
Tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, sang mommy Nadya dan mama ayudia jelas sudah tiba disana, merangkul Gao secara bergantian.
mama Ayudia jelas terus menangis sejadi-jadinya sejak tadi, Hanif terdiam duduk sambil memangku kening nya dengan punggung tangannya, terlihat jelas laki-laki itu menangis tanpa suara.
Gao terus mengubah posisinya sejak tadi, bahkan berusaha untuk menahan semua perasaan nya. kalau masalah bagaimana hati nya saat ini? jelas jangan ditanya betapa hancurnya saat ini.
Dia rasanya ingin tertawa terbahak-bahak menertawakan takdir nya, baru tadi dia siang dia tertawa bahagia bersama Ayana, tapi dini hari saat ini semua jelas berubah menjadi tangisan yang pecah sepanjang sejarah.
Ini kah yang di namakan ujian? Kenapa begitu menyakitkan? Bahkan kenapa rasanya sebercanda ini? Ketika kamu di lambung kan oleh tuhan di angan-angan, kemudian kamu di hempasan olehnya dengan cara yang sangat mudah.
Jerry melesat kembali menyelesaikan soal Sandi dan sang keluarga jenderal, suami kak eta nya mas Koba sudah bergerak lebih dulu mengurus segala urusan keluarga sang jenderal sejak soal kejadian perkara awal tadi.
Tidak tahu berapa lama semua orang menunggu, hingga ketika tiba-tiba paman Ijal tau-tau meminta nya untuk masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang begitu sulit untuk dijelaskan.
"Kita perlu bicara"
Bola mata Gao jelas membulat, ekspresi nya juga sama dengan paman Ijal, jelas benar-benar tidak bisa dijelaskan, Gao seolah tahu apa yang akan dibicarakan selanjutnya.
"Anaknya laki-laki"
__ADS_1
ucap paman Ijal pelan
bola mata Gao berkaca-kaca, namun sepersekian detik paman Ijal kembali berkata.
"Anggap lah kita tengah memilih salah satu dari 2 kemungkinan, paman tahu ini sulit, jika paman bertanya mana yang akan kamu pilih, ibunya atau putra nya?"
Gao menelan salivanya, menatap paman Ijal dengan dada yang begitu sesak, sudah dia duga, ini yang akan terjadi sejak tadi.
Dia baru sadar, kegelisahan nya dalam beberapa hari ini karena soalan ini, dia bahkan tidak bisa makan dengan baik, tidak bisa tidur dengan nyenyak,kerinduan yang membuncah pada sang istri, jantung yang terus berdebar kencang tiada henti, kekhawatiran yang terus merayap tiba-tiba dan entah apa lagi.dalam beberapa hari ini ternyata dikarenakan pada akhirnya mereka akan menghadapi ujian sebesar ini.
Dia mencoba menyakinkan hati sejak kemarin, insyaAllah semua akan baik-baik saja, meminta Allah menghilangkan segala kegelisahan nya beberapa waktu ini, dia berusaha mempercayai diri jika mereka tidak mungkin di beri ujian sedemikian rupa
Dia fikir dimana Gao yang hebat dulu, dimana Gao sang Casanova, dimana Gao yang angkuh dan sombong dulu? jelas saja dia tidak bisa memilih salah satu di antara ke dua nya, mereka nyawa Gao, kehidupan Gao, kedua-duanya jelas adalah mimpi Gao.
Apa Allah harus mengujinya dengan begitu berat?
"Semua pilihan tidak ada yang benar-benar baik Gao, jika kau pilih ibunya kau jelas tahu konsekuensi terburuk dalam seumur hidup kalian, jika kau memilih putra mu, kau dalam seumur hidup tidak akan pernah lagi melihat Ayana"
Hahaha Gao ingin tertawa, terbahak-bahak didalam tangisan.
__ADS_1
pilihan macam apa itu Tuhan?
Hidup tak sebercanda ini kan?
"Kita tidak punya banyak waktu"
Paman Ijal bicara cepat, bertanya kepada Gao sambil menggenggam erat tangan Gao.
"Maafkan kami"
Gao menatap wajah Ayana, yang seluruh tubuhnya telah terpasang selang-selang dengan sempurna, nuansa hijau mendominasi didalam ruangan operasi, beberapa dokter masih bersiap menunggu keputusan, diam tanpa suara dengan kedua tangan masing-masing bersiap sejak tadi , monitor pengatur detak jantung masih menyala disana dengan gerakan teratur.
"pilihan nya ada ditangan mu"
Gao memejamkan matanya, tampak buliran air matanya tumpah Berlahan.
"Selamat kan ibunya"
setelah berkata begitu, Gao membuang pandangannya, melesat keluar dari sana tanpa kata-kata.
__ADS_1
Bangunlah, aku membutuhkan mu sayang.