Gadis Ottoman Ku

Gadis Ottoman Ku
Menemui Kiara


__ADS_3

Ya Tuhan...bantu aku menutup aib ku sekarang ...Aku janji akan menjadi orang baik dan tidak akan menjadi wanita simpanan lagi..


Doa nya dalam hati. Lalu dia mengaca lagi dan setelah memastikan wajah nya sudah segar tak ada sisa air mata Dewi membuka pintu kamar mandi.


"Eh..dr Ratih..maaf tadi perut saya sakit..silahkan dokter"


Dr Ratih tersenyum melihat wajah Dewi yang seperti ketakutan itu. Lalu Dewi mulai mencoba bernegosisiasi dengan dr Ratih dan memegang tangan kanan dokter itu dengan perasaan tak karuan.


"Dokter ...tolong jaga rahasia saya please.." pinta nya dengan suara lirih.


"Tenang saja rahasia kamu aman bersama saya. Tapi ada syarat nya.." senyum yang tadi nya merekah di bibir Dewi langsung berganti dengan tatapan penuh kebingungan.


"Maksud...maksud dokter apa? Syarat apa yang ingin dokter berikan?"


"Katakan pada saya darimana kamu dapat kan penyakit itu. Maaf jika saya terlalu kepo dengan urusan kamu. Tapi saya kuatir jika kehadiran kamu disini memiliki motif lain untuk keluarga ini dan mereka sudah saya anggap keluarga kandung sendiri. Jika ada sesuatu yang terjadi pada keluarga ini maka saya tidak akan bisa memafkam kamu!" tegas nya


Dewi menunduk lalu melepaskan tangan nya yang tadi memegang tangan kanan dr Ratih.


"Saya mohon dokter, tidak disini untuk menceritakan penyakit saya. Saya akan mengatakan nya di luar besok'' Dewi menangkupkan kedua tangan nya di depan dada sambil mata nya tetap awas memantau keadaan.


Dr Ratih mengangguk dan menyuruh Dewi besok datang ke tempat prakteknya. Mereka berdua telah sepakat dan bersikap seolah - olah tidak terjadi pembicaraan apapun.


Mereka berdua kembali lagi ke ruang keluarga dan Bu Hana menyuruh Dewi beristirahat di kamar Izza. kebetulan Izza telah datang dari luar bersama Zein beberapa saat lalu.


Waktu telah menunjuk kan pukul 21.30 wib dan dr Ratih beserta suaminya pun pamit undur diri. Mereka meminta Hafiz untuk datang berkunjung ke kediaman Bu Ratih jika ada waktu longgar.


Keesokan hari nya Dewi telah bersiap kembali ke apartemen dan dia telah memberanikan diri menanyakan perihal anak panti asuhan yang beberapa waktu lalu datang di undang ke acara selamatan pernikahan Hafiz dan Aygul.


Dewi menanyakan pada Izza namun gadis itu malah menyuruh Dewi bertanya langsung pada si ibu yang mengurus semua acara kemarin.


Bu Hafizah yang dasar pribadi nya tak mau ikut campur urusan orang lain pun tak menanyakan hal yang menurutnya wajar saja.

__ADS_1


Bu Hafizah memberikan nomer telpon serta alamat panti asuhan itu dan jaraknya memang tak begitu jauh dari kediaman keluarga Birendra.


Wajah Dewi bersinar cerah hatinya gembira karena di aakan berjumpa lagi dengan anak nya yang telah lama di sia-sia kan nya.


Pagi ini dia akan berkunjung ke panti asuhan untuk melihat Kiara dan dia pergi kesana setelah belanja berupa snack dan jajanan anak-anak panti.


Dengan hati berdebar dan gembira yang menjadi satu Dewi memanggil taxi online yang akan bawa nya kesana.


Ponselnya bergetar berkali-kali dan nama Mr Fangfang tertera disana.Dengan berat hati dia menjawab telpon nya. Mr Fangfang mengatakan jika malam nanti dia akan mengajak Dewi menghadiri makan malam dengan salah satu client nya.


Setelah menyanggupi permintaan Bos nya Dewi segera menutup pembicaraan itu dan fokus menunggu taxi onlen nya.


