
Bola mata mama Ayudia jelas berkaca-kaca saat mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan oleh Gao.
Putri nya, oh Ayana nya harus melewati semuanya selama 5 tahun ini tanpa pernah menceritakan semua nya pada Mereka
Dia terus menatap bola mata Gao, kemudian pandangannya berpindah pada sang suami Ardhan
"Bang?"
Dia terlihat panik, tidak percaya, bingung dan entah apalagi
"Kenapa kamu menyembunyikannya?"
ardhan bertanya pelan
"Aku hanya berusaha menjaga hati semua orang"
ardhan menggeleng pelan
"Bahkan Ijal tidak bicara pada ku"
Ardhan jelas kecewa
"Lalu apa kamu masih mencintainya? "
Gao jelas kecewa dengan pertanyaan papa mertuanya.
"Bukan kah sejak awal ketika aku melamar Ayana pertama kali sudah aku katakan pa, aku tidak menikahi Ayana karena sekedar cinta.
aku tidak mencintai Ayana, karena aku tahu betul dua orang yang saling mencintai tak harus membawa hubungan ke jenjang pernikahan, sebab relasi itu bukan puncak percintaan sepasang kekasih"
“Puncak percintaan itu adalah komporomi,"
__ADS_1
"jika hanya didasari cinta pernikahan seperti itu malah jadi sebuah institusi yang menyatukan dua orang dalam sebuah pengaruh nafsu yang paling gila dan paling sementara."
"karena bagi ku masih sama sejak dulu hingga sekarang,tiga kunci utama dalam kehidupan pernikahan. Pertama, komunikasi yang baik. Kedua, rasa hormat yang rupanya lebih penting ketimbang cinta. Sebab, cinta bisa datang dan pergi, tetapi rasa hormat bisa bertahan. Ketiga, kepercayaan, yang ternyata merupakan fondasi yang paling sulit dibangun khususnya bagi orang yang pernah kecewa oleh hubungan. Kepercayaan di sini tak melulu soal perselingkuhan, tapi janji kecil yang dilanggar, niat buruk, dan harapan yang tak terwujud"
"Dan jelas pa pernikahan yang aku jalani dengan sudut pandang cinta yang berbeda"
"Ayana selalu berfikir aku akan meninggalkan nya hanya karena anak dan kebutuhan biologis semata. lalu konsep pernikahan ayana jelas sudah melenceng,dia lupa konsep awal yang telah kami buat, dia sudah lupa membedakan antara cinta atau apakah itu nafsu?
"Demi Allah aku tidak pernah berfikir untuk berpaling, tapi Ayana jelas telah berubah karena keadaan"
Gao menangis terisak, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Ardhan dengan cepat meraih tubuh sang menantu, menepuk-nepuk punggung Gao secara berlahan.
Ardhan tampak terdiam, dia kehilangan kata-kata, berusaha menakar logika nya untuk memecah kan masalah pelik ini secepatnya.
********
Ayana menatap 2 gadis yang ada didepannya itu, 1 masih sangat polos, usianya bisa jadi Masih 17 tahun dan seorang gadis cantik yang usianya 20 tahunan.
"Kenapa dengan pakaian nya?"
"Ini pakaian terbaik diklub malam kami"
"Ya?"
klub malam? astagfirullah hul'adzim..!
Ayana langsung melotot ke arah Ahran.
"Tidak ada manusia normal yang mau melakukan nya, nyonya"
seketika perempuan itu melotot kearah nya.
__ADS_1
'Kau fikir aku tidak normal?"
secepat kilat perempuan itu berdiri, mendekati arhan lantas, sambil mengunyah permen karet, meniup nya dan
Taakkkk
"Bammm"
dia memecahkan permen karet yang ada di mulutnya sambil berkata bammm tepat di depan wajah ahran.
Sial
ahran mengumpat
"Kau benar-benar akan mati lemas ditangan ku jika berani berkata kami tidak normal"
dia bicara sambil mendorong dada ahran dengan kuat
"Kau yang terlihat tidak normal"
what?
arhan mendengus kesal
"Ok stop, kita akan membicarakan persoalan nya, yang dipilih hanyalah satu diantara Kalian"
"Katakan siapa nama kalian?"
"Fitri"
"Morena"
__ADS_1
"Kita akan bertemu lagi 2 hari kedepan"
Ayana bicara Cepat sambil memegang kening nya pelan, seketika rasa pening menghantam dirinya.