
"Abi alhamdulillah Mas Zein besok tiba di tanah air. Katanya kita ndak usah jemput dia di bandara kasihan Abi karena perjalanan jauh." Kata Sarah adik kembar Zein pada Ayah nya yang sedang membaca kitab kuning.
Ayahnya menutup kitab itu sambil membetulkan letak kaca mata nya. Sudut bibir nya melengkung ke atas, hati nya senang mendengar anak kesayangannya telah kembali ke tanah air setelah tujuh tahun berpisah dari keluarga.
Hmmm...anak lelaki yang di banggakan nya itu telah memyelesaikan kuliahnya di luar negeri berkat kecerdasan otaknya sejak kecil. Zein menempuh jalur beasiswa sejak duduk di bangku sekolah dasar. Langganan rangking satu sampai SMA.
Ayahnya terdiam sambil mengenang masa anak nya itu masih kumpul bersana keluarga. Zein anak lelaki yang bertanggung jawab dan mau hidup susah. Tak pernah mengeluh ketika Abi dan Umi nya tak bisa memberikan sesuatu yang berlebihan untuk hidup nya.
Sejak sekolah Tsanawiyah setingkat SMP dia sudah bisa mencari uang sendiri. Dia membantu Kyai Hisyam mengajar les di pesantren. Dari situ dia mendapatkan honor. Memang honornya tidak banyak namun bagi Zein kecil sudah bisa membantu meringankan beban keluarga nya. Tak terasa bulir bening air mata nya menganak sungai di pipi nya yang keriput.
Sarah memeluk Ayah nya dengan perasaan haru. Ibrahim hanya melihat kedua orang kesayangan nya itu dengan sedih. Umi yang sedang mengambilkan sepiring gethuk goreng di dapur jadi tak sempat melihat momen ini.
" Apa Mas mu yang mengabari berita ini nak?"
Sarah mengangguk, Umi sudah duduk di samping Abi dan memberikan secangkir susu hangat untuk suami nya.
"Mas mu nanti pulang sama siapa nduk?"
"Tadi Mas bilang pulang dengan teman nya yang memberi tumpangan tempat tinggal selama di Mesir Mik" jawab Sarah.
"Alhamdulillah, Abi jadi pengen segera bertemu anak baik itu. Abi ingin berterimakasih pada beliau karena sudah membantu Mas mu selama disana."
Istri dan kedua anak kembar nya itu mengangguk tanda mengiyakan. Abi menyuruh Ibrahim dan Sarah untuk membersihkan dua kamar untuk menyambut kedatangan Zein dan Hafiz.
"Abi merasa bersalah sama kalian, karena kondisi fisik Abi yang sering sakit-sakitan membuat kalian jadi bekerja keras untuk menggantikan posisi Abi sebagai pencari nafkah" Suara berat Pak Yahya terdengar sendu.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu lagi ya Bi, Umi dan anak-anak mengerti kondisi Abi. Dan kami ikhlas Bi, yang penting Abi sehat bisa mendampingi kami semua hingga nanti anak-anak dewasa dan jadi orang berhasil." Umi menggenggam tangan suaminya dan menepuk punggung tangan lelaki yang sudah dua puluh delapan tahun hidup bersama nya.
"Terimakasih ya Mi, Umi benar-benar bidadari Surga Abi." kata Pak Yahya sambil menggenggam kedua tangan istrinya dengan lembut.
Selama berumah tangga dengan Pak Yahya, Bu Sarma selalu di perlakukan dengan sangat lembut,tidak pernah sekalipun keluar kata maupun kalimat kasar dan bentakan.
Tutur kata nya yang lembut dan sifat kebapakannya yang mengayomi anak istrinya membuat seluruh anggota keluarga sangat menyayangi nya sebagai Ayah. Memang peran Ayah sebagai pencari nafkah tunggal tak bisa seutuh nya di jalani namun anak istrinya ikhlas menerima keadaan Ayah nya.
