Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2

Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2
Bahagia ini "Tendangan lembut sang baby"


__ADS_3

"Kapan mereka kembali?"


Sandi bertanya pada asisten rumah tangga keluarga baru gaohan, pura-pura bertamu mengunjungi apartemen Ayana dan Gao.


"Itu saya kurang tahu pak, tapi InsyaAllah seperti nya awal bulan depan, sebelum acara 7 bulanan"


wanita berusia 40 tahunan itu bicara sambil terus mengintip keluar, agak was-was juga karena sudah dipesan kan oleh Gao agar tidak menerima tamu selama mereka pergi dan tidak menerima hadiah apapun kecuali dari keluarga besar Abimayu atau hillatop.


"Akan mengadakan syukuran 7 bulanan?"


"Nggeh pak"


jawabnya lagi


Sandi menaikkan sudut bibirnya, seakan-akan dia punya peluang besar untuk menarik keluar Ayana dari sangkar nya.


"Ada pesan pak? atas nama siapa? nanti akan saya buatkan catatan kecil, setelah mister dan nona pulang akan saya sampai kan"


"Oh nggak usah, hanya teman lama yang datang berkunjung karena rindu"


"Ya pak?"


Sang asisten rumah tangga tanpak bingung, mengerutkan keningnya tanda tidak paham dengan maksud kata-kata laki-laki muda itu.


"Kapan perkiraan acara 7 bulanan nya?"


"Agustus akhir pak"


"Oke, terima kasih bik"


Sandi bicara sambil pamit undur diri.


"Saya akan kembali berkunjung disaat acara 7 bulanan"


"Baik pak"


Sandi fikir pantas saja Ayana hilang bak ditelan bumi, rupanya Gao membawa Ayana kemanapun dirinya pergi.


Breng .sek..


umpan sandi dalam hati.


Laki-laki itu jelas pandai menjaga istri nya, membuat sandi cukup sulit mencari peluang untuk mendapatkan Ayana kembali sejak beberapa bulan yang lalu, bahkan dia harus rela mondar-mandir mencari informasi kemana-mana.


Dan dalam acara 7 bulanan nanti sandi fikir cukup bisa menjadi peluang besar untuk dirinya menarik Ayana dari tempat persembunyiannya


Dia benar-benar merasa hampir gila karena tidak kunjung bertemu Ayana untuk waktu yang sangat lama ini.


*****


Berulang kali sandi menghisap rokoknya dengan tangan kirinya lantas menghembuskan asap nya ke udara, tangan kanannya tetap sibuk memegang stir mobil, fikiran nya melayang entah kemana.


Dia cukup kesal saat tahu Ayana tengah hamil, dia fikir Gao benar-benar telah secara utuh memiliki kekasih hati nya itu. Berulang kali dia kesal saat menatap Dyah, jelas dia fikir semua ini kesalahan Dyah, jika kemarin perempuan breng...sek itu tidak berbuat nekat, tidak berbuat bodoh, dapat dipastikan yang ada bersama Ayana adalah dirinya.


"Breng..sek"


umpat sandi sambil memukul stir mobilnya.


******


brakkk


sebuah hantaman keras terdengar di sepanjang ruangan, sandi jelas memukul Dyah dengan kasar, menatap kesal perempuan itu dengan mata yang cukup memerah dan penuh amarah.


"San"


Dyah mengerang sakit ketika sandi menghempaskan tubuhnya Kedinding, kemudian menariknya paksa ke atas kasur.


"Ini semua kesalahan mu breng..sek"


"Dasar ja..Lang..lon..te.."


Sandi mencekik kasar leher Dyah.


"Kenapa san? kenapa? apa kurangnya aku san?"

__ADS_1


nafas Dyah tersengal-sengal, dia berusaha melepaskan cekikikan sandi dari lehernya.


"ini semua karena kamu, aku sudah bilang aku sama sekali tidak mencintai kamu, tapi kamu selalu memancing di air yang keruh, merusak kedekatan ku dengan Ayana hingga membuat Ayana membenci ku"


Sandi Benar-benar kesal, terus berusaha mencekik Dyah, terlihat jelas wajah Dyah mulai memerah, nafasnya mulai terlihat sesak.


"Lon.. te.. jahanam"


seketika sandi melepaskan cekikikan nya.


"Haaa ahhh"


uhukk uhukk


Dyah mencoba menarik nafasnya sebanyak mungkin kemudian terbatuk-batuk tanpa henti, pandangan nya menatap nanar ke arah sandi.


"Ayana sudah menikah san, dia sudah bahagia bersama suami nya, apa kau gila"


pekik Dyah sambil menangis histeria, suara nya serak dan terdengar tersengal-sengal.


"Ada aku disini san, ada aku, tidak bisakah kamu melihat aku sekali saja san?"


Dyah berusaha mendekati sandi, mencoba menggenggam tangan sandi, tapi ditepis laki-laki itu dengan kasar.


"Kau mencintai orang yang tidak mencintai kamu san, kamu buta san, aku yang mencintai kamu, Ayana bahkan sekalipun tidak pernah melirik ke arah kamu"


Dyah terus bicara, memukul dada nya beberapa kali kemudian memukul tubuh sandi beberapa kali.


