Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2

Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2
Membuka realita "Keluarga adalah segala-galanya"


__ADS_3

Ayana berjalan pelan mendekati Gao yang masih sibuk membenahi barang-barang nya dia menggeser kursi plastik ukuran anak kecil tepat dibelakang Gao agar bisa menyeimbang kan tubuh Gao yang besar tinggi dengan tubuhnya yang kecil, kemudian naik ke sana lantas memeluk pelan tubuh Gao, bersandar dibelakang nya untuk waktu yang cukup lama.


"Ada apa?"


Gao bertanya pelan, mengelus lembut tangan nya


Sang istri tampak diam, sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya.


"Apa ada sesuatu yang sakit hmm?"


tanya Gao lagi, mencoba memutar tubuhnya


Ayana semakin memperkuat pelukannya


"Biarkan Begini, sebentar lagi"


Gao tersenyum senang, menepuk-nepuk tangan Ayana yang melingkari pinggangnya nya.


"Kau tahu sayang"


tiba-tiba Gao memecah keheningan


"kami sudah lama tidak memeluk ku seperti ini"


Ayana tampak diam, tidak bicara apa-apa.


"Acapkali aku berfikir, apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi"


Gao tampak bicara pelan, suaranya terdengar begitu kecil.


"Aku kadang takut, kamu benar-benar akan melepaskan tangan ku karena tidak kuat menghadapi ujian ini Ayana"


Gao terus bicara, mencoba menatap wajah ayana dari bayangan kaca dihadapannya.


"Apa kau mencintaiku gao?"


tanya Ayana tiba-tiba.


"tentu saja, dalam seumur hidup ku hanya kamu"


Ayana tampak diam, kemudian secara berlahan melepaskan pelukannya.


******


Gao fikir setelah hari itu Ayana tidak akan pernah mengungkit soal anak lagi, tapi....


"Kamu harus menikah lagi, keputusan ku sudah bulat"


dia baru saja selesai membenahi semua pekerjaan nya


"Jangan lagi"


Gao bicara sambil memejamkan mata nya.

__ADS_1


"Kamu selalu begitu"


"Aku bahagia meskipun tanpa mereka, bersama mu sudah cukup"


Gao berusaha menggenggam tangan Ayana


"Tapi aku tidak, dirumah sebesar ini, saat kita memiliki segalanya, tidak ada cahaya sama sekali, 5 tahun sudah kita lewati dalam kebohongan bersama"


pekik Ayana


"Aku tidak pernah berbohong dalam mencintai mu, kita bisa mengambil anak angkat, kita akan mulai mencari nya besok"


Gao terus berusaha bicara, membujuk Ayana dan menyentuh lembut wajah Ayana.


"Aku sudah bahagia meskipun tanpa anak-anak"


"Tapi aku tidak Gao, aku tidak"


"Apakah cinta ku tidak cukup? aku sudah terlalu merasa cukup bisa hidup bersama mu, mencintai dan dicintai oleh kamu, aku tidak mengingankan hal yang lainnya"


Gao menggeleng pelan


"Aku tidak, aku tidak, kalau kau tidak setuju lagi kali ini Gao, maka ceraikan aku Gao, ceraikan aku"


"Sayang, no.. tidak"


"Sekali ini saja, aku mohon penuhi permintaan ku"


Ayana menangis sambil memukul-mukul dada Gao, sang suami meraih tubuh istrinya lembut, memeluk nya erat tanpa bicara apa-apa.


Ayana menangis sejadi-jadinya di pelukan Gao, terisak dan Begitu terdengar memilukan


Sayang kau tahu? dibanding kamu, aku bahkan lebih terluka, melepaskan anak kita dulu, memutuskan untuk melakukan prosedur operasi dan pengangkatan rahim, melukai mu tanpa bisa memberikan obat untuk hati mu.


seandainya waktu bisa aku ulang, jelas saja kejadian malam itu ingin sekali aku memperbaiki nya, tidak berjalan keluar kamar meninggalkan mu, tidak melepaskan mu dari pandangan ku, atau bahkan tidak dengan bodohnya datang terlambat saat menyelamatkan diri mu.


Jelas aku lebih terluka dari mu sayang, tapi aku tetap berusaha yakin kepada Allah, tawakal dan berharap, satu kali ada jalan indah yang dia berikan untuk kita.


*******


Bulan berikutnya lagi-lagi terjadi


Aku sudah mendapatkan kandidat terbaiknya"


Sesaat Gao membuka bola matanya, menatap nanar ke arah Ayana


"Sayang, apakah Kita akan membahas hal seperti ini lagi? kita sudah sepakat mencari anak angkat bukan?"


"Aku tidak ingin anak orang lain yang mengisi kehidupan kita, itu berbeda Gao"


"Kau ingin kebahagiaan kita rusak karena perempuan lain?"


"Nikahkan lalu ceraikan setelah kita mendapatkan anak nya"

__ADS_1


"Ayana!"


jelas Gao tidak percaya dengan apa yang Ayana ucapkan


"Kamu benar-benar sudah keluar dari akal waras mu"


"Iya... aku sudah keluar dari akal waras ku, aku menginginkan seorang anak, 5 tahun.. 6 tahun kita terus berbohong, saat semua orang sudah memiliki cahaya kehidupan mereka, aku harus menggigit bibir bawah ku dengan menahan tangisan"


"Saat kak danisa sudah memiliki 2 anak, saat hayat sudah hamil anak kedua, saat Lana lan membawa putra mereka, saat Mikhayla sudah punya 3 anak, saat semua orang memiliki kebahagiaan nya, lalu aku?"


Ayana terduduk dilantai, menangis sejadi-jadinya.


"Aku tidak punya kesempatan itu Gao, aku tidak punya kesempatan itu dalam seumur hidup ku"


jeritnya keras


"Aku hanya menginginkan nya dari gen mu, menikahlah lagi, aku mohon menikahlah lagi"


"Ayana"


jelas saja permintaan Ayana tidak masuk akal


Gao coba menyentuh wajahnya,mencoba untuk meraih tangannya.


tapi Ayana dengan sigap berdiri dan menghindari nya


"Jika kamu tidak melakukan nya, kita tidak akan pernah lagi tidur bersama, jangan sentuh aku dalam keadaan apapun"


"Sayang.. sayang.."


Ayana masuk kekamar mereka, membanting pintu dengan sekencang-kencang nya.


"Ayana, sayang dengarkan aku"


Gao berusaha menahan tangisan nya, mengetuk pintu kamar berkali-kali hingga leleh, membalikkan tubuhnya lantas merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya didinding pintu sambil menangis tanpa bersuara.


********


"Gao?"


mama Ayudia dan papa Ardhan tampak bingung melihat kedatangan Gao yang tiba-tiba.


"Ada apa son?"


papa Ardhan tampak mengerutkan dahinya


"Dimana Ayana?"


alih-alih menjawab Gao langsung berkata


"Aku ingin bicara 4 mata dengan mama dan papa"


Seketika Raut wajah mama ayudia dan papa Ardhan berubah drastis, mereka fikir ada apa dengan menantu mereka ? Gao jelas tidak pernah pulang sendiri dalam keadaan sekacau ini selama 5 tahun ini.

__ADS_1


"Apakah hal buruk terjadi?"


__ADS_2