Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Telpon pertama


__ADS_3

Malam ini aku sudah bertekad untuk menghubungi Aygul lagi. Aku ingin mendengar suaranya ingin merasakan getaran yg sama seperti 4 tahun yg lalu. Aku harus sepenuhnya menjadi laki-laki yang Gentlement bukan laki-laki yg cuma bisa merindu tapi tak pernah ada usaha utk membuat rindu itu bertemu.


Kantuk yg sudah sejak isya tadi menyerang tiba-tiba menjadi hilang. Aku melihat jam dinding lagi dan tepat jarum pendek angka 7 dan panjang nya menunjuk angka 12 aku segera memencet nama Aygul.


Tuuut.... tutttt.. tttttuuuuit


Tak ada sahutan.


Aku coba sekali lagi mungkin dia masih makan malam atau entahlah masih ada sibuk yang lain.


Tak lama kemudian nada sambung dan..


" Hallo.. Assalamualaikum.."


Ya Tuhan, suara itu terdengar sangat merdu terdengar sangat indah di gendang telingaku


" Waalaikum salam. Apa benar ini Aygul Dilara Burcu? " setengah mati ku tahan rasa berdebar ini.


" Iya Hafiz, Aku Aygul. Apa kabar mu? apakah kau tak mengenali suaraku lagi? " jawabnya dengan nada rendah.


Mungkin jika di dekatku akan terlihat wajah murung mu itu sayang. Batinku dalam diam


" Hafiz.. Hafiz apakah kau masih disitu? " katanya dengan nada di tekan. Aku tergeragap dan segera menjawab


" Hmm.. iya.. iyaa, Kabar baik. Untuk memastikan saja apakah benar itu dirimu karena itu aku menanyakan lagi" Jawabku lagi


" Hafiz, bisa kah kita video call? jika kau tak keberatan" pinta nya. Aku segera mengiyakan dan segera mengganti mode telpon dengan video call.


Rasanya penasaran dengan wajah nya sekarang apakah dia masih Aygul yg sama dengan Aygul ku yg dulu.


" Ya Tuhan Hafiz kamu semakin tampan. Dan terlihat lebih matang! " Katanya langsung tanpa basa basi. Ah gadis Turki ini sering kali membuatku menjadi besar kepala.


" Dan Kau juga semakin cantik dan dewasa " Balasku memuji nya.

__ADS_1


"Aygul Aku ingin meminta maaf pada mu tentang sikap ku sebelum kita terakhir bertemu. Aku egois dan pengecut" kataku tak bisa menahan kesakitanku sekian lama.


Lesung pipinya terlihat cekung di kedua pipi nya. Matanya yg bulat berwarna biru semakin terlihat mempesona.


"Sudah lama aku memaafkan mu. Mungkin semua nya tak akan terjadi jika aku juga berani jujur padamu. Setelah sekian lama aku mencari mu akhirnya aku mendapat nomer mu dari Emir dan Abizar. Mereka berdua lah yg sangat mengerti semua kisahku. Karena kamu sudah tak mau tau lagi mengetahui kehidupan ku sebenarnya dan aku sudah ingin menyerah mencarimu" jawabnya sedih.


Aku melihat kesungguhan.di mata nya.


" Untuk apa kamu mencariku? " tanya ku penasaran.


" Dan untuk apa juga kamu menelponku ?" balasnya sambil tersenyum menggoda.


Aku menghela nafas berat.


" Aku berhutang penjelasan pada mu. Datang lah saat reuni akbar Universitas kita. Jika kau tak datang aku tak akan menjamin kita bisa bertemu kembali" kata Aygul dengan wajah murung dan nada yg sedikit memaksa.


"Insyaallah akan aku usahakan. Dengan hanya melihat mu begini hatiku sudah lega. Apalagi permintaan maafku telah kau terima" Kataku melembut.


" Hati manusia adalah segumpalan daging yg lembut. Jika batu yg keras saja bisa berlobang jika ribuan kali tertetesi air. Apalagi segumpal daging hina ini? " jawabnya kelu.


Baiklah aku rasa cukup perbincanganku kali ini. Dan malam ini akan menjadi malam yg tenang dalam tidurku setelah beberap tahun aku selalu memimpikan nya.


Kami menyudahi percakapan dengan janji akan bertemu lagi di video call selanjutnya.


Aku segera meletakkan ponselku ke nakas di samping ranjang besi ku.


📿📿📿📿📿📿📿📿📿


Waktu tak terasa berlalu dengan cepat, Aku sudah beberapa kali berhubungan dengan Aygul lewat telepon. Baik sekedar say hello maupun video call. Namun dia tak pernah sedikitpun menyinggung masalah perpisahan kami.


