
Matahari tampaknya masih malu-malu menyembulkan wajahnya di muka bumi. Kokok ayam jantan pun belum nyaring bersahutan. Dan suara adzan subuh baru saja terdengar. Aku menggeliat menarik tubuhku yang terasa kaku karena tidur semalam. Aku meraba samping ranjangku tak ku temukan keberadaan istriku.
"Hunie..hunie..where are you? Are you okey?!" kataku agak kuatir karena mencari keberadaan nya.
"Sayang, Iam here. Rest room!" jawab nya dari dalam kamar mandi. Aku mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi.
Aku segera membuka pintu kamar mandi yang masih menjadi satu di dalam kamarku.
"What are you doing baby?" tanyaku setelah berada di dalam bersama nya. Aku melihat air mata nya menetes membasahi pipinya yabg berwarna putih kemerahan. Aku terkejut mendapati istriku tiba-tiba menangis tanpa ku tahu sebabnya.
"Baby What happened?" cecarku lagi.
Dia menghapus air mata di kedua pipi nya.
"nothing ! "air matanya malah makin deras. Aku semakin kebingungan melihatnya.
"Hunie katakan mengapa kamu menangis? apa yang membuatmu sedih?"tanyaku pelan sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Aku merasa malu mengatakan padamu. Aku tak berguna huhuhu..." baru kali ini aku melihatnya menangis tergugu.
Aku melihat di sekeliling kami menyelidiki apa yang membuat dia begitu mudah meneteskan air mata. Sesaat kemudian aku melihat tangan nya menyembunyikan sesuatu. Aku menarik tangan nya namun dia berusaha menutupi nya dengan sebelah tangan nya.
Aku membelai nya perlaham lalu aku mengisyaratkan nya untuk membuka telaapk tangan nya.
"What is this?"tanyaku.
"Hiks..hiks this is sanitary towel !"jawabnya sambil meremas benda yang masih di genggamannya. Aku segera membuka genggaman tangan nya.
Aku melihat sebuah plastik kecil sepertinya berisi kapas yang terbalut dengan lapisan plastik.
Lalu dia menjelaskan jika dia sedang mengalami datang bulan yang setiap bulan rutin menyambangi wanita. Aku tersenyum melihat nya menunduk dan mengelus lagi kepalanya.
"Why are you crying this normal dear any woman is going to get menstruation or period" kataku menenang kan.
Dia semakin terisak dan menunduk.
"I'm ashamed that I can't change her own pads. Biasanya Anne yang membantu ku mengganti nya" jawabnya pelan
"Oh my God dear, Iam yours. why you ashamed?Aku ini suami sah mu kenapa harus malu? aku bisa membantu mu sayang. Kemarikan pembalutnya" perintahku antara merasa geli dan sedikit berdebar.
__ADS_1
Sejujurnya memang aku belum pernah menyentuh tubuh istriku lebih dari sekedar membelai dan menciumnya.
Namun jika aku harus membantu istriku maka aku harus menguatkan iman dan imron ku dulu hehehe....
"Apa kamu tidak merasa jijik?" katanya lugu
Aku terkekeh mendengarnya yang malu-malu
"No baby! come on ! oh wait minute, aku mau sholat subuh dulu ya setelah itu aku akan membantu mu mengganti pembalut itu" Secepat kilat aku segera ber wudhu dan melaksanakna sholat terlebih dahulu.
Setelah selesai aku masuki kamar mandi lagi dan melihatnya kesulitan melepas piyama tidurnya. Dengan sigap aku membantu nya melepaskan nya perlahan. Semburat warna merah terpancar di raut wajahnya yang cantik. Tak tahan aku segera memberinya satu ciuman di bibir merahnya.
Dia memukul pelan bahuku sambil menunduk.
Lalu aku mengangkat tubuhnya untuk duduk di closet dan dia sendiri yang membersihkan bagian sensitif tubuhnya terlebih dahulu. lalu mengeringkan nya dengan handuk kecil. Lalu aku menggendong tubuhnya ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Aku menanyakan nya bagaimana cara memakaikan barang tersebut dia menerangkan dengan detail, aku mengikuti instruksi darinya dengan cermat lalu memasang kan di tempat yang seharusnya.
Keringatku menetes berbulir seperti biji jagung. Karena baru kali ini aku melakukan hal seperti ini dan aku pun harus sekuat tenaga menahan hasratku yang menggelegak seperti gunung berani yang siap meletus. Rasa berdebar di dadaku mempengaruhi getaran di tanganku. Aku melirik ke wajah istriku yang memalingkan wajahnya dan terpejam.Dia pasti malu juga karena hal ini adalah hal pertama juga yang di alaminya bersentuhan secara intim dengan seseorang lawan jenis namun sekarang hal itu malah menjadi halal .
Aku membutuhkan waktu 20 menit untuk menyelesaikan tugas ku yang sungguh sangat menguras emosiku. Hahaha...emosi karena menahan debaran hati yang tak karuan. Sabar ya duhai hati dan nafsu ku kataku sendiri.
-----------------------
"Selamat pagi Pak Hafiz, Mr Fangfang sudah berada di ruang meeting" sapa Ira ketika aku sampai di depan ruang kerja ku.
"Pagi Ira. Baik sebentar lagi saya akan naik ke atas" jawabku sambil membenahi jas biru dongker pilihan istriku yang membalut tubuhku.
