Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2

Gadis Pilihan Tuan Penguasa Season 2
Kenapa kau lakukan semuanya "Kritis"


__ADS_3

Hanif tercekat saat sandi melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk mencoba mencelakai Ayana, dia yakin sandi pasti sudah gila. dari arah berlawanan Hanif berusaha menghantam mobil sandi tapi sepertinya dia terlambat.


Matanya terbelalak dan tubuhnya gemetaran


tidak...tidak... Ayana..


tapi sedetik kemudian entah dari arah mana Gao melesat menyambar tubuh sang adik kesayangannya.


kitttttt


braagggg.....


sejenak seperti terdiam dalam kesunyian, bagaikan angin tubuh Gao menyambar tubuh Ayana dalam sekali gerakan, kemudian mobil sandi menghantam keras tubuh itu tanpa ampun, bagaikan gerakan slow motion mereka terhempas ke aspal, berguling beberapa waktu.


jelas Hanif murka, dengan kecepatan penuh dia menghantam mobil sandi dengan mobil nya.


Kitttt


brakkkk


"Oh brengsekkkk"


umpat Hanif sambil memegangi kening nya yang sakit terkena hantaman stir mobil, tampak darah segar mengalir disana.


secepat kilat dia keluar dari mobilnya mendekati Ayana dan gao, melihat tubuh Gao yang sudah berlumuran darah, secepat kilat dia mengangkat laki-laki itu kemobil dengan rasa panik, meninggalkan sandi didalam mobilnya.


******


Ayana Tampak panik, sejak di mobil terus menangis sesenggukan, bahkan sampai kerumah sakit pun tidak berhenti menangis


Ketika tubuh Gao dipindahkan ke brankar dorong Ayana terus saja menangis, mencoba bicara pada Gao yang tidak ada pergerakan sama sekali


"Bangunlah, aku mohon bangunlah"

__ADS_1


Dengan gerakan cepat Beberapa dokter dan perawat bergerak kedalam, Derap langkah kaki para dokter saling bersahutan hingga menuju ke ruang UGD dengan gerakan cepat sambil berlarian.


"Gao... Gao.."


Ayana berusaha mengejar langkah semua orang. Hanif tampak frustasi, dia menjambak rambut nya Kemudian meraup kasar wajahnya lantas mencoba menghubungi seseorang.


Sejak di dalam ruangan UGD Ayana terus mondar-mandir seperti gosokan panas, panik dan tegang, dia meremas tangannya sambil memutar jemari telunjuknya yang saling bertaut Beberapa kali. otak nya terasa buntu, fikiran buruk terus menjalar di kepalanya, dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Gao.


Bagaimana jika Gao tidak bangun? bagaimana jika Gao celaka? bagaimana jika... entahlah pokok nya semua fikiran-fikiran buruk terus menjalar dikepalanya.


sejenak dia menatap kedua telapak tangan nya yang penuh dengan lumuran darah yang telah mengering, Seketika ingatan nya soal kejadian tadi kembali menghantam Dirinya.


Tubuh besar tinggi itu memeluknya dengan erat, telapak tangan kanannya yang besar bahkan melindungi seluruh Kepala ayana, seakan-akan takut tubuh nya terluka barang sedikitpun.


Kenapa? kenapa Gao melakukan semua itu? Kenapa laki-laki itu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dirinya??


Entah sudah berapa jam berlalu, belum juga ada pergerakan dari dalam, Ayana terus berubah-ubah posisi,dari mondar-mandir, berdiri, duduk di kursi bahkan di lantai sekalipun.


Dapat Ayana lihat Abang Hanif nya sejak tadi hanya diam, tidak melakukan pergerakan apapun, hanya memejamkan matanya dengan gelagat gelisah.


"Ma...mama... Gao.."


Sang mama Ayudia menyentuh cepat kedua belah pipi Ayana, mencium Ayana beberapa kali sambil berderaian air mata.


Raut cemas jelas terpatri di wajah seluruh orang di sana, Nadya sang mama Gao tampak tidak bergeming, mencoba mengintip dari arah balik pintu dengan perasaannya cemas. sesekali allzigra meremas bahunya, meminta nya duduk di kursi tunggu sambil berkata


"it's ok honey, all it's well"


Nadya hanya bisa menangis kecil sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Beberapa waktu kemudian para dokter keluar dari sana.


"Om?"

__ADS_1


Ayana dengan cepat menyerbu salah satu dokter itu yang adalah om nya


"Rey, bagaimana?"


sang mama ikut bertanya panik


"apakah semua baik-baik saja?"


Nadya ikut menimpali


sang dokter menggeleng pelan


"Dia berada di masa kritisnya, jika dia mampu melewati masa kritisnya, maka semua akan baik-baik saja, tapi jika tidak..."


kalimat itu tampak menggantung


"Kita hanya bisa berharap ada ke ajaiban, jangan lupa berdoa"


dokter Rey berkata sambil menepuk-nepuk bahu Ayana lembut


seketika air mata Ayana tumpah, dia menoleh ke arah Nadya dengan bibir bergetar


"Untie...Maafkan Ayana"


hanya itu kalimat yang mampu Ayana ucapkan pada Nadya sang calon mertua, dia takut wanita itu akan membencinya.


"Oh sayang, kamu tahu seorang laki-laki selalu punya insting untuk melindungi orang yang dia anggap penting"


ucapnya cepat sambil memeluk erat tubuh mungil Ayana.


"Kami juga pernah melewati masa ini diwaktu muda"


lanjutkan lagi

__ADS_1


"Maafkan ayana..., maafkan ayana...., maafkan ayana.."


hanya kalimat itu yang terus keluar dari bibirnya serta tangisan pilu yang cukup menyayat hati.


__ADS_2