazebo yang telah di percantik dengan rangkaian janur kuning yang melengkung. Lalu pengantin baru itu berjalan menemui orang tuanya yang terlihat bahagia di raut wajah nya.
Di tempat Izza, Talita masih saja usil dengan kekonyolan nya dan membuat Aygul terkekeh mendengar leluconnya. Aygul sudah akrab dengan para sepupu Hafiz karena beberapa kali bertemu mereka dan sambutan keluarga ini sangat baik pada para menantu nya.
"Eh Lita, elu jangan ngegodain Ucil, kewong lah kewong.. " kelakar Jay sepupu Izza yang lain. Mereka sepantaran jadi akrab dan sering melakukan kegiatan bersama.
Namanya Zainal tapi karena ingin terlihat keren di mata temannya dia minta di panggil Jay oleh para sepupunya. Namun Lita yang usil sering kali memanggilnya Zainul.
"Eh gue mau kewong kalau dapetnya bule kayak Mas Hafiz deh, kan memperbaiki keturunan keluarga besar kita secara hidng pasti manulcung, mata pasti belok dan berwarna warni hehehe.. "
__ADS_1
"Istighfar Neng, kagak boleh kayak gitu, orang lokal juga banyak yang mancung kok idung nya" sahut Hafiz ikut nimbrung.
" Hmmm... tapi serius kalau emang Kak Aygul ada sodara yang serius cari bini, gue mau daftar dong jadi kandidat nya... hihi" jawab Talita sambil menggoyang goyang tangan Aygul.
Wanita bermanik mata hijau itu tersenyum sambil mmutar bola matanya ke atas dan ke bawah.
"Emang mau tinggal di Turki kalau dapat orang sono? kagak kangen ketoprak lu entar sama semur jengkol bikinan uwak?" tanya Jay sambil melipat tangan nya ke dada.
"Siapa takutttt.... cuzzz ya Kak Ay, aku daftarin jadi kandidat orang Turki..!! "
Kehebohan para anak muda generasi ketiga keluarga Kakek Sholeh ini heboh dan terdengar oleh telinga Mustofa kakak kandung Aygul yang ikut serta menemani Anne dan Baba ke Indonesia.
Mustofa sendiri masih jomblo sehingga dia menajamkan telinganya mendengar keinginan Talita itu. Dia melihat perawakan gadis periang itu dengan seksama dari jauh.. Hemmmm mungkin aku bisa mencoba mengenalnya dari Aygul katanya dalam hati.
Tak terasa hari bergulir begitu cepat dan waktu sudah berganti makin siang, selepas sholat dhuhur, keluarga besar Pak Candra Birendra mulai menuju ke hotel tempat resepsi.
Untuk para orang tua audah di rias di kamar sebelah dan untuk pengantin pun sudah siap di rias di kamar khusus. Baju pengantin berwarna silver tampan anggun dan elegan membalut tubuh ramping Umaiza. Mata lelaki itu tak lepas memandang kecantikan bidadarinya. Sampai-sampai si perias menggoda nya. Perias itu tersenyum bangga melihat hasil kemahiran tangan nya yang bisa membuat pangling mempelai wanita menjadi wajah yang berbeda. Makin bersinar aura kecantikan nya.
Di luar Sarah dan Ibrahim sudah berdandan dan berkumpul dengan Hafiz serta Aygul di tempat khusus keluarga mempelai. Abi Umi dan Ayah Ibu pun sudah selesai di di rias memakai seragam yang sama.
MC sudah memanggil kedua pengantin untuk keluar memasuki tempat resepsi. Dimana para tamu sudah seperempat bagian datang untuk memberikan doa restu mereka untuk kedua mempelai. Rombongan pertama yang terlihat adalah ibu panti asuhan bersama anak-anak panti yang telah di berikan tempat khusus oleh Pak Birendra di sisi sebelah keluarga, betapa mulia nya hati Pak Candra dalam memperlakukan anak-anak malang itu. Dia mengistimewakan mereka dan berusaha membuat mereka ikut merasakan kebahagiaan seperti keluarganya.
__ADS_1