
10 jam lebih berkutat dalam kegelisahan jelas membuat Gao berulang kali mengubah posisi dalam penantian, 2x pergi menunaikan sholat Dzuhur dan ashar kemudian kembali menunggu ke depan ruangan operasi. Kekhawatiran jelas semakin menjadi, sebentar-sebentar Gao melirik ke arah jam tangan nya, berharap waktu berlalu dengan cepat. Bahkan ketika mommy Nadya meminta nya untuk mengisi perut, dengan perasaan enggan dan berat dia menelan seluruh makanan Yang ada dihadapannya.
Sejenak-sejenak punggung tangan gao menekan kening nya sendiri,dengan kedua telapak tangannya saling bertaut, sikunya menahan lutut kakinya, sebentar-sebentar dia berdiri, bersandar di depan ruangan operasi. Beberapa waktu di duduk sambil mendongak, menatap langit-langit rumah sakit dengan fikiran yang entah melayang kemana, Bahkan beberapa kali dia berjongkok di dinding samping pintu ruang operasi.
Mama ayudia sejak tadi hanya duduk didepan ruangan operasi, kadang jika lelah wanita hampir paruh baya itu masuk ke ruang tunggu VVIP yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit, begitu juga dengan mommy Nadya.
Acapkali mommy Nadya mengelus lembut punggung sang putra kesayangannya itu, berbisik lembut jika semua akan baik-baik saja.
Beberapa kali mommy Nadya menarik nafasnya panjang, didalam hati jelas dia bersedih, diantara 2 putra dan 2 putri kandungnya serta 1 putra angkat nya yang tumbuh kembang hingga hari ini, jelas gaohan lah yang paling banyak diterpa ujian, kadangkala dia berfikir kesalahan masa lalu apa yang telah mereka perbuat hingga Gao menerima karma dengan ujian yang begitu berat dan besar.
Apa mungkin kesalahan di masa muda nya suka berpetualang dan di cap sebagai kasanova penerus allzigra sang suami hingga akhirnya menuai karma setelah dia mengenyam berumah tangga.
Berbeda dengan ahem atau Zoe yang kehidupan nya berjalan normal tanpa kontroversi, jelas Gao benar-benar diterpa sejuta ujian dari Allah tanpa henti.
Atau kadang Nadya berfikir, apakah ini ujian untuk seorang mualaf dengan iman nya? Allah ingin tahu betapa besar ke istiqomah'an Gao dalam memegang teguh Islam di hati nya.
Dan dia patut bersyukur Gao benar-benar tipe laki-laki hebat yang tetap setia dan berpegang teguh pada prinsipnya, andai laki-laki lain Nadya jamin mereka pasti sudah lama berpaling dan menyerah dalam keadaan. 6 tahun bukan lah waktu yang bisa membuat seseorang menjadi sabar dan tawakal dalam menghadapi segala ujian.
Nadya hanya berharap, setelah ini kebahagiaan mengelilingi sang putra tanpa lagi harus diterpa ujian berat yang sangat menyiksa.
Seketika air mata Nadya tumpah,dalam sekali gerakan dia memeluk hangat tubuh sang putra.
"Semoga setelah ini tuhan memberkati kalian, melimpahkan sejuta bahagia tanpa ujian yang terus menghantam"
Gao mengangguk pelan didalam pelukan sang mommy nya, memejamkan sejenak bola matanya.
__ADS_1
Sesaat setelah itu, tiba-tiba pintu ruang operasi di buka, seketika Gao dan mommy Nadya menoleh, mama Ayudia tampak berjalan tergesa-gesa ke arah mereka, Gao tanpa ancang-ancang langsung melesatkan kakinya mendekati para Dokter.
"Bagaimana?"
Tampak senyum merekah di antara semua orang.
"Kita tinggal menunggu istri anda bangun, efek obat bius nya masih berfungsi dengan baik, semua lancar dan baik-baik saja, jangan khawatir"
Seketika air mata Gao tumpah, mama Ayudia langsung memeluk erat tubuh Gao diikuti oleh mommy Nadya.
"Alhamdulillah"
Mereka patut bersyukur, jelas sangat bersyukur jika semuanya berjalan baik dan lancar sesuai harapan, meskipun hati menjadi gelisah dan ragu di awal.
Tapi Seketika mommy Nadya dan mama Ayudia saling menatap.
"Dimana keluarga pendonor?"
mama Ayudia tampak mengerutkan dahinya, diikuti oleh mommy nadya
Yah sejak awal mereka berada di rumah sakit ini, mereka sama sekali belum melihat keluarga pendonor, seolah-olah perempuan itu hanya hidup sebatang kara.
Sejenak mama Ayudia menggenggam tangan sang besan, kemudian dia tersenyum.
"Aku akan menjaga nya, bantu jaga Ayana"
__ADS_1
mommy Nadya mengangguk pelan.
*********
Gao terus mencium hangat tangan Ayana yang masih tertidur pulas, sesekali Gao membelai lembut rambut Ayana, menatap wajah yang tertidur pulas itu dengan perasaan yang terus berpacu menjadi satu.
Seketika pintu kamar diketuk oleh seseorang, lantas tampak Joyce dan Dokter Dani masuk kedalam.
"Seperti nya masih tertidur pulas"
Joyce bicara cepat, tersenyum ke arah Gao
"Jangan terlalu tegang Gao, lebih rileks"
Joyce tersenyum sambil menepuk pelan pundak Gao.
Gao hanya menarik pelan nafasnya.
Setelah mendapat pemeriksaan, 2 dokter itu melesat pergi dari ruangan itu, Gao masih terus menatap lama wajah Ayana yang tertidur pulas.
Gao secara berlahan naik ke atas kasur dimana Ayana terbaring, dengan lembut Gao ikut berbaring di sana, memeluk erat tubuh sang istri untuk waktu yang cukup lama, Kemudian Seketika tanpa sadar Gao ikut terlelap bersama.
Ketika tangan Gao dan Ayana saling bertaut, Tampak sebuah gerakan lembut dari jemari indah ayana beberapa waktu, bola matanya bergerak secara berlahan kemudian gerakan itu menghilang.
Sayang
__ADS_1