
Entahlah Gao merasa sesuatu yang berbeda setelah menikah, baginya Ayana terlalu berada di luar ekspektasi nya, terlalu jauh berbeda dengan perempuan yang pernah dikenalnya, bahkan acapkali dia berfikir barangkali sebenarnya dia tidak pantas untuk perempuan ini.
Dia tidak paham kenapa pernikahan ini menjadi sangat luar biasa berbeda, Setelah selesai mandi Ayana dengan berlahan mengering kan rambut nya, menyiapkan pakaian mana yang pantas untuk untuk dirinya, merapikan dasinya tanpa banyak mengeluh, memperlakukan dirinya penuh kelembutan dan kesabaran, bahkan menyiapkan makanan yang baik untuk dirinya, mengatur pola makan makannya secara teratur selama beberapa hari ini.
Jika biasanya perempuan akan sibuk meminta dibelikan ini dan itu selama berlibur, atau meminta Kesana-kemari, Ayana sama sekali tidak memintanya, dia lebih betah di dalam kamar melakukan beberapa aktifitas seperti membuat bait lagu, puisi atau bahkan melukis
Di pagi pertama Sejenak Gao merasa agak bingung sesaat sebelum pergi Ayana mengulurkan tangan nya.
"Ada apa?"
dia bertanya sambil menaikkan alisnya
Ayana tersenyum kemudian meraih tangan nya lembut, menyalaminya dengan hangat, lantas secara berlahan hidung dan kening nya menempel lembut di punggung tangan nya.
"Hati-hati dijalan, InsyaAllah hari ini akan di penuhi keberkahan"
ucapnya lembut kemudian mencium lembut pipi Gao, lantas dua tangan nya dengan lembut memutar tubuh Gao agar berbalik kemudian merangkul tangannya berjalan menuju ke kamar lift.
Gao fikir dikeluarga mereka tidak pernah ada tradisi atau kebiasaan seperti itu, rasanya begitu asing dan menyejukkan. Ketika pasangan mu mencium punggung tangan mu dengan hangat, mencium pipi mu lantas berkata hari ini akan penuh keberkahan.
Ayana melambaikan pelan tangannya sambil terus mengembangkan senyum indahnya saat pintu lift mulai tertutup secara berlahan.
Seketika hatinya kembali bertalu, dia terdiam dalam diam, Seketika rasa kecewa pada diri sendiri membuncah, bagaimana manusia se breng..sek dirinya mendapatkan seorang istri seperti itu.
__ADS_1
dia takut akan dosa nya yang kemarin, dia takut menikahi ayana adalah mimpi terindahnya, dia takut kesempurnaan itu lenyap tiba-tiba, dia takut dosa kemarin tiba-tiba merenggut kebahagiaan kecilnya.
"Kenapa kamu begitu baik pada ku?"
pertanyaan yang terpendam beberapa hari ini pecah juga
Ayana tampak bingung, menatap Gao dalam waktu yang cukup lama.
"Kenapa kamu bersikap sebaik ini pada ku setelah menikah?"
pada akhirnya Ayana paham ke mana arah pembicaraan Gao
"Itu bukan kebaikan Gao, tapi itu kewajiban istri terhadap suami nya "
"Kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga itu akan terwujud jika suami istri saling baper ingat bukan bawa perasaan melainkan berbagi peran dan saling pengertian dengan landasan iman dan takwa baik berupa hak kejiwaan, cinta dan kasih, nafkah lahir dan batin maupun hak berupa kebendaan, makan dan minum, tempat tinggal dan lain sebagainya"
"istri memang di wajibkan taat dan Patuh kepada Suami, dan suami di wajibkan menafkahi istri nya"
"Istri yang baik mempersiapkan semua kebutuhan suaminya, pakaian yang bersih dari atas hingga ke bawah, makanan yang sehat dan tepat waktu, tubuh yang dirawat dengan baik"
"Istri yang baik juga harus patuh kepada perintah suaminya. Namun, kepatuhan istri tidak berlaku atau harus menolak bila suami memerintahkan untuk berbuat dosa. Misalnya, suami menyuruh untuk tidak shalat atau menjalankan puasa wajib"
"Dan suami yang baik harus mencukupi nafkah lahir dan batin istri nya Gao"
__ADS_1
"Maka pernikahan itu menjadi penuh keseimbangan, keharmonisan dan kebahagiaan"
"Tidak ada yang salah dalam ajaran kepercayaan apapun dalam sudut pandang melayani suami atau memenuhi nafkah lahir batin istri, tapi di Islam ketentuan nya memang begitu Gao"
Ayana menyentuh lembut wajah gao
"Kenapa gelisah dengan semua itu?"
"Kita awalnya memang hanya orang asing yang saling tidak mengenal, kamudian dipertemukan dengan cara yang luar biasa, Kemudian disatukan dalam ikatan pernikahan"
"Dan Aku melakukan semuanya karena aku adalah bagian dari diri mu saat ini Gao"
Pada akhirnya setiap penjelasan Ayana selalu membungkam mulutnya, dia kehilangan kata-kata tanpa tahu harus berbuat apa.
Hanya mampu menatap bola mata itu beberapa waktu, kemudian menyentuh wajah indah itu lantas memeluknya tanpa sepatah katapun.
Benar kata Beberapa orang, acapkali seorang perempuan menjadi titik paling lemah dari laki-laki, dan kini Gao sadar satu-satunya orang yang bisa menjadi titik terlemah nya nanti adalah Ayana.
******
Catatan \=
Semoga tidak bosan dengan cuap-cuap outhor soal nasehat, apalah saya hanya orang biasa, jangan bosan jangan terganggu dengan semuanya & love you my readers setia❤️❤️❤️😍😍😍😘😘😘😘💓💓💓💞💞💞
__ADS_1