
Aku merebahkan tubuhku yang terasa kaku. Aku ingat belum melaksanakan sholat Isya segera aku berganti pakaian dan mengambil wudhu di kamar mandi.
Dingin nya air dari shower membuat mata ku kembali cerah dan segar. Seketika rasa kantukku hilang. Aku melihat sudah pukul 23.30 waktu setempat. Segera ku gelar sajadah merah ku dan melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim. Aku berdoa memohon pada Allah SWT agar melancarkan semua urusan ku besok pagi Dan aku mendoakan keselamatan keluarga ku yang besok pagi akan melintasi benua ini.
---------------------
Adzan subuh telah berkumandang melalui hand phone ku, Setelah menggeliat sebentar di tempat tidur aku segera bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk segera mandi dan melaksankan sholat subuhku.
Setelahnya aku mengambil benda pipih silver berlogo Apel separuh itu dari atas nakas.
Aku melihat beberapa WA yang mungkin telah di kirim semalam. Ada 7 orang yang mengirim pesan dan salah satunya adalah Emir sahabat baikku yang juga sepupu Syafri. Aku sangat senang dan segera membaca nya. Dia mengatakan ikut berbahagia atas rencana pernikahan ku dengan Aygul dan dia meminta maaf karena tidak bisa datang ke Turki karena istri nya sedang siaga 1 untuk proses persalinan. Dia telah mendengar kabar dari Syafri mengenai itu.
Aku juga mengucapkan banyak terimakasih pada Emir karena telah memperkenalkan ku pada Syafri, dia yang telah menemani ku selama di negara Ottoman ini dan memperlakukan aku dengan luar biasa baik. Aku tak bisa membalas kebaikan nya.
Lalu ada pesan dari Izza yang mengatakan bahwa orang tua ku akan tiba di Istambul pada pukul 09.00 waktu Istambul nanti. Aku harus mmepersiapkan diri. Mungkin aku akan meminta tolong Syafri lagi untuk menemaniku ke bandara. Dan aku segera mengirim pedan pada Syafri.
Selanjutnya ada pesan dari Dewi mantan tetanggaku yang sekarang menjadi salah satu rekanan bisnisku. Dia menanyakan kabarku dan berkeinginan main ke rumahku. Untuk pesan ini aku sengaja mengabaikan nya dulu.
Lanjutbeberapa pesan dari karyawan ku yang mengabarkan beberapa hal yang harus mereka laporkan langsung mengenai tugas yang ku berikan pada mereka.
Setelah membaca beberapa WA aku melihat 1 WA dari Aygul. Ternyata gadisku itu mengirimiku pesan tadi malam saat aku tertidur. Aku tersenyum membaca nya, Dia mengatakan terimakasih dan mengucapkan cintanya tanpa malu-malu.
Aku segera menulis balasan padanya..
Seni çok seviyorum meleğim
Artinya : Aku juga sangat mencintai mu bidadariku
Lalu segera ku kirimkan pada nya. Aku tersenyum sendiri.
Aku berjalan ke luar kamar menuju balkon. Udara segar angin laut segera menerjang hidungku.
Suara burung camar terdengar merdu di kejauhan. Aku mengambil handphone dan mengabadikan matahari yang masih malu-malu menyembulkan senyum nya.
Hand phone ku berbunyi kulihat nama Syafri memanggil
Syafri : Assalamualaikum, aku sedang on the way menuju hotel. Elif dan kedua anak ku sudah tak sabar bertemu dengan Paman dan bibi nya.
Me : Seni zevkle bekleyeceğim ( aku akan menunggu mu dengan senang hati)
Syafri : Thank you brother
me : nanti kita breakfast disini ya.
Kemudian kami menyudahi obrolan pagi ini. Aku segera beranjak ke kamar mandi dan menyegarkan tubuhku. Aku ingin mengajak semua keluarga Aygul untuk segera sarapan dan aku akan ke bandara setelah nya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suasana pagi ini di bandara Istambul sudah ramai. Setelah kami semua breakfast aku segera mengajak Syafri menjemput kedua orang tua ku ke bandara.
