
" Lalu bagaimana kau tau Aygul dan Aku pernah menjalin hubungan?" tanya ku lagi
" Saat itu aku sedang berlibur pulang ke Malaysia menengok kedua orang tua ku. Lalu aku mengunjungi rumah Emir, tak sengaja istri ku melihat foto Emir bersama Aygul dan kamu serta sepasang laki-laki perempuan yang di pasang besar dengan pigora dan di letakkan di dinding rumah Emir." Syafri menceritakan hal yang sangat membuatku penasaran.
Aku menganggukkan kepala dan aku tersenyum takjub Subhanallah Maha Suci dan Maha kuasa Allah SWT menggerakkan hamba Nya ribuan kilometer untuk menjadi satu dalam ikatan suci pernikahan dan persaudaraan baru.
Setelah semua hidangan tersapu bersih oleh kami berdua. Aku segera mengajak Syafri untuk keluar dari restoran. Kami berjalan beriringan menuju ke loby. Mobil Syafri sengaja di parkir valley dan petugas hotel segera mengambilkan kendaraan setelah Syafri memberikan kunci dan kartu parkirnya.
" Syafri, Apakah kau sering bertemu dengan Aygul?" tanya ku pelan berusaha menekan debaran di dada.
Syafri tersenyum lebar. Dia mengangguk. Hatiku kembali membuncah. Pasti Laki-laki tau semua tentang Aygul selama ini. Aku akan pelan-pelan mengorek keterangan dari mulutnya.
" Rumah Aygul agak jauh dari hotel tempat mu menginap Kurang lebih 4 jam perjalanan yg harus kita tempuh. Namun jangan kuatir kamu bisa beristirahat di dalam kereta ini." katanya dengan bahasa melayu yang sudah bercampur campur.
Aku tertawa. Kalau di Jakarta 4 jam adalah waktu yang biasa. Karena Perjalanan beberpa kilo meter saja jika sudah terjebak macet akan menjadi 2 atau 3 jam lebih .
" It's okay. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Ohya bolehkan nanti kamu berhenti di salah satu toko bunga?" pintaku pada nya. Aku ingin membelikan se ikat Tulip putih untuk Aygul.
" Tidak masalah kawan." Jawabnya
" Syafri boleh kah kamu menceritakan sedikit saja tentang Aygul sekarang? Aku sudah lama tak berjumpa dengan nya.Apakah ada suatu hal yang aku tidak tau?"aku mencoba menggali informasi tentang mantan gadis ku.
Syafri ku lihat agak terkejut dengan pertanyaan ku. Namun hanya sesaat. Sekejab kemudian dia mengangguk.
Aku bersorak dalam hati. Akhirnya aku bisa mendapatkan informasi tentang dia. Emir tetap dengan keteguhannya dengan janji pada Aygul mungkin Syafri tidak.
" Apa yg ingin kau tanyakan?" lanjutnya
" Apakah Aygul sudah menikah? "Mungkin ini pertanyaan paling konyol yg pernah ku ajukan se umur hidup.
Jika dia telah menikah mana mungkin dia berani menghubungiku lagi? setelah itu aku terdiam mengutuki pertanyaan ku.
Syafri hanya tersenyum.
" Entah lah. Jika dia telah menikah aku tak pernah melihat melihat suaminya. Jika dia belum menikah kenapa dia tak pernah lagi berada di keramaian? " jawab Syafrie membuatku tak puas.
Ah Syafri kenapa kau membuatku semakin penasaran saja.
" Apakah dia baik-baik saja Kawan? Kapan terakhir kau jumpa dengan nya? " tanyaku Lagi
"6 bulan yang lalu. Dan saat itu dia sudah tidak lagi bekerja di Universitas tempatnya mengajar" Jawabnya santai.
Apa yg terjadi dengan mu Aygul? Tanyaku sendiri dalam hati ku.
Mobil yang kami kendarai berhenti di depan sebuah toko bunga segar. Banyak rangkaian bunga yang sangat indah. Aku memilih buket bunga lili putih dan rose putih. Setelah aku membayar nya aku segera keluar menuju Syafri.
Ku letakkan dengan hati-hati buket bunga tulip itu di deretan kursi penumpang kedua.