Dokter tidak mengijinkan Pak Yahya bekerja keras dengan fisik nya karena penyakit jantung dan hypertensi nya sering kambuh. Jadi dia harus bekerja yang tidak menguras fisik dan pikirannya. Karena itu jalan satu-satunya beliau menjadi pengajar kitab kuning di pesantren Abah Yai.
Setidaknya kegiatan ini tidak terlalu menguras fisiknya dan hatinya gembira memberikan sedikit ilmu dari hasilnya nyantri dulu di Ponorogo.
------------
Beberapa tetangga tampak membantu memasak, hari ini Abi khusus mengundang sanak keluarga dan tetangga untuk syukuran atas kelulusan anak sulung nya.
Makanan telah siap terhidang di meja ruang tamu yang telah di sulap menjadi ruang pengajian.
Sengaja hari ini Abi dan Umi meminta ijin ke Abah Kyai untuk absen bekerja karena
menyambut kedatangan si tampan dokter idaman.
Tepat pukul 10.30 wib sebuah mobil SUV mewah buatan pabrikan Jerman telah berhenti di halaman rumah keluarga Pak Yahya. Tampak seorang lelaki muda keluar dari pintu depan mobil.
Lelaki itu memakai peci hitam dan memakai baju koko berwarna biru laut. Rambutnya agak gondrong namun tak mengurangi ketampanan nya. Setelah itu di belakang nya berdiri seorang pemuda berkulit kuning. Tinggi besar dan tampan.
__ADS_1
Keluarga Pak Yahya yang sedang asyik mengobrol dengan para kerabat di kejutkan dengan suara laki-laki yang sudah lama menghilang dari hadapan mereka.
"Assalamualaikum"
Beberapa pasang mata menoleh ke arah pintu yang terbuka disana berdiir dua pemuda tampan memegang satu tas koper besar.
"Waaklaikum salam.."serempak seluruh tamu yang berada di ruang tamu itu menoleh kearah pintu
" Umiii, Abii !" Zein tiba-tiba berlari menghambur ke arah ruang tamu sekaligus ruang keluarga mereka untuk memeluk orang tua yang telah lama di rindukan nya siang dan malam.
Pak Yahya dan Bu Salma yang sedang duduk langsung di tubruk dan di peluk oleh tubuh Zein. Mereka bertiga saling bertangisan suasana menjadi haru dan beberapa orang yang ada disitu juga terlihat menitikkan air mata bahagia melihat pertemuan anak dan orang tua yang terpisah lama.
Hafiz berdiri mematung melihat kejadian yang membuat hati nya bergetar pilu. Betapa dia sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang berkecukupan sehingga tak perlu menahan rindu selama ini untuk sekedar bertemu.
kedua orang tuanya bisa setahun tiga kali datang ke Mesir untuk mengunjungi nya. Bahkan semua kebutuhan hidupnya selama disana tak pernah kekurangan sama sekali. Dia sangat salut melihat kesederhanaan Zein dan keluarganya.
Dia melihat sosok lelaki yang mirip dengam Zein namun beda versi. Dia lebih kurus dan wajahmya lebih muda. Di sebelahnya berdiri gadis manis memakai hijab merah menunduk sambil mengusap sudut matanya.
Sesaat kemudian Ayah Zein menepuk nepuk bahu anaknya dan mencoba mengangkat tubuh anak lelaki itu agar berdiri dari duduk bersimpuhnya. Setelah Zein berdiri dia menoleh danmendatangi kedua adik kembarnya dan memeluk mereka bertiga dengan isak tangis yang keras.
kedua adiknya telah tumbuh jadi pemuda tampan dan gadis dewasa. Sekarang mereka telah berusia dua puluh tiga tahun dan telah menyelesaikan kuliah di Kota mereka.
Zein tersadar dari perasaan bahagia bercampur haru bertemu dengan keluarga nya lalu dia menoleh pandangan nya mengiitari semua kerabat dan tetangganya yang hadir. Dia mengangguk penuh hormat lalu menyalami mereka satu persatu di ikuti oleh Hafiz.
Ada sepasang mata lentik melihat kejadian mengharukan itu dari luar pagar rumah sederhana milik Pak Yahya.
__ADS_1