Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Tangisan perpisahan


__ADS_3

Acara pengajian calon pengantin Pria telah selesai, tinggal acara inti akad nikah besok pagi sekitar pukul 09.00 waktu setempat di kediaman Pak Birendra. Pak Yahya terlihat letih karena sedari tadi mengikuti rangkaian acara anak sulungnya.


" Abi istirahat saja di kamar, nanti Zein sama Ibrahim yang akan membereskan semuanya. " tutur Zein pad Ayahnya lembut ketika melihat keletihan di wajah tua itu.


" Iya Bi, Baim masih kuat kok untuk bersihkan rumah ini jadi kinclong lagi. " canda kembaran Sarah itu semata untuk menenangkan ayahnya.


Paman Danu masuk membawa sebuah bingkisan berukuran satu meter tinggi nya. Namun terlihat tipis dan teebungkua rapi dengan kertas kado berwarna putih dengan pita merah cabe.


" Apa itu Dan? " tanya Pak Yahya pada adik kandung nya yang kebetulan ikut datang kemarin bersama nya.


" Ini kiriman buat Zein, tadi ada kurir yang mengantar" jawabnya sambil menyerahkan kado itu pada keponakan nya.


Zein menerima kado tersebut dan menyandarkan nya di dinding. Baim penasaran dengan isi di balik bungkus kado itu. " Buka dong Mas " pinta nya.


Pak Yahya mendelik ke arah anaknya yang dianggapnya terlalu kepo pada urusan kakaknya. Dan Baim seperti nya mengerti isyarat mata Abi nya sehingga dia hanya tersenyum sambil memainkan sudut bibirnya ke atas dan ke bawah, memang itu bocah sering kali bikin orang tua geregetan.


" Simpan dalam kamar mu saja Zein, buka besok dengan istri mu. Tapi lihat dulu siapa pengirimnya agar kamu bisa membalas kebaikan nya kelak" nasehat Pak Yahya pada anak kesayangan ya.


Zein kemudian membuka sepucuk amplop putih yang tersemat di atas nya dengan perlahan.

__ADS_1


Ternyata dari Para sahabat nya di luar negeri, dan akhirnya dia pun tergoda memBINGKISANkisan itu. Senyum nya merekah ketika melihat foto saat dia wisuda dan foto mereka berlima termasuk Hafiz di dalam nya sedang berada di pesisir sungai Nil menikmati sunset.


Air matanya tiba-tiba jatuh menetes tanpa terkendali, dia teringat beberapa tahun silam saat keadaan finansialnya belum seperti ini. Hampir semua teman nya tak mempermasalahkan, dan saling suport untuk menunjang belajar nya. Entah apa jadi nya Zein jika dulu Hafiz tak mengajaknya tinggal bersama dalam satu apartemen. Mungkin dia tinggal di klinik kecil milik Syam yang memang menyediakan satu bed kecil dan satu lemari kecil untuk penja huuhga klinik.


Andaikan dia tak bertemu Hafiz, Emir dan kawan-kawan lainnya sudah pasti dia akan kesusahan mengerjakan kuliah nya. Jujur saja dia terbantu sekali dengan fasilitas yang di sediakan Hafiz namun dia juga merasa berhutang budi. Padahal Hafiz dan keluarga nya tak pernah menghitung-hitung apa yang telah mereka berikan dengan ikhlas.


" Tak di sangka keluarga yang telah banyak berjasa membantu mu saat kuliah dulu akhirnya menjadi keluarga mu juga ya le. " kata Pak Yahya


" Iya Abi, Zein seperti bermimpi bisa mempersunting putri sulung keluarga Birendra yang baik dan sholihah" jawabnya malu.


Pak Yahya akhirnya menyuruh Zein untuk segera bergegas untuk tidur agar besok bisa fresh dan siap menghadapi penghulu.


"Sarah saya kecewa pada kamu dan Bude, kenapa hal seperti ini kalian sembunyikan, dan ketahuilah Sarah jika sampai kapan pun aku akan menunggu Mas Zein" gumam Iqlima sambil berurai air mata kesedihan.


" Ning, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Bukan maksud kami menyembunyikan hal ini pada Ning, kami sudah menyampaikan pada Keluarga besar Ning, dan mohon doa restu pada Abah Kyai sebelum Mas Zein melamar calon istrinya"


Iqlima makin tergugu mendengar penuturan gadis itu, dia tak menyangka kalau Abah dan Umi nya akan menyembunyikan semuanya tentang Zein. Padahal mereka pun tahu kalau hatinya masih mencintai dokter tampan itu. Dia seperti tak memiliki harapan hidup saat ini dan terakhir kali nya dia pun rasanya hilang kepercayaan pada orang tuanya.