" Apakah kau sangat mencintai Aygul? " Tiba-tiba pertanyaan Syafri mengguncang ku.
__ADS_1
Jika aku begitu besar mencintai nya kenapa aku membiarkannya dulu pergi. Aku meremas tanganku sendiri. Tapi jika aku tak mencintai nya kenapa sampai saat ini aku masih memikirkan kan nya? Bahkan hari ini aku berjuang untuk mendapatkan nya lagi.
" Apakah kedatanganku kemari sudah cukup menjawab pertanyaan mu Kawan? " jawabku lugas.
Dia terkekeh sambil terua mengemudikan mobil sedan keluaran Eropa.
" Jika Cinta itu punya mata maka orang buta tak akan mampu merasakan jatuh cinta. Jika cinta itu punya telinga maka orang tuna rungu pun tak akan merasakan keindahna cinta. Karena Cinta itu punya hati dan rasa maka semua mahluk di dunia ini pasti akan berhak merasakannya." Katanya dengan senyum yg masih menyisakan teka teki.
Aku meresapi perkataan nya. Memang benar cinta itu punya hati dan rasa sehingga dia akan kembali lagi mencari tuan nya. Mencari Hati yg memilikinya.
Tidak lama kemudian Mobil nya telah memasuki kawasan Kota Selcuk yg berada di provinsi Izmir. Kota ini sangat tenang dan sejuk. Tak tampak bangunan modern tinggi besar atau hiruk pikuk kota pada umum nya.
Jalan nya pun masih berupa paving blok namun semua itu tak mengurangi keindahan kota ini.
Aku baru mengetahui Aygul tinggal di kota setenang ini. Setahu ku dulu dia dan keluarga nya tinggal di Istambul taknjauh dari hotel tempatku menginap. Aku telah banyak kehilangan berita tentang nya.
Di kota ini menyimpan banyak peninggalan sejarah panjang peradaban Manusia mulai dari era Yunani, Romawi hingga Ottoman. Di era Yunani kuno ada reruntuhan kota tua Ephesus. Lalu ada Gereja St. Paul di era Romawi dan Masjid Ali Bey di era Ottoman. Kami tiba pada pakul 13.00 waktu setempat.
Syafri menanyakan pada ku apakah aku ada niat bermalam di kota ini?
Aku mempertimbangkan jarak dan waktu yang lumayan lama jika aku harus lansung kembali ke hotelku. Belum lagi pertemuanku dengan Aygul yg entah akan memakan waktu berapa lama. Maka mengiyakan penawarannya.
Kami mencari penginapan yang di rasa dekat dengan kediaman Aygul.
Karena aku sudah membawa baju ganti maka aku tak perlu membeli baju lagi di toko souvenir yang berada di sepanjang jalan menuju penginapan.
Penginapani yang kami tuju merupakan penginapan kuno namun masih tampak asri dan bersih. Ada 20 kamar dengan model bangunan letter U. Aku menyewa 2 kamar agar Syafri bisa memiliki privasi untuk istirahatnya.
Aku membawa beberapa buah tangan yang telah ku siapkan untuknya. Dan Satu bingkisan ku berikan untuk Syafrie. Dia sangat senang menerima sovenir yang aku bawa dari Indonesia. Aku memberikan 1 dompet kulit asli buatan pengrajin di perusahaan Ayah. Ohya Ayah memang sudah lama menggeluti bisnis kerajinan kulit lembu yg sudah melanglang buana di manca negara terutawa kawasan Amerika. Dari tangan handal pengrajin nya keluarlah dompet,macam-macam tas dan aneka ikat pinggang dan sepatu wanita maupun pria.
Aku sering membawa beberapa dompet untuk aku berikan sebagai souvenir kepada teman maupun relasi bisnisku. Sekalian promosi berjalan. Dan kadang kala feed back dari para relasi sangat bagus mereka akhirnya memesan juga untuk keperluan entertain di perusahaan nya. Dan sekarang usaha ini juga telah di wariskan ayah untuk ku kelola.
Hanya 15 menit perjalanan ke rumah Aygul. sebuah bangunan permanen yang berhalaman luas terlihat nyaman di mataku. beberapa bunga hias juga tertata rapi. Bangunan mediterania ini sangat besar jika di banding dengan rumah di sebelahnya.