Tak.lama kemudian sebuah mobil SUV telah berhenti di depan rumah kontrakan nya. Dewi keluar membawa dua tenteng goodie bag besar yang berisi makanan serta baju anak anak.


Taxi melaju membelah jalan raya mengantarkan sang penumpang ke tujuan nya. Senyum merebak di bibir nya membayang kan akan bertemu malaikat mungilnya yang telah lama hilang.


Beberapa menit berlalu dan taxi online itu telah berhenti di sebuah bangunan berlantai 2 yang memiliki halaman luas. Di dalam halaman tadi ada sebuah taman bermain yang berisi beberapa mainan anak-anak berupa ayunan dan jungkat jungkit dari besi yang di beri warna warni menyegar kan pandangan mata.


"Selamat pagi Mbak,ada yang bisa saya bantu?" tanya sosok berseragam hitam itu dengan ramah.


"Selamat pagi Pak saya mau bertemu dengan ibu panti. Apa bisa ?" tanya Dewi sopan.


"Oh Bu Halimah, ada mbak. Dengan mbak siapa ya ?


"Saya Dewi Pak, mau memberikan donasi untuk panti sekalian ingin bersilaturahmi dengan anak-anak"


" Baik mbak Mari saya antar ke dalam. " Lalu security itu membuka kan pintu pagar.


Sesaat kemudian kedua orang itu masuk ke dalam rumah menuju ke ruang terima tamu.


Dua orang gadis remaja yang sedang sibuk duduk mengerjakan laporan di depan komputer segera berdiri untuk menghormati tamu yang datang.

__ADS_1


" Miftah. Ini ada mbak Dewi mau bertemu dengan Bu Halimah. Tolong di panggilkan ya?"


"Baik Pak Jaja. Mari silahkan duduk Mbak, saya panggilkan bunda dulu" kata Miftah dengan sopan.


Kemudian Pak Jaja pamit kembali ke pos jaga nya Dan Miftah masuk ke dalam rumah, meninggal kan Dewi yang sedang duduk memandangi dinding panti yang berisi foto-foto anak panti dan ada struktur organisasi panti.


Beberapa saat kemudian Miftah kembali ke ruang tamu bersama seorang ibu berusia sekitar 50 tahun yang mengenakan busana muslim syari.


"Assalamualaikum.." sapa wanita itu ramah.


Dewi terkejut lalu dia berdiri membalas salam Ibu panti. Dewi mengutarakan maksudnya untuk memberikan donasi dan ingin berjumpa dengan para penghuni panti. Dengan hangat Ibu Panti mengucapkan terimakasih dan menyuruh Miftah untuk memanggil adik-adik panti nya yang sedang bermain di dalam.


Hati nya kebat kebit tak karuan tak sabar rasanya ingin memeluk Ananta nya. Bu Halimah mempersilahkan Dewi minum air putih yang tersedia di meja lalu wanita itu memberikan donasi nya pada Ibu panti. Firly yang bertugas mencatat administrasi panti di perintah kan untuk menerima dan mencatat donasi Dewi.


Tak lama kemudian Mifta sudah datang dengan 3 orang anak laki-laki berusia antara 5 tahun dan 3 orang anak perembapuan berusia 3 tahun. Mata Dewi tak berkedip sama sekali melihat gadis kecil yang berada di gandengan Miftah.


Ananta....


Desah nya pelan dan rasa nya air mata nya saat ini hampir merembes ke pipi nya ynag ranum.


"Maaf Bunda, adik-adik yang lain masih sekolah. Ini yang balita saja yang masih bermain di ruang main."kata Miftah.


"Tak apa-apa nak. Ayo kemari anak-anak kenalkan ini Tante Dewi. Ayo kasih salam "kata Bu Halimah lembut.


Satu persatu para balita itu mendekati Dewi dan mulai mencium tangan kanan nya. Dewi mengusap pucuk kepala para anak yatim itu dengan senyum yang pilu. Lalu saat giliran gadis kecil berusia 4 tahun yang memakai baju kuning dengan rambut ikal nya yang di kucir dua itu maju bersalaman, air mata mulai menetes ke pipi nya.


"Ini siapa nama nya?" tanya nya dengan senyum yang penuh air mata.


"Adelia Tante" jawabnya malu-malu.


"

__ADS_1


__ADS_2