
Terdengar suara berisik di handy talk secara bergantian, beberapa mobil petugas dikerahkan di beberapa titik lokasi. Jerry sejak tadi duduk disamping mobil yang dikemudikan sang Aspri menunggu berita dari semua orang, bahkan beberapa kali mencoba menghubungi Gao atau bahkan allzigra.
"Berikan Taruna, ganti (Berikan Berita ganti)"
"Tim 2 merapat ganti"
"Sudah Menemukan Anak Kijang? (Sudah menemukan tersangka, ganti?"
"Laporan menemukan ekor ganjil...ekor ganjil (Laporan menemukan orang yang di curigai)"
Jerry dengan cepat bicara melalui handy talk nya
"Dimana? ganti"
jawab Jerry cepat kepada salah satu anggota tim nya
"Seorang anggota melihat anak kijang (Seorang Anggota melihat tersangka) ganti"
"Berita gelombang (Jam/ waktu) ganti"
"20 menit yang lalu melewati jalan tol Ciruas ganti"
"Konfirmasi pada tim 2"
"Solo Bandung (Standby komandan)"
"Tim 3 ganti"
"Solo Bandung (Standby komandan)"
__ADS_1
Jerry Tampak memejamkan matanya, meraup kasar wajahnya, sang kemenakan kesayangan benar-benar berada dalam bahaya. Tim berkata melihat mobil mereka 20 menit yang lalu di tol Ciruas, ada kemungkinan sandi benar-benar ingin membawa Ayana ke luar kota.
Dyah menghubungi Dirinya dikala mereka masih sibuk mengantar tamu satu persatu di depan, kesalahan terbesar nya, mereka lupa mengamankan area belakang yang memang tidak pernah dilewati oleh keluarga mereka. Jerry jelas tidak menyangka jika Ayana menemui Dyah dan sandi dari arah belakang, Sandi benar-benar bisa membaca situasi.
Sejak awal Jerry sudah berkata pada Abang Ardhan nya untuk terus menaikkan kasus kemarin soal penculikan awal Ayana dan kecelakaan Gao yang disengaja, tapi seperti kata Abang nya berurusan dengan sang jendral memang menambah Sulit keadaan keluarga mereka, seluruh urusan perusahaan jelas akan ditekan dan dirumitkan. dan Jerry jelas-jelas sudah marah waktu itu, dia menganggap, melepaskan sandi sama dengan mempersiapkan kematian untuk keluarga mereka secara berlahan, dan seperti yang Jerry duga, pada akhirnya ketakutan yang dia fikir kan benar-benar terjadi juga.
Gao jelas sudah melesat lebih dulu, dia tahu bagaimana Gao dan keluarga nya, mereka pasti juga bisa melacak keberadaan sandi dan Ayana saat ini, tapi kekhawatiran Jerry adalah, bagaimana jika sesuatu terjadi pada Ayana, bagaimana dengan kandungan nya, apalagi Lana Lan baru saja menghubungi nya berkata tengah memasuki jalan tol menyusul Seseorang yang mirip Ayana dan sandi. Bagaimana jika anak itu juga mendapatkan masalah bersama dengan kemenakan nya.
ayah nya dan paman allzigra jelas sudah melesat entah kemana sejak menit pertama mereka mendapatkan kabar Ayana dibawa oleh sandi dari mulut Dyah.
*******
Sandi menyeringai saat menatap Lana Lan, meraih rokok di kantong nya kemudian menyulut nya dengan pamatik, lantas menghisap nya berkali-kali hingga menyisakan 1/2 batang nya lagi kemudian membuang nya ke sembarang arah.
Sandi bergerak cepat ingin menghajar Lana Lan, tapi jelas Lana Lan memang punya banyak keahlian dalam bela diri, bukan hanya taekwondo, mungkin bisa Wushu, kungfu atau bahkan tinju.
Tapi Bisa semua jenis ahli beladiri jelas tidak menjamin Lana Lan bisa menghadapi sandi, dia tidak tahu ada apa dengan tubuhnya, sejak beberapa hari ini tubuh Lana Lan jelas tidak mau di ajak bekerja sama, kepala yang acapkali pusing, tubuh melemah dan mual yang selalu mendera, dia sangat membenci keadaan ini, sangat tidak menguntungkan ketika terjadi di keadaan darurat seperti ini.
Lana Lan hanya bisa menghela nafas, terus menggerus tenaga memukul sandi, sedangkan Ayana jelas sudah dalam kondisi yang kacau balau, menahan seluruh keadaan dirinya agar tetap terjaga dan tersadar.
Satu-satunya cara menekan kesadaran ayana dengan membawa nya ke kamar mandi, membuat seluruh tubuh menggigil hingga mampu menekan efek obat yang mendominasi.
Lana Lan dengan sekuat tenaga menghantam tubuh sandi dengan sebuah kayu balok besar dikepalanya, sejenak sandi benar-benar tumbang. Lana Lan membuang kayu itu dan dengan cepat melesat meraih tubuh sang kakak angkat, mencari kamar mandi dan mencoba memandikan nya.
"Bertahanlah, mereka sebentar lagi tiba"
ucap Lana Lan pada Ayana, menyirami Ayana air dari pancuran kamar mandi yang ada di sudut kiri tangga.
"Lana Lan"
__ADS_1
Ayana berbisik pelan, saat menyadari sandi mulai menyadarkan dirinya, Lana Lan menoleh dengan cepat.
"Kak larilah kemana, aku yang akan menghadapi nya"
"Tapi Lana Lan"
"Kita kehilangan waktu, Gao dan Tristan sebentar lagi tiba"
Lana Lan mendorong Ayana untuk naik, menatap sosok sandi yang jelas memaksa berdiri, Lana Lan dengan cepat berusaha memukul sandi 1 kali lagi dengan kayu tepat mengenai kepalanya.
"Bajingan seperti kamu, benar-benar susah untuk mati"
umpat Lana Lan pelan.
Ayana mulai menerima kesadaran setelah dimandikan, jelas tubuhnya menggigil, mencoba berjalan terseok-seok menuju ke arah tangga, matanya jelas menelusuri tangga, memperhatikan kemana arah tangga gudang berakhir.
Kelantai atas, menuju ke kanan jelas mengarah ke depan, ada tangga lain di depan yang mengarah turun ke bawah lagi, itu satu-satunya pilihan.
Sejenak bola mata Lana Lan membulat, sisa api rokok sandi jelas sudah menjadi api yang mulai membesar, membakar beberapa tumpukan barang tepat di sisi kiri sandi.
Ya Allah apa ini waktu kematian kami? Lana Lan mengintip Ayana yang terseok-seok berjalan ke arah tangga, dan karena kecerobohan nya, dia harus menelan pil pahit, sebuah hantaman jelas mengenai bahu nya, Lana Lan terkejut, secara refleks sandi meraih tubuh nya dan dalam sekali pukulan mengunci dirinya. Jelas Lana Lan tersungkur dengan posisi sandi menindih tubuh nya dibelakang.
"Bang..sat"
Teriak Lana lan
"Kau bahkan lebih ja..lang dari Ayana, tunggu disini"
sandi bicara sambil mengikat tubuh Lana Lan dengan sebuah tali.
__ADS_1
"Kita akan bersenang-senang ber 3"
sandi bicara sambil berbisik, mencium lembut bahu putih mulus milik Lana lan lantas dia tertawa begitu menyeramkan.