Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Makin berani


__ADS_3

Ketika aku berjalan keluar kamar aku mendengar suara tawa dua orang gadis di ruang tamu. Sepertinya Izza sedang menerima tamu.Masih memakai kaos putih dan sarung, aku melenggang ke arah dapur. Tiba-tiba ada yg menabrakku dari dalam dapur.


"Astaghfirullah !"


Seruku terkejut. Sontak gelas yang di pegang orang itu terjatuh dan pecah berantakan.


" Ehmm..maaf mas ! " seru nya sama-sama terkejut.


Sontak kami berdua menunduk untuk memungut pecahan gelas yang ada di lantai.


"Aduh !! aww..awww sakit " katanya meringis tangan nya mengeluarkan darah segar. Refleks aku langsung memegang tangan nya yang berdarah.


"Dewi ! kamu tidak apa-apa?" tanyaku bersimpati.


"Ah..sakit ..sakit ! " matanya mengembun menahan sakit di tangannya.


" Tangan kamu berdarah! Sudah tinggal kan pecahan gelas itu, biar Firdaus yang membereskan nya " perintahku


Karena suara gelas yang pecah tadi membuat istriku keluar kamar. Dengan mengayuh kursi roda nya dia menuju dapur.


"What happened baby? are you okay Dewi?" tanya Aygul mengkuatirkan kondisinya. Lalu matanya menatap ke arah tanganku yang memegang tangan Dewi yang terluka.


Reflek aku langsung melepas tanganku yang sedang memegang tangan Dewi, aku takut terjadi kesalah pahaman Aygul tentang itu. Dewi memandang ku seolah tak terima.


Izza ikut bergabung bersama kami dia melihat tangan Dewi yang terluka. Lalu dia mengambil kapas,dan antiseptik.


"Aku tadi tak sengaja menabrak Mas Hafiz, gelas yang ku bawa tersenggol" katanya pada Aygul.


"Maaf ya Mas aku tidak sengaja."


aku mengangguk " Ok tidak masalah Kok"


Aku memanggil Firdaus agar membantu membersihkan pecahan gelas agar tidak melukai orang-orang yang melewati dapur.


Aygul.memutar kursi rodanya menghampiri Dewi dia memegang tangan nya yang berdarah. Lalu membersihkan dengan antiseptik yang di bawa Izza tadi.


Firdaus telah selesai membersihkan lantai depan dapur, aku melihat Ibu mendatangi kami. Beliau terkejut juga mendengar suara gelas pecah. Setelah menjelaskan kecelakaan kecil itu aku masuk ke dalam dapur untuk membuatkan segelas susu untuk ku dan istriku.


Aku melihat tangan Dewi telah di perban oleh ibu. Untung nya ibu ku seorang tenaga medis jadi beliau sigap dan tau prosedur perawatan luka. Menurut ibu luka Dewi lumayan dalam namun tidak perlu di jahit. Cukup di berikan antiseptik dan nanti akan di berikan antibiotik oral agar tidak infeksi.

__ADS_1


"Dewi kamu menginap disini saja malam ini nak, tidur dengan Izza. Tangan kamu masih terluka dan di luar masih hujan" tawar Ibu.


"Iya Kak Dewi, sesekali tidur disini sama Izza. Besok luka di tangan Kak Dewi kan bisa di kontrol ibu lagi." Kata Izza menimpali dia memang akrab dengan Dewi di masa kanak-kanak. Aku tak mau menimpali ajakan ibu karena aku merasa tidak etis juga.


" Tapi besok Dewi ada meeting Tante pukul 08.00 wib" jawabnya. Aku yang mendengar percakapan ibu dan Dewi tak mau ikut campur. Izza berusaha keras membujuk Dewi agar mau menginap dan terakhir kulihat anggukan dari kepala gadis itu.


"Sayang, ayuk kita ke kamar, susu nya nanti dingin. Dew, maaf ya aku mau istirahat dulu" kata ku basa basi sambil meraih ujung pegangan kursi roda istriku.Aygul mengangguk dan dia berpamitan pada semua orang disitu.


Kami telah berada di dalam kamar, lampu kamat telah ku ganti dengan lampu tidur. Aygul meraih tangan ku lalu dia mengamati kedua tanganku dari telapak tangam hingga pangkal lengan.


"Kenapa ?" tanya ku tak mengerti. Lalu dia mengusap-usap lengan kanan ku.


"Are You Okay Baby?" tanya nya lembut. Sinar matanya yang teduh membuat darahku berdesir lagi.


"Aku baik-baik saja. Tadi yang celaka Dewi karena dia memegang pecahan gelas" jawabku.


Aygul mengambil gelas yang berisi susu coklat hangat yang ku letakkan di atas nakas. Dia mengangsurkan gelas itu padaku.


"Minum lah pasti kamu juga terkejut sehinggga memegang erat tangan Dewi" jawabnya sambil tersenyum samar.


Ya Tuhan! Sepertinya ada hawa kecemburuan di nada suaranya. Akubkira dia tidak melihat saat aku tadi memegang tangan Dewi.


Aku terkekeh kecil. Aku menunduk dan meraih kepalanya ku tengadahkan wajahnya menghadapku lalu ku kecup pelan bibirnya yang berwarna merah muda. Sungguh bibir itu seperti candu bagi ku. Dia memberi jarak sesaat, aku tetap melanjutkan aktifitasku mencumbu nya.


