
Aku sengaja memanggil.Izza sebelum berangkat keluar.
" Za, siapa si Elsya?" tanyaku pelan takut terdengar ibu. Bisa bahaya kalau terdengar beliau.
" Kok Mas Hafiz kenal Elsya? hayoo jangan-jangan..." katanya terkejut
Aku langsung menarik tangan nya mendekat sambil menempelkan jari telunjukku ke bibirnya.
" Sttttt....udah jangan berisik. Siapa Elsya?"
Aku mengurungkan niatku untuk berangkat ke kantor.
"Apaan sih Mas, kenapa dengan Elsya kok mas tau dia?" tanya nya penasaran. dan ku lihat di manik matanya tak ada unsur berbohong.
" Semalam dia telpon Handphone Mas. Dia bilang teman kamu yang kemarin bertemu di parkiran kampus. Kok dia bisa tau nomer handphone ku ? Kamu Za yang kasih dia?" tanyaku serius.
" Eitt apaan sih sumpah deh. bukan Izza mas, lagian ngapain Izza kasih nomer ke dia. Ogah! kan Izza tau mas udah beristri masa mau promosiin mas ke teman Izza!" dengusnya sewot.
Aku menepuk keningku sendiri lucu melihat wajahnya yang memberengut kesal.
" Bentar..bentar mas, aku tahu deh dia darimana dapat nomer telpon mas. Kemarin saat di kantin dia pinjam ponselku. Katanya mau telpon mama nya dan kehabisan pulsa. Hmmm pasti nih anak ngoprek-ngoprek phone book ku deh !" wajahnya makin kesal.
"Lha kok bisa dia ngoprek-ngoprek, emang kamu tinggal kemana saat dia pinjam telpon?" kataku lagi
"Izza lagi bayar makanan di kasir. Maafin Izza ya Mas ceroboh " katanya memelas.
Aku mengacak pucuk kepalanya dengan sayang.
" Ah sudah lah. Yang penting mas gak tanggepin. Biarin dia mau telpon berkali-kali gak mas hiraukan. Mas Kan punya yang lebih cantik kayak Barbie di Turki" kataku sambil tersenyum.
" Ceileee yang punya Barbie baru ni yee, sombong bin congkak!" cibirnya lucu
Aku mengacak-acak rambutnya Lalu aku segera mengambil kunci mobil di atas buffet.
" Mas berangkat dulu ya. Kamu nanti minta Mang Asep antarain aja ke kampus." pamitku.
Dia mengangguk lalu aku pun keluar menuju parkiran mobilku.
Dasar gadis bandel. Maki ku dalam hati..Walaupun penampilannya sangat menggoda namun di mataku hanya Aygul yang tercantik di dunia setelah ibuku.
✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾✌🏾
Malam ini aku mengajak keluarga ku untuk keluar makan malam di restoran baru ku yang sedang happening.
Sudah kebiasaan di keluarga kami setiap weekend akan selalu menyempatkan waktu berkumpul bersama untuk saling bertukar cerita maupun untuk sekedar mencari suasana baru di luar rumah.
Aku ingin menunjukkan gerai makanan yang merupakan bisnis baru yang ku rintis dengan para para cheff handal beberapa bulan ini.
Aku sudah berkali-kali mengajak orang tuaku makan ke tempat kuliner yang sedang happening namun baru kali ini aku mengajak ke restoran milikku sendiri.
__ADS_1
Sebuah restoran yang menyajikan masakan korea yang ku namakan
Seung Resto (artinya Restoran Kemenangan)
Aku membuat konsep resto modern yang bisa di kunjungi oleh penikmat kuliner dari semua usia dan kalangan. Dengan desain interior yang ku setting seperti berada di negara ginseng dan sengaja ku buat sangat instagramable Sehingga para anak muda yang sedang tergila-gila dengan grup Kpop bisa puas berfoto ria sambil menikmati berbagai macam hidangan ringan sampai berat.
mulai jajanan kaki lima yang sedang naik daun seperti tteokbokki, odeng, Hweori Gamja, Gimbab, Twigim dan Dakkochi (sate korea)
Aneka Ramen yang lezat juga menjadi andalan menu di restoran ku.
Aku sengaja mengajak Zein juga karena kasihan dia di Jakarta tak ada kerabat dekat. Toh sebentar lagi dia jadi bagian keluarga ku juga. Aku jadi teringat istriku. Ingin rasanya aku berkumpul bersama nya saat ini agar kebahagiaan kami semakin lengkap.
Saat sedang menunggu makanan yang kami pesan tiba-tiba seorang gadis menyapaku dengan suara renyah nya.
" Selamat malam Mas Hafiz, wah gak nyangka bisa bertemu disini. " sapanya. Ku perhatikan lagi gadis yang sedang menyapaku. Dia bersama dengan dua orang teman -teman nya. Owh ini kan si Dewi mantan tetangga plus sekarang jadi client ku.
Penampilannya yang sudah berubah ketika di kantor membuatku pangling lagi.
Dia mengenakan pakaian anak muda yang terlihat fashionable.
Dengan rok mini hitam ketat dan jaket kulit coklat ketat menempel menampilkan lekuk tubuhnya.
" Ohya Malam Dewi" balasku ramah.