Aku akan menikmati pagi ini di bandara 1 jam lebih awal. Aku sangat berdebar menantikan keluarga disini. Ada perasaan sangat bersalah telah menyusahkan Ayah dan ibu sehingga beliau sangat repot untuk datang kesini.
__ADS_1
Namun apa daya. Hatiku tak mungkin lagi berpaling meninggal kan kekasih lagi.
Setelah 1 jam berlalu. Akhirnya Turkey's airlane yang membawa keluarga ku mendarat. Tak sabar aku ingin memeluk kedua orang tuaku dan bersujud meminta restu beliau berdua yang sangat aku sayangi dan aku hormati.
Sosok yang paling aku banggakan di bumi itu terlihat berjalan menyeret 1 koper warna coklat dengan langkah perlahan. Wajah tampan yang telah bercampur dengan gurat usia senja nya telah terlihat.
" Ayah! Ibu!" teriak ku karena melihat Ayah mengambil jalan yang berlainan dengan tempatku berdiri.
"Izza ! Zein!"
wah aku kaget dengan dengan keberadaan mereka berdua yang mengikuti kedua orang tuaku. Betapa bahagia nya hatiku saat ini.
Izza menoleh melihatku lalu senyum lebarnya terkembang di sudut bibir mungilnya.
Izza segera mengamit tangan ayah dan menunjukkan ke arah ku.
Ibu tersenyum sambil menenteng tas tangan nya. Zein kini bertugas membawa 2 koper besar milik ibuku.
Setelah semua keluarga berada di pintu keluar aku langsung menghambur memeluk kedua orang tua ku. Aku mencium kedua punggung tangan beliau berdua. Air mata ku langsung tumpah tak tertahan.
Biar lah alam semesta dan semua yang ada di bandara ini menyaksikan betapa cengeng nya aku.
Ayah mengelus punggung ku dan ibu mengelus pucuk kepalaku.
" Terimakasih Ayah, Ibu, Izza dan Zein. Terimaksih untuk semua doa dan dukungan nya untuk Hafiz" kataku masih dengan air mata yang tergenang.
Aku sampai melupakan sosok Syafri yang setia menemaniku.
Syafri segera mencium tangan kedua orang tuaku dan memperkenalkan diri pada Zein dan Izza. Ayah mengucapkan banyak terimakasih juga pada Syafri karena bantuan nya selama aku di Turki.
Mobil yang di bawa Syafri hanya cukup menampung penumpang saja. Akhir nya Syafri menelpon seseorang aku tak tahu yang dia biacarakan. Lalu dia menepuk pundak ku.
" Aku sudah menghubungi salah satu pegawai ku untuk menjemputku kesini membawa salah satu mobil lagi untuk membawa semua barang keluarga mu."
" Terimakasih Syafri sebaiknya kita menunggu di dalam restoran itu." tunjukku pada salah satu restoran di bandara.
Aku mengajak keluarga untuk menuju ke restoran sambil mereka menikmati makanan ala Turki di bandara.
Aku menjamu keluarga mu dengan hidangan khas Turki. Bagi Izza ini adalah perjalanan pertama nya ke Turki. Sebelumnya dia hanya sibuk berkutat dengan diktat nya. Ku lihat beberapa kali dia ber swa foto sendiri di beberapa obyek foto yang menarik.
" Ini kebab asli bukan kw -kw an ya. Silahkan menikmati. " canda ku pada Izza.
" Lha memang disini asli nya Mas. Apa aku bawa penjual aslinya pulang ya ke Indonesia, Kan lumayan buat koleksi juga cakep sih, biar ada ciri khas nya" jawabnya sambil cengar cengir gak jelas.
Zein pura-pura melototkan mata nya ke arah Izzah. Sontak tangan Izza membekap mulutnya. Kami semua tertawa mendengar dan melihat kedua nya.
Ayah berdehem , aku rasa beliau akan membahas masalah pernikahan ku disini langsung.
