
...Selamat Siang Pembaca setia...
...2 musim yang berbeza...
...cerita pindah layar ke sebelah yaaa...
...yang kangen cerita nya bisa baca di novel 1 nya, Karen novel ini dalam tahap revisi...
Kisah mama & Papa Ayana cucok mantul juga Cuzz cari beranda yaaaa
...2 MUSIM YANG BERBEZA...
bikin termehek-mehek hihihi
Telepon ardhan sudah berdering sejak beberapa jam yang lalu, arletta menghubunginya sejak pagi tapi tidak juga di gubris ardhan, dia terlalu sibuk dengan urusan perusahaan sejak pagi, dia hanya memerintahkan Dion sang asisten yang merangkap jadi sekretaris sejati nya itu untuk mengurus segala kebutuhan istrinya itu. Bukannya dia tidak peduli, tapi karena keadaan yang membuatnya harus mengabaikan istrinya sejak beberapa bulan ini.Kekacauan yang dibuat oleh oleh kepala bagian keuangan karena menggelapkan dana perusahaan dan nyaris membatalkan kerja sama dengan salah satu klien mereka dari singapore membuat ardhan harus turun tangan mengatasi semua masalah, untungnya dia cepat tanggap menyelesaikan semua perihal, membuat pria yang bekerja dengan papa nya hampir 10 tahun itu menjadi tersangka dan di selesaikan oleh pihak berwajib, menarik kembali dana yang sudah berpindah ke rekening bawahannya itu kembali ke rekening perusahaan dan mengembalikan kepercayaan dari klien di negara tetangga untuk tetap bekerja sama dengan perusahaan mereka.
"Ada apa?"
ardan mengangkat cepat teleponnya karena tidak juga berhenti berdering sejak tadi, sesaat setelah dia keluar dari perusahaan
"Selamat malam tuan ardhan?"
Terdengar suara dari seberang sana
Ardhan jelas mengerutkan keningnya, dia fikir kenapa ada suara pria lain di balik ponsel istrinya, dari ponsel 1 nya terlihat nama sekretaris dion yang muncul menghubunginya juga, ardhan coba untuk mengabaikannya
"Iya"
Sedetik kemudian ekspresi wajahnya mulai berubah
"Apa?"
Setelah itu dia masuk dengan cepat kedalam mobilnya, menuju ke sebuah tempat di pusat ibu kota.
Langkah kakinya berlarian melesat ke sepanjang lorong rumah sakit, dia tampak panik, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam, keringat dingin membasahi tubuh dan wajahnya, dia mencari sebuah ruang yang bertuliskan UGD di sepanjang pintu rumah sakit. Tampak di ujung mama dan papa nya duduk dengan kecemasan mendalam, kakeknya yang berada di kursi roda tampak menatap nanar ke arah ruang kaca itu, mama mertua nya sudah berada disana juga, dia fikir sudah berapa lama keadaan ini terjadi? kenapa mertuanya sudah berada di jakarta saat ini
Dia berhenti melangkah, menatap dengan sejuta pandangan yang tidak dapat di artikan, bertanya dengan suara yang cukup bergetar
"Dimana, arletta? dimana cecilia ma?"
Mata mama nya tampak bengkak, menatap ardhan kemudian berdiri cepat dari duduknya
"Kemana saja kamu? Dion dan Jerry mencoba menghubungi kamu sejak tadi, nak"
tangis mamanya pecah dan air matanya tumpah seketika
"Ada apa ini?"
Ardhan bertanya bingung, pandangannya terpecah ketika pintu ruang UGD terbuka, beberapa dokter keluar, ardhan dengan cepat menghampiri salah satu dokter diikuti mama dan mama mertuanya
Belum sempat arkhan bertanya, dokter itu menggeleng pelan
__ADS_1
"waktu kematian 22.45"
"Apa?"
Ardhan tercekat, tenggorokannya seakan-akan ada yang menyumpalnya
"Kamu bohong kan haris?"
Mama mertuanya tampak tidak percaya, menatap dokter itu dengan pandangan yang tidak menentu
"Mereka bertiga...?"
Dokter yang dipanggil haris tampak kehilangan kata-kata, menggeleng lesu dengan penuh penyesalan.
"arletta? cecilia? akhhhhh"
Mama mertuanya seperti kehilangan akal waras, menjerit histeris sambil tangannya memegang kedua telinganya kemudian seketika pingsan
"Akkhhhhhh"
mama ardhan berteriak histeris
Ardhan melangkah cepat menuju ke dalam mencari sosok yang menemaninya sejak masa SMP nya itu, sosok yang tidak pernah menjauh sedetik pun dalam hidupnya. Ardhan berhenti didepan sosok istrinya dan juga putrinya, 2 tubuh itu pucat dan membeku, luka tampak ada dimana-mana, ardhan kehilangan kata-kata.
Rasanya bumi yang dia pijak menjadi seperti lumpur hidup, menarik dan menghisap kakinya secara berlahan agar tengelam ke dalam dasar bumi yang mendalam,jiwanya seakan terbang melayang entah kemana. Laki-laki itu tidak pernah menangis sebelumnya tapi hari ini pada akhirnya memaksa perasaan nya menjadi pecah lantas hancur berkeping-keping
"Kenapa kamu tega sekali meninggalkan aku yang masih sangat membutuhkan mu?"
"Kita bersama hampir 14 tahun,lalu sekarang Aku bagaimana hidup tanpa mu?"
Akkhhhhhhh
untuk pertama kalinya dia menangis, dia menangis berteriak didalam gelapnya malam sambil memeluk erat 2 sosok yang selalu menemani hari-harinya dan seseorang lagi yang harusnya mengisi hari mereka yang masih betah bertengger di perut indah arletta, dia menangis, terisak tiada henti, dia memaki dirinya sendiri karena mengabaikan panggilan orang terkasihnya sejak pagi hari
Sekelebat ingatan muncul dikepalanya
"Sayang, katakan pada ku apa kau mencintai ku?"
"Kau ini sekalipun tidak pernah bilang aku cinta pada mu, kamu kaku sekali"
"Sayang, jika nanti ada waktu ayo berllibur ke turki, kamu belum mengambil liburan sejak 2 tahun ini"
"Sayang jaga kondisi kesehatan mu, jangan terlalu fokus bekerja"
"Sayang bagaimana jika aku pergi lebih dulu? kau ini manja sekali, nanti siapa yang bisa mengurusi bayi tua ini"
terdengar tawa khas istrinya di sepanjang ruangan yang terus menggema, anaknya yang belum genap berusia 2 tahun masih berjalan dengan ceroboh ke setiap tempat di sepanjang rumah
Ardhan mencoba menyakinkan diri jika itu semua mimpi, yah dia yakin ini hanya mimpi. saat terjaga besok pagi, dia pasti kembali mendapati sosok mereka kembali disampingnya
KEHILANGAN
Firman Siagian
__ADS_1
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa telah kehilangan
Cintamu yang telah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu telah merasuk jantungku
Sejujurnya (sejujurnya) ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya (seandainya) kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Takkan kusia-siakan kamu lagi
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu telah merasuk jantungku
Sejujurnya (sejujurnya) ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya (seandainya) kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Sejujurnya (sejujurnya) ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Takkan kusia-siakan kamu lagi
Takkan kusia-siakan kamu lagi
__ADS_1