Kedua orang tua dan adikku tampak heran melihatku mengenal cewek dengan penampilan aduhay ini.
" Hmm.pasti ini Om dan Tante Candra kan? dan ini Si kecil Izza. Selamat malam Om,tante dan Izza" dengan pede nya dia menyapa keluargaku. Zein menatapku tajam. Aku jadi belingsatan juga dengan tatapan matanya.
" Tante ini Dewi. Putrinya Pak Baskoro tetangga di Jawa dulu" jawabnya.
Ibu dan Ayah kulihat memengingat nama Dewi dan Pak Baskoro. Lalu Ayah yang langsung ingat sambil tertawa renyah.
"Iyaa sekarang Om ingat, gimana kabar papa dan mama kamu nak? sehat? " tanya Ayah
" Ayo kita gabung saja duduknya sekalian reuni" tawar ibu sambil tersenyum lalu menyuruhku memesan tempat duduk di privat room yang lebih luas di dalam.
Ah kacau nih makan malam hari ini , bisikku pada Izza. Namun Izza seolah-olah terlihat gembira melihat kedatangan Dewi.
Kami pindah ke dalam privat room yang telah ku pesan kepada manager restoran ku.
" Maaf tante apa Dewi tak mengganggu acara keluarga?" tanya nya agak sungkan tapi kulihat juga dia senang.
" Ah tidak. kan sudah lama kita tidak bertemu. Gimana ceritanya nak. Pindah kemana Pak Baskoro?" tanya Ayah.
"Keluarga kami semua di Palembang Om. Sejak Papa di mutasi kerja dulu, Papa akhirnya memilih tinggal di Palembang dan membuka usaha perkebunan kopi disana. Selain untuk mendekati Kakek dan Nenek disana. Karena Papa anak tunggal jadi tidak tega meninggalkan Kakek Nenek sendiri." ceritanya.
Lalu di saat mereka asyik bernostalgia dengan masa lalunya. Aku keluar sebentar untuk sekedar menelpon istriku. Aku merindukan nya malam ini.
Tiba-tiba ada Zein memanggilku ke dalam ruangan.
__ADS_1
" Ada apa?" tanyaku
" Ah ga ada apa-apa. cuma ga enak aja banyak cewek sexsy di dalam" katanya lucu.
Aku tertawa mendengar kepolosannya. Zein memang terkenal pendiam kalau urusan cewek.
"Kayaknya dia ada hati sama kamu Bro! aku lihat dari tadi matanya tak lepas memperhatikan mu. " katanya sambil meminum Omija tea yang masih mengepulkan asap.
Aku terkekeh saja mendengar celotehnya.
"Ah bisa aja kau ! Apa kau lupa pesona Bramntyo Hafizuddin saat di Kairo?" ledekku lagi. Dia mengibaskan tangan kanan nya sambil tertawa.
" Lho kok pada di luar sih, Ayo masuk Ayah mencari kalian" susul Izza di luar.
" Aku kan rindu istriku Za. Aku tadi mau telpon dia eh di Zein merecoki saja. Ya udah kita masuk dulu. Nanti saja di rumah aku telpon dia"
Kami bertiga masuk ke dalam ruangan lagi.
" Sory lagi ada telpon client." kataku berbohong di depan Dewi. Gak mungkin saat ini aku bilang telepon istriku bisa ramai nanti restoran.
Ayah dan Ibu mengangguk mengerti. Lalu kami semua menikmati makan malam yang telah kami pesan.
Setelah makan malam selesai. Dewi mulai berceloteh lagi.
" Tante boleh kan Dewi main ke rumah Om dan Tante?" tanya nya pada Ibu.
Aku diam saja tak menjawab karena aku juga tak ada hak melarang tamu berkunjung ke rumah orang tua ku.
" Iya silahkan nak. Pintu rumah kami terbuka untuk mu" jawab Ibu ramah.
Lalu setelah bertukar nomer telepon dengan kedua orang tuaku. Dewi pamit pulang terlebih dahulu karena kedua teman nya seperti ingin menghabiskan waktu di luar.
Saat perjalanan pulang, Izza mulai beraksi kembali.
" Mas kayaknya Kak Dewi sekarang lebih cantik ya daripada dulu" katanya
Ibu mencubit pipi Izza.
'' Hust! nih anak asal ya kalau ngomong!"
"Iya benar bu. Dulu Kak Dewi kan item dan rambutnya keriting kecil-kecil terus sering di kuncir gitu.Dia sering di bully dengan teman-teman dulu." Aku tersenyum mengingat memori Izza masih tajam
"Awas lho mas dari tadi dia ngeliatin mas terus, hati-hati tergoda!" candanya
Lalu aku menarik hidung mancungnya ke bawah seperti biasa..
" Awww..aawww sakit ! Mas Zein tolongin dong aku di aniaya kakak ku sendiri" katanya manja
Zein yang dalam posisi menyetir hanya tersenyum saja.
__ADS_1
Ayah dan Ibu menggelengkan kepala melihat kami bercanda.
Ah kenapa banyak godaan saat aku sudah menikah begininya. Kalau begini caranya Aygul harus segera aku boyong ke Indonesia. Agar wanita di luar sana tak berani mendekatiku.