
Aygul membisikkan sesuatu di telingaku
" Sayang, sebenarnya sejak berobat di Jerman aku telah merasakan sedikit rasa di kaki ku. Namun entah kenapa untuk bergerak aku tidak mampu."
"Baiklah, nanti utarakan semua yang kau rasakan pada dr Zenab ya. "Jawabku sambil terus membelai punggung tangannya.
Setelah dr Syam meletakkan ponselnya beliau mengajak kami ke poli Neurology yang terletak di blok sebelah gedung ini. Tidak begitu jauh kurang lebih 500 meter saja kami sudah sampai. Poli Neurology ini ternyata sudah penuh dengan pasien yang kurang lebih senasib dengan istriku. Beberapa orang ku lihat seperti habis terkena stroke. Bahkan ada usia nya lebih muda dari istriku. Ada anak kecil yang memakai penyanggah kaki sedang di gendong ayahnya. Dia menangis tersedu-sedu takut melihat Suster yang memanggil namanya.
Dr Syam menyapa suster dan tak lama kemudian suster mempersilahkan masuk ke sebuah ruangan khusus dokter.
Kami menunggu sambil membicarakan terapi yang telah di jalani Aygul di Jerman dan Istambul. Dr Syam tampak serius mendengar cerita Baba Farouq.
Setelah 30 menit masuk lah seorang wanita memakai jas putih dengan hijab hitam.
"Assalamualaikum. perkenalkan saya dr Zaenab" Kata wanita bersahaja itu. Kami bersalaman satu persatu.
" Baik lah dr Syam sudah menceritakan tentang Mrs Aygul saya akan melihat rekam medis nya terlebih dahulu. Ohya agar lebih nyaman mari kita masuk ke ruang kerja saya saja" kata beliau sambil mengajak kami kelaur darisitu.
Kami berjalan mengekori langkahnya kemudian masuk ke sebuah ruangan agak besar di sudutnya terdapat satu ranjang besi dan beberapa peralatan yang tak ku mengerti. Mungkin jika Zein bersama kami dia akan antusias menjelaskan. Berhubung Zein tadi ada meeting di Rumah Sakitnya maka dia tak bisa mengantarku.
Setelah duduk dr Zaenab segera membaca rekam medis Aygul.
"dr Zaenab anda yang lebih berkompeten menangani kasus Mrs Aygul. Dan saya hanya bisa membantu saja. Dan Untuk keluarga Pak Bramantyo anda sudah tepat untuk berkonsultasi pada dr Zaenab yang keahliannya tidak dapat di pungkiri seluruh dokter spesialis neurology di Indonesia sudah mengacungi jempol untuk beliau"
Kata Dr Syam tanpa bermaksud lepas tangan. Karena memang kasus ini sangat berkaitan erat dengan Neurology.
"Hahaha...dr Syam terlalu berlebihan bismillah kita ikhtiar bersama ya Pak Bram. "
Lalu dr Zaenab berjalan mendekati istriku. Beliau memeriksa kedua kaki nya kemudian di ayunkan ke depan dan ke belakang. Kami semua hanya terdiam sambil melihat. Kemudian dr Zaenab berbicara sebentar dengan dr Syam.
"Jika saya simpulkan Mrs Aygul menderita cedera syaraf tulang belakang yang di sebabkan karena kecelakaan nya yang mengakibatkan trauma pada syarafnya. Apakah terapi yang di berikan di Rumah Sakit terdahulu telah di jalani sampai tahap akir?" tanya dr Zaenab padaku.
Karena aku tidak mengetahui sejauh apa terapi nya maka aku juga menanyakan pada Aygul. Dia menjawab sudah menjalani terapi bahkan pernah dengan kejut listrik. Namun belum membuahkan hasil yang nyata. Sampai dia pun bosan meminum obat analgesik dan vitamin yang di berikan hampir tiap kali dia terapi.
Dr Zaenab mencatat semua keterangan Aygul.
" Pak Bram, dan semuanya saya permisi dulu kembali ke ruangan karena perawat saya barusan menelpon saya " Dr Syam meminta ijin kepadaku. Lalu aku berdiri mengantarnya.
"Baiklah dr Syam terimakasih banyak atas bantuan dan waktunya. Setelah selesai saya akan ke ruangan dr Syam lagi" kataku sambil menjabat tangan beliau. Lalu dr Syam keruangan.
Setelah aku kembali ke dalam, dr Zaenab masih tampka bercakap-cakap dengan Baba dan Aygul.
"Begini Bapak-bapak, setelah saya mendengar dan membaca rekam medis dari Mrs Aygul maka untuk saat ini saya baru menganalisa saja. Saya akan menyarankan untuk CT Scan dan MRI lagi setelah itu check darah dan hasilnya akan kita lihat setelah itu saya baru bisa mengambil tindakan terapi apa yang harus saya berikan pada Ny. Aygul. Untuk check up nya bisa di mulai besok saya akan memebrikan surat rujukan nya."