"kalau kau tidak menjebak ku malam itu, dapat dipastikan aku yang ada bersama Ayana saat ini breng..sek"


sandi mendorong kasar tubuh Dyah, hingga tubuh perempuan itu terhempas kasar ke lantai.


Dyah terjatuh, meringis kesakitan, kemudian tertawa sambil menangis.


"Sejak awal Ayana memang tidak pernah tertarik pada mu, dia bahkan sama sekali tidak menginginkan mu san, aku yang jelas bodoh termakan api cemburu, merasa dia menginginkan mu"


Dyah kembali tertawa sambil menangis


"Tidak heran Ayana tidak tertarik pada mu, akulah yang bodoh memilih mu"


mendengar perkataan Dyah jelas menambah tingkat emosional sandi, dengan gerakan cepat mendekati Dyah, berjongkok kemudian menarik kasar rambut Dyah ke belakang.


"Karena kamu tahu aku gila, maka kamu harus mendengarkan ucapan ku, setelah Ayana pulang, pancing dia keluar dari tempatnya, jika tidak..."


sandi menjambak rambut Dyah lebih kencang lagi


"Akhhhh"


"Aku akan menghabisi keluarga mu, adik kesayangan mu atau bapak mu yang terbaring lemah di rumah sakit"


bisik sandi pelan


Dyah jelas langsung menoleh terkejut


"Kau .."


Sandi tertawa terbahak-bahak, menatap Dyah penuh dengan kesenangan serta kemenangan.


********


"Sayang..."


Ayana bicara cepat ke arah Gao yang tengah sibuk dengan berkas-berkas nya, laki-laki itu duduk di tepian ranjang masih sibuk berkutat dengan semua pekerjaan nya, Ayana memeluk leher Gao dari arah belakang yang menoleh pelan ke arahnya


"hmm?"


Gao bertanya lembut, sambil tangan kirinya menyentuh ujung kepala Ayana.


"Kenapa?"


Ayana tidak menjawab, langsung naik ke atas kasur, kemudian langsung tiduran di atas paha gao.


"Sudah mengantuk?"


Gao bertanya pelan, melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam 12 malam, dia hampir lupa waktu dan sang istri selalu begitu, mengingatkan nya untuk berhenti bekerja dan mendapatkan istirahat secepatnya. Gao langsung menyingkirkan laktop nya ke atas nakas, kemudian merapikan berkas-berkas nya.

__ADS_1


"He em"


Ayana hanya menjawab seadanya, mulai memejamkan pelan matanya.


"Come, perbaiki posisi nya"


Gao membenahi posisi tidur Ayana, meletakkan bantal di kepala sang istri, dengan berlahan merebahkan dirinya di samping sang istri.


Secara berlahan Gao memijat lembut punggung Ayana.


"Masih sering pegal?"


Ayana mengangguk pelan


Gao tersenyum, kemudian tangannya masuk ke dalam perut Ayana.


"Oh sayang, jangan nakal didalam hmm mommy sering merasa lelah belakangan ini"


ucap Gao sambil mengelus lembut perut Ayana yang sudah membuncit.


"Sayang, dia bergerak"


Gao bicara cepat, langsung duduk dari tempat tidur nya, mencoba menyentuh kembali perut Ayana.


"Sayang, kamu dengar Daddy Hm?"


seketika terasa ada pergerakan lagi di sana.


"Ya Tuhan, dia bergerak"


Gao tampak begitu antusias, Ayana terkekeh menatap ekspresi Gao yang begitu terlihat lucu di matanya.


"sebentar"


Gao langsung merapat kan telinga nya di perut Ayana.


"Sayang apa kamu belum tidur? Daddy ada disini"


Lagi-lagi ada pergerakan disana


"Oh Subhanallah, kamu dengar itu sayang?"


Gao bicara cepat ke Ayana dengan mata berkaca-kaca.


Ayana mengangguk pelan, menyentuh wajah Gao yang terlihat begitu bahagia.


"Tidak mau memeriksa jenis kelamin nya? agar kita tahu baby imut nya laki-laki atau perempuan?"


Gao bertanya cepat, karena Ayana bilang kemarin tidak usah, sepandai-pandainya pengatur adalah Allah katanya.


Ayana menggeleng pelan


"Tidak apa-apa, biarkan menjadi kejutan indah saat kelahiran nanti"


Gao mengangguk-anggukkan kepalanya"


"Bukankah sama saja laki-laki dan perempuan sayang?"


Ayana bertanya sambil terus menyentuh wajah Gao


"Sama saja, itu adalah anugrah Allah"


jawab Gao cepat.


"Jadi semua dominan gold dan brown?"


Gao bertanya lagi soal warna barang-barang yang sudah mereka persiapkan secara berlahan.


Ayana mengangguk lembut


"Agar tidak meragukan, warna-warna seperti itu cocok untuk laki-laki dan perempuan"


"Baiklah"


Gao menjawab cepat, kemudian kembali berbaring langsung memeluk erat sang istri dengan rona bahagia yang terpampang jelas di wajah nya, mencium Ayana berkali-kali di puncak kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2