" Nak, sebelum ayah dan ibu bertemu dengan keluarga calon istri mu. Alangkah baik nya kita mengadakan rapat kecil terlebih dahulu disini" Kata Ayah.
Aku menganggukkan kepala ku menyetujui usulan beliau.
__ADS_1
Syafri pamit ke parkiran untuk menunggu pegawainya mungkin dia merasa sungkan berada di tengah keluarga ku. Aku menganggukkan kepala dan dia mengatakan akan menelponku jika telah melihat anak buahnya datang.
Zein tersenyum sambil mengetuk kan sendok kecil pengaduk gula di cangkirnya.
" Jadi bagaimana rencana kamu selanjutnya. Ayah dan Ibu sudah sepakat untuk mengikuti semua kemauan mu. Semoga kamu benar-benar amanah nak, karena pernikahan itu sakral tidak untuk main-main. Kami sebagai orang tua hanya bisa merestui mu." kata Ayah sambil menepuk pundakku.
Ibu menimpali perkataan ayah.
" Untuk seserahan dan mahar pernikahan apa sudah kau siapkan nak? "
"Hafiz hanya membeli cincin dan seperangkat alat sholat saja bu. Karena rencana Hafiz jika nti kami sudah di Indonesia maka Hafiz akan mengajak Aygul untuk memilih sendiri barang keperluannya" jawabku.
" Ibu membawa beberapa seserahan utk calon menantu ibu. Nanti di hotel kita persiapkan ya." ucap beliau berbinar-binar.
" Terimakasih Ibuku sayang" Kataku sambil merengkuh pipi nya dan menciumnya dengan sayang.
" Apakah Ayah setuju jika besok siang acara pernikahan nya kami langsungkan?" tanya ku
Ayah memandang Ibu. Lalu Ibu menganggukkan kepala.
" Baiklah jika itu sudah rencanakan sebelumnya. Tapi Ayah ingin berkenalan dengan calon besan ayah terlebih dahulu"
Sekilas aku menceritakan tentang latar belakang Keluarga kandung dan keluarga angkat Aygul sampai kejadian yang membuatnya lumpuh.
Aku melihat air mata menggenang di pelupuk mata Ibu dan adikku.
Mungkin beliau terharu dengan ceritaku.
Setelah kami selesai mengadakan rapat keluarga. Syafri menelponku mengatakan mobil telah siap dan kami bisa keluar menuju parkiran. Dengan berjalan beriringan kami mendatangi parkiran bandara.
Mobil Mini bus berwarna silver dan hitam terlihat rapi berjajar di barisan parkiran nomer 2 dari belakang. Syafri mempersilahkan kedua orang tua ku untuk menaiki mobil berwarna hitam yang tadi aku tumpangi. Lalu Anak buah Syafri yang ku lihat adalah warga negara Turki datang membantu membawakan koper-koper keluargaku.
Setelah semua siap kami segera meluncur ke hotel. Izza dan Ibu sangat menikmati pemandangan hamparan bunga tulip yang berwarna warni di pelataran bandara dan di taman kota yang kami lewati.
" Mas nanti kalau urusan udah kelar, aku mau dong foto-fotoan di tengah bunga tulip itu!" tunjuk nya ke arah taman.
" Iya beres adikku sayang. Zein bisa kok mengantarmu ke taman itu. dia pernah ke Turki beberapa tahun yang lalu" jawabku.
Izza menoleh ke bangku belakang tempat ku duduk dengan Zein.
"Owh jadi Mas Zein pernah kesini ya?"
Zein mengangguk kan kepala. Lalu dengan iseng aku menggoda Izza.
"Dan waktu itu dia jadi idola gadis turki lho"
Izza cemberut, aku tertawa geli melihat nya merajuk.
"Ah hoax Itu hun. Jangan percaya kakak mu yang usil"jawab Zein panik.
Aku tertawa lagi . Ah dasar kau Zein laki-laki polos.!
__ADS_1
Perjalanan kami akhirnya sampai juga di hotel tempat ku menginap.