
Hari ini adalah hari terakhir kami di kota Istambul. Besok pagi kami akan terbang kembali ke Indonesia. Berat rasa hatiku berpisah dengan istri cantikku. Aygul selalu bergelanyutan manja saat berbaring di sampingku. Harum tubuhnya selalu ku sesap perlahan-lahan aku takut kehilangan nya lagi setelah beberapa tahun berpisah.
"Sayang berapa lama aku akan menunggu kedatangan mu kembali?" tanya nya dalam dekapan ku. Jemarinya yang mungil bermain-main di bulu dada ku. Aku memejamkan mata ku menahan hasrat yang sedari tadi ku tahan.
Ya Tuhan kuatkan lah hamba Mu ini. Doa ku dalam hati.
" Secepatnya 1 bulan Insya Allah aku usahakan. Berjanjilah untuk selalu mengabariku setiap hari hunie." bisikku sambil mencium cuping telinganya.
Aygul semakin merapatkan tubuhnya. Aku mengusap punggung nya dengan penuh perasaan. Aku harus bersabar menunggu saat yang tepat. Tolong bantu aku ya Tuhan menahan hasratku ini.
Walaupun Aygul telah memberikan ku kode agar aku melaksanakan kewajibanku namun aku merasa tak tega dengan keadaannya.Namun aku juga tak mau membuatnya menderita. Aku berada dalam dilema asmara seperti ini.
" Hunie tidurlah, Aku akan membereskan beberapa pakaian ku dahulu. " kataku mengalihkan perhatian ku atas tubuh moleknya.
Lalu aku bangkit menuju lemari dan segera membereskan baju dan semua perlengkapan pribadiku. Aygul duduk di sambil bersandar di kepala ranjang.
"Besok saja aku bantu beres-beres baju itu. Sekarang kembali lah kemari. Aku hanya ingin berada dalam pelukan mu malam ini sayang" rajuknya manja. Demi sebuah kecantikan dewi Amor akhir nya aku menuruti permintaan nya.
Lampu kamar telah ku matikan dan ku nyalakan lampu tidur di samping ranjang. Aku segera memeluk nya dan menikmati kebersamaan kami malam ini. Aku tak ingin malam ini cepat berlalu.
---------------------
Pagi telah menapakkan terang nya. Sinar mentari menyembul malu-malu mengintip jendela peraduan kami. Bau pasir pantai tersapu angin laut.
Kulihat Aygul telah merapikan seluruh barang dan bajuku ke dalam koperku. Aku mengambil jaket kulit dan baju tidurku.
"Hunie tolong kamu simpan di rumah. Jika kau rindukan aku, pakai lah jaket ku ini" kata ku sambil tersenyum. Memang terkesan norak namun apa daya aku telah jatuh cinta sedalam dalam nya pada istriku.
"Baik lah, Dan simpan lah Pasmina ini sayang jika kau rindukan ku peluklah " balasnya tak mau kalah.
Aku mencium jari manis nya yang sekarang memakai cincin pernikahan dariku. Aku mengusap kepala nya dan mencium bibirnya dengan lama. Kami semakin terhanyut dalam perasaan yang perih karena akan berpisah.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
" Hafiz. Kita check out 1 jam lagi ya, Ayah dan Ibu sudah siap tinggal menunggu kamu saja"
ternyata ayah ku yang menelponku.
" Baik ayah sebentar lagi kami keluar. Ayah tunggu di restoran saja. Sebelum ke bandara ada baik nya kita makan siang dahulu" jawabku. Ayah menyetujuiku lalu aku menyudahi percakapanku.
Beberapa menit kemudian aku telah menuju ke restoran untuk makan siang terakhir kami bersama Farouq family.
__ADS_1
Kulihat Aygul tak berselera makan sama sekali. Wajahnya terlihat sangat sedih. Aku jadi tak tega meninggalkan nya.
" Hunie ayo makan lah. Jangan seperti ini, aku jadi berat untuk pergi" kataku padanya.
Kedua orang tua kami melihat ku yang sedang membujuk Aygup untuk makan.
" Aku tak nafsu makan sayang. Nanti lah aku bisa makan di rumah Baba" jawabnya.
" No hunie, kamu harus makan sekarang. jika tidak aku akan membatalkan kepulanganku hari ini" ancamku pura-pura merajuk.
" Baiklah aku hanya makan kebab dan milk shake strawberry saja sayang" katanya. Aku mengangguk dan memesankan makanannya ke restourant.
Keluarga kami tampak menikmati makan siang ini dengan sesekali bersenda gurau. Baba mengucapkan terimakasih pada Ayah atas kedatangan keluarga Birendra dalam acara pernikahan kami yang sederhana ini. Baba berjanji jika semua legalitas Aygul telah selesai bisa jadi Baba yang akan mengantar Aygul ke Indonesia. Karena Baba juga ingin sesekali mengetahui keindahan Indonesia yang selama ini hanya di lihatnya dari televisi dan internet.
Aku gembira mendengar pernyataan Baba. kami berpisah di hotel aku tak mengijinkan Aygul untuk mengantarku sampai bandara karena aku tak sanggup melihat air matanya. Namun dia bersikeras ingin mengantarku juga.