Beberapa rumah yang berada dekat di rumah nya itu sebenarnya memiliki space yang agak jauh. Namun lingkungan itu tidak meninggalkan kesan ramah dan hangat. Syafri memencet bel di pagar rumah itu. 2x dia memencet bel kemudian seorang laki-laki tua keluar menemui kami.
" Good afternoon Sir." sapa nya
Laki-laki itu mengernyitkan mata nya melihat kami.
" Good afternoon Young Man. Who are you looking for? " tanya nya
" Iam looking for Miss Aygul, Sir" jawabnya
Bapak tua itu tampak sedikit ragu. Lalu Syafri mengatakan lagi
" Iam is Elif Husband"
Tiba-tiba Pak tua itu tampak sungkan dan langsung membuka kan pagar.
__ADS_1
" Excuse me for bening rude" Dia meminta maaf karen sikapnya yang kurang sopan. Mobil telah memasuki halaman rumah ini.
Apa jadi nya aku bila bertamu sendiri tanpa Syafri. Pasti aku akan jadi orang asing yang tersesat di negara ini.
Kami di persilahkan masuk ke dalam rumah. Syafri sepertinya sudah familiar dengan kondisi rumah Aygul.
Rumah tampak lengang. Aku melihat foto yang terpajang di dinding putih itu. Ada beberapa foto keluarga Aygul. Ada foto masa kanak-kanak dan masa remaja Aygul disitu.
Seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam kamar.
"Assalamualaikum teyze " (bibi dalam bahasa Turki) sapa Syafri ketika melihat wanita itu.
Wanita itu tersenyum dan menerima uluran tangan Syafri . Aku pun ikut mengulurkan tangan kanan ku menyalami nya.
"Waalaikum salam Syafri" jawabnya
" Maafkan kedatangan mendadak kami Teyze, Syafri mengantar seorang tamu jauh dari Indonesia "
" Perkenalkan saya Hafiz teyze"kata ku mengikuti Syafri memanggil Teyze dengan menggunakan bahasa Inggris.Dan sepertinya beliau paham dengan ynag ku katakan.
" Senang mendapatkan tamu dari jauh. Syafri apakah dengan Elif? " tanya nya.
Syafri menjawab hanya dengan ku dan kami kesini bermaksud ingin bertemu dengan Aygul.
Wajah Teyze Hafsa tampak agak murung lalu dia pamit memanggil Aygul.
Aku berpesan pada nya jangan mengatakan bahwa aku yang bertamu karena aku ingin memberinya sedikit kejutan.
Kamar Aygul berada di tengah ruangan berbatasan dengan ruang makan keluarga.
Aku masih menunduk sambil memainkan tali kamera ku. Aku membayangkan pertemuan yang sangat manis. Buket bunga Tulip putih masih ada di pangkuanku.
Setelah beberapa saat berlalu telingaku mendengar suara roda berputar dari dalam. Refleks aku segera menoleh kan kepala melihat asal suara itu.
" Aygul! "
Kontan aku meneriakkan namanya ketika kulihat seorang sosok gadis yg telah lama ku rindukan itu.
Si Mawar dari gurun ku itu hanya diam mematung tak bersuara. Matanya berkaca-kaca dan beberapa butir air mata mulai menetes di pipinya.
Aku melihat mantan gadis ku itu duduk di atas kursi roda. Matanya telah basah oleh air mata yang sejak tadi menetes perlahan. Aku sebenarnya terkejut dengan penampilannya saat itu namun aku berusaha menyembunyikan rasa keterkejutan ku ini.
Aku melirik Syafri dan kulihat air mukanya datar tak ada keterkejutan disana. Mungkin dia sudah tau kondisi Aygul.
" Hafiz. Ini lah kenyataan ku sekarang" Katanya sambil terisak.
Rasanya hatiku tercabik-cabik mendengar perkataannya.
Aku berjalan mendekatinya lalu aku duduk bersimpuh di dekat kaki nya. Aku menyerahkan buket bunga Tulip ku di tangan nya. Lalu aku merengkuh kepalanya kedalam pelukan ku.
__ADS_1
Rasa rindu yang telah ku simpan selama 4 tahun ini lunas sudah namun menyisakan kepedihan yang dalam melihat keadaan Mawar gurun ku ini.