Setelah aku menerima surat rujukan dr Zaenab. kami semua berpamitan untuk pulang dan akan kembali besok.
"Pak Bram jika anda tidak bisa pagi hari ke Rumah Sakit ini, Saya juga praktek malam di Rumah Sakit Lentera Kasih di pusat. Ini kartu nama saya jika ada pertanyaan yang berhubungan dengan Mrs Aygul" katanya sebelum kami berpisah.
Kami semua keluar dari ruangan dengan penuh harapan untuk kesembuhan Aygul.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat kaminkeluar dari Rumah Sakit sudah masuknjam makan siang. Aku mengajak mertua dan istriku untuk mampir ke restoran ku. Untuk menikmati sajian khas negeri ginnseng.
Pak Man segera melarikan mobilku ke arah restoran. Lalu aku kepikiran untuk menelpon kedua iparku agar menyusul kami ke restoran. Aku meminta Ujang mengantar mereka kesini.
Tak lama kemudian kami telah dampai di restoran dan sambil menunggu Emran dan Mustofa datang aku menyuruh Aygul untuk memesankan menu makanan.
"Baba dan Anne setelah dari restoran nanti kita akan melihat rumah di sebelah rumah Ayah. Jika memungkin kan sesegera mungkin akan kami tempati. "
__ADS_1
Baba Murad tampak terkejut mengetahui aku memiliki rumah sendiri.
" Wow kamu sangat beruntung nak memiliki suami yang sangat baik dan perhatian selain itu dia juga orang yang sukses" katanya tanpa malu-malu.
Aku tersenyum mendengar perkataan nya.
" Hanya sebuah tempat tinggal yang kecil Baba, yang penting terhindar dari panas dan hujan"
Sesaat kemudian dua orang pramusaji mengantarkan beberapa minuman. Aku menyuruh salah satu dari mereka mengantarkan ke meja Pak Man. Di saat kami sedang asyik bercakap-cakap ponselku berbunyi
Aku meminta ijin pada mertuaku untuk mengangkatnya.
Aku melihat nomer kantorku memanggil.
" Selamat siang Pak. Maaf mengganggu waktunya. " Kata Ira sekertarisku.
" Selamat siang, ada apa Ira?" tanyaku
"Pak Hafiz, Mr Fangfang meminta ijin untuk bertemu Bapak besok pagi. Ada hal penting yang harus segera di bicarakan" jawabnya
Aku menghela nafas dengan kasar. Ada sedikit rasa kesal dalam hatiku.
" Apa Aldo tidak bisa menghandle pekerjaan saya? Dan apakah kamu tidak mengatakan saya sedang cuti?" cecarku kesal.
" Maaf Pak sudah saya katakan namun Mr Fangfang bersikeras untuk bertemu besok. "Kata Ira dengan nada seperti rasa takut.
" Baiklah besok saya tunggu kedatangan nya pukul 08.00 wib tepat dan hanya 1 jam saja saya bisa mentoleransi waktunya. Karena ada hal yang lebih penting yang harus saya kerjakan" akhirnya aku memutuskan untuk menemui Mr Fangfang dan aku harus menggeser waktu terapi Aygul.
Setelah memasukkan ponselku ke dalak saku kemeja aku kembali ke tempat duduk ku. Emran dan Mustafa ku lihat sudah hadir di tengah-tengah mertuaku.
"Siapa yang menelpon mu sayang?"tanya Aygul penuh selidik.
Dia tersenyum sambil memegang telapak tanganku.
"Its okay. Aku bisa datang sendiri jika kamu ada urusan kantor" jawabnya
"No! Kamu belum familiar dengan kota ini Hunie. Aku takut kamu tersesat dan lagi.bahasa Indonesia kamu masih belepotan. Aku takut nanti kamu kesulitan berkomunikasi. Tunggu lah sampai aku kembali okay" jawabku.
Dia mengangguk pasrah. Kemudian makanan sudah tersaji semua di meja kami. Aku mempersilahkan keluarga mertuaku untuk menikmati makanan ini. Ujang dan Pak Man pun telah menikmati makan siang mereka dengan lahap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ponselku kembali berbunyi kali ini kulihat notifikasi sebuah pesan dari nomer yang tak ku simpan.
Selamat makan siang🥰😘
Aku menoleh mencari seseorang yang mengirim pesan ke ponselku. Namun tak ku temui sosok yang ku kenal di restoranku
Ah siapa lagi ini mengganggu makan siangku. Lalu aku tak memperdulikan sama sekali.
Setelah makan siang kami semua kembali ke kediaman orang tuaku.
Aku mengambil kunci rumahku yang aku simpan di dalam laci kamarku.
Lalu aku menelpon Pak Hartono mandor yang membangun rumahku. Ternyata dia berada di dalam rumah mengawasibpara tukang dan kulinya bekerja.
Aku mengajak mertua dan iparku untuk melihat kondisi rumahku.
Aku hanya melangakah beberapa meter saja umtuk sampai menuju halaman rumahku. Pak Hartono menyambutku dengan ramah.