Dulu saat menerima Gus Rifky dia hanya berharap jika suatu hari nanti setelah Zein benar-benar sudah mapan dia akan meminta pada orang tuanya untuk memutuskan pertunangan nya. Dia akan memperjuangkan lelaki pilihannya. Tapi ternyata cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan saja. Dia tak di cintai dan tak di inginkan oleh Zein.

__ADS_1


Hatinya patah dan hancur berkeping-keping, rasa cinta nya itu terlalu menyakitkan. Jika saja dia tahu Zein akan menikah besok pasti dia akan pergi ke Jakarta tadi pagi atau sore tadi untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka.


Namun apa daya dia tahu malam ini dan besok pagi kalau pun dia nekad kemari juga tak mungkin karena dia tak pernah tahu alamat rumah dinas Zein. Dan kalau pun Sarah memberi tahukan nya saat ini tetap saja Zein tak akan pernah mengubah keputusan nya untuk menghentikan pernikahan nya karena sekarang dia tahu Zein tak pernah mencintai nya seperti dia mencintai lelaki itu.


Dan keluarga besar nya pun menutup mulut dan menutup mata akan hal ini. Dia menangis menyudahi percakapan nya dengan Sarah, dan membuat perasan gadis itu makin bersalah karena dulu dia pernah membantu ibu nya merayu Iqlima untuk menerima Gus Rifky.


Sarah ingat ketika Umi nya mengatakan pada Iqlima hal ini " Ning Iq, Bude sebenarnya sayang sekali sama Ning Iq, apalagi dari Kecil Bude yang mengasuh Ning dengan tangan Bude sendiri, keinginan Bude melihat Ning hidup bahagia dan terjamun dengan Gus Rifky" Umi menggenggam tangan Iqlima.


Sejak balita memang Umi Zein mengasuh Iqlima, bahkan dia sering di ajak tidur siang di rumah Zein sambil bermain dengan Sarah. Dulu Bu Nyai sering kali sakit vertigo dan hilang keseimbangan tubuhnya kadang tiba-tiba pingsan karena anemia. Sejak melahirkan Iqlima memang kondisi kesehatan Abah Hisyam itu kurang baik, sebenarnya saat hamil anak ke lima yaitu putri satu-satu nya usia tidak muda lagi.


Usia 43 tahun dan melahirkan untuk ke lima kali nya dengan normal. Saat melahirkan Iqlima Bu Nyai sempat mengalami pendarahan dan pingsan. Rupanya beliau mengalami preklamsia. Sejak saat itu Abah meminta tolong pada Umi Zein untuk ikut membantu mengurus bayi kecilnya. Dan saat itu Umi belum hamil si kembar.


Dan jarak usia Zein dan si kembar cukup terpaut jauh yaitu 6 tahun. Jadi Saat Iqlima berusia satu tahun Zein sudah berusia 4 tahun dan dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri ketika sang Ibu mengasuh putri sang Kyai.


ketika Iqlima berusia tiga tahun baru lah Umi hamil si kembar. Dia merasa bersyukur karena mengasuh putri cantik itu seolah mendapat kan berkah memiliki anak kembar. Rasa sayang Umi ke putra putri nya setara dengan rasa sayang nya pada Iqlima. Karena itu Iqlima menjadi manja dan sering meminta perlindungan pada Umi jika dia sedang di hukum oleh Umi nya sendiri.


Iqlima menangis sambil menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Matanya sudah sembab dan bengkak mengakibatkan ingusnya ikut meleleh mengalir ke mulutnya. Rasanya ingin marah sama semua orang di rumah ini. Marah dengan Bude, Pakde dan Sarah. Dia merasa di bohongi dan di tinggalkan.


Lalu terbersit niat dalam hatinya untuk kabur meninggal kan rumah sebelum waktu subuh nanti dia akan nekad berangkat ke Jakarta untuk menemui Zein. Untuk terakhir kali dia ingin menangis di hadapan Zein dan menyatakan perasaannya yang sejak dulu tersimpan rapi di hatinya. Dia tak perduli jika nanti Zein akan menolak dan resiko nya dia akan malu yang penting dia telah mengungkapkan perasaan nya pada lelaki itu.

__ADS_1


Kemudian dia bangkit dari rebahannya dan berjalan ke arah lemari pakaian nya. Dia mengeluarkan beberapa helai baju gamis dan hijab nya tak lupa dia membawa beberapa lembar uang cash simpanan nya selama ini.


__ADS_2