Memang aku juga belum berniat menanyakan lebih lanjut masalah itu karena aku masih ingin merasakan euforia di hatiku yang sudah bisa mendengar dan melihat wajah mantan kekasihku itu lagi walaupun hanya lewat dunia maya.


Aku hanya menanyakan kegiatannya sekarang setelah selesai kuliah. Dia bilang menjadi seorang dosen di salah satu universitas di Turkey. Setelah lulus S2 dan setelah putus dengan ku dia kembali ke negaranya dan mengabdikan diri di salah satu kampus swasta disana.

__ADS_1


Aku tak berani menanyakan kehidupan pribadinya. Apakah dia sudah menikah dengan pemggantiku, berapa jumlah anak nua, siapa suami nya. Entah lah aku tak berani menanyakan itu. Mungkin aku egois aku hanya ingin mengingat nya sebagai gadis bebas yg dlu pernah aku cintai titik. Dan dia pun tak menanyakan hal yg sama kepadaku. Mungkin dia sudah tau kehidupan ku setelah kembali ke Indonesia dari sahabat-sahabatku.


Dia berjanji akan menceritakan semua kisahnya pada saat kami bertemu 2 bulan lagi.


Entahlah sejak aku memulai komunikasi dengan Aygul semangat kerja ku semakin bertambah. Rasa percaya diriku mulai timbul kembali. Seolah-olah Aygul adalah Boster dari segala kinerja ku.


Pagi ini aku ada jadwal bertemu dengan Mr Frans dari Singapore. Dia ingin menjajagi hubungan kerjasama dengan perusahaanku di bidang Kosmetik. Dia memiliki sebuah Agency model di Singapore yg terkenal dapat menjadi brand ambassadore produk di seluruh dunia. Aku sudah membaca curivulum vitae perusahaan miliknya.


Mr Frans sudah kerap bekerja sama dengan beberapa perusahaan baik di Indonesia maupun di negara Asia lainnya. Bahkan negara Eropa sudah mulai di rambahnya. Dia memang seorang Agency model yg sedang naik daun. Di tangan dingin nya sudah banyak menelurkan model berbakat yg sudah melenggang di paris, di New York dan London.


Baik lah karena aku mendengar reputasinya yg bagus itu aku segera mempersiapkan semua company profil perusahaan dan curiculum vitae ku.


Ya Aku lumayan bangga dengan kinerja seluruh staf perusahaan ku. Dengan kedisplinan dan kerja keras mereka perusahaan yg aku pegang sudah mulai di kenal di negara orang.


Aku juga sangat bangga pada Aldo dan Ira mereka berdua orang yg bisa kuandalkan. Aku tak segan-segan memberi mereka bonus yg berlipat jika mereka bisa meng goal kan suatu kontrak kerjasama untuk perusahaan.


Hari ini aku menyuruh Paman Asep untuk menyupiri mobilku. Memang kadang kala selain menjaga rumah Paman Asep juga merangkap menjadi driver ku jika aku bepergian keluar kota ataupun aku malas membawa mobil sendiri ke kantor.


Mobil telah membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Aku sengaja datang lebih awal karena aku tak mau membuat client ku menunggu dan merasa tak di hormati.


Waktu masih menunjukkan pukul 08.30wib. Aku segera turun dari mobil menuju loby kantor. Paman Asep aku suruh standby di tempat istirahat driver tersedia di dekat musholla kantor. Jadi sewaktu-waktu aku membutuhkan tenaga nya dia bisa langsung standby di luar.


"Selamat pagi Pak Bram" sapa Seorang security sambil membukakan pintu untukku


" Pagi Pak Hari. " Jawabku ramah sambil melangkahkan kaki ke meja resepsionis.


Seorang gadis memakai hijab putih dan memakai uniform kantor ku yg ber warna biru hitam tampak berdiri menyambutku.


" Selamat pagi Pak Bram. " sapanya sopan.


Memang di kantor ini hampir semua karyawanku yg berjumlah 30 orang ini memanggilku dengan Pak Bram, nama depanku. Hanya Ira dan Aldo yg memanggil ku dengan nama Pak Hafiz. Karena mereka berdua adalah orang terdekatku di perusahaan sejak perusahaanku berdiri 3 tahun yg lalu. Mereka termasuk karyawan loyalku


" Selamat pagi Diana. Ohya apakah Pak Aldo sudah datang? " tanyaku

__ADS_1


" Sudah Pak. Beliau sudah 15 menit yg lalu datang" jawabnya


Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih sebelum aku naik ke lift.


__ADS_2