__ADS_1
" Siang Pak Hartono, sejauh mana pengerjaan rumah saya?Ohya perkenalkan ini mertua dan kakak ipar saya. " kataku padanya
" Siang Pak, Wah kapan Bapak menikah saya baru mendengar berita bahagia ini. Selamat ya Pak atas pernikahannya" kata Mandor Hartono sambil menjabat tanganku
Aku mengucapkan terimakasih. Lalu dia menjelaskan jika pengerjaan nya sudah selesai dalam 3 hari ke depan. Cat dinding sudah rapi di kerjakan tinggal penepatan furnitur saja . Beberapa furnitur memang sudah aku beli dan aku masukkan ke dalam kamar yang aku kunci. Sofa dan kichen set pun telah terpasang rapi. Tinggal ranjang yang belum di stel sama tukang.
"Okeh Pak Har, insya allah minggu depan akan saya tempati untuk pertama kali."
" Baik Pak akan kami pasang semua furnitur dan perabotan yang lain sehingga minggu depan bapak bisa tinggal disini" aku tersenyum senang. Lalu aku mengajak mertuaku untuk visit tour pada setiap ruangan.
------------------------------
Di sudut coffe shop dua orang gadis sedang menikmati dua gelas kopi hitam. Salah satu gadis itu tampak menyelipkan sebatang rokok di bibirnya yang merah merekah.
"Apa benar yang kau sampaikan tadi ?" tanya gadis berkacamata. Gadis berambut panjang bergelombang itu mengangguk kan kepala dengan lemah.
"Benar, dia sudah menikah dan apa kau tau siapa istrinya?" tanya nya lagi.
"Seorang wanita asing. Dan lumpuh!" jawabnya dengan kesal.
Gadis berkacamata itu tampak terkejut mendengar penuturan lawan bicara nya.
"Apaa! lumpuh? kok bisa?" katanya hampir memekik. ..
"Stttttt....pelankan suaramu! Atau kamu sengaja menarik perhatian pengunjung lain?" serunya kesal sambil menyilangkan telunjuk ke bibirnya.
"Ehmmm maaf aku sangat terkejut "katanya lirih. Kemudian gadis di depan nya tampak menghembuskan asap rokok yang di hisapnya.
"Apa yang di lihat dari wanita itu? walaupun dia cantik tapi dia cacat. Dia gak bakal bisa kasih kebahagiaan dalam hidupnya. Dan aku tadi memergoki mereka sedang makan siang bersama dengan mengumbar kemesaraan di depan orang tuanya"
Gadis berkacamata itu tertawa pelan
"Apa kamu cemburu? bukan nya kamu hanya teman kecil nya saja. Tak ada jalinan istimewa pada kalian kan?"
"Ih Suzan. Kamu menyebalkan sekali. Coba deh jangan mentertawakan aku. Aku ini cinta sama dia! Memang aku dan dia tak ada ikatan apapun. Tapi sejak kecil dia selalu membela aku ketika aku di bully
Dan sejak saat itu aku selalu berharap kelak akan menjadi istrinya!"tutur gadis yang tak lain adalah Dewi.
Suzan yang menjadi teman minum kopi nya saat itu hanya bisa tersenyum geli mendengarkan ocehannya.
"Iya itu kan dulu Dew. Ingat sekarang dia milik orang lain. Dan kamu harus melupakan nya" jawab Suzan mencoba menasehati Dewi.
"Ah percuma curhat sama orang yang gak pernah jatuh cinta. Kamu gak peka sama sekali Zan!"
"Bukan aku tidak peka. Tapi aku sangat sadar jika orang yang kamu cintai itu salah alamat. Kamu kan sudah tau dia beristri jadi kamu harus melupakan nya. Kamu bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih dari nya Dew" kata Suzan lagi
Dewi menghembuskan nafas nya bersama dengan asap rokok yang di hisapnya.
Entah sejak kapan gadis itu mulai bercumbu dengan barang itu.
"Tapi dia memang mempesona dari dulu Zan. Kamu aja belum pernah ketemu orang nya coba kalau udah ketemu Pfuih..bakal klepek-klepek deh. Kayak nya aku harus mencari cara agar dia bisa melirik aku!" tegas nya lagi
Suzan menggelengkan kepala nya karena sudah memyerah menasehati teman nya.
"Lalu apa rencana mu?"katanya
"Besok aku akan mengikuti Mr Fangfang ke kantornya untuk urusan bisnis. Aku tahu Mr Fangfang punya tujuan tertentu padaku demi kemajuan bisnis nya" Dewi mematikan rokok terakhir nya.
"Dan aku akan meminta Mr Fangfang untuk menempatkan aku di dekat Mas Hafiz biar pepatah witing trisnonjalaran soko kulino itu benar-benar terjadi pada Mas Hafiz."
__ADS_1
"Ampunn deh kamu nekad ya Dew! gak tau lagi aku harus ngomong apa sama kamu" Suzan bergumam lirih.