Setelah mengambil berkas yang tadi di siapkan Ira di meja ku, aku keluar menuju lift untuk menuju ruang meeting, sebelumnya aku telah memerintahkan Ira untuk menghubungi Aldo agar mendampingiku bertemu dengan Mr Fangfang.
Lift telah sampai di depan ruang meeting lalu aku segera mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruang kaca tersebut. Ku lihat Mr Fangfang hanya datang berdua saja dengan Dewi. Disana sudah ada satu manager operasional ku Pak Gandi.
"Hallo Good morning Mr Bram. Maaf mengganggu waktu anda pagi ini. " Kata Mr Fangfang sambil berdiri dan menjabat tanganku
"Morning Mr Fangfang, oke never mind. What happend Mr Fangfang apakah ada kendala di dalam pelaksanaan kerjasama kita?"tanyaku to the point karena aku ingin segera menyelesaikan masalah dengan cepat.
Tak berapa lama Aldo mengetuk pintu kaca
" Silahkan masuk Pak Aldo" perintahku
__ADS_1
Laki-laki dengan tinggi 175 cm dan berperawakan atletis itu segera memasuki ruangan.
"Baik lah karena Pak Aldo sudah berada disini. Silahkan Mr Fangfang untuk menyampaikan hal yang mengganggu anda" jawabku setelah kami semua duduk di tempat masing-masing. Aku melihat Dewi yang sedang mencuri pandang denganku. Dia memakai setelan blazer pink plus mini rok berwarna putih gading . Kancing kemeja nya telah di buka dua.
Hmmm...makin berani saja cara berpakaian nya. Ah bodo amat dia bukan karyawanku, Jika dia salah satu karyawanku pasti sudah di panggil oleh salah satu staf HRD di kantorku. karena aku sudah menerapkan standar berpakaian seragam bagi semua karyawan yg rapi dan sopan.
" Begini Mr Bram, salah satu kolega kita ada yang membatalkan kerjasama nya karena mereka mendapatkan produk yang lebih tinggi margin nya. Dan yang sangat di sesalkan dia adalah salah satu client yang berani menginvestasikan dana nya sangat tinggi pada kita. Kecuali jika Mrs Nova mau bernegosiasi dengan mereka." Kata Mr Fangfang.
" Sebentar Mr Fangfang, apa hubungan nya Mrs Nova dengan calon investor kita?" tanya Aldo heran. Untuk saat ini aku cukup mendengar alasan Mr Fangfang terlebih dahulu.
"Karena Client tersebut dulu mempunyai hubungan khusus dengan saya Pak Aldo. Dan hanya saya yang mengetahui sisi kelemahan nya. " Jawab Mrs Nova sambil memandangku.
Aldo melihatku seolah meminta pendapatku.
" Apakah anda sendiri mau membantu untuk memuluskan plaining kita seperti semula?" tanya Aldo tajam ke arahnya. Mr Fangfang tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jika ada keuntungan untuk saya, pasti saya akan mendukung semua kebijakan kerjasama kita. " jawabnya sambil menyilangkan kali kanan nya menumpang ke kaki kiri nya yang jenjang.
"Owh anda mau minta kompensasi secara pribadi maksudnya?" tanya Aldo lagi. Aku akui sebenarnya Aldo adalah salah satu pegawai andalanku.
"Ya tidak bisa di bilang kompensasi pribadi Pak Aldo Saya hanya membantu saja jika tidak setuju tidak mengapa." Jawabnya sambiln tersenyum.
Kenapa aku merasa ada permainan licik di bisnis ini. Feelingku segera bermain dengan logika. Kontrak kerjasama kami bernilai milyaran rupiah dalam setahun dan kerjasama ini berlangsung dalam jangka waktu yang lumayan lama. Jika client kakap mu itu benar-benar mengundurkan diri dari kerja sama sudah bisa di pastikan kerugian akan terjadi padaku. Karena aku sudah mulai menyetok bahan baku untuk produk yang akan di produksi sesuai request mereka.
Aku harus tenang menghadapi situasi ini aku tidak boleh gegabah menjadikan alasan ini untuk panik.
" Kompensasi apa yang akan kamu minta" tanya ku pelan namun tegas.
"Kami sebagai negosiator meminta tambahan fee untuk kami" jawab Mr Fangfang.
Hmmm.... jadi intinya mereka berdua ingin mencari tambahan keuntungan dari kesepakatan kami kemarin.
"Dan saya meminta salah satu staf saya bisa mendapatkan tempat di kantor ini untuk mengawasi pekerjaan para pekerja produksi anda agar tidak terjadi kesalahan dalam memproduksi pesanan" lanjut Mr Fangfang.
" Berapa persen fee yang anda minta ?" tanyaku cepat.
"Hanya 10% dari omset Mr Hafiz!" jawabnya santai
"Gila ! itu tidak bisa Mr Fangfang! karena kita akan kehilangan margin dengan cara seperti itu. Harga yang kami tawarkan sudah sangat rendah dengan diacoun tinggi. Jika anda meminta kompensasi sebesar itu kami keberatan" kata Aldo kesal
__ADS_1
Aku harus membuat keputusan agar Mr Fangfang tidak semakin merasa di atas angin.
"Beri saya waktu saya berpikir dan akan kami meetingkan besok. 2 hari lagi akan saya kabari hasil meeting nya." jawabku sambil memandang tajam wajah Dewi.