
Sejenak Ayana menggeliat dari posisi tidurnya mencoba membiasakan perasaan dan matanya serta mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa begitu kaku, sesaat dia merasa seseorang memeluk erat tubuhnya, dengan gerakan berlahan bola mata nya terbuka, Seketika Ayana tercekat saat saat sadar siapa yang tengah berada di hadapannya.
Dengan gerakan berlahan ayana mencoba menyentuh wajah itu, sesuatu terasa basah di balik bola matanya, dia berusaha untuk bicara namun suaranya terasa begitu sulit keluar, terasa berat dan sesak.
Kedua tangannya menyentuh wajah itu dengan lembut, mengelusnya pelan karena takut mungkin dia sedang berhalusinasi tapi sepertinya ini bukan, bahkan dia sempat berfikir mungkin dia tengah bermimpi atau ber khayal namun seperti nya tidak. Berlahan genangan dibola matanya mulai turun,lantas Ayana menautkan bibirnya pada bibir laki-laki itu.
Terdengar isakan tangis halus di balik bibirnya, dia tahu ini bukan mimpi, Gao nya tengah tertidur lelap dihadapannya.
"Gao..Gao.."
seketika Gao tersentak bola mata Gao terbuka, menatap bola mata Ayana Begitu dalam, lantas memeluk sang istri Begitu erat.
"Oh sayang, kau tahu aku begitu khawatir, sejak semalam kamu terus menggigil, menangis bahkan tidak mau bangun sama sekali. semua dokter cukup panik melihat kondisi mu"
Gao bicara cepat masih terus memeluk erat tubuh Ayana, dia baru akan terlelap Karena semalaman terus bergadang menunggu kondisi suhu tubuh Ayana kembali normal.
"Kamu membuat ku khawatir"
setelah berkata begitu, Gao mencium pipi, kening, dagu, hidung bahkan bibir Ayana berkali-kali.
"Fikiran buruk ku sudah kemana-mana, kamu membuat ku ketakutan semalaman"
"Kenapa lama sekali datangnya? aku tersesat tanpa tahu arah jalan, aku menunggu Begitu lama, kau tahu betapa aku begitu merindukan mu"
ucap Ayana terisak
Gao hanya mampu menelan salivanya
"Sayang, maafkan aku karena terlambat mencari mu"
"Maafkan aku, benar-benar maafkan aku"
ucap Gao terus memeluk tubuh Ayana, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh Karena sesal dan sesak yang mendalam, kemudian dengan cepat menautkan bibir mereka dengan gerakan lembut dan lama.
Tahukah kamu sayang? dibanding kamu, aku bahkan nyaris menggila karena merindukan mu dalam beberapa waktu, kesana kemari tanpa tahu arah tujuan, bahkan bisa membunuh siapapun yang terlibat dalam semua hal yang membuat mu hilang.
*******
__ADS_1
Flash back
Sejenak fikiran kacau Tristan menggelepkan mata daby hatinya, tapi sekelebat ingatan soal ucapan ayana membuat dia tersentak tiba-tiba.
"Kita bukan pasangan suami istri"
"Ketika pemikiran buruk menghampiri mu soal perempuan, ingatlah Beberapa hal tuan, ibu kita adalah seorang perempuan, dan saudara kita juga seorang perempuan"
"Ketika kita akan melukai perasaan seseorang, ingatlah tentang bagaimana jika seseorang juga melukai perasaan dua orang paling penting dalam hidup kita"
"Anda tahu tuan? saya bukan perempuan yang sempurna, tapi saya mencoba memantaskan diri untuk suami saya"
"InsyaAllah anda akan mendapatkan seorang gadis yang lebih baik dari pada saya,hatinya... percayalah melihat perempuan dari hatinya bukan dari wajahnya, percayalah Allah akan menuntun nya untuk anda"
"Karena Laki-laki baik diperuntukkan untuk perempuan yang baik"
senyum manis itu terus mengambang di wajahnya sambil bicara dengan sejuta kelembutan dan cinta.
Akkhhhh
"Ali"
teriaknya lantang
Dengan gerakan cepat sang asisten pribadi melesat masuk ke dalam
"Hubungi gaohan, katakan soal istrinya, aku menunggu dia datang kemari"
seketika bola mata Ali terbelalak, dia fikir sejak kapan tuan nya bisa mengubah jalan fikiran nya.
"Baik tuan"
Setelah mendengar jawaban Ali, Tristan dengan cepat duduk di atas kursi yang menghadap ke arah Ayana, matanya terus menatap perempuan itu yang tidak berhenti menyebut nama sang Suami Gaohan. Tristan duduk sambil 2 sikunya bertumpuh pada 2 lutut nya, dia terus menatap ke depan sambil mengusap kasar wajahnya.
Dalam beberapa waktu gaohan melesat masuk ke kamar itu, sejenak langkah kakinya terhenti, menatap penuh amarah ke arahnya yang tengah berdiri menghadap ke arah Gao.
"Kau... ba....jingan.."
__ADS_1
umpat gaohan penuh amarah, berjalan kasar lantas melesat kan tinjunya pada Tristan hingga dia terhuyung-huyung mundur ke belakang Beberapa langkah.
Fuc..kk
umpat Tristan
"Kau apakan istri ku hah?"
jelas Gao Begitu marah padanya.
Tristan hanya mendecih, enggan membalas kemarahan Gao, dia hanya melangkah maju mendekati Tristan sambil menyentuh bibirnya yang sedikit berdarah.
"Jika dia adalah Alice mungkin aku sudah menidurinya kemarin, kau beruntung karena memiliki istri yang pandai menjaga harga dirinya"
Tristan bicara sambil tubuhnya berdiri tepat disamping Gao, mereka menghadap pada arah yang berbeda.
"Aku dengan sikap jantan mengalah pada mu"
ucapnya sambil menoleh ke arah kiri,menatap tajam wajah Gao, Gao yang awalnya dipenuhi amarah, mendengar ucapan Tristan seketika menyurutkan emosinya.
"Tapi jika kau menyakiti dirinya satu hari nanti, aku pasti kan untuk tidak mengalah pada mu"
setelah berkata begitu, Tristan membuang pandangannya, pergi berlalu meninggalkan Gao yang mematung mencoba mencerna kata-kata nya.
Sejurus kemudian Gao melengkungkan bibirnya, menatap Ayana dengan sejuta kerinduan, mendekati sang istri sambil meraih tangan dan tubuh itu, saat melihat Ayana terus mengigau menyebutkan namanya, Seketika rasa rindu mendalam menyeruak ke dalam lubuk hati Gao yang paling dalam, dengan gerakan cepat Gao naik ke atas kasur kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
"Sayang"
bisiknya pelan
Gao memeluk Ayana dengan sangat erat, mencoba menghilangkan rasa dingin ditubuh istrinya lantas mencium lembut bibir perempuan yang begitu dia rindukan dalam beberapa hari ini.
Mamafkan aku, maafkan aku yang telah melepaskan mata ku dalam mengawasi mu
seketika sesuatu yang hangat melesat turun dari bola mata Gao, dia benar-benar menyadari jika Ayana adalah Titik terlemah nya, bahkan perempuan ini mampu mengacaukan hari-hari nya, juga mampu membuat nya kehilangan harga diri dengan cara menangis tanpa sebab.
sayang...sayang... bangunlah, aku ada disini menunggu mu untuk bangun dan mengucapkan rindu.
__ADS_1