
Siang telah menjelang, adzan dzuhur sebentar lagi berkumandang, saat nya istirahat makan siang tiba. Dr Zein yang masih memakai Snelli putih nya itu mulai mengemasi peralatan medis nya. Stetoskop sudah di masukkan ke dalam kotaknya, dan dia pun mulai menutup buku rekam medis pasiennya.
Dokter tampan itu melangkah menuju Masjid yang terletak di samping gedung poli penyakit dalam tepatnya lima ratus meter dari ruangannya. Sebelumnya dia sudah menitip pesan pada asisten nya Suster Malika untuk mengunci ruangan nya "
"Zus. Nanti setelah makan siang saya tidak kembali ke Rumah Sakit. Jadi tolong nanti kunci ruangan saya di bawa saja." pamit Zein sebelum meninggalkan ruangan.
" Baik dokter. Ohya besok dr Purwanto mau bertemu dengan dr Zein pukul 08.30 wib."
dr Zein mengangguk kemudian saat dia keluar ruangan adzan telah berkumandang melalui speker madjid.
Zein berjalan cepat menuju masjid karena takut menjadi makmum masbuq (Makmum Masbuq adalah makmum yang datang terlambat pada saat salat berjemaah, sementara imam sudah mengerjakan sebagian rukun salat atau sudah masuk ke rakaat berikutnya)
Sedapat mungkin dr Zein selalu mengutamakan sholat berjamaah di Masjid, kecuali dalam keadaan tak memungkin kan. Tapi dia berusaha untuk selalu sholat tepat waktu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian dr Zein telah keluar dari Masjid dan menuju tempat parkir kendaraan staf. Dia menuju mobil Sedan fasilitas jabatan dari Rumah Sakit ini. Karena dia menjabar sebagai seorang direktur maka fasilitas yang di dapatnya adalah sebuah mobil untuk mobilitasnya dalam bekerja dan sebuah rumah dinas yang tak jauh dari Rumah Sakit.
Dia mengeluarkan ponselnya sebelum masuk ke dalam mobil. Lalu mulai menghubungi seseorang.
Ternyata dia mengabari Hafiz kalau kurang lebih tiga puluh menit ke depan dia akan sampai di kediaman keluarga Birendra.
POV Zein
Awalnya Hafiz akan menjemputku di Rumah Sakit tapi karena tugas ku disini sudah selesai lebih cepat maka aku berinisiatif menjemput nya saja toh arah rumah calon kakak iparku itu sejalan dengan rumah dr Zainab.
Sebenarnya aku hanya ingin mengajak Hafiz saja ke rumah dr Zainab karena ada satu hal penting yang ingin beliau sampaikan ke kami.
__ADS_1
Semoga saja bukan hal buruk yang akan di sampaikan dr Zainab pada pasangan pengantin baru itu. Aku termenung memikirkan penyakit lumpuh yang di derita Aygul. Aku sangat kagum dengan sosok Hafiz. Lelaki tampan, pengusaha muda yang sukses.Memililiki segudang prestasi di gilai banyak wanita cantik tapi hati nya tetap teguh dan setia mencintai wanita dari negeri Ottoman itu.
Dulu aku kira Hafiz seorang anak lelaki manja yang playboy. Karena melihat dari sosok nya yang mudah bergaul dengan segala anak dari suku bangsa manapun. Dia humoris saat berada di kampus yang dama dengan ku saat di Mesir dulu.
Beberapa gadis cantik dari negeri piramid dan ada pula yang dari Indonesia jelas-jelas menaruh hati padanya namun dia tak bergeming, dia hanya cinta mentok dengan Aygul gadis bermata biru.
Memang benar jangan menilai orang dari luar nya saja atau jangan menilai buku dari sampulnya saja nilai lah setelah kamu mengenal lebih dalam dan memahami pribadinya.
Aku pun lebih kagum lagi setelah mengetahui latar belakang keluarga nya di Indonesia, ternyata orang tuanya adalah seorang pengusaha sukses dan terkenal di negara ini. Ibu nya pun seorang Bidan terkenal di kota. Dan menjadi pejabat di dinas kesehatan kota.
Namun kedua orang tuanya juga bukan orang yang tinggi hati. Intinya kedua orang tua Hafiz adalah panutan bagi anak-anak nya termasuk putri bungsu yang telah memikat hati ku.
Yaaa hatiku benar-benar telah tertambat pada sosok wanita cantik, mungil dan suka cengengesan. Entah mulai kapan aku mulai tertarik dengan gadis itu. Umaizzah Khadijah Birendra namanya. Gadis berkulit kuning langsat dan berhidung mancung itu membuatku merasakan dunia ini menjadi berwarna.
__ADS_1
Jujur saja selama aku kuliah di Kairo aku tak pernah mengijinkan hatiku untuk jatuh cinta pada gadis gadis cantik disana. Aku sudah berjanji pada Abu dan Umi di kampung untuk segera merampungkan kuliah ku secara tepat waktu dan harus cepat dapat pekerjaan agar Abi dan Umi bisa beristirahat bekerja keras.
Aku bukan anak orang kaya seperti Hafiz walaupun Hafiz tak bekerja pun dia masih bisa hidup enak. Dia lelaki beruntung yang kaya sejak kecil, sedangkan aku harus bekerja keras agar kelak aku bisa mengangkat derajat orang tuaku