2 mobil yang membawa kami sekeluarga telah sampai di Bandara. Syafri dan Zein seta anak buah Syafri telah menurunkan barang-barang dan menarik troli.
Aygul memelukku erat sambil berlinangan air mata. Elif pun kulihat meneteskan air mata haru . Aku ******* bibirnya sebelum kami berpisah.
" Aku akan kembali untuk mu hunie. Percayalah aku akan setia padamu. Tolong jaga cinta kita selalu" pamitku.
Kami telah memasuki ruang tunggu internasional. Perlahan bayangan tubuh istriku di atas kursi rodanya telah menghilang. Aku menahan tangis dan perih nya perpisahan ini.
Sesaat kemudian kami telah memasuki perut burung besi ini. Aku duduk di samping Zein sedangkan Izza berada di deretan sebelah ku bersama ayah dan Ibu.
Zein sesekali menggoda ku, aku memukul pundaknya kesal. Awas aja kau akan merasakan juga beratnya jauh dari istri jawabku ketika menikah nanti, Dia terkekeh.
Burung besi ini telah mengangkasa meninggalkan gadis Ottoman ku yang sedang gelisah menanti kedatanganku lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak terasa 9 jam perjalanan telah kami lalui. Badanku terasa sangat kaku akrena sedari tadi aku hanya tiduran di atas kursi pesawat. Aku malas melakukan apapun kerjaanku hanya membaca dan tidur saja.
Keluarga ku membiarkan ku tak berani mengusikku.
Pak Man dan Mang Asep menyambut kami di pintu keluar bandara.
Waktu telah menunjukkan pukul 18.00 wib. Seminggu sudah aku meninggal kan Jakarta dan pulang kembali dengan status yang berbeda.
" Selamat ya Mas Hafiz atas pernikahannya" Kata Pak Man dan Mang Asep bersamaan.
__ADS_1
"Terimakasih Pak Man dan Mang Asep" jawabku senang. Perhatian kedua orang terdekatku itu mampu melupakan kepedihan ku saat ini.
Kami akhirnya keluar dari bandara menuju rumah tanpa kendala kemacetan.
Hanya 30 menit akhirnya kami sampai di halaman rumah keluarga.
Firdaus membuka pintu gerbang rumah. Lalu bersama dengan ayahnya menurunkan semua bawaan kami.
"Zein menginaplah malam ini di sini. Kamu pasti lelah dan jet lag" kata Ayah.
Zein yang terlihat lelah mengangguk.
" Baik Ayah. Terimakasih"
Lalu Ayah dan Ibu masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Aku pun mengantar kan Zein ke kamar tamu dan setelah nya aku segera naik menuju kamarku. Izza tampak menyeret kopernya menuju kamar. Aku melirik saja tak berniat membantu nya karena ada Firdaus yang siap membantunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tok..tok..tok
" Mas Hafiz, ayo makan dulu. ayah sudah menunggu" Kata Izza dari luar kamar setelah beberapa saat aku terlelap. Aku melihat 1 jam sudah aku tertidur tanpa mandi terlebih dahulu. Aku belum menelpon Aygul untuk memberitahunya bahwa kami telah sampai dengan selamat di Jakarta.
Ternyata Hand phone ku ada beberapa panggilan dari istriku.
Aku hanya mengiriminya sebuah pesan nanti lah setelah mandi aku akan menelpon nya.
Aku keluar kamar menuju meja makan. Disana sudah berkumpul semua anggota keluarga tak terkecuali para pembantu dan sopir kami.
Ternyata ibu sengaja mengumpulkan semuanya disni.
" Ibu mengumpulkan kalian disini karena, ibu ingin menyampaikan swbuah kabar bahagia di rumah ini. Untuk kalian ketahui kami semua baru saja kembali dari Turki untuk menghadiri pernikahan Hafiz dengan Aygul istrinya. Namun untuk saat ini Istri Mas Hafiz tidak bisa mengikuti kami karena masih mengurus semua surat-surat ijin nya" kata Ibu dengan wajah yang sumringah.
Aura kebahagiaan terpancar di wajah beliau.
" Bibi tadi sudah menyiapkan tumpeng nasi kuning untuk tasyakuran kecil-kecilan bersama kalian semua disini sebagai ucapan syukur pada Allah Atas pernikahan Mas Hafiz. Ayo kalian duduk lah kemari semua. Ayah tolong pimpin doanya ya?" lanjut ibu.
Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-masing Ayah mulai memimpin doa untuk makan malam ini. Aku terharu dengan perhatian semua keluarga ku bahkan para orang-orang terdekatku.
Setelah selesai berdoa ayah memotong tumpeng nya dan memberikan ku sebagai simbolis. Aku menerima piring pemberian ayah dan langsung memeluk ayah erat dan rasa pedih yang sejak tadi ku tahan akhirnya keluar juga. Aku sedih karena di saat seperti ini Aygul tak bersamaku namun aku bahagia karena perhatian dan doa tulus dari semua keluargaku.
__ADS_1