
Baru saja kami menyelesaikan makan malam, tiba-tiba hand phone Baba Farouq bergetar. Beliau segera mengangkat setelah melihat di layar nama penelpon nya.
Beberapa saat kemudian beliau telah menyelesaikan pembicaraan di telpon dan senyum tersungging di bibirnya.
" Baba Murad beserta keluarga telah sampai di lobby hotel, mari kita segera menemui mereka" Kata beliau sambil membereskan barang-barang nya di atas meja makan.
Kami segera turun menuju loby utama beriringan. Aku mendorong kursi roda Aygul. Berat tubuhnya yg kecil membuat beban di kursi roda ini menjadi ringan
Lift yg kami tumpangi bergerak turun ke bawah. Tak lama kemudian pintu telah terbuka dan kami keluar bergantian.
"Assalamualaikum Mr Farauq Mrs Hafsah" Salam Seorang laki-laki berusia kurang lebih 65 tahun sambil menjabat dan memeluk Baba Farouq.
Keduanya berpelukan lama, Dan Seorang wanita se usia ibuku juga memeluk Anne Hafsah. Di belakang nya ada 3 orang laki-laki yang lebih muda.
Laki-laki yang sekira nya usia nya 10tahun lebih tua dari ku terlihat sangat tampan dan mempunyai postur tinggi besar. Dia mengenakan jaket kulit hitam. Lalu di samping nya terlihat lebih muda namun ada kemiripan di wajah mereka.
" Mr & Mrs Murad, Perkenalkan dia Hafiz calon menantu kita " Kata Baba Farauoq meperkenalkan ku dan menarik tubuhku yang diam membeku.
Aku langsung mengangsurkan tangan kanan ku dan mencium punggung tangan calon mertua ku. Bergantian dengan tangan calon ibu mertua.
" Lalu ini yg tampan Emran Kakak pertama Aygul dan Amir serta Mustafa Kakak kedua dan adik Aygul" lanjut Baba Farouq.
Aku menjabat tangan kedua kakak dan 1 adik Aygul. Mereka menyambutku dengan pandangan mata penuh haru. Namun tatapan tajam mata Kakak pertama Aygul masih penuh selidik. Aku mempersilahkan keluarga kandung Aygul duduk di lobby hotel yang tersedia.
__ADS_1
Beruntung mereka semua bisa berbahasa inggris kecuali Anne Roslina Ibu kandung Aygul yang kurang fasih berbahasa Inggris. Syafri sudah meninggal kan kami pulang ke rumah nya sejak beberapa saat yang lalu.
Aku memanggil seorang petugas hotel dan meminta beberapa hidangan snack dan minuman hangat.
Wajah Aygul tampak bahagia dan kepalanya bersandar pada tangan Anne Roslina. Aku sedikit berdebar karena kini aku sendiri tanpa pihak keluarga ku yang mendampingi.
Aku berdesir melihat kecantikan Aygul yang memang sangat mirip dengan ibu kandungnya.
Emran berdehem memecah keheningan kami.
" Mr Hafiz.." katanya tegas
" Panggil saya Hafiz saja Agabey (kakak laki-laki)" jawab ku sambil tersenyum. Suasana yang tadi sedikit hening jadi mulai mencair.
Emran tersenyum. Sebagai seorang kakak laki-laki sikap nya sangat dominan dan tegas. Aku merasakan aura melindunginya sangat kuat.Sama seperti perasaan ku pada Izza, aku pun bersikap sama seperti Emran.
Aku mengangguk kan kepala.
" Baik lah Agabey. Silahkan mau bertanya apa pun akan saya jawab"
" Apakah benar kamu mencintai Baci dengan kondisi nya yang seperti ini?" tanya nya langsung tanpa basa basi.
Aura interogasi terasa menguar di sekelilingku. Aku sadar mungkin bagi orang yang belum mengenalku akan menyangsikan kesungguhan ku. Apalagi setiap orang mendambakan menikah sekali se umur hidup.
__ADS_1
" Agabey, saya mengenal Aygul bukan 1 bulan 2 bulan. Kami telah saling mengenal selama kurun waktu 5 tahun. Dan Insya Allah saya telah memantapkan hati dan raga saya tulus mencintai Baci anda. Semoga Allah SWT meridhoi niat tulus saya" jawabku mantap
Amir dan Mustafa manggut-manggut. Lalu Anne Roslina yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut bersuara. Namun kalimatnya di terjemahkan oleh Amir.
" Apakah ibu anda tidak keberatan memiliki menantu yang seperti ini? dia tidak bisa beraktifitas dan menjadi menantu yang sempurna untuk ibumu. Anne takut nanti akan membuat Ibu mu kecewa" ku lihat sorot kekuatiran di manik mata hijau nya.
Aku tahu dan sangat sadar bahwa perasaan seorang ibu di belahan dunia manapun akan sangat mengkuatirkan anak perempuan nya jika telah menjadi milik laki-laki asing yang baru di jumpai nya. Mereka akan memikirkan kebahagiaan putri nya dan akan sangat bersedih jika kelak putri nya di perlakukan kurang baik oleh keluarga menantu nya.
"Insya Allah Ibu saya sangat mengerti kondisi Aygul. Karena Kami memiliki adik perempuan yang sangat kami sayangi dan kami lindunhi, kami juga menginginlan adik perempuan kami juga di perlakukan baik oleh keluarga calon suaminya kelak. Maka kami pun wajib memperlakukan Aygul dengan baik pula. Dan kami semua punya keyakinan bahwa Allah akan menyembuhkan Aygul. " Jawab ku mencoba menyakinkan ibu kandung nya.
Setelah mendengar translate perkataan ku ibu Aygul berkata.
" Thank you Damat (menantu laki-laki)" jawabnya. Aku menangkupkan kedua telapak tanganku di dada.
Seluruh keluarga besar Aygul sepakat melanjutkan perbincangan masalah pernikahan ku besok setelah keluarga ku datang ke Turki. Jadi kami menunda 1 hari dan Baba Ostman juga tidak keberatan jika waktu nya molor sehari lagi. Demi menghormati keluarga besarku yg telah jauh-jauh pulihan ribu mil terbang melintasi benua yang berbeda.
Lega akhirnya bisa menyakinkan keluarga kandung Aygul malam ini.
Hidangan yang aku pesan telah datang. Aku mempersilahkan mereka untuk segera menikmati. Aku melirik wajah Aygul. Senyuman nya yang menawan kembali tersungging indah bagaikan pancaran sinar bulan di tengah kegelapan.
Baba Murad yang sedari tadi hanya memdengarkan pembicaraan kami terlihat mulai letih dan beberapa kali menguap. Waktu hampir menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Aku kasiham melihat kedua pasang calon mertua ku itu sangat lelah. Aku segera menawarkan keluarga kandung Aygul untuk menginap di hotel malam ini. Agar besok bisa melanjutkan pembicaraan tentang pernikahanku bersama putri kesayangan mereka.
Aygul.meminta kedua ibunya untuk menemami nya tidur malam ini, sedang kan Baba Murad dan Baba Farouq akhirnya mengalah dan bersedia berbagi kamar. Sedangkan ketiga saudara Laki-laki nya berpamitan pulang karena mereka besok pagi masih ada keperluan pribadi yang harus di selesaikan terlebih dahulu.
__ADS_1
Akhirnya kami semua memasuki kamar masing-masing untuk melepaskan kelelahan raga kami yang belum terselesaikan.
Aku kembali memandang wajah cantik Dewi Bulan ku itu. Antara percaya dan tidak akhirnya aku bisa bertemu lagi setelah perpisahan yang menyakitkan itu.