Dia tetap diam, lalu aku menggendong tubuh nya yang ringan menuju ranjang kami.


"Come on, it's not a big deal to me" kataku lagi. Lalu dia memegang pipiku dengan kedua tangannya yang lembut.


"Janji ya? Tidak ada apa diantara kalian berdua" Aku mengangguk lalu aku kembali meminta nya untuk mengulang lagi malam pertama kami yang tertunda. Dia tersenyum malu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💘


Pagi itu ku lihat kedua mertua ku sudah bangun dan berada di kolam renang. Karena hari ini Sabtu dan Ayah serta aku libur maka kami berdua santai tidak terburu-buru waktu kerja. Aygul sudah mandi dan terlihat merapikan tempat tidur kami yang semalam menjadi saksi.bisu cinta kami berdua.


Aku keluar kamar mendekati mertua ku yang tampak asik menyeruput minuman hangat buatan bibi. Para asisten rumah tangga sudah mulai bebenah dan ku lihat Ibu baru saja keluar kamar dan menuju dapur.


"Good morning Baba dan Anne, bagaimana tidur kalian semalam?"sapaku pada Baba Farouk. Anne Roslina mendongak melihatku.


" Good morning anakku. Alhamdulillah kami tidur nyenyak semalam. Hujan membuat kami meringkuk hangat dalam selimut" jawab Baba sambil tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Ohya Baba nanti siang saya berencana ke rumah dokter yang mengobati Aygul. Apakah Baba dan anne berkenan turut mengantar ?" tanyaku samnil mengambil kursi.kayu dan duduk di hadapan kedua mertuaku.


"Baik lah kami akan mengantar kalian. Agar kami tau perkembangan kesehatan Aygul. "


Jawab Baba.


" Oh ya Kalau begitu, Hafiz mandi dulu dan bersiap. Kita ada appointment dengan dokter pukul 09.00 wib" pamitku pada mertuaku. Mereka mengangguk lalu aku masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarku.


Istriku telah selesai membenahi ranjang dan kamar kami. Aku menyuruhnya keluar untuk menemani kedua orang tua nya. Dia mengatakan ingin membantu ibuku dapur, aku mengangguk menyetujui nya. Aku sengaja membebaskan ke inginan nya untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang rumah agar dia merasa nyaman dan kenal dengan mereka. Dia bicaranya dengan bahasa Indonesia campur Inggris. kadang para Asisten rumahku menggunakan bahasa tarzan. Sehingga membuat kami sekeluarga sering tersenyum. Aku hargai sekali ke sungguhan istriku untuk mengambil hati keluargaku.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


Di luar kamar ternyata anggota keluarga yang telah bangun dan melakukan aktifitasnya masing-masing. Ayah sudah bergabung bercengkrama dengan tamu nya. Ibu di bantu bibi membuat sarapan yang cepat dan mudah.


" Bibi tolong kupas kan pisang raja itu ya, Ibu mau membuat pisang bakar" perintah ibu.


" Iya bu. Berapa biji yang harus di kupas? " tanya bibi. Aygul datang menghampiri Ibu dan Bibi.


"Good morning Bunda dan Bibi. Boleh kah Aygul membantu?" tanya Aygul di depan mereka berdua


"Silahkan sayang, Ayo bantu bibi mengupas pisang agar cepat selesai. Dan bibi kalau begitu bantu ibu menyiapkan nasi goreng nya ya''


Beberapa saat kemudian, pisang 1 cengkeh telah selesai di kupas. Bibi dan Bunda telah selesai mempersiapkan bumbu dan bahan nasi goreng.


Tiba-tiba Dewi masuk ke dalam dapur. Dan mendekati Bunda.


"Tante boleh Dewi membantu disini? " tanya nya tanpa melihat Aygul. Gadia itu seolah-olah ingin mencari muka di depan Ibu Hafiz.


"Ohya sudah kalau tidak keberatan, Dewi panggang pisang Raja yang telah di kupas Kak Aygul ya?"


Aygul menunduk sambil mengupas wortel dan Nanas yang akan di jadikan acar oleh Bunda.


"Iya pasti tidak berat bunda, kan Dewi sehat!" jawabnya dengan enteng dan nada suara agak di tekan. Bunda tak menyadari perkataan Dewi.


Ohya saat bersama Aygul biasanya bunda memakai bahasa Inggris pun saat dengan Dewi tadi juga beliau menggunakan bahasa Inggris kecuali dengan si bibi.


Tangan Aygul yang sedang mengupas tiba-tiba berhenti sejenak mendengar perkataan Dewi. Ah mungkin Dewi tidak ada maksud apa pun dengan perkataannya. Katanya dalam hati. Lalu dia melanjutkan lagi pekerjaannya.


"Hmmm..dasar bule gak merasa ya kalau di sindir " kata Dewi dalam hati.

__ADS_1


"Bunda sudah selesai meracik bumbu, dan menggoreng telur. bibi tolong lanjutkan menggoreng nasi nya ya. Jangan lupa telur mata sapi nya di sajikan.Perut bunda mulas "


Bibi dengan sigap mengambil alih pekerjaan bunda. Tinggal mereka bertiga di dalam dapur. Dewi mencuri pandang ke arah kursi roda Aygul